
Catatan
Pada bab ini dan bab mendatang, Author menceritakan di kedua belah sisi sekaligus.
Alan melangkah ke arah beberapa ruang yang berada di rumah sakit tersebut hingga memakan waktu kurang lebih 10 menit. Karena ia tidak kunjung menemukan keberadaan Mike, alhasil lokasi tujuan terakhir ia adalah area parkir.
Setelah ia tiba di tempat parkiran, ia terdiam sejenak di tempat motornya berada tadi, lantaran kendaraan bermotornya tidak ada di tempat tersebut, secara otomatis Mike sedang pergi meninggalkan ia seorang diri di rumah sakit tersebut, pikir Alan.
Alan bingung hendak melanjutkan langkahnya untuk pulang, karena sebelumnya Mike tidak berpamitan terlebih dahulu kepadanya hendak pergi kemana dia. Dan jua tidak ada pesan ataupun panggilan satupun via telepon dari Mike.
Alan memikirkan Mike jika sampai ia melangkah pulang tanpa memberitahu Mike, maka Mike nanti akan kebingungan mencarinya, mengingat yang membawa ia ke rumah sakit tersebut adalah dia, Pikir Alan.
10 menit lamanya ia berdiri disana, Mike tidak kunjung hadir. Alhasil Alan berinisiatif untuk pulang terlebih dahulu nan memastikan telepon ia stay jika sewaktu-waktu Mike menghubunginya.
Kurang lebih sepuluh langkah ia berpijak, telepon genggamnya berbunyi.
Triiirrt.. triiirrt
Ia segera meraih telepon genggamnya tersebut didalam saku, berharap Mike-lah yang menelpon. Tetapi setelah ia melihat siapakah gerangan yang menelpon, bukanlah Mike melainkan sang ayah.
"Michealan, Kamu dan Mike berada dimana saat ini? Kok kalian belum pulang?" Tanya Marvin melalui media telepon tersebut.
'Oh Tuhan, Ayah telah berkata demikian. Berarti Mike belum berada di rumah saat ini?' Batin Alan penuh tanya.
"Halo.. Nak, kok kamu diam saja? Papa tanya Kalian berada di mana saat ini? Kok masih belum pulang? Apapun yang sedang kalian lakukan saat ini, lanjutkanlah lagi pada hari esok. Papa minta kalian cepatlah pulang. Saat ini sudah pukul 22:50. Sebentar lagi para tamu akan segera hadir, Nak." Pinta Marvin sembari mengulangi kalimatnya lantaran Alan masih diam saja.
"Tamu?" Alan tidak paham yang Marvin ucapkan tersebut.
"Iya, para tamu sebentar lagi akan segera hadir. Papa dari tadi menghubungi nomor Mike tapi tidak bisa terhubung. Dia bersama kamu saat ini 'kan?" Lanjut Marvin.
"Emm i.. iya Pa," Alan benar-benar bingung hendak menjawab apa dari pertanyaan sang ayah tentang Mike. Alhasil ia pun akhirnya terpaksa berbohong.
"Yasudah, lebih baik kalian cepatlah pulang, sebelum tepat pukul 00:00"
"Tat..tapi.. ah, baiklah Ayah, kami akan segera pulang." Pungkas Alan meyakinkan, walau ia sendiri tidak begitu yakin.
***
Setelah selesai berbincang-bincang dengan sang Ayah melalui media telepon tersebut, Alan melanjutkan langkahnya hendak pulang.
Alan memang belum sepenuhnya paham arah jalan pulang, lantaran jarak antara lokasi rumah sakit tersebut dengan kediamannya cukup jauh. Namun, canggihnya teknologi kini yang membuat ia tidak kesulitan jika hanya untuk pulang ke kediamannya. (Mengandalkan GPS)
Awal mula ia menaiki transportasi umum, hingga transit sebanyak 3 kali. Setelah itu ia turun di pinggir jalan, ia langsung memesan ojek online, ia sengaja memesan ojek karena untuk memangkas waktu supaya bisa cepat sampai jika melalui jalan alternatif. Pikir Alan.
"Pakai helm, bang.." sang Driver memberikan helm kepada Alan ketika ia sudah datang. Kebetulan sang Driver tersebut masih berusia muda, kurang lebih masih duduk di bangku kuliah. (Pekerjaan sampingan dia)
"Iya, terimakasih" pungkas Alan meraih helm tersebut seraya langsung memakainya. "Sesuai titik ya, bang" pinta Alan ketika sang Driver sudah mulai memacu kendaraannya.
"Siap."
__ADS_1
Alan meminta kepada sang Driver tersebut supaya sedikit dipercepat laju perjalanan mereka, namun Jika Alan tidak meminta demikian pun, sang Driver tersebut memang ugal-ugalan dalam berkendara.
Alhasil, ketika mereka tengah melintas pada bagian tikungan yang mereka lalui, ojek Online yang Alan tumpangi tersebut, serempetan dengan kendaraan bermotor yang melaju dari lawan Arah.
Ciiiittttt
Brraak!
Alhasil mereka semua terjatuh, posisi kaki kanan Alan tertimpa roda bagian belakang dari motor yang ia tumpangi tersebut. Tetapi karena kedua pengendara tersebut melaju tidak dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka kecelakaan yang terjadi ini tidak begitu parah dan tidak mengakibatkan fatal. Hanya terjatuh saja, namun cukup membuat kedua siku Alan tergores dan hanphone yang berada di saku jaket Alan terjatuh ke aspal.
Begitupun dengan hanphone milik sang pengendara lain itu juga terjatuh tepat di sebelah hanphone milik Alan.
Ketika kedua pengendara tersebut terjatuh, mereka semua langsung bergegas kembali berdiri, termasuk Alan sembari meraih Hanphone yang terjatuh itu, tetapi ia salah mengambil. Yaitu handphone milik pengendara itu yang Alan Ambil.
Ketika pengendara lain tersebut berdiri, ia langsung menoleh ke arah sang pengemudi ojek yang Alan tumpangi tersebut seraya memarahinya dengan nada tinggi.
"Woi bang! Bisa mengemudi apa kagak si loe!"
"Hei, kenapa kau nyolot hah! Jaga mulut kau ya! Kau rupanya yang tak bisa berkendara. Cepat kau ganti rugi, lihatlah body motor saya jadi tergores. Mana terpangkas pula waktu perjalanan penumpang saya." Balas sang Driver emosi.
"Ganti rugi loe bilang hah? Cuih! Motor masih kreditan saja belagu sekali loe." Lanjut pengendara tersebut mengejek, mereka sesama masih berusia muda setara Alan.
"Woi! Tutup mulut kau, bocah! Saya bilang ganti rugi ya ganti! Tak usah kau banyak cakap lagi. Apakah kau ingin urusan ini di bawa ke pengadilan hah! Saya yakin kau pun tak memiliki SIM!"
Mereka menjadi adu mulut yang cukup panjang, lantaran sesama berusia muda, maka tidak heran jika keduanya tidak bisa saling mengalah. Sementara posisi Alan sedang merapikan jaketnya nan sedikit menjauh dari mereka sembari menunduk di saat mereka semua sedang adu mulut.
Ketika ia melihat siapakah gerangan pengendara yang tengah berseteru dengan sang pengemudi ojek online tersebut. Alan sedikit mengangkat satu alisnya.
Begitupun dengan dia, dia pun langsung sedikit melotot ketika melihat Alan.
"Hah! Loe lagi! Loe lagi." Cetus pengendara tersebut yang tak lain dia Adalah Jovan bersama dengan temannya.
Alan pun langsung tersenyum khas sama seperti biasanya saat ia berjumpa dengan dia.
"Apakah sudah selesai kawan? Maafkanlah Driver saya." Ucap Alan kepada Jovan. Lalu ia menoleh ke arah sang Driver. "Mari bang, kita lanjutkan perjalanannya, motornya masih bisa jalan bukan?"
"Tapi.. dia harus bertanggung jawab." Sang Driver menunjuk ke arah Jovan dengan tatapan sengit.
"Nanti saya yang akan ganti rugi." Pungkas Alan langsung naik ke atas motor. "Mari Bang, cepatlah kita lanjutkan perjalanan kita." Alan menepuk pundak sang Driver tersebut, seraya masih tersenyum ke arah Jovan.
Skip.
***
Disisi Mike
Mike pergi hendak ke tempat biasa teman-teman sekelompok-nya nongkrong. Tetapi setelah ia sampai di lokasi. Tidak ada satupun teman yang sedang berada disana.
Mike berniat hendak menanyakan seputar kejadian yang telah berlalu itu kepada Dimas dan ke beberapa teman yang lain. Walaupun ia bisa saja langsung datang ke rumahnya Dimas, tetapi ia lebih memilih ke tempat biasa mereka nongkrong terlebih dahulu.
__ADS_1
Namun, setelah mengetahui di tempat nongkrong tersebut sepi, Mike diam sejenak di atas motor sembari melihat jam tangan.
"Aish, alangkah cepat sekali waktu ini berputar." Gumam Mike melihat waktu sudah semakin malam. Alhasil, ia melupakan sejenak tentang tujuan Awal ia kesana, mengingat ada hal lain yang tak kalah penting yang sedang akan diadakan yaitu pesta ulang tahunnya.
Ia langsung kembali memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kembali ke rumah sakit. Karena ia khawatir, Alan pasti bingung mencarinya. Pikir Mike.
Perjalanan ia menuju kembali ke rumah sakit sangat lancar, walaupun ia memacu kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi, beruntung tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Sungguh lihainya Mike dalam berkendara hingga ia menempuh jarak yang cukup jauh tidak membutuhkan waktu yang lama.
Setelah ia sampai, ia langsung bergegas menuju ke ruang perawatan Ananta. Setelah ia sampai tepat di depan pintu, ia mengintip sejenak melalui celah kaca yang berada di pintu tersebut.
'Eh, kok Alan tidak ada? Apakah dia sudah pulang lebih dulu?' Batin Mike penuh tanya.
Ia berminat hendak kembali masuk kedalam, tetapi ia menyadari, ia belum bercerita kepada Ananta maupun kepada Andreas tentang ia memiliki saudara kembar yang sama-sama berkunjung ke sana.
Ia juga menyadari bahwa pastinya saat Alan masuk kedalam ruang tersebut, Alan sedang menjadi dirinya. Pikir Mike. Alhasil, ia segera bergegas hendak langsung pulang ke rumah menyadari hanphone ia saat ini kehabisan batrai.
***
Beberapa menit kemudian, tepat pukul 23:30 pm, ia telah sampai di lingkungan perumahannya. Karena lagi-lagi ia memang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sebelum ia tepat di rumahnya, ia berhenti sejenak didepan rumah orang, yang posisinya tidak jauh dari rumahnya. Karena terlihat di rumahnya sudah ramai pengunjung yang datang.
Setidaknya Mike masih memiliki etika jika berjumpa dengan rekan-rekan Ayahnya yang kebanyakan dari kalangan atas, yakni para pejabat dan lain sebagainya. Ia menyadari, ia dari kemarin belum pulang, bahkan ia pun belum mandi, dan jua kini ia masih memakai seragam sekolah.
Namun, ia masih memakai jaket, maka ia berinisiatif untuk tetap bisa masuk melalui bagian garasi yang terhubung langsung ke arah belakang yang berujung ke bagian kamar asisten.
Ia langsung memakai masker penutup wajah supaya saat ia memakirkan kendaraan tidak ada yang menyadari bahwa dirinya adalah Mike, terutama sang Ayah.
Perlahan-lahan ia masuk, setelah berhasil sampai pada bagian ruang asisten, ia langsung menyumput nan memanggil beberapa asisten yang saat ini berada disana. Kebetulan bukan Bu Tiah yang saat ini berada di sana,melainkan beberapa asisten rumah tangga yang lain. Karena bu Tiah sendiri sedang sibuk mengurus di bagian taman belakang yang hendak di jadikan pesta.
"Ssst, mba, hei mba." Bisik Mike sembari jongkok menyumput di balik pintu penghubung ke arah jemuran.
"Eh mba, ini perasaan ku yang sedang kangen berat sama pacar apa gimana ya, Kok seperti ada suara cowok yang memanggil, apakah kamu juga mendengarnya?" Para asisten itu berbicara dengan rekan sesama asisten yang lain, merasa bingung lantaran belum menyadari keberadaan Mike.
"Mba, ssst hei mba." Ulang Mike memanggil mereka.
Karena mereka semakin yakin ada suara lelaki dari arah jemuran, maka salah satu diantara mereka langsung melangkah ke sana.
"Hey Mba,"
"Eh kodok mencolot moncrot, Astagfirullah.. kakak, Mike." Asisten tersebut sangat terkejut hingga latah dia keluar, ketika menyadari ada anak Majikan-nya sedang menyumput di sana.
"Sssttt, yah.. mba, jangan keras-keras donk. Astaga.. Kodok mana yang mencolot sampai moncrot mba?" canda Mike.
***
Note
Para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Marvin memang sudah dari dulu memanggil Mike dengan sebutan 'Kakak'
__ADS_1