
Elly terdiam, rupanya pria dengan berjuta pesona ini khawatir, lagi?
Kenapa pria ini terus saja khawatir? Padahal ia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun dengan semua yang Elly kerjakan.
"Terima kasih." Karena tidak tahu harus bagaimana menenangkan hati dari pria yang begitu terobsesi kepadanya ini, Elly pun hanya bisa tersenyum dan mengusap wajah tampannya itu dengan penuh kelembutan. "Terima kasih, sudah mau mengkhawatirkan saya."
"Elly-" Alves tidak bisa berkata lebih selepas Elly tiba-tiba memberikan rasa manis pada bibirnya.
CUP.....
Satu kecupan itu berlangsung cukup lama. Dan kecupan itu pula, bagaikan obat pereda khawatir untuk Alves agar tidak terus-terusan dalam kepanikannya.
Hanya itulah yang Elly mengerti dengan situasinya sekarang, ketika dirinya bersama dengan pria ini.
Lagi-lagi, sebuah kelembutan menyapu semua indera di tubuhnya. Menjadikan nuansa yang mereka berdua ciptakan, timbul untuk mewarnai dunia yang sedang disiapkan.
Dan di samping Elly tengah membuat majikannya itu tenang, Rafa, dia melihat segalanya.
Hubungan antara pelayan bersama dengan majikannya.
Rumor soal kedua orang itu, sungguh benar, dan Rafa tidak mampu menyangkal kalau hubungan antara Bos nya dengan pelayan itu, terlihat sudah lebih jauh dari pada yang di lihat dari luarnya saja.
"Rafa, kenapa kau masih di sini? Jangan sampai kau ketahuan oleh Tuan muda, cepat pergi." Ucap Luciana. Dia masih berada di undakan tangga, dan sekarang ia tengah berdiri menatap ke arah Rafa yang masih berdiri di depan pintu itu.
"Iya." Jawab Rafa singkat. Dia pun pergi dari sana dan mengikuti Luciana untuk mengurus si tersangka dari kasus ini.
__ADS_1
___________
"Apa, saya boleh bertanya? Kenapa di bibir kalian berdua sama-sama ada lipstik?" Tanya Orson, dia sedang dalam mode sebagai seorang supir, dan tengah membawa majikannya pergi ke tempat lain, tentu saja bersama dengan Elly.
"Oh, kami baru saja berbagi lipstik, kata Tuan, rasanya enak." Jawab Elly, sebagai perwakilan dari keterdiaman Alves.
"Jangan-jangan anda sekalian keluar dengan penampilan seperti itu?" Orson bertanya dengan wajah terkejut, karena kemungkinannya memang benar.
"Kau pikir aku ini apa? Aku itu selalu pergi dengan persiapan, jadi aku dan dia keluar dengan menggunakan masker." Jawab Alves.
'Haduh, sudah pasti apa yang akan di katakan oleh banyak orang-orang? Mereka tentu saja menganggap kalau mereka berdua ada hubungan.' Pikir Orson. Dia jadi sedikit kewalahan dengan mengurus dua orang ini, sebab apa? Karena tidak seperti sebelumnya, dimana Alves pasti akan melakukan semua pekerjaannya dengan mulus tanpa ada kendala apapun.
Kali ini? Pekerjaannya memang cukup lancar, namun di balik kelancaran itu ada batu sandungan, karena rumor yang beredar tentang Elly dengan Alves ini sudah mulai menyebar.
"Sekarang jadwalku apa lagi setelah ini?"
"..." Alves tidak berani bicara, dan Elly, dia terlihat tidak tahu apa-apa soal pelabuhan.
"Apa kita akan berlayar?" Tanya Elly, sedang membenarkan lipstik yang sempat menghilang itu.
Tidak, karena Elly sendiri merasa tidak suka dengan menggunakan lipstik, dia menggunakan lip gloss sebagai pewarna bibirnya.
"Elly, jangan pakai apapun."
"Bukannya orang-orang bekerja pakai lipstik atau apapun itu untuk mewarnai bibir mereka?"
__ADS_1
"Mereka ya mereka, kau tidak perlu." Ketus Alves, ia sungguh tidak suka melihat bibir itu terpoles dengan lip gloss yang akan membuat bibir Elly jadi tampak lebih mewah untuk di cicipi.
"Padahal rasanya enak, sia-sia juga kalau tidak di pakai, walaupun saya memang kurang suka." Gumam Elly, lalu menutup kembali tutup dari lip gloss itu. "Ini, saya kembalikan." Memberikannya kepada Orson, karena dialah yang membelikannya untuk Elly, sebab dia pikir akan cocok jika di gunakan untuk wanita yang ada di sampingnya itu.
"Kenapa kau malah memberikannya kepadanya?" Alves langsung merebut Lip Gloss itu dari tangan Elly, sebelum di ambil oleh Orson.
"Itu kan punya Orson." Jawab Elly.
Karena menggunakan kalimat yang kurang tepat, Orson pun jadi kena masalah.
"Sebentar, saya meralat ucapannya, saya membelikannya, bukan meminjamkannya." Ralat Orson, agar tidak ada kesalahpahaman so pemberian dari lip gloss itu sendiri.
"Kau itu selalu saja punya banyak alasan ya?" Alves membuka lip gloss itu dan mencoba mencium aromanya. Rasanya stroberi, cukup untuk membuat orang yang tidak tahu itu apa, untuk di makan.
Niatnya ingin di buang, tapi dia punya rencana sendiri dengan barang itu, maka dari itu Alves pun menyimpannya di dalam sakunya.
'Bukannya dia semakin aneh? Kira-kira apa yang akan di katakan orang lain, jika tahu kalau Bos mereka menyimpan lip gloss di saku celananya?' Orson ingin sekali tertawa, tapi niatan ingin tertawa itu langsung pudar setelah melihat ada yang membuat Orson harus menginjak pedal gas lebih dalam lagi.
"Ada apa?" Tanya Alves, lihat saja ke belakang.
Alves dan Elly pun melihat ke arah belakang.
Rupanya ada empat mobil sedang mengejar mobil mereka.
"Siapa mereka?" Tanya Elly, dia melirik ke arah kaca spion mobil, akan tetapi satu tembakan, berhasil mengenai kaca tersebut.
__ADS_1
DORR...