Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 41


__ADS_3

"Kamukah Michealan.. Michealan anakku, akan tetapi.. Oh tidak ya Tuhan! lalu.. lalu kemanakah Mike, oh tidak, Mike dimanakah Mike. Daniel ya Daniel aku harus menanyakan ini kepadanya" Marvin terus-menerus berbicara sendiri nampak gugup dan tergesa-gesa.


Sementara Alan sendiri masih bengong karena bingung dengan apa yang sedang Ayahnya ucapkan, karena tidak begitu jelas apa maksudnya serta ekspresi ayahnya nampak sangat gugup.


Marvin langsung mengambil telepon genggam didalam saku celana untuk segera menghubungi Daniel selaku dia yang membawa Alan dari insiden kecelakaan ketika itu. Namun sebelum Marvin menghubungi Daniel secara kebetulan hapenya berbunyi panggilan dari orang kantor yang mengatakan bahwa pesawatnya akan segera landas mengingat jam sudah hampir tiba saatnya terbang.


Marvin merasa kacau dengan situasi yang ada, ia sangat bahagia bercampur aduk setelah mengetahui tanda lahir yang terdapat pada tengah dada Alan, dan memikirkan Mike yang saat ini tidak di ketahui keberadaannya. Sementara urusan yang sangat penting tentang perusahaannya mendesak ia untuk segera berangkat keluar negri.


Ia terdiam sejenak setelah menerima telepon dari kantor tersebut, ia menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau.


Kemudian ia menghadap kembali ke arah Alan nampak matanya masih berkaca-kaca. Ia tersenyum penuh bahagia nan gembira. Dalam benaknya terdapat banyak sekali pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan langsung ke Alan namun untuk saat ini ia mencoba pendam sementara.


"Yasudah Papa berangkat dulu ya Nak, kamu baik-baik di rumah, pinta Papa kamu jangan pergi kemanapun selain pergi ke sekolah sebelum Papa kembali pulang ya." Pesan Marvin.


"Baik ayah" jawab Alan singkat.


Alan perlahan-lahan mendekat ke arah Marvin, sesudah itu ia langsung menghapus air mata sang Ayah


'Ada apa dengan anda Ayah? kenapa saya merasa seperti ada sesuatu yang sedang ayah pendam, kenapa ayah menangis seperti ini?' Batin Alan.


Sontak Marvin langsung memegang tangan Alan ketika Alan sedang memegang pipinya kemudian ia langsung kembali memeluk tubuh Alan dengan sangat erat. Alan menerima pelukan dari ayahnya walau ia sendiri merasa sangat bingung alhasil tidak lama ia kembali melepaskan pelukan ayahnya.


"Sudah Ayah segeralah berangkat, nanti bisa terlambat" ucap Alan sembari tersenyum.


"Baiklah.. Iya Nak, Papa akan segera berangkat" Marvin menangis tersedu-sedu sembari menghapus air mata di pipinya sendiri.


Marvin melangkah hendak pergi, namun baru beberapa langkah ia berpijak dari kolam renang, ia menoleh kembali ke arah Alan.


Alan tersenyum ketika ayahnya kembali melihat kepadanya begitupun dengan Marvin ia menengok sembari tersenyum kemudian tangan Alan mempersilahkan ayahnya untuk segera pergi, Marvin pun mengangguk sembari melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya untuk bergegas pergi.


***


Setelah Marvin berangkat, Alan masih berdiri didekat kolam renang sembari mengusap-usap rambutnya dengan handuk dan melamun.


'Aneh sekali sikap ayah tadi, Michealan? Nama siapakah yang tadi ayah sebutkan itu ya? ahh.. entahlah, hari-hari ku benar-benar sangat membingungkan' Batin Alan.


Usai ia mengeringkan rambut ia bergegas kembali masuk kedalam kamar, setelah sudah kembali didalam kamar ia membuka lemari milik Mike. Di dalam sana terdapat koleksi baju-baju milik Mike yang beraneka ragam karena sebelumnya ia tidak begitu memperhatikan koleksi baju yang berada didalam lemari tersebut.


Ia iseng-iseng mencoba memakainya dan melihat dirinya sendiri di kaca cermin ketika ia telah memakai baju milik Mike dibalut jaket yang biasa Mike pakai, alhasil tampilan ia terlihat seperti 100 % Mike. Membuat Alan tersenyum ketika melihat tampilan dirinya sendiri di kaca cermin.


'Apakah penampilanku seperti ini sebelumnya? wah.. kok begini sekali?' Batin Alan.

__ADS_1


Ia heran karena bisa di katakan anak orang kaya namun kebanyakan koleksi pakaian milik Mike sangat barbar dan terlihat mencolok. Sementara Alan sendiri lebih menyukai kerapian dalam berpakaian.


Alan mondar-mandir sendiri mencoba beberapa koleksi baju milik Mike hingga waktu sudah menjelang sore hari yaitu pukul 16:30. Belum selesai dengan itu ia masih mondar-mandir sendiri di dalam ruang kamar melihat semua barang-barang milik Mike seperti koleksi sepatu, aksesoris dan lain-lainnya. Hingga tiba saatnya ia lelah Alan hendak menyudahi keisengannya ia hendak melepaskan kembali pakaian Mike yang sedang ia kenakkan. Namun ketika sebelum ia melepas kembali pakaian Mike ia menoleh ke arah tempat tidur melihat ada hape Mike bergetar


Dreerrt dreerrt


Hape Mike terus-menerus bergetar karena masih dalam mode senyap ada beberapa panggilan dari nomor yang sama ketika menelpon pada siang hari masih terus-menerus menghubungi nomor Mike. Akhirnya Alan mencoba untuk mengangkatnya.


Bip


"Mike, halo Mike!" Suara seseorang yang menelpon terdengar sangat tergesa-gesa.


Alan belum menjawab ucapan sedikitpun ia masih terdiam karena ia tidak tahu dengan siapa ia berbicara.


"Mike, halo Mike!" Suara seseorang tersebut mengulangi ucapannya.


"Iya, maaf dengan siapa saya berbicara?" jawab Alan.


"Aiihh Mike, masa loe gak mengenali suara gua sih, ini gua Dimas"


"Dimas?"


"Halah! pakek nanya segala Loe, posisi loe dimana sekarang?"


"Loe bisa kesini gak, sekarang?"


"Dimana?"


"Aiih.. pakek tanya segala dimana sih! Yaudahlah gua saja yang kerumah loe sekalian jalan mumpung ini gua lagi di jalan bareng sama Vidze dan Jejen kita segera kerumah loe aja, ada suatu kabar yang penting Mike! Loe buruan siap-siap." Pungkas Dimas langsung mematikan sambungan telponnya.


Bip!


Alan merasa bingung.


***


Kejadian Sebelumnya


#Disisi Ananta


"Aaiih lepasin Andika! loe ngapain sih narik-narik gue ahh sakit Andika lepasin!" Pekik Ananta ketika ia ditarik oleh Andika keluar dari perpustakaan.

__ADS_1


"Gak usah bawel loe, ikut gua!"


"Hey sebentar lagi kelas akan segera berlangsung kembali Dika, aihh lepasin!"


"Aissh Pers*tan! diam loe" Andika terus menyeret Ananta.


Andika terus menarik Ananta dan membawanya menuju ke arah parkiran, kemudian Ananta dimasukkan kedalam mobilnya. Sesudah itu ia langsung memacu kendaraannya keluar sekolah.


Ketika sudah berjalan cukup jauh dari sekolahan, Ananta masih terdiam sembari tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kirinya karena sakit dan memerah setelah diseret paksa oleh Andika.


Andika sembari menyetir mobilnya sesekali menengok ke arah Ananta namun Ananta sendiri menghadap ke arah kaca.


Setelah berjalan sudah jauh Andika langsung menghentikan laju kendaraannya di bahu jalan dengan cara ia menginjak remnya secara mendadak.


Ssiiiiiit!


Sontak membuat Ananta terkejut, ia langsung menatap Andika dengan tatapan tajam begitupun dengan Andika dia Perlahan-lahan menatap ke Ananta.


***


"Hei Ananta, Gua mau tanya sama loe dan katakanlah dengan jujur, apakah selama ini loe sayang sama gua?"


Ananta masih terdiam nampak ekspresi wajahnya penuh kesal.


"Woi! gua tanya loe cinta atau enggak sama gua!" ulang Andika dengan nada membentak karena tidak dijawab oleh Ananta.


Sontak membuat Ananta terkejut ketika Andika berteriak cukup lantang. Membuat Ananta geram.


"Tidak! Gue gak suka sama loe, dan sudah lama gue mau bilang ini sama loe, sekarang juga kita putus, puas!" Jawab Ananta.


"What? loe bilang mau putus, hah!" Andika melotot.


"Gak usahlah loe berteriak-teriak, iya gue mau putus sama loe, apakah belum jelas hah!"


"Kenapa loe minta putus sama gua, apa alasan loe minta putus sama gua hah, katakan!"


"Aaiish, Gak usah loe berteriak-teriak sih Andika! Apakah begini cara cowok berbicara sama cewek hah, inilah salah satu alasan gue mau putus sama loe, Loe selalu kasar sama gue, loe selalu mengekang gue, hey.. asal loe tau, status kita itu baru sebatas pacaran, bukan pernikahan. Loe selalu ngatur-ngatur hidup gue, membatasi kebebasan gue bersama teman-teman gue loe pikir loe itu siapa hah? Bokap gue aja gak pernah ngatur dengan siapa gue berteman"


"Ow.. ow yeah, hebat! bagus!" Andika sembari bertepuk tangan.


Prok prok prok

__ADS_1


"Salah satu loe bilang hah? terus pokok utama loe mau putus sama gua apa? Oh.. ataukah loe selama ini suka sama baj*ngan manja itu hah? Jawab!"


__ADS_2