
Catatan
Terdapat aksi kekerasan, bukan untuk di tiru!
___
Didalam kehidupan ini penuh dengan misteri yang terkadang sering diluar dugaan, yang mana disaat posisi Alan sedang berbahaya ada Suara seseorang datang memasuki gedung itu disusul beberapa kawan yang dibawanya yakni para brandal sana yang biasa memakai gedung itu. Alhasil membuat Anwar menghentikan aksinya sejenak untuk berbincang dengan orang-orang itu terlebih dahulu.
Tentu saja semua itu terjadi lantaran Anwar ini adalah pendatang dari luar kota, meskipun sebelumnya sudah ada konfirmasi dengan para brandal itu namun ada suatu yang harus di selesaikannya terlebih dahulu.
Kedatangan mereka menjadi sebuah kesempatan bagi Alan, semasih perhatian orang-orang disana tertuju pada kelompok yang datang itu, perlahan Alan melepaskan tali yang mengikat tangannya namun tidak ia lepaskan secara sekaligus alias mengendorkannya saja sehingga masih tampak dari luar, tangannya masih terikat tali.
Beberapa menit telah berlalu, Anwar usai berbincang dengan kelompok itu serta kelompok itu pun sudah kembali pergi lantas dia kembali ke pokok terintinya menghampiri Alan dengan senyum iblis.
"Hahaha loe pasti merasa lega nyawa loe masih belum melayang sampai detik ini, hahaha" Ejek-nya di susul orang-orang disana saling tertawa.
"Hahahaha"
Sementara Alan diam namun tatapan tajam tiada padam.
"Tak usah berlagak sok kuat loe bocah letoy!" Ejek Anwar lagi geram melihat tatapan Alan nan mengingatkannya pada tertangkapnya dia sewaktu dia tertukar posisi dengan Mike kala itu sekaligus dianiaya oleh Bonanza.
"Jaga ucapanmu." Jawab Alan singkat geram mendengar bahasa 'Letoy'
"Kenapa memangnya hah! Faktanya begitu, tanpa saudara kembar loe yang baj*ngan itu loe tak ada apa-apanya, ngerti loe." Lanjut Anwar melotot seraya mengeluarkan kembali senjata tajam jenis samurai, ia merasa berkuasa pada nyawa Alan meskipun dirinya sudah menyaksikan betapa sadisnya Alan sewaktu menyerang balik ketua kelompok gengster sadis kala itu maupun saat menebas tangannya.
Namun bagi Anwar saat itu, si Alan sedang bersama saudara kembarnya yang terkenal kuat dalam beladiri (Mike) sekaligus bersama kelompok yang dibawanya (Dimas) dan untuk saat ini Alan benar-benar sedang sendirian maka tidak ada yang ditakutkan oleh Anwar samasekali.
Lain halnya dengan Alan, ia sedari dulu tidak pernah menggantungkan hidupnya pada siapapun meskipun pernah menjadi bahan Bully oleh Naldo di daerahnya. Sejatinya ia bisa melawan namun ia lebih suka damai apalagi Naldo itu adalah teman sekolahnya yang sejatinya ingin menjadi sahabatnya (bukan penjahat/musuh). Jadi, daripada adu kekuatan lebih baik ia menghindar sehingga ia melakukan kekerasan hanya disaat waktu-waktu tertentu atau sedang terpepet saja.
"Hei Apa loe sedang berdo'a sebelum kematian menjemput loe hah?" Ejek Anwar semasih Alan diam saja tapi tidak lepas memandangnya tajam.
Semua itu membuat orang-orang disana tawa iblis penuh ejek. "Hahaha"
"Tidak perlu banyak berbicara kalau ingin bertindak, sebelum semuanya berubah." Jawab Alan singkat penuh misteri.
"Widih sadis … Haha sudah pasrah dan mau nantang rupanya hahaha" Ejek Anwar lagi membuat tawa iblis saling bersahutan diantara orang-orang yang menyaksikan. "Hahaha"
"Em ... Oh ya … setelah gua pikir-pikir tidak asik juga kalau orang yang membuat adik gua menderita kesakitan sebelum kematiannya bisa mati begitu saja. Akan lebih baik kalau loe merasakan yang sama dengan yang adik gua rasakan." Ucapnya memiliki rencana lain.
__ADS_1
Lantas ia memberikan kode kepada beberapa orang untuk memegangi Alan supaya mudah melakukan aksinya. Sementara Alan sudah mengerti apa yang hendak dilakukan Anwar kepadanya sehingga tumbuhlah antisipasi sebelum Anwar melakukan semua itu.
Yakni, ketika beberapa orang mendekat hendak meraih tangannya, secara sigap ia langsung melepaskan tali yang masih melekat ditangannya kemudian merebut senjata tajam jenis samurai di tangan salahsatu orang itu.
Seet!
Kemudian, dilanjutkannya sebuah serangan langsung kepada kedua orang itu melalaui tebasan maut yang tertuju pada lengan mereka.
Seet!
Ayunan senjata tajam yang ia lakukan sangatlah kuat serta Samurai itu sangatlah tajam sehingga pergelangan tangan salahsatu orang itu langsung terputus.
"Arrgggh! Tidaaaak!"
Adegan itu sangatlah singkat sehingga Anwar maupun orang-orang disana tidak ada yang bisa memprediksi itu. Alhasil membuat mereka terkejut.
"Brengs*k!" Anwar salah Set up hingga tidak ada lagi rencana apapun selain memusnahkan Alan, maka dia langsung menyerang begitu saja di susul beberapa orang jua ikut menyerang.
Alan memang kurang pandai dalam perkelahian sangat berbeda dengan Mike, tapi bila tangannya memegang benda apalagi senjata tajam menjadikan sulit bagi orang yang hendak dekat menyerangnya.
Anwar menyerang sesama memegang senjata tajam maka adegan yang terjadi didalam gedung itu seperti layaknya sebuah peperangan brutal. Alan kini dalam posisi yang sangat berbahaya karena ia sendirian melawan kurang lebih 6 orang, jikalau satu kali saja ia lengah menangkis serangan mereka maka nyawa-lah yang menjadi taruhannya.
Mereka semua kesusahan mendekat ke Alan, ada beberapa diantara mereka menyerang menggunakan tendangan berharap Alan bisa terjatuh namun semua itu justru membuat kaki mereka yang tertebas.
Seet!
"Arrgh!"
Akibat tertebas, dua orang sudah tumbang tidak lagi menyerang, darah pun mengalir deras membanjiri lantai sementera Alan yang kini masih di serang 4 orang sudah tau apa yang harus ia lakukan. Yakni, secara perlahan ia mundur semasih tangannya menangkis serangan mereka menuju ke pintu keluar.
Setelah posisi sudah tepat, ia bergegas lari keluar dari gedung itu.
"Woi! Brengs*k!" Pekik Anwar tak menduga Alan sepandai itu, maka ia langsung lari jua untuk mengejarnya di susul 3 orang.
"Berhenti loe, woi!"
Skip
___
__ADS_1
Disisi Mike
Pada waktu yang sama ketika didalam gedung itu sedang terjadi perkelahian, Jovan telah sampai pada jalan yang kini terdapat Mike beserta rombongan berjumlah 6 orang (Dua diantaranya teman-nya Dimas)
Jrug! Jrug! Jrug!
Ia berhenti sejenak untuk menyapa Mike beserta kawan-kawan namun ekspresinya tampak tergesa-gesa.
"Bro, dimana adik gua, Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mike secara langsung tampak khawatir.
"Sebaiknya Ayo kita kesana sekarang" Jawab Jovan beranjak kembali ke motornya.
Mike mengangguk di susul semua kawan-kawan sudah siap.
Semasih mereka hendak berangkat menuju gedung itu. Tiba-tiba saja ada polisi yang datang. Semua itu terjadi lantaran ketika Jovan menghubungi polisi ia menyebutkan TKP ialah di jalan itu.
Percakapan pun berlangsung sejenak dengan beberapa anggota polisi yang hadir tersebut, sebelum akhirnya mereka bersama-sama menuju ke TKP.
___
Next
Disisi Alan
Alan terus berlari tanpa arah tujuan pasti sesuai langkah kakinya. Namun ada sedikit kendala dari fisiknya akibat sehabis di hajar beberapa kali oleh Anwar maupun penculik tadi menjadikan kekuatan berlarinya tidaklah sempurna.
Penerangan dikawasan itu cukup minim sekaligus terdapat puing-puing bangunan berserakan di tanah yang ia lintasi menjadikan beberapa kali ia nyaris terjatuh akibat tersandung.
Sementara kekuatan berlari dari 4 orang itu sangatlah cepat hingga kini jarak antara Alan dan orang-orang yang mengejarnya tersebut kurang lebih hanya 7 meter.
"Berhenti loe kampang!" Pekik Anwar posisi dia paling depan diantara orang-orang yang mengikutinya.
Mereka sesama masih memegang senjata tajam ditangannya, begitu jua Alan. Namun Anwar beserta orang-orang itu kurang cerdik dalam bertindak sehingga kecerdikan itu sudah didahului oleh Alan.
Yakni, semasih berlari Alan menoleh kebelakang sejenak lantas melemparkan senjata tajam dari tangannya ke arah orang yang paling dekat di belakang dia cukup kuat, yakni dialah Anwar.
Suut!
Jleb!
__ADS_1
"Agggh!"