Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
30 : PTRI : Bukan miliknya.


__ADS_3

"Serius sekali menontonnya." Alves akhirnya membuka suara sambil duduk di sebelah Elly dann menyerahkan paper bag tepat di depan wajah Elly langsung.


"Apa itu?" Semua lamunan milik Elly sudah hancur saat Alves yang tiba-tiba saja datang.


Padahal tadi ia sedang menikmati acara berita yang ada di televisi, tapi imajinasi miliknya saat ia mencoba membayangkan dirinya yang akan menikah dengan seorang pria dengan balutan gaun pengantin berwarna putih bak malaikat, akhirnya langsung sirna begitu saja.


Ada perasaan tidak puas hati di dalam dadanya. 'Padahal aku tadi mulai membayangkan kira-kira siapa wajah yang akan jadi pasangan pengantinku kelak, jika bukan karena dia, aku pasti sudah menemukan wajah yang cocok?'


Elly yang sudah menoleh ke samping kirinya, akhirnya menemukan pria yang beberapa waktu lalu tertidur itu, kini sudah terlihat sehat walafiat.


Tiba-tiba saat ia melihat wajah Alves yang tampan itu, Elly jadi punya perbandingan sendiri di dalam pikiran dan hatinya. 'Kalau dia jadi pasanganku apa mungkin?'


Elly jadinya semakin memperhatikan wajah itu, pria yang benar-benar punya berjuta pesona yang tidak tahu harus di puji dengan kalimat apa lagi, karena semuanya sudah tidak berlaku, sampai bingung sendiri harus memaknai pria ini seperti apa lagi.


"Aku sudah membelimu pakaian, jadi set--" Kalimat Alves seketika terpotong ketika sepasang mata gelap milik Elly terus saja menatapnya. "Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Aku tahu aku tampan, tapi jika kau terus menatapku seperti itu, wajahku bisa berlubang."


Elly memiringkan kepalanya, mencoba mencerna ucapan dari pria ini. "Percaya dirimu cukup tinggi, tapi jangan memaknai seperti itu juga."


Elly melepaskan bantal sofa nya hingga bantal itu terjatuh, menarik tubuhnya untuk mendekat ke arah pria bernama Alves tersebut. Meraih wajahnya dan berjalan sedikit merangkak ke depan. Sampai akhirnya Elly dan Alves pun saling berhadapan satu sama lain.


Berbagi tempat tidur, pakaian, duduk, serta berbagi nafas.


Semuanya sudah mereka berdua lakukan. Tapi hubungan mereka berdua tetap pada status pelayan dan majikan.


'A-apa yang mau dia lakukan?' Refleks Alves memundurkan posisi duduknya.


Tapi entah apa yang sedang di rencanakan Elly sekarang, membuat Elly terus merangkak ke arahnya. Sepasang kaki mereka berdua saling berhadapan dan membuka satu sama lain. Lalu salah satu tangan Elly yang ramping itu meraih wajah tampan milik Alves, mengusapnya dengan manja hingga si pemilik wajah sendiri perlahan menikmati sentuhan tersebut, dengan perasaan waspada yang kian memudar.


"Ellly, ganti pakaianmu dulu." Hanya itu saja kalimat yang keluar dari mulut Alves.

__ADS_1


Dia mengatakan itu, karena saat posisi Elly yang kini ada di atas salah satu pahanya, membuat kedua kaki jenjang milik Elly benar-benar terlihat jelas.


Apalagi saat Elly sungguh memakai kemeja hitam miliknya yang tentu saja akan kebesaran di tubuh Elly yang ramping, saat itu juga Alves melihat betapa terekspose nya paha milik Elly yang putih dan kencang, menampilkan pesona untuk mecari tahu apa yang ada di atas sana.


Sebuah godaan khas dari wanita yang terus saja memperlihatkan penampilan liar dari Elly ini.


"Tapi aku sudah leluasa pakai kemeja milikmu ini."


"Tapi setidaknya pakai dala man nya. Darahmu sudah mengotori sofa ku dan celanaku." Beritahu Alves ketika Alves menyadari adanya darah segar yang baru saja menetesi sofa berharga dan celana kerja miliknya itu.


"Bagaimana mau pakai, disini saja sama sekali tidak ada pembalut." Wajah Elly yang awalnya terlihat seperti terpaku pada wajah tampan Alves, sehingga terasa seakan akan menggodanya, kini berubah mejadi wajah masam.


Alves langsung menatap ekspresi masam milik Elly yang terlihat lucu itu dengan senyuman tawarnya. 'Karena saking laparnya, aku jadi lupa tidak membelikan wanita ini pembalut juga. Aku hanya membeli pakaian untuknya saja.'


"Tapi jika aku boleh memakai itu, aku sama sekali tidak membutuhkan pembalut." Elly melirik pada satu kain yang tersimpan di dalam saku jas milik Alves yang ada di sebelah dada sebelah kiri. "Aku bisa membelinya sendiri asal berikan aku uang, jadi kau tidak perlu repot-repot pergi lagi." Imbuhnya.


"Pakai saja." Langsung menyerahkan saputangannya ke depan wajah Elly persis.


"Terima kasih." Elly tiba-tiba tersenyum puas bisa mendapatkan saputangan dari Alves.


Dan dari situlah, dia menyadari alasan kenapa Elly tiba-tiba merangkak mendekatinya sampai mengusap wajahnya dengan kelembutan dari tangan berjari lentik milik Elly itu karena hanya mengincar saputangannya saja!


BRUK...!


Alves langsung merebahkan tubuhnya ke belakang. Sambil menatap langit-langit kantornya, Alves berpikir dengan senyuman mencibir menghiasi bibirnya : 'Sialan, cerdik sekali dia, sampai aku hampir saja tergoda. Padahal hanya tinggal bilang saja ingin saputanganku, kenapa pakai merangkak ke arahku dengan penampilan seksinya itu?'


Terkekeh mengingat apa yang baru saja terjadi, Alves menutup sepasang matanya dengan lengan tangan kanannya.


Ia sama sekali tidak percaya pada fakta bahwa Elly memang sungguh punya keberanian dalam segala hal.

__ADS_1


'Karena melindungi informasi rahasia milikku, dia jadi terluka. Saat aku menemukannya saja dia sudah dalam kondisi sekarat. Dan sekarang, dia akhirnya terluka lagi. Kenapa wanita itu selalu saja terluka?' Pikir Alves ketika dia harus memahami apa yang ada pada diri Elly itu sebenarnya ada yang terasa janggal. 'Apa ya? Aku merasa ada sesuatu lain yang sepertinya memang tidak seharusnya ada di dalamnya.'


Mata merah delima sang pria tersebut memicing kesal. Dia memang sudah menyadari keanehan yang ada pada diri Elly saat pertama kali wanita itu sadar dari koma nya.


Tapi karena Alves selalu saja terlena dalam semua tingkah dan layanan yang di berikan wanita itu kepadanya, membuat diri Alves selalu melupakan fakta itu, fakta kalau Alves memiliki praduga kalau Elly yang ada di sini sekarang sebenarnya bukanlah diri Elly yang sebenarnya.


______________


Satu cermin terpampang di depan Elly persis.


Wajah yang ada di depannya, sebenarnya bukanlah wajah miliknya yang asli, karena wajah sekaligus tubuh yang ia gunakan itu sama sekali bukan miliknya. Itu adalah milik orang lain, dan diri Elly atau Everly ini hanyalah roh yang tiba-tiba masuk kedalam tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi.


'Apakah tubuhku yang asli sudah benar-benar mati?' Setiap kali Everly menatap wajahnya di depan cermin, dia selalu tidak pernah absen untuk menyentuh wajahnya yang sudah menjadi miliknya itu.


Dia selalu saja takjub saat melihat wajah yang dia sentuh memang benar-benar seperti wajah miliknya yang asli.


Benar, dia sama sekali tidak mengerti kenapa dirinya bisa bereinkarnasi kedalam tubuh dengan tubuh dan wajah yang sama persis.


'Kenapa ya? Kenapa aku masuk kedalam tubuh ini? Aku selalu saja bertanya-tanya, tapi aku sama sekali tidak menemukan jawabannya.' Elly pun jadi berpikir keras, apalagi mengingat semua cerita yang Alves ceritakan mengenai kondisi tubuhnya saat pertama kali di temukan, nyatanya tubuhnya ternyata sedang dalam kondisi terluka yang cukup parah.


Ketika Everly atau sekarang namannya sudah berubah menjadi Elly itu membuka pakaiannya dari kemeja yang dia pinjam dari Alves, dia benar-benar melihat adanya bekas luka yang masih tersisa di belakang punggungnya.


Walaupun sudah lumayan samar, karena pengobatan yang di berikan Alves kepadanya cukuplah manjur, tapi untuk Elly sendiri, ia sama sekali tidak bisa merelakan ternyata tubuh yang ia diami itu luka bukan sekedar hasil dari kecelakaan yang di alami tubuh nya itu, tapi juga karena adanya kekerasan fisik.


'Entah apa yang sebenarnya terjadi, aku sama sekali tidak bisa mendapatkan ingatan dari tubuh ini.' Elly memegang kepalanya, setiap ia mencoba untuk menggali ingatan dari pemilik tubuh yang asli itu, pasti ada rasa sakit yang luar biasa mendera kepalanya. 'Siapa sebenarnya pemilik tubuh ini?'


Elly pun jadi menatap dirinya itu di depan cermin.


Dia ingin tahu, latar belakang dari tubuh yang ia diami itu.

__ADS_1


__ADS_2