Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
111 : PTRI : Keanehan


__ADS_3

Langit berubah menjadi malam, proses dari dua orang yang baru saja melakukan pekerjaan berat mereka untuk saling memuaskan, sudah mereka selesaikan.


Dan malam ini bisa dikatakan kalau hari ini menjadi hari paling bersejarah, sebab akhirnya dirinya menggunakan sklill di atas ranjang untuk di gunakan kepada Elly. 


‘Dan dengan dalih aku membantunya, aku akhirnya bisa merasakan kepuasan, bahkan lebih dari apa yang Elly lakukan malam tadi kepadaku.’ Pikir Alves, diam-diam dia menyunggingkan senyuman penuh dengan kemenangan, sebab akhirnya Alves berhasil bercocok tanam. ‘Aku merasa tidak percaya ini, tapi faktanya aku sekarang saat ini sudah berhasil membuat dia menyerahkan hartanya lagi kepadaku.’ Pikir Alves sekali lagi, dia pun mengepalkan tangannya, tangan besar namun memiliki jari lentik. 


Tangan yang beberapa jam lalu ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Elly. Menciptakan kebersamaan yang hanya bisa mereka berdua lakukan ketika dalam kondisi saling menginginkan.


Jujur Alves sendiri juga sama sekali tidak mengerti kenapa dirinya begitu tiba-tiba ingin membuat wanita dibelakangnya itu untuk menjadi miliknya. 


Intinya, perasaannya itu datang, yang pertama agar Elly terus berada di sampingnya, melindunginya, serta memberikan sebuah pemahaman kalau Elly harus mengerti cinta yang tulus itu seperti apa. Dengan kata lain, dirinya merasa seperti punya misi untuk membuat Elly melupakan rasa dari pengkhianatan yang pernah dialaminya di kehidupan sebelumnya itu. 


‘Kenapa aku punya perasaan seperti ini?’ Aneh, tapi nyata. Itu yang Alves rasakan. 


‘Sudahlah, aku masih merasa lelah, jadi aku mau tidur lagi.’ Pikir Alves, lalu ia pun perlahan memejamkan matanya lagi. 


Tapi berbeda dari posisinya tadi yang sempat memunggungi Elly, sekarang ia menghadap Elly dan memeluk tubuh itu dalam dekapannya, sampai akhirnya Alves pun kembali memejamkan matanya, menyambung tidurnya yang masih bisa Alves bawa agar bisa tidur nyenyak. 


Akan tetapi, baru juga sepuluh menit berlalu, sebuah kilatan memori secara tidak terduga muncul dan memperlihatkan gambaran yang cukup jelas. 


“Karena kita tidak punya waktu untuk saling merasakan apa yang namanya cinta, di waktu selanjutnya aku pasti akan membuatmu merasakan apa yang namanya cinta. Bukan cinta kepada orang lain, tapi cinta kepadaku.”


Sehingga dalam seketika, Alves langsung membuka matanya lebar-lebar. 


‘Mimpi apa itu tadi? Kenapa aku seolah orang yang mengatakan itu kepada seorang wanita?’ Detik hati Alves. Salah satu alisnya pun terangkat, karena wanita yang sempat ia hadapi di dalam mimpi tadi itu serasa cukup akrab dengannya, rasanya pun seperti sama dengan wanita yang ada di sebelahnya itu. ‘Apa karena aku saking senangnya, aku bahkan jadi punya mimpi aneh sampai bertemu dengan wanita lain?’ 

__ADS_1


Memikirkan hal itu, Alves jadi tersenyum pasrah seraya menatap wajah polos Elly yang sedang tertidur pulas?


“Kenapa kau menatapku terus?” Tanya Elly secara sepihak. Matanya yang tadinya tertutup akhirnya terbuka, dan memperlihatkan tatapan Elly yang begitu tegas. 


Tapi respon yang Alves berikan pun hanyalah senyuman yang begitu cerah. 


“Sudah aku duga, cinta itu memang membuat orang pintar sepertimu pun bisa tersenyum bodoh seperti itu.” Ucap Elly kepada Alves yang sedang baik hati memberikan senyuman, tapi Elly sendiri tanpa merasa bersalah sedikitpun berbicara kasar kepada pria ini. ‘Sudah jam tujuh? Kenapa aku begitu membuang waktu untuk tidur?’ 


Elly sudah tidak begitu tahan untuk berbaring terus, ia pun memutuskan pergi. Tetapi saat Elly sudah mau turun dari tempat tidur, tubuhnya langsung jatuh terduduk. 


“Kau mau kemana?” Tanya Alves, pura-pura tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Elly. 


“Aku harus bangun.” Dengan wajah tidak puas hati, sebab dirinya baru saja mempermalukkan dirinya sendiri di depan Alves. 


Namun, baik di percobaan kedua atau ketiga, hasilnya pun tetap sama, kakinya tidak mampu untuk menopang tubuhnya. 


‘Kenapa kedua kaki ini begitu lemah sih?’ Elly sudah mengepalkan tangannya dengan begitu erat, sebab ia jadi merasa terhina sendiri karena tidak kuat untuk sekedar berdiri. “Alves, apa yang sudah kau lakukan kepada tubuhku ini?” Tanya Elly, masih terduduk di lantai yang kebetulan diselimuti karpet berbulu, sehingga ia sama sekali tidak merasakan sakit, bahkan ketika jatuh tadi. 


Alves sempat tertawa, lalu berbicara : “Pfft, pria itu suka jika membuat wanita yang ditidurinya pincang. Jadi aku pikir, usahaku agar membuat kakimu pincang, sukses besar.” Jawab Alves, merangkak sampai ke tepi tempat tidur dan berhenti di belakang Elly persis. 


Karena tubuhnya masih berada di atas tempat tidur, sedangkan Elly sudah ada di bawah, secara spontan Alves pun jadi kembali diperlihatkan tubuh Elly yang sudah tanpa busana. 


Melihat hal tersebut, tentu saja Alves merasa cukup senang, sebagai pencuci mata. 


“Kau, padahal aku ingin masak, tapi jika aku pincang seperti ini bagaimana aku memberi perutmu dan perutku makan?” Kata Elly, menatap tajam kedua kakinya yang terlipat di bawa pahanya. 

__ADS_1


“Orson kan bisa masak, jadi berikan saja tugasnya kepadanya. Lagi pula di samping dia adalah temanku, dia kan asistenku. Jadi manfaatkan posisinya itu dengan baik.” Bisik Alves, mulai menghasut agar wanita di depannya itu untuk libur dari rutinitas memasaknya, karena semua itu, bagi Alves tidaklah berguna, ketika dirinya sebenarnya bisa menghubungi kepala koki untuk memasak makan malam mereka. 


“Tapi aku sudah terlalu banyak istirahat. Buktinya aku tanpa sadar jadi sudah tertidur selama empat jam lebih.” Elly mulai menopang kembali tubuhnya dengan kedua tangannya, lalu ia pun berusaha untuk kembali berdiri. 


Berhasil berdiri, tapi usahanya langsung sia-sia, karena Alves tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di depan perut Elly dan menarik tubuhnya itu ke balakang. 


BRUKK…..


Alves tersenyum ketika tangannya berhasil menahan tubuh Elly sebelum jatuh dengan cukup kasar. 


Dua wajah, dua pasang mata, tapi satu tatapan tertuju ke arah yang berlawanan namun punya tujuan yang sama. 


Elly yang tidak begitu mengerti apa yang yang ada di dalam kepalanya Alves saat ini, hanya memberikan respon singkat. “Alves, aku ini pelayanmu.”


“Tapi kau sudah jadi milikku.” Balas Alves dengan cepat. “Aku mencintaimu Elly.” 


Senyuman milik Alves yang begitu tulus , sesaat berhasil mengusik hati Elly, membuat Elly berkata : “Hanya sebatas kontrak saja, nanti juga habis. Lalu soal cinta, sebaiknya kau jangan berharap kalau aku akan membalas cintamu itu.” Imbuhnya lagi. 


“Kalau habis ya tinggal di perpanjang, ya kan? Dan lagi pula aku sedang menjalankan tantanganmu, agar kau bisa jatuh cinta kepadaku. Meskipun wajahmu begitu tidak yakin, tapi tantanganmu itu masih berlaku selama kau bekerja di bawahku. Jadi terima saja apapun yang aku lakukan kepadamu.” Papar Alves, memperingati Elly. 


“Kau memang pria kesepian yang aneh.” Lirih Elly menunduk. “Padahal aku sudah berulang kali menolakmu.”


Alves menghela nafas panjang ia lalu mengusap pipi kiri Elly dengan punggu jarinya dan berkata :  “Memangnya aku saja yang aneh, kau sendiri juga aneh.” Alves hanya bisa mengatakan itu lebih dulu, karena ingin melihat reaksi wajah Elly yang akhirnya menunjukkan rasa keterkejutannya. 


“Aneh apanya?” Tanya Elly, sedikit mendongak ke atas, sehingga Elly pun melihat rahang Alves yang begitu kokoh dan mempunyai garis rahang yang pada dasarnya jadi nampak begitu jelas. 

__ADS_1


“Entahlah, kenapa kau tidak berpikir sendiri bagian apa dari dirimu yang membuatku melihatmu juga sama-sama aneh sepertiku?” Alves berkata demikian untuk memancing rasa penasaran milik Elly. 


__ADS_2