
Setelah beberapa saat, mereka berdua kembali.
"Kakek, aku akan langsung berangkat kerja, untuk selebihnya kita bicarakan di lain hari soal alasan kakek terusan mendesakku." Kata terakhir Alves sebelum dia pergi dengan membawa Elly.
"A-"
BRAK...
Suara pintu yang di tutup kasar itu langsung membungkam mulut mereka.
"A-apa kau marah karenaku yang tiba-tiba menyela pembicaraan kalian?" Tanya Elly khawatir.
"Tidak. Saat kau masuk, sebenarnya pembicaraannya sudah selesai, jadi jangan khawatir." Jawab Alves.
Tanpa melihat lawan bicaranya, Alves langsung masuk kedalam mobil, lalu barulah di susul oleh Elly.
" ... " Elly pun hanya memperhatikan Alves yang terlihat lebih dingin. 'Apa yang sebenarnya mereka bahas. Walaupun itu bukan hak aku untuk mengetahuinya, tapi tetap saja rasanya penasaran.' Pikir Elly.
"Kita akan langsung pergi ke kantor." Ucap Alves dengan wajah seriusnya. 'Kenapa kakek mendesakku terus? Ini sudah ke lima kalinya. Tapi kelihatannya kali ini lebih serius. Itu terlihat dari tatapan mata kakek saat melihat Elly tadi. Seperti sebuah harapan terakhir, kakek tadi terlihat seolah baru saja menemukan harta karun.'
Sebenarnya dalam satu tahun belakangan ini, Alves sudah mulai sering di bujuk untuk menikah.
Tapi dengan berbagai cara, Alves yang memang belum punya niat ingin menikah, beberapa kali menyewa untuk menjadi kekasih bayaran nya. Tapi tidak berlangsung lama, karena kakek nya mengetahui trik nya itu.
Dan untuk yang terkhir kali, Alves menyatakan melakukan pertunangan dengan Asena.
Tapai karena Asena sendiri sudah memilih pilihannya, maka pertunangan mereka berdua pun batal.
__ADS_1
Maka dari itu, kali ini kakek nya jadi lebih mendesak Alves untuk menikah? Ya, Alves awalnya memang belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
Menikah bukanlah hal yang rumit, karena Alves sendiri sudah memiliki segala sumber daya untuk menghidupi dirinya, bahkan keluarganya nanti sampai tujuh generasi.
Tapi sayangnya, dia sama sekali belum memiliki orang yang sangat cocok untuk hidup di sisinya untuk selamanya.
"Iya."
Jawaban dari Elly itu langsung menarik semua segala pikirannya untuk menoleh ke arah satu wanita yang kini sedang memakai sabuk pengaman. 'Tapi kelihatannya aku sudah menemukan pilihanku. Terlepas apa latar belakangnya, karena dia satu-satunya yang membuatku nyaman, maka aku tidak akan melepaskannya.'
"Oh ya, kau suka olahraga apa saja?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya itu?" Tanya balik Alves seraya menyetir mobil daam kecepatan tinggi.
"Apa bertanya saja butuh alasan?" Rungut Elly dengan wajah masam.
"T-tidak juga." ucap nya. "Hanya terkejut saja kau tiba-tiba saja tanya itu."
"Aku hampir menyukai semua bidang olahraga, kenapa?"
"Apa kau punya jadwal olahraga?"
"hmm? Kau terlihat sangat tertarik sekali membahas olahraga."
"Ya-" Elly melirik ke arah Alves yang kini sedang menyetir.
Tidak ada satu orang pun yang pasti pernah melihat Alves menyetir, karena Elly memang orang pertama yang ikut dengan mobilnya.
__ADS_1
"Sampai punya tubuh sebagus itu, pasti rajin olahraga kan?" Tanyanya. 'Karena kau punya tubuh dan otot yang bagus, kada aku merasa ingin sekali menyayat bagian daging itu.' Tatapan penuh dengan rasa tertarik itu pun muncul juga.
Ya, Elly sampai memperhatikan tiap inci dari penampilan yang di bawakan oleh Alves untuknya.
Mendengar pujian seperti itu, siapa yang tidak suka untuk mendengarnya? Apalagi yang mengatakannya adalah Elly, Alves pun di buat jadi bangga sendiri dengan kerja kerasnya untuk membentuk tubuhnya menjadi berotot, karena memang itulah yang di sukai oleh banyak wanita, dan bahkan sekarang saja Alves berharap kalau Elly benar-benar menyukainya.
"Tentu saja. Aku bahkan mengatur pola makanku, apa kau tertarik?" Tanya Alves sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Elly yang memang duduk di sebelahnya. Tania hanya tersenyum tipis saat melihat tangan Alves yang cukup kekar itu sudah ada di depan matanya.
"Aku tertarik." Dengan serta merta, Elly menyambut tangan Alves dengan salaman. "Aku tertarik untuk ikut olahraga denganmu. Ya, jika memang ada waktu, aku ingin bisa melatih tubuhku yang lemah ini." Imbuhnya sambil menunjukkan kekuatan cengkraman tangannya kepada Alves.
"Ini termasuk kuat loh."
"Tidak, ini terlalu lemah, bahkan untuk melindungi diri sendiri saja terasa susah. Aku belum bisa mengontrol tubuh ini dengan baik, walaupun tubuh ini sudah kehilangan jiwa yang asli." Ungkap Elly.
Karena Elly sudah mengungkapkan identitas di balik tubuh yang ia diami itu, dia pun jadi merasa lebih leluasa untuk mengatakan apapun kepada pria ini.
Alves memperhatikan raut wajah Elly yang terlihat seperti mengharapkan sesuatu kepadanya. "Padahal kau tinggal bergantung saja kepadaku." Gumam Alves.
"Bergantung? Jika terus bergantung, aku tidak akan bisa maju. Lalu, memangnya kau orang yang bisa selalu ada di sisiku? Tidak kan? Aku lah yang akan ada di sisimu, berperan jadi pelayanmu, melayanimu, dan melindungimu." Jawabnya.
'Padahal itu hanyalah kontrak saja. Tapi kenapa dia menganggapnya sebagai sesuatu yang di prioritaskan?' Walaupun Alves sudah di beritahu tentang jiwa asli yang ada di dalam tubuh itu bukanlah tubuh asli, tapi ia tetap saja tidak mampu untuk mengerti jalan pikiran dari wanita ini.
Membuatnya jadi penasaran, yaitu latar belakang dari jiwa tersebut.
"Apa kau mau mengatakannya?"
"Mengatakan apa?" Tanya Elly dengan polos.
__ADS_1
"Apa pekerjaanmu di kehidupanmu yang sebelumnya?" Akhirnya Alves menanyai Elly juga, soal pekerjaan yang pernah di lakukan oleh Elly.
Dengan kepala menunduk, Elly melepaskan cengkraman tangannya dari Alves, lalu dia pun menjawab. "Boneka."