
Berhasil menemukan keberadaan sang adik membuat Mike tak ingat akan hal lain selain membawanya pulang ke rumah dengan selamat. Maka, ia samasekali tidak mengerti maksud Alan menghentikannya.
"Apaan? Ayo buruan kita pulang keburu pagi nih." Lanjut-nya lekas menarik tangan sang Adik.
"Tunggu sebentar, kak. Anu …" Alan melihat ke tentengan yang dibawanya, barulah Mike menyadari itu.
"Oh iya, itu … siapa punya?" Tanya-nya, heran.
"Nanti aku ceritakan kak, sebaiknya kita …" Sebelum Alan selesai berkata, Mike langsung memangkasnya. "Oke-oke aku ngerti. Tunggu sebentar."
Ia langsung menghubungi Jovan, tak lama kemudian Jovan datang menghampiri mereka.
"Huaaa Michealan … Ini beneran loe kan, Men ..!" Ucap dia bersuara lantang tampak konyol nan hendak memeluknya bak tingkah Verza, lantas kepala dia di timpuk langsung oleh Mike.
Plak!
"Lebay loe, Nj*r!"
"Awuhh pala gua kok loe timpuk seeh, Sue! ini namanya gua turut berduka cita men" Ucapnya meleset. Lantas mendapat timpukan lagi oleh Mike.
Plak!
"Berduka, Berduka pala loe botak, Loe kira adik gua koit, Kamvret!" Umpat Mike.
"Maap maap Bro, lidah gua rem-nya blong, maklum dah tengah malam Muehehe" Jawabnya cengegesan tampak konyol. Alan hanya menggelengkan kepala nan tersenyum melihat kekonyolan kakak dan sahabatnya tersebut.
"Oh iya, gimana keadaan loe bro, loe aman kan? lalu gimana mereka dan itu apa di tangan loe?" Tanya Jovan pada Alan secara terus-menerus membuat Mike pusing mendengarnya, lantas akhirnya ia pun menimpuk lagi kepala dia.
Plak!
"Loe nanya apa lagi kumur-kumur hah? bener-bener dah. Udah dah, dah, nanti aja loe nanya-nya." Jawab Mike.
"Aish sue, ngapa kepala gua jadi sasaran mulu sik. Lalu Kapan gua bisa nanya-nya?" Jawab dia sengaja berlagak bodoh.
"Nanti, Saat Natal tahun depan." Cetus Mike lekas menarik Alan pergi, "Yuk, Lan."
"Tahun depan? Kok bisa …?" Gumamnya sendiri sembari garuk-garuk kepala. Lantas menyadari saat Mike dan Alan sudah pergi.
"Hoih sue! si kembar ini bener-bener dah. Bikin gua kek orang Oon, apa gua yang oleng yak? Budu amat ah" Lekas beranjak Lari sembari teriak "Woi tungguin guaaaa!"
Alan dan Mike saling terkekeh melihat tingkah konyol dia, khususnya Mike yang sejak tadi berkali-kali menimpuk kepala dia.
"Wakakakakak"
__ADS_1
"Jahil kamu kak" lirih Alan.
"Bodo amat, Hahaha" Cetus Mike sembari menengok ke belakang.
"Cih"
___
Next.
Saat ini waktu memasuki pukul 04:15 am.
Mereka bertiga sudah nyaris sampai di kediaman bapak penjual es dawet yang Alan singgahi tadi.
Sebelumnya, semasih berjalan bersama-sama, Alan sudah menceritakan sedikit kronologi kejadiannya, maka membuat Mike maupun Jovan dapat mengerti. Mike segera mengirimkan Lokasi dimana ia saat ini kepada rekan-rekannya supaya mereka dapat menjemputnya di lokasi itu.
Pintu rumah tertutup, Alan segera mengetuknya.
Tok! Tok! Tok!
Dibukalah pintu itu langsung oleh bapak penjual es dawet. Lantas terbengong kala melihat Alan berdiri bersebelahan dengan Mike.
'Loh, loh, loh, Kok dadi ono loro cah iki?' Batinnya. Terheran. (Loh, loh, loh, kok jadi ada dua anak ini?)
"Nah loh, bukannya ini … Pak es plastik gelas yang gak jelas itu ya?" Cetusnya sembari menelunjuk jari. Lantas Alan segera menyingkirkan jari dia. "Sttt Kak, jangan begitu" kemudian tersenyum pada bapak itu.
"Maafkan kakak saya Pak, Ini … pak" memberikan tentengan belanjaan didalam kantong plastik. Hingga perhatian pun teralihkan.
"Walah, walah … Kok palah dadi manak ngene to, yowes mari masuk dulu." Ucap bapak itu, mempersilahkan mereka masuk.
(Note: Arti kalimat dari bapak tersebut adalah 'Kenapa belanjaannya bertambah alias kenapa tidak gulanya saja yang dibeli. Basa-basi karena tahu semua itu pemberian dari Alan.)
___
Belanjaan didalam kantong kresek sudah berpindah tangan kepada sang istri lekas duduk menghadap tamu yang sebelumnya 1 orang kini menjadi 3 orang tersebut.
"Apa adik-adik ini ... saudara kembar ya?" Tanya bapak itu, tampak bingung lantaran usia dia memang sudah senja, melihat paras Alan dan Mike sama persis, dia benar-benar tidak tahu sejak tadi bersama yang mana.
Alan dan Mike mengangguk, namun yang menjawabnya malah Jovan. "Iya pak, kami bertiga si kembar tampan, " Cetusnya percaya diri. Lantas dapat cubitan langsung dari Mike.
"Diem lu"
"Atah, atah, Awuuh sakit sue!" Lirihnya. Membuat senyum merekah diantara semuanya.
__ADS_1
"Haha lucu sekali adik ini." Lanjut bapak itu melihat betapa percaya dirinya sikap si Jovan. "Sungguh beruntung orangtua kalian memiliki anak seperti kalian, terlahir sempurna, tampan, dan … sangat baik" Ucapnya.
"Ah pak es plastik cendol ini terlalu berlebihan muji kami." Cetus Mike, membuat Alan melotot mendengar kalimat yang sang kakak ucapkan, Alhasil ia segera mencubitnya. "Kak, jaga bicaramu." Lirihnya.
"Awh, apanya yang salah, Lan? Kok kamu mencubitku. Awhh" Lirihnya.
Namun, bapak itu sendiri sudah langsung mengerti. "Hehe wes ora popo Le … Panggil saja saya Pak Mojo dan itu istri saya Yanti." Ucapnya sebagai perkenalan seraya menoleh sang istri datang membawa teh hangat hendak di suguhkan.
"Silahkan diminum teh-nya dik." Ucap dia tersenyum hangat.
Mereka bertiga saling mengangguk, lantas perlahan meminum teh hangat yang sudah disuguhkan tersebut.
"Oh iya Pak es gelas plastik dawet." Ucap Mike secara cepat lantas menyadari kalimatnya salah. "Upss ... Maaf Maksud saya pak Mojo." Membuat semua yang disana tertawa nan menggelengkan kepala Khususnya pak Mojo itu sendiri.
"Hehe Maaf lupa, anu … saya ingin mengucapkan Terima kasih pada bapak, karena adanya bapak-lah adik saya selamat." Lanjut Mike menggunakan bahasa formal.
"Wess podo-podo le … Sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia saling tolong-menolong. Dan takdir Tuhan kita dipertemukan disini keadaan selamat dan sehat. Saya juga pernah muda seperti kalian, Nakal menurut saya itu wajar, tapi kudu ono batesane."
"Iya Pak …" Mereka bertiga saling mengangguk layaknya seorang anak yang sedang di beri nasihat oleh orangtuanya. Semasih perbincangan berlanjut, telephone genggam Mike berdering.
Kring … Kring ….
"Saya permisi sebentar ya" Pamit-nya beranjak keluar rumah hendak menerima panggilan tersebut.
___
Bip!
"Ya, bro." Jawabnya diketahui yang menelpon adalah rekan-rekannya.
"Posisi loe dimana sik, GPS ngaco' bener dah. Kita udah muter-muter dari tadi, bolak-balik di titik yang loe kirim, loe-nya kagak ada." Ucap Dimas via telephone.
"Haiya ... Emang Posisi Loe sekarang Dimana … Gua lihat ada rombongan Motor, itu kalian apa bukan?" Lanjut Mike tak begitu lihat jelas lantaran cukup jauh dan penerangan minim.
"Hah ..? Emang Loe dimana Sik" Lanjut Dimas menolah-noleh.
"Haiya ... malah kek drama sinetron aja sih Loe Bro. Loe buruan tengok lah ke belakang." Jawab Mike seraya melambaikan tangan.
"Oh, hehe oke, oke, gua dah ngeliat Loe."
"Buru kemari" Pungkas Mike.
"Oke, sip"
__ADS_1