Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
1120 : PTRI : Pasangan Golf


__ADS_3

"Tuan, ini handuk anda." Seperti biasa, Elly akan bicara dengan formal kepada Alves jika sudah berada di luar rumah.


Dengan pakaian olahraga yang sudah di sediakan, Elly memakai baju atasan berwarna putih yang cukup press dengan body tubuhnya, tidak hanya itu saja, ia pun harus memakai rok mini yang cukup pendek, hingga sebatas separuh dari paha miliknya.


Meskipun sudah memakai stocking berwarna hitam, tetap saja hal itu cukup menarik perhatian Alves, bahwa semua pakaian pasti akan cocok di tubuh wanita ini.


"Wah, apa ini kekasih anda cantik ya?" kata laki-laki tua ini, karena ia penasaran sebab baru pertama kalinya ada seorang perempuan yang memberikannya handuk kepada Alves, dan Alves sendiri langsung menerimanya.


Alves menyeka keringat yang bercucuran di wajah, leher dan tangannya sambil mengumbar senyuman miring, yang berhasil membuat banyak wanita di sekitar sana, wajahnya jadi sama-sama bersemu merah.


"Ternyata anda pun berpikir begitu ya?" Alves memberikan kembali handuk yang sudah ia pakai ke Elly, sambil memberikan lirikan penuh dengan arti. "Sebenarnya dia adalah pelayanku, aku mengangkat nya sebagai asisten pribadiku juga."


"E-eh? M-maafkan saya, s-saya pikir wanita ini adalah kekasih anda." balas pria ini dengan wajah gugup, sebab berhasil menyinggung Alves.


"Pfft, tidak masalah. Lagi pula aku sudah terbiasa kok, jadi kalau bahkan kau menganggap kalau dia adalah Istriku, aku juga tidak mempermasalahkan tebakanmu yang salah itu. Jadi tidak usah khawatir akan menyinggungku." Jelas Alves.


Alih-alih Alves memberitahu kepada investor ini bahwa dirinya tidak tersinggung dan tidak usah merasa bersalah dengan tebakannya soal hubungan Alves dengan Elly hanya sekedar majikan dan pelayan, sejujurnya ia juga berdalih kepada Elly, bahwa : Orang lain pun menganggap kita cocok sebagai pasangan kekasih.


"........." Elly hanya diam membisu lalu menundukkan kepalanya sambil berpikir. 'Kenapa dia terus-terusan mengejarku? Apa dia tidak menjaga image nya sendiri?'


"T-terima kasih, karena anda ternyata tidak tersinggung dengan semua ucapan saya." Kata orang ini, meminta maaf kepada Alves secara langsung.


"Hmm,.."


"Oh ya, sepertinya akan seru jika anda bermain dengan anak saya itu. Bagaimana, apa anda mau?"


"Terserah kau saja." Jawab Alves dengan selamba.


"Kalau begitu saya panggil ya?"


"Hmm.."


Pria paruh baya itu pun menelepon seseorang, yaitu anaknya. Di samping mereka berdua sedang di tinggal, melihat Elly yang ada di belakangnya terus menatapnya, Alves pun bertanya kepada Elly.


TAK...


Satu pukulan berhasil membuat bola jadi melambung jauh. "Apa kau mau mencobanya?"


"Tapi ini kan permainan milk anda sendiri." Elly mencoba menolaknya.


Tapi bahkan setelah menolak tawaran dari Alves, Alves justru sudah lebih dulu membuat tangan Elly memegang stik golf itu.


"Tapi aku yang menginginkannya." Senyum Alves, merebut handuk nya tadi dan meletakkan handuk kecil itu ke lehernya Alves, dan Alves pun menuntun Elly untuk memegang stik golf dengan cara yang benar.


Dan tentunya, posisinya membuat Alves berdiri di belakang persis tubuh Elly.

__ADS_1


"Apa yang anda lakukan? Anda kan bisa menginstruksikan saja, tanpa harus berdiri di belakang saya?"


Alves lantas dengan sengaja lebih membungkukkan tubuhnya ke depan, tepatnya membuat tubuh Alves juga Elly saling menempel, dan di samping itu semua, wajah Alves pun benar-benar berada di posisi samping kanan wajah Elly, sehingga hembusan nafas yang sempat menyapu telinga Elly, berhasil membuat telinga Elly bersemu merah.


"Demi memperlihatkan kemesraan kita, tidak akan ada wanita manapun yang akan mendekatiku." Bisik Alves sebagai jawaban atas pertanyaannya Elly barusan.


"Tapi hubungan kita, jelas mereka tahu kalau saya adalah pelayan, apa anda tidak memikirkan citra anda itu?"


"Itu keputusanku sendiri, kau tidak perlu memikirkannya." Bisik Alves lagi.


Elly jadi diam.


"Lihat itu, dia kan seorang pelayan, ternyata dia berhasil membuat Tuan muda Alves dekat seperti itu."


"Ck..ck..., dia pasti pelayan ja*ang. Padahal Tuan muda saja sering menolak kita untuk dekat dengannya, tapi dia berhasil merebut Tuan muda dari kita, Tuan muda pasti terkena jampi-jampi oleh pelayan rendahan seperti dia." Ulasan jelek pun ada juga yang keluar, tapi Elly dan Alves tidak begitu memperdulikannya, karena hak mereka ingin punya rasa iri dan punya pemikiran seperti itu kepadanya.


"Memang sih. Tapi bagaimana pun, mereka berdua terlihat cukup cocok. Sampai-sampai, aku jadi iri, karena pelayan itu bisa punya body sebagus itu. Kira-kira dia makan apa, atau diet atau tidak ya?" Berbeda dari temannya tadi, wanita ini lebih mementingkan penampilan ketimbang harus ikut nimbrung dalam urusan gosip. Dan yang ada, justru ia sangat tertarik dengan penampilannya Elly yang memang cukup seksi, hingga kesan seksi antara Elly juga Alves, cukup setara.


"Mereka cukup serasi."


"Iya, iya, aku juga merasa seperti itu. Jadi iri deh, karena dia berhasil merebut hati orang seperti Tuan muda kita."


TAP....TAP......TAP.....


"W-wow..., siapa dia?"


"A-aku beruntung sekali bisa dapat melihat pemandangan seindah ini? Aku jadi bertemu dengan dua orang pria tampan, betapa menakjubkannya, ya kan?"


Dan seperti yang di katakan oleh mereka, banyak dari mereka yang begitu terpesona dengan penampilan dari tamu yang baru saja datang itu.


"Elly, posisikan pinggangmu sedikit ke sini, lalu pelan-pelan, ayunkan stik ini."


"Anda, benar-benar sedang mencari kesempatan di dalam kesempitan." Ucap Elly, melihat tangan kiri Alves, sempat menyentuh pinggangnya, sehingga kedekatan diantara mereka berdua pun langsung kembali menjadi pusat perhatian mereka semua.


"Jika tidak begitu, aku harus apa? Kau kan tahu jika seorang pebisnis sepertiku, aku pasti akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuanku, dan salah satunya tentu saja ini." Bisik Alves lagi dengan nada yang begitu lirih, bahkan tangan kiri Alves, sempat turun ke bawah dan menempatkannya di bagian paha Elly.


Dengan dalih untuk memperbaiki posisi berdiri Elly sebelum memukul bola Golf, sebenarnya dia sedang membuat penampilan untuk semua orang di sana, bahwa Elly adalah wanita yang berhasil menarik hatinya, sehingga tidak ada yang akan bisa menggantikannya.


"Ayo, coba ayunkan." Perintah Alves, agar menuruti ucapannya.


Dengan mulut terdiam, Elly pun mencoba mengayunkan stik Golf itu, hingga Elly akhirnya memukulnya.


TAK....


"Tuan, hasil anda sama sekali tidak bagus." Protes Elly, karena bola golf nya bahkan tidak bisa pergi melambung tinggi dan jauh, sebab hanya mendapatkan jarak tiga meter saja.

__ADS_1


"Ayolah, itu sudah termasuk awalan yang bagus, artinya aku guru yang baik untuk mengajarimu." Jawab Alves.


"Tapi lebih baik saya yang melakukannya sendiri." Matanya menyipit, karena ia sedikit sulit agar membuat Alves tidak terlihat begitu terobsesi kepadanya.


"Kalau begitu coba, jika kau bisa melakukannya lebih baik dari yang sudah aku ajarkan tadi, aku akan memberimu bonus." Alves secara terang-terangan, memberi suapan kepada Elly agar mencoba memperlihatkan kemampuannya itu, jika sudah bicara kalau melakukannya sendiri akan dapat hasil yang lebih baik darinya.


Elly yang mata duitan, langsung bersiap lagi di posisinya. Menempatkan bola golf di atas tumpuan bola tersebut, setelah itu Elly pun memposisikan tubuhnya, termasuk posisi dimana dengan sengaja Elly seolah sedang pamer pan*at, sehingga dengan sengaja menggoyang-goyangkan pan*at nya.


'Dia ingin aku tusuk apa?' Alves tersenyum tawar dengan tingkah Elly yang sedang pamer itu, karena memperlihatkannya tepat di depannya langsung, sehingga Alves pun jadi merasa tertantang, bahwa Elly ingin minta di tusuk.


Tapi karena sekarang bukan tempat yang tepat, maka Alves harus bersabar diri.


Dengan posisi yang sempurna, Elly pun bersiap untuk memukulnya, dan ...


TAK....


"Wowww...!" Banyak mulut diantara mereka semua yang melongo, melihat bola yang di pukul oleh Elly berhasil melambung tinggi dan mendarat di tempat yang cukup jauh, sampai....


"Apa?!"


"G-gila! Dia bisa memasukkan bola golf nya langsung ke lubang yang ada di sana." Seseorang berbicara demikian setelah menggunakan teropong.


Sampai Alves yang merupakan majikan dari wanita bernama Elly ini, ikutan melongo.


'Aku, secara tidak langsung, di kalahkan olehnya.' Lirik Alves, melihat wajah Elly yang begitu serius.


"W-wah, pelayan anda ternyata hebat. Saya jadi penasaran, apakah pelayan anda mau mencoba untuk memukulnya sekali lagi?" Pria paruh baya ini pun segera menaruh penasaran yang cukup dalam kepada Elly, tepat setelah selesai menelepon anaknya tadi, agar datang dan mencoba melawan Alves.


Tapi karena adanya kandidat lain yang sama hebatnya dengan Alves, maka kini waktu pun jadi semakin menarik.


Elly terdiam, ingin meminta persetujuan dari Alves sendiri.


Melihat tatapan mata Elly kepadanya, Alves pun menghela nafas kasar, dan mengangguk.


Dan sesuai perintah tadi, Elly kembali memukul bola, dan hasilnya pun sama, meskipun masuk kedalam lubang bola yang berbeda.


"Tuan, pelayan anda benar-benar hebat."


"Hah. Tentu saja, majikannya sendiri saja juga hebat, kenapa pelayanku tidak hebat?" Sombong Alves kepada orang tersebut, sampailah orang yang belum lama di hubungi tadi, sudah datang.


"Wah, dunia memang sempit, ya? Sampai membuat kita bertemu lagi."


Suara khas itu, sukses membuat Elly merasakan sebuah ancaman tak kasat mata yang tertuju kearahnya secara tidak langsung. Sehingga, untuk menghilangkan rasa penasaran, tentu saja Elly menoleh ke belakang, dan ...


'Aiden?' Detik hati Elly, melihat pria yang ia kenal belum lama ini, justru kembali di pertemukan dengannya. 'Menyebalkan.'

__ADS_1


__ADS_2