
“Aku tidak peduli, jika mau meledakkan bom disini, silahkan saja.” Dengan ekspresi wajahnya yang datar, tangan kirinya yang saat ini menggenggam korek api, langsung Elly lempar.
Dan api yang masih tersulut di pemantik itu pun melayang ke arah mereka berdua.
Mereka berdua langsung membelalakan matanya, saat api di alat pemantik itu sudah ada di depan mata mereka.
‘Kalau seperti ini, kita berdua akan habis terbakar.’ Detik hatinya.
‘Tidak, dia wanita gila! Aku harus pergi dari sini.’
Namun mereka berdua yang ingin lari dari sana, selalu terpeleset dan terus terjatuh akibat lantainya yang terlalu licin.
JDERR…..
Dentuman petir kembali datang, dan mata antara Elly serta satu orang yang masih berdiam diri di atas kesialan dari dua orang yang ada di sampingnya itu, saling bertemu.
__ADS_1
‘Wanita ini, dia sama sekali tidak memiliki ketakutan di matanya. Dia bisa membunuh kapanpun dia mau, tapi cara dia menghalangi kami, seperti membuatku untuk memilih pilihan. Dia bisa melakukan lebih dari ini jika dia mau.’ Pikir pria ini, setelah memperhatikan tatapan mata Elly terhadap mereka bertiga, dan terutama ke arahnya.
Dari dua meter jadi satu meter. Pemantik itu terus terbang mendekati mereka berdua yang mana pakaian mereka sudah dilumuri oleh minyak goreng bercampur dengan bensin. Dan jika pemantik itu jatuh ke lantai yang sudah terkena minyak, ataupun mengenai mereka, mereka berdua akan habis terbakar.
Sedangkan diri mereka tidak bisa lari dari sana karena lantai yang licin, namun jika mereka menggunakan senjata api untuk menjauhkan pemantik itu dari mereka, sama saja dengan bunuh diri. Lalu jika salah satu dari mereka menendang pemantik itu untuk sekedar menjauhkannya dari mereka, ada kemungkinan mereka akan terbakar juga.
Kecuali satu temannya yang tersisa itu mau menolong mereka berdua, mereka jelas akan selamat. Tetapi satu masalah lainnya adalah, Elly sudah menyiapkan senjatanya untuk menembak juga.
Di tempat yang minim cahaya ini?
“Kalian memilih kandang yang salah,” Ucap Elly sambil memandang mereka bertiga dengan tatapan meremehkan.
Lantas, pria yang awalnya terdiam ini, tiba-tiba saja sedikit menyunggingkan senyuman tipis.
‘Coba saja kalau bisa.’ Pikir pria ini.
__ADS_1
Yang akhirnya senyuman itu langsung menghilang setelah ia tiba-tiba saja bergerak dengan cepat untuk menangkap pemantik tersebut.
DORR..
Langkah dari pria itu begitu cepat untuk menangkap pemantik itu lalu menghindari tembakannya Elly dengan begitu sempurna.
‘Dia punya insting yang kuat. Tidak bisa, mereka tidak boleh naik ke lantai dua.’ Tidak ingin entah itu mereka bertiga atau salah satu dari mereka berhasil naik ke lantai dua, Elly yang niatnya hendak turun dari lantai dua, harus dihadapi oleh dua orang yang berhasil selama dari pemantik api yang hampir membakar mereka berdua.
Ya, kedua orang itu ternyata cukup pintar, sampai mau buka baju yang basah karen campuran minyak dan bensin. Sehingga mereka berdua sekarang jadi bisa lolos dari jebakan minyak itu.
DORR…
Tembakan demi tembakan, menyerbu Elly yang masih bertahan di lantai dua.
‘Wanita itu ternyata bisa menembak, kelihatannya dia memang bukan sembarang pelayan. Pantas saja, rasanya eneh, karena penjagaannya terlalu longgar, ternyata orang itu menempatkan wanita itu untuk menjadi penjaganya,’ Tidak mau berhenti dengan kegagalan, karena sudah terlanjur ketahuan oleh Elly, mereka bertiga pun menyerang Elly dari arah berbeda.
__ADS_1
‘Gara-gara persiapannya mendadak, dengan tubuh ini, aku pasti masih banyak kekurangan untuk menghadapi mereka bertiga.’Elly yang mencoba menelepon beberapa anak buah Alves yang ada di luar, sayangnya harus di hadapi dengan adanya alat pengganggu sinyal, makannya dia pun tidak berhasil meminta bantuan yang ada di depan.