Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
148 : PTRI : Hubungan yang mendalam


__ADS_3

"Nah, kalian bertujuh sekarang jadi lebih keren dan tampan. Bagaimana, apa kalian suka dengan keahlianku ini?" ungkap Elly. "Sekarang aku minta gaji ke kamu." Elly tanpa tahu malunya langsung mengulurkan tangannya ke arah Felix.


"Kau beritahu rekeningmu berapa, nanti aku kirimkan." kata Felix sambil mengeluarkan handphone nya dari saku celananya.


"Aku ingin tunai." ucap Elly, menggerakkan tangannya ke tas dan ke bawah, sebagai kode dia ingin minta uang yang nyata di tangannya.


Felix menatap telapak tangannya Elly dan berkata : "Aku tidak punya tunai, memangnya kau ingin bawa uang segepok kemana-mana?" jelas Felix, sembari dia bercermin di depan kamera dia kini sedang merapikan rambutnya, dan hasil dari karya dari wanita ini pun cukup bagus juga, sehingga mereka sekarang benar-benar terlihat seperti grup K-POP. "Katakan nomor rekeningmu, akan aku transfer sekarang juga."


"Wow, ini lumayan juga. Aku jadi tidak perlu mengantri lama dan pergi ke tempat jauh untuk memotong rambutku." Kata Darren.


"Yah, lumayan, setidaknya aku jadi semakin tampan." Arshen berbicara dengan percaya dirinya yang cukup tinggi itu.


"Iya nih, aku suka. Kebetulan aku memang ingin potong rambut, tapi aku malas sekali pergi ke salon." Ucap Warren.


Dan dua orang sisanya juga tengah bercermin dengan menggunakan kamera handphone mereka.


Tapi, di saat mereka bertujuh sedang mengagumi gaya rambut mereka, maka Elly saat ini sedang bingung.


Dia mengeluarkan handphone yang dia letakkan di dalam saku rok nya, dan dia pun membuka handphone lipat, hadiah dari Alves kemarin.


"...!" Elly yang belum tahu nomor rekeningnya berapa, dia pun langsung menelepon seseorang. "Alves, nomor rekeningku berapa saja?"


-"Kau mau minta uang sama siapa lagi? Aku ini masih bisa membuat rekeningmu jadi gendut. Bahkan tubuhmu bisa aku buat jadi gendut dengan perut buncit."-


BLUSHH....


"Diamlah, jangan menggodaku terus, katakan, nomor rekeningku berapa, bukannya kau katanya sudah membuatku rekening tabungan?" tanya Elly, berusaha meluruskan kembali topik utama yang ingin Elly bahas itu.


-"Jangan-jangan kau melak ke anak-anak di sana ya?"-


"Alves, langsung ke poin intinya. Nomor rekeningku." Protes Elly karena Alves terus saja bicara yang tidak-tidak.


-"6606 017462 XX XX"-


"Makasih." Jawab Elly, begitu dia sudah mendapatkan nomor rekening, Felix dan semua orang di sana pun langsung melongo karena handphone Elly sesaat menggunakan speaker untuk membuat mereka sama-sama mendengarnya, dan orang yang baru saja di hubungi nya adalah pria itu, Alves.

__ADS_1


"Sudah." Felix mencoba bersikap tenang, walaupun sebenarnya hati dan pikirannya itu sama sekali tidak bisa tenang, karena wanita di depannya ini bear-benar punya hubungan yang cukup mendalam dengan sepupunya itu.


Elly yang belum memiliki akun virtual untuk akun rekening miliknya, ia pun meminta untuk melihat tanda bukti yang terpampang jelas di layar handphone nya Felix.


"Heheh, aku punya uang." gumam Elly, "Kalau begitu aku pergi dulu. Dan kau, berbanggalah padaku karena kau sudah jadi tampan, Ok." Ucap Elly dengan kedipan mata sebelah kepada dua orang tersebut.


Begitu berhasil menyelesaikan urusannya dengan ke tujuh laki-laki itu, Elly pun keluar dari ruang kelas itu.


____________


"Orson, kira-kira jika aku membiarkan Elly di kampus sendirian, dengan sifatnya itu dia akan melakukan apa?" Tanya Alves begitu sesaat tadi dia mendapatkan panggilan telepon dari Elly hanya karena ingin minta nomor rekening.


TING....


Dan satu notifikasi dari pesan yang baru saja masuk, sontak langsung menyita perhatian dari Alves.


Pasalnya, akun virtual dari rekeningnya Elly sebenarnya sudah Alves buat, tapi sayangnya ia sengaja menggunakan aplikasi yang sama dengan rekening milik Alves yang ia satukan dalam handphone nya.


Jadi, ketika ada yang keluar dan masuk, akan ada notifikasi yang langsung masuk ke dalam handphone nya.


Dan notifikasi pesan email tadi, menandakan adanya uang yang masuk sebesar empat juta, dan nomor rekening yang baru saja mengirimkan uang ke rekening bank milik Elly adalah milik Felix.


Dan Orson yang baru saja mendengar gumaman dari Bos nya itu, dia segera menjawab pertanyaannya tadi. "Nona Elly pasti akan melakukan yang ingin dia lakukan. Anda kan tahu sendiri, wanita itu suka dengan kebebasan, jadi selama ada keuntungan, pasti di situ juga ada jalan untuk membuat onar dengan caranya sendiri." Jawabnya.


"Jadi- dengan kata lain, dia termasuk sedang menjalankan bisnis dengan sepupuku sendiri?" taya Alves, matanya terlihat seperti sudah masuk kedalam kegelapan.


"Bos, dengan wajah cantiknya itu juga, sudah jelas apa yang akan terjadi di sana? Pasti akan langsung heboh, karena wajahnya juga di kira mirip dengan Raelyn, padahal dia orang yang sama, tentu akan ada banyak orang yang tertarik, setidaknya untuk menginterogasinya, karena di kira orang asing.


Dan satu hal yang perlu anda ingat, dia, tidak suka dengan kerumunan.


Saya sudah pernah memperhatikannya beberapa kali, bahwa hidungnya cukup sensitif, jika tidak menahannya dia akan mual. Jadi dia termasuk bukan orang yang sabaran, maka dari itu pasti akan ada saatnya jika ada aroma yang mengganggu, akan dia tuntaskan sampai beres." Sebuah ceramah panjang lebar dari Orson pun sepintas langsung masuk semua kedalam kepalanya Alves.


"Jadi, dia akan melakukan tugas yang tidak semestinya dia lakukan?" kernyit Alves.


Beda dengan dulu, karena tubuhnya punya perbedaan dari tubuh nya Elly yang dulu, jelas hal itu akan memicu sikap Elly yang tidak akan segan-segan membereskan semua hal yang mengganggu aktivitasnya.

__ADS_1


Dan entah apa yang di lakukan nya saat ini, padahal Alves hanya menyuruh Elly untuk mengurus prosedur untuk mempersingkat proses tahun kelulusannya bulan ini, membuat Alves jadi cemas sendiri.


"Tentu saja. Nona kan punya sifat keras kepala yang cukup tinggi, jika tidak sesuai dengan keinginannya, pasti jelas apa yang akan di lakukan Nona, ya kan?" Jelas Orson. "Maka dari it-"


BRAKK....


"B-bos! Sebentar lagi ada pertemuan dengan klien! Anda mau kemana?!" Tanya Orson. Tapi karena Alves keburu sudah ada di luar, Orson pun segera mengejarnya.


"Jangan bilang anda mau menyusul?"


"Sesuai dugaanmu, aku memang ingin menyusulnya." Jawab Alves, dia mulai menekan tombol nomor satu dari pintu lift nya.


"Apa yang akan anda lakukan? Di sana banyak setannya Bos." Beritahu Orson, jadi ikut masuk kedalam lift juga.


Ucapannya itu tertuju pada banyaknya pasang mata, dimana jika Alves benar-benar pergi ke kampus hanya untuk menyeret Elly, maka jelas kalau Alves akan jadi pusat perhatian oleh kaum hawa.


"Dari pada setan, aku justru lebih berpikir kalau Elly sedang di goda oleh Iblis." Sedangkan Alves, dia hanya punya stau tujuan kalau Elly jangan sampai di goda oleh pria lain .


"Seharusnya aku memberimu perintah untuk mengurus prosedur kelulusannya itu dengan cepat, bukannya Elly. Ini tetap saja jadi salahku juga." dengan tampang Alves yang begitu menyesal, Orson hanya bisa diam sejenak.


'Kenapa dia begitu obsesif sekali dengan Elly. Padahal baru kenal setengah bulan, tapi mereka berdua seperti sudah kenal sangat lama.


Bahkan kelihatannya lebih lama dari kasus dia yang meniduri seorang wanita misterius yang sempat jadi tranding topik delapan tahun lalu.' Orson yang tidak tahu apapun soal Alves dan Elly, hanya bisa menyimpulkan hubungan mereka berdua dengan pikirannya sendiri. "Tapi sepuluh menit lagi, anda punya jadwal untuk bertemu dengan klien. Tidak mungkin anda akan membatalkan kontrak kerja sama yang sudah anda tunggu selama satu bulan ini, ya kan?"


TINGG.....


Dan begitulah, saat keinginan kecilnya bisa membawa Elly pulang dari sana, tuntutan pekerjaannya pun membuat dia terpaksa menahan keinginan nya itu.


"Kalau begitu kau lah yang jemput Elly dari sana." Perintah Alves. Dengan terpaksa dia harus menekan dulu keinginan hatinya itu untuk dia alihkan karena pekerjaannya itu.


TAP...TAP....TAP.....


Pada akhirnya Alves pun pergi sendirian untuk mengurus pekerjaannya.


"Siapkan mobilnya." Alves melempar kunci ke salah satu staf karyawan di sana, dan dengan segera staf tersebut bergegas berlari pergi untuk membawakan mobil milik Bos nya itu.

__ADS_1


Sedangkan Orson, dia yang masih berada di depan pintu lift, hanya memandang kepergian dari Bos sekaligus temannya itu.


'Otak yang terus di bodohi dengan cinta tanpa logika, Alves, apa kau akhirnya benar-benar memilih dia untuk terus berada di sisimu?' Orson, dia memang sudah berteman cukup lama dengan Alves. 'Dia banyak berubah, dan lebih banyak berubah saat wanita itu ada di sisinya sebagai pelayannya. Tapi perubahan paling mendasarnya kira-kira sekitar empat tahun yang lalu.'


__ADS_2