
Sontak membuat Alan langsung sedikit tertawa ketika mendengar latah bu Tiah, dan jua karena ekspresi bu Tiah nampak Lucu.
"Ahaha em, tidak-tidak bukan apa-apa, yasudah biar saya saja yang menyicipinya" Lanjut Alan langsung ia cicipi sendiri makanan yang ia sodorkan ke bu Tiah tadi menggunakan sendok.
Bu Tiah merenges merasa malu dan sungkan kepada Alan, karena Alan nampak lebih dermawan daripada Mike dalam sikap maupun tutur kata.
Bu Tiah hanya mengiringi Alan ketika Alan sedang memasak, dan ia yang menata makanan yang sudah siap saji di atas meja makan.
'Wah, makanan apa ini, aromanya sedap sekali, sepertinya yang ini masakan daerah, dan yang ini masakan modern, dan itu masakan kesukaan Tuan, wah luar biasa sekali anak Tuan yang satu ini. Bagaikan koki cowok yang sangat handal' Batin bu Tiah yang tiada henti-hentinya merasa kagum kepada Alan tentang hal masak-memasak, sembari ia melihat-lihat hasil masakan yang telah tersaji tersebut di atas meja makan.
Karena yang dimasak oleh Alan cukup beragam, seperti masakan daerah dan memasak makanan kesukaan sang ayah, dan masak makanan kesukaan Mike yaitu berupa ayam goreng namun ia memasaknya dipadukan dengan berbagai macam rempah lain dan mengkolaborasinya dengan beranekaragam sayur-mayur.
Dan semua masakan tersebut ia selesaikan dalam kurun waktu hanya satu jam lamanya, semua itu sudah termasuk saat menyiapkan bahannya, walaupun dibantu oleh bu Tiah, namun itu tidaklah seberapa.
Ketika semua makanan sudah tersaji diatas meja makan, jam sudah menunjukkan hampir tiba saatnya waktu makan siang.
***
Ting.. tong.. ting.. tong..
Bel rumah berbunyi, yaitu Marvin lebih dulu pulang, sementara Mike masih belum pulang. Ketika dia melangkah masuk dan berjalan tidak jauh dari meja makan, dia bertanya-tanya sendiri ketika mencium aroma masakan yang tersaji diatas meja makan.
"Emm.. aroma apa ini, terasa menggugah selera sekali." Sembari ia menoleh ke arah ruangan tengah, yang mana Alan sedang duduk disana sembari membaca beberapa majalah.
Alan tersenyum ketika ia menoleh ke arah sang ayah.
"Ayah sudah pulang.." sapa Alan.
Marvin jua tersenyum sembari mengangguk dan hendak melangkah ke arah Alan berada. Dan ketika ia melangkah, ia sembari menoleh kesana dan kemari.
"Loh, mana Mike? Belum pulangkah dia?"
Alan hanya menggelengkan kepala.
"Kebiasaan sekali dia." Gumam Marvin sembari duduk disebelah Alan. Dan ketika ia baru saja duduk, Mike memasuki rumah, dia tidak memencet bel rumah karena dia selalu membawa kunci rumah.
"Woah, bu Tiah masak apa nih aromanya kuat sekali, bahkan aromanya tercium hingga ke selat sunda, hehe" Mike langsung melangkah menuju ke meja Makan untuk melihat makanan yang telah tersaji di atas meja tersebut.
"Bukan ibu yang memasaknya kak." Jawab bu Tiah dari arah dapur sedang membereskan peralatan masak yang telah usai Alan pakai.
"Hah? Bukan ibu yang masak? Lantas siapa yang memasak semua makanan ini bu? Kan gak ada mba baru.." Mike menoleh ke arah bu Tiah, dan menoleh jua ke arah Alan dan Marvin di ruang tengah.
Melihat dan mendengar Mike berkata demikian dan kalimat dari bu Tiah yang baru saja usai dia ucapkan, Marvin langsung beranjak ke arah meja makan, karena ia ingat akan hari pertama Alan tertukar posisi dengan Mike kala itu.
"Wah, ini semua si jagoan kah sang pelakunya?" Marvin Melirik ke arah Alan setelah ia melihat makanan yang tersaji tersebut.
"Hah? Pelaku sang jagoan? Maksudnya apaan pa?" Mike nampak polos dan melihat ke arah Alan juga.
"Mari makan" jawab Alan singkat sembari melangkah menuju ke mereka dan langsung duduk di kursi.
"Et, tunggu. Maksudnya gimana sih," Mike masih saja banyak bertanya karena belum paham.
"Silakan makan saja, itu ayam goreng kesukaan kamu bukan?" Alan tersenyum.
"Ah, kamu tau saja" Mike langsung duduk disebelah Alan, dan langsung menata makanannya diatas piring, ia tidak menghiraukan lagi apa yang sedang ia pikirkan sendiri setelah melihat makanan kesukaaannya.
__ADS_1
"Emm.. buset, ini masakan enak banget." Mike melotot ketika baru saja mencicipinya.
Alan tersenyum penuh bahagia ketika melihat Mike dengan lahapnya memakan makanan yang ia masak. Sementara Marvin jua demikian, dia tidak banyak bercakap dan langsung memakan makanan yang tersaji disana karena dia sudah menduga bahwa makanan tersebut di masak oleh sang anak.
Selain dia memang sedang merasakan lapar akibat pagi harinya hanya meminum secangkir sereal dan satu lembar roti, dia memang sudah rindu akan masakan yang Alan buat, walaupun hanya berjarak beberapa hari yang lalu ia memakan masakan Alan, namun tak bisa di pungkiri bahwa kelezatan dari makanan yang di masak oleh Alan sungguh membuatnya ketagihan, terlebih lagi makanan tersebut adalah makanan favoritnya.
Alan masih saja terdiam dan tersenyum melihat sang ayah dan sang kakak sedang lahap memakan masakan yang dibuatnya.
"Lah, kok kamu masih diam saja Lan, ayo kamu juga makan, keburu habis nanti ini.." Ajak Mike ketika menoleh kearah Alan yang duduk di sebelahnya.
"Iya nak, ayo kamu juga makan. Nanti bisa-bisa di habiskan semua oleh dinosaurus yang satu ini." Marvin mengejek Mike.
"Idih papa, main bilang Mike seperti donousus aja, huh." Mike mendengus.
"Hehe, Dinosaurus Mike, bukan dono usus, pelajaran IPA kamu bagaimana selama ini." Lanjut Marvin sembari menggelengkan kepala.
"Lagian papa, huh." Mike memonyongkan bibirnya bak anak kecil.
"Si Pak dono, memang biasanya dipanggil dono usus karena jualan usus ayam di pasar ayah." Sambung Alan ikut serta berbicara dan membicarakan salah satu warga desanya yang berjualan di pasar.
"Wah, apa benar begitu nak" Marvin langsung tertawa.
"Hilih, mau dono usus kek, dono muncus atau dono mulus kek, Mike tidak peduli alias orak urus" Celoteh Mike sembari langsung menggigit kembali ayam goreng.
"Nyaaam ngam ngam"
Sontak membuat Marvin sekaligus Alan menjadi tertawa ketika melihat ekspresi wajah Mike nampak sangat lucu.
"Haha, yasudah mari lanjutkan kembali makannya, dan kamu Michealan ayo kamu juga makan, dan setelah ini nanti kalian langsung berbenah, kita berangkat pergi ke Mall" Ajak Marvin.
"Hu um." Alan menggangguk, lalu ia melihat ke Mike.
"Gak enak,"
"Hey, Cobalah dulu, baru kamu boleh berkomentar." Lanjut Alan.
"Males."
"Cih"
Alan langsung mengambil garpu, kemudian ia ambil sayur tersebut dan hendak langsung ia suapkan ke Mike.
"Ayo kamu cobalah" Alan sedikit memaksa.
"Emmph, gak mau Alan, aiisssh."
"Setidaknya satu suap saja dulu" Lanjut Alan berantusias.
"Gak mau Lan, papa tolongin Aku dong, aiisssh kamu yang makan saja sayur itu Alan. Arrrgggh"
"Satu suap saja" Alan semakin memaksa sembari memegang wajah Mike bagian rahang ketika ia menyuapkan sayur tersebut.
Hap.
"Eeemm"
__ADS_1
Mike meliriknya setelah sayur tersebut sudah berhasil Alan suapkan di mulutnya, Mike diam sejenak sembari hendak mengunyahnya secara perlahan.
Alan tersenyum ketika ia berhasil menyuapkan sayur tersebut ke Mike, sementara Marvin hanya tertawa-tertawa melihat kedua putranya nampak Lucu baginya.
"Em.. nyaemm.. nyaemm" Mike mengunyahnya sembari menoleh ke Alan dan ke Marvin.
"Bagaimana? Sekarang kamu boleh berkomentar." Lanjut Alan.
"Sensasinya krenyes-krenyes ketika di gigit, tidak kematangan tidak pula mentah wooah enak ternyata."
Mike menikmatinya dan berkata seolah-olah dia tahu tentang makanan, padahal semua itu dia tidak tahu sama sekali. Kemudian ia justru langsung memakan sayur tersebut lagi dan lagi hingga nyaris habis.
"Hey Lan, kamu kenapa hanya makan sayuran? Semacam kambing saja" celoteh Mike.
"Cih," Alan hanya meliriknya
"Em, oh iya, yang menjadi pertanyaan ku, siapa yang memasak semua makanan ini, tadi bu Tiah bilang bukan dia yang masak, dan juga gak ada mba baru yang bekerja. Lalu.. pesan di restoran mana semua makanan ini pa?" Tanya Mike seraya masih memakan sayur tersebut secara terus-menerus
Marvin hanya mengangkat kedua alisnya ke arah Alan.
"What?" Mike terkejut.
"Bukankah benar begitu kan nak?" Lanjut Marvin Berkata kepada Alan. Sementara Alan sendiri hanya tersenyum.
"Beneran kamu yang masak semua ini Lan?" Mike menoleh ke arah Alan.
"Benar."
"Uuh, pantesan saja rasanya gak enak." Ejek Mike sembari mengambil menu makanan lain dan memakannya dengan sangat lahap.
"Cih dasar." Alan kembali meliriknya.
"Hehehe,
***
Setelah usai makan siang.
"Yasudah Mike, Michealan, kalian segera berbenah, nanti sekitar pukul 14:00 kita jalan" Ajak Marvin sembari beranjak berdiri dari tempat duduknya dan hendak masuk kedalam kamar.
"Siap laksanakan perintah, Kapten." Mike seraya mengangkat tangan ke kening.
Membuat Marvin tertawa melihat tingkah konyol dari sang anak, yang mana sebelumnya Mike jarang sekali bercanda dengannya, Mike cenderung berkata dengan bahasa dan nada bicara yang kurang nyaman didengar ketika sedang berbicara dengannya.
Namun, Marvin sendiri menyadari akan hal itu bahwa selama ini ia memang sangatlah jarang memperhatikan Mike karena kesibukannya dalam bekerja. Sehingga membuat Mike menjadi seperti itu. Akan tetapi, kini ia melihat Mike sedikit berubah semenjak kehadiran saudara kembarnya (Alan). Dan Marvin berharap Mike dan Michealan akan selalu bahagia dan selalu kompak dalam menghadapi segala lika-liku kehidupannya yang masih sangat panjang.
Ketika Marvin telah berjalan masuk kedalam kamar, kali ini Alan yang mulai bertingkah jahil, yaitu ketika tangan Mike masih berada di kening, tiba-tiba ia langsung menampiknya.
Plak!
"Oit, aiish Sue." Mike terkejut, namun Alan sudah langsung beranjak menaiki anak tangga menuju ke dalam kamar.
"Oit, tunggu Alan. Tanggung jawab kau."
"Cih."
__ADS_1
Alan hanya menolehnya saja dan langsung melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga tanpa mempedulikan celotehan Mike.
"Aiiih sue, di cuekin dah gua, kamvret"