Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 150


__ADS_3

Disisi Alan


Saat mobil kendaraan mengantarkan Alan baru saja sampai pada area parkir, lekas ia turun di sambut langsung oleh beberapa teman sekelompok Mike diantaranya Ivan dan Al.


Ya, mereka tengah menjalani misi perencanaan yang sudah mereka susun tadi. Tanpa basa-basi mereka menarik Alan bergegas pergi dari area parkir tersebut khawatir jika keburu Ananta hadir, sehingga mereka pun tidak memperhatikan detile bahwa Alan hanya datang seorang diri.


Seet!


"Eihh"


"Sttt, diem dulu Mike" Lirih Al kala tengah menarik Alan ke suatu arah.


"Aw, aw, aw," rintih Alan kala tangan masih di cengkram oleh Al, lekas ia berhenti bak motor ngerem mendadak hingga Ivan nyaris menabraknya.


Suut!


"Oihhh, buset dah!" Seru Ivan seraya merapikan rambut depan.


"Ada apa?" Alan memasang ekspresi asam.


"Hehe, what! kita salah nyet, harusnya kita tarik kembarannya, ini malah Mike yang kita bawa, astaga .." Al sedikit melotot ke arah Ivan kala sudah melihat nama pada baju yang Alan pakai.


Sontak Alan pun langsung melihat tulisan nama pada bajunya sendiri. ' Astaga Tuhan ..' Gumamnya di batin menyadari bahwa ia salah memakai baju.


"Anu .. em aduh, ini .. anu .." Gumam Ivan dan Al tampak cemas akibat salah sett-up. Membuat Alan penuh heran. "Sebenarnya ada apa?" Tanya-nya.


Usai Alan berkata demikian sontak membuat Al dan Ivan sangat terkejut kala ada tangan dari arah belakang langsung merangkul pundak Alan, yakni Ananta sudah hadir.


Plek!


"Ya ya ya yah …" Al dan Ivan salah tingkah sembari garuk-garuk kepala.


"Ya ya ya, kenapa nyuk elah .. Hei, Pagi Mike .." Sapa Ananta tersenyum merekah tampak sangat ceria. Disambut senyum tanpa kata jua oleh Alan. Namun senyuman tersebut penuh ragu lantaran ada sesuatu yang masih membelenggu.


Gurauan ringan kala sahabat datang membuat suasana kian riang. Seperti hari-hari biasa kala saling jumpa, tiada kata mutiara selain kata canda dan tawa.


Alan tidak pandai menyusun rangkaian kata sebab dirinya bukanlah kakak-nya. Pikiran terbelenggu akan kehadiran yang tengah di tunggu tetapi tak begitu tertuju kala terlihat senyum ceria dari gadis itu.


Mengakhiri dengan senyuman seraya meraih tangannya lekas hengkang.


Sementara Al dan Ivan bergegas menyusul teman-teman sesuai perencanaan tadi bahwa salahsatu dari mereka harusnya ada yang menarik saudara kembar Mike. Namun kenyataan tidaklah demikian, mereka tidak melihat kembaran Mike hadir. Maka perencanaan yang sudah tersusun tadi pun tidak jadi mereka lakukan.


***


"Ah .. rindu jua aku dengan ruangan ini, Mike. Dan .. " Ucap Ananta kala memasuki ruang kelas.

__ADS_1


"Dan ..?" Alan bereskpresi bingung.


"Rindu tragedi lucu saat pertama mengetahui kamu hilang ingatan. Eh, tapi tunggu," Ananta mendekat ke arah dada Alan yang sedikit terbuka akibat tertarik oleh Al dan Ivan tadi.


"Aku rasa .. aku belum pernah melihat tanda lahir sebesar itu di dada kamu deh, atau .." Ucapnya penuh tanya.


"Eegh, ini .. hei, apa kamu sering mengintipku?" Jawab Alan tampak malu seraya mengancingkan kembali bagian dadanya.


"Idih, ngintip apaan! Kamu sendiri yang sering ngawur buka pakaian habis olahraga nyuruh aku nganterin minum, gak tau malu banget, sekarang ngatain aku sering ngintip pula, huh dasar!"


"Apa, jadi .. Si Mike sering melakukan itu padamu?" Tanya Alan, reflek.


"Apa maksudmu berkata si Mike? Kamu pikir kamu siapa? setan yang sedang nyamar jadi Mike gitu? Ngigo' kok pagi-pagi begini, heran." Ananta mendengus.


"E, anu .. sebenarnya ada yang belum aku katakan kepadamu" kesempatan bagi Alan untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Cih, mengatakan apa? Kamu akan ngeprank kalau saat ini kamu adalah hantu jelma'an Mike gitu? Atau akan berkata kamu memiliki saudara kembar? Haha gak ngaruh Mike, aku udah kebal terhadap prank konyolmu." Tegas Ananta, yang mana kalimat tersebut justru membuat Alan bingung harus mulai berkata apa.


Ya, selama Mike belum hadir ke sekolah, Alan kesulitan untuk mengatakan yang sesungguhnya, terlebih lagi saat ini ia salah memakai seragam sekolah.


Kala percakapan belum tuntas, banyak siswa maupun siswi memasuki ruang kelas lantaran sudah saatnya masuk, tak lama kemudian guru pun hadir.


Skip


***


Perkara yang terjadi kepada Mike dan seluruh rekan-rekannya hanyalah sekedar tawuran terlebih lagi tidak diketahui bahwa ada kasus kematian yang terjadi. Maka banyak dari mereka sudah bisa dibebaskan. Khusus untuk Mike sendiri di jemput oleh 3 orang pesuruh Marvin.


"Dik, tolong jangan persulit tugas kami. Tuan Marvin menyuruh kami untuk memastikan adik sampai di rumah." Pinta orang-orang itu kala Mike menolak masuk kedalam mobil.


Mike hanya meliriknya tanpa menghiraukan ucapan mereka sebab sudah seringkali sang Ayah melakukan ini (menyuruh orang untuk menjemputnya) walau perkara sebelumnya tidak pernah terlibat dengan polisi.


lekas ia hendak melangkah pergi ke arah motornya bersama Saga. Tetapi orang-orang itupun sigap meraih tangan Mike bak penculik yang memaksa korbannya untuk dimasukkan paksa kedalam kendaraan.


Seet!


"Aissh! Apa apaan kalian, lepaskan saya woi!" Pekik Mike seraya melepaskan diri sekuat tenaga sembari mendorong mereka kala tangannya dicengkram.


Seet!


Brak!


"Arrgh. Dik, tolong jangan persulit kami, kami hanya menjalankan tugas, jangan paksa kami menggunakan kekerasan untuk membawa adik pulang." Ulang orang-orang itu.


"Oho .. menggunakan kekerasan untuk membawa saya pulang hah .. ? waw sangat fantastis bagai adegan didalam sinetron ya, hei apa papa yang mengatakan kalimat itu kepada kalian hah?" Tanya Mike tampak emosi.

__ADS_1


Orang-orang itu saling mengangguk.


"O, o, o .. lantas dibayar berapa kalian orang hah?"


"Dik, kami hanya menjalankan tugas." Ulang orang-orang itu.


"Diam! Yang saya tanyakan kalian di bayar berapa oleh papa saya untuk menggunakan kekerasan kepada saya, jawab!" Pekik Mike semakin emosi seraya mengeluarkan seluruh isi dompetnya.


Orang-orang itu saling menunduk karena tidak bisa menjawab nan bingung.


"Aiissh! Sudahlah ambillah ini, dan ambil bayaran dari papa saya sekalian, lekaslah pergi"


"Tapi, Dik .."


"Apa lagi .. apa segitu masih kurang hah?" Lanjut Mike.


Orang-orang itu tidak bisa menjawab apapun.


"Sudahlah, kalian pergi sana. Urusan ini adalah urusan pribadi saya dengan papa saya. Selebihnya kalian tidak usah memaksa saya. Paham? Pergilah." Pungkas Mike lekas melangkah pergi.


Ya, Mike merasa sangat kesal bukan lantaran sang ayah tidak menjemputnya, sebab tentang itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Mike.


Tetapi kali ini yang membuat ia sakit hati adalah mendengar kalimat yang orang-orang itu katakan tadi yakni 'Menggunakan kekerasan' sebab hal tersebut adalah pertama kali ia mendengarnya.


***


Next


Mike pergi berboncengan dengan Saga menuju lokasi teman-temannya berada, sebab ada suatu urusan yang belum terselesaikan yakni salah satu temannya (Kodar) meninggal Dunia.


Ditengah perjalanannya, Mike berhenti sejenak di minimarket hendak membeli beberapa minuman dan cemilan, sebab perutnya masih kosong belum terisi apapun dari pagi.


Ketika sudah didepan antrian karsir, lekas ia menggunakan kartu kredit lantaran sudah tidak memiliki uang kas lagi.


"Maaf kak, apa ada kartu kredit lainnya?" Ucap petugas kasir.


Mike menggelengkan kepala "Memangnya ada apa dengan kartu kredit saya, Kak?" Tanya-nya.


"Maaf kak, untuk Kartu ini tidak bisa digunakan."


"Apa!" Mike reflek tak disadari bersuara cukup lantang hingga membuat perhatian para pengunjung melihat ke arahnya.


"Emph .. baiklah, tunggu sebentar Kak," pamit Mike beranjak keluar sejenak lekas menemui Saga yang masih duduk di atas motor menunggunya.


"Lah, katanya mau belanja bro?" Tanya Saga tampak polos melihat Mike keluar masih tangan kosong.

__ADS_1


"Anu …"


__ADS_2