
"Benar sekali Bu, akan tetapi, saya lanjutkan pembicaraan ini lagi nanti" jawab Marvin tersenyum, menyadari kondisi Ika yang kini sedang berduka atas kepergian suaminya.
"Baiklah pak.." jawab Ika singkat karena belum bisa fokus berbicara dengan Marvin karena menurutnya dia adalah orang asing, dan jua karena batinnya kini sedang berduka.
"Oh iya, menurut yang tadi saya dengar dari para warga, beliau hendak dimakamkan pada esok pagi, apakah benar begitu Bu?"
"Benar sekali pak."
"Baiklah jika seperti itu, saya pamit dahulu untuk mencari penginapan disekitar sini, esok pagi saya datang kesini kembali." lanjut Marvin berpamitan karena hari sudah semakin gelap dan jua nampak mendung.
Ika mengangguk.
Kemudian ia segera bergegas keluar dari dalam rumah tersebut hendak mencari penginapan di daerah itu.
"Daniel, mari." ajak Marvin kepada Daniel yang sedang berbincang-bincang dengan para warga didepan rumah.
***
Mereka berjalan kembali ketempat mobilnya terparkir. Setelah mereka sampai dan sudah masuk kedalam kendaraan tersebut. Daniel belum langsung memacu kendaraannya karena tidak ada perkataan apapun dari Marvin.
Kemudian Marvin menoleh kearah Daniel.
"Kenapa belum dinyalakan mesinnya?"
"Lah memangnya kita mau kemana?"
"Mencari penginapan didaerah sekitar sini"
"Walah, kenapa tidak bilang dari tadi Vin, jika kamu bilang dari tadi, sekalian kita tanya kepada warga yang berada disana tadi, jadikan tidak perlu repot-repot untuk mencarinya"
"Oh iya, Benar juga." Jawab Marvin nampak polos karena ia tidak begitu fokus.
'Aiissh dasar pikun, sudah tua juga rupanya kau Vin,' Batin Daniel mengumpat sembari ia tersenyum dan menyalakan mesin kendaraannya.
"Tapi tunggu, ataukah saya kembali kesana dahulu untuk bertanya kepada salah satu warga yang berada disana saja Vin?"
"Tidak perlu, lebih baik jalan saja."
"Aiyaya Baiklah." Jawab Daniel sembari garuk-garuk kepala melihat sikap Marvin tidak berubah sama sekali dari mereka masih remaja.
Kemudian Daniel langsung memacu kendaraannya dengan lambat sembari menoleh kesana dan kemari untuk mencari sebuah penginapan. Namun, mereka berjalan hingga sejauh 2,5 km jarak tempuh dari kediaman Ferdi tidak ada satupun penginapan yang mereka jumpai dipinggir jalan yang mereka lintasi.
"Wah, kita sudah berjalan hingga sejauh ini tidak terlihat ada penginapan Vin." Ucap Daniel langsung memakirkan kendaraannya pada bahu jalan.
"Yasudah kita tunggu seseorang melintas disekitar sini untuk kita tanya"
'Aisssh, kau memang manusia paling ribet dari dulu Vin!' batin Daniel bergumam karena ia sudah menduga ujungnya bakalan terjadi seperti ini. Karena Marvin tidak mendengarkan saran dia tadi. Namun apalah daya, Daniel memilih hanya diam saja dan menuruti apa kemauan Marvin.
Kemudian Daniel keluar dari dalam kendaraan tersebut dan berdiri di pinggir jalan sembari menoleh kesana dan kemari. Disusul oleh Marvin keluar jua dari dalam kendaraan dan berdiri tepat disebelah Daniel.
***
Kemudian ada seorang pemuda yang melintas didepan mereka menggunakan sepeda motor dan sedang berboncengan dengan kawannya.
Mengetahui hal tersebut, Daniel langsung memanggilnya.
"Permisi dek, tolong berhenti sebentar"
Kemudian Pemuda tersebut langsung menghentikan dan mematikan mesin kendaraannya tepat didepan mereka.
__ADS_1
Jrug jrug jrug
"Iya, ada apa pak?"
"Kami mau numpang tanya, didaerah sekitar sini apakah ada penginapan yang bisa kami sewa malam ini?"
"Oh penginapan, tentu ada pak, mari ikut saya, tidak begitu jauh kok dari sini" jawab pemuda tersebut yang tak lain dia adalah Naldo anak dari pak Toni sang juragan tanah. Ia sedang berboncengan bersama salah satu temannya yaitu Wasis.
"Baiklah, terimakasih." Jawab Daniel.
***
Kemudian ia bergegas untuk mengikuti Naldo. Setelah sampai tepat pada rumah yang dimaksud, Naldo langsung memberikan kunci rumah tersebut karena kebetulan ia membawanya.
"Ini pak, kunci rumahnya, selamat beristirahat pak." Ucap Naldo sembari menyodorkan kunci rumah tersebut kepada Daniel sembari tersenyum.
"Baiklah, terimakasih dik." Jawab Daniel sembari memberikan beberapa jumlah uang sesuai harga sewa yang Naldo ucapkan.
"Terimakasih pak, mari.." Ucap Naldo berpamitan dan bergegas pergi menaiki kendaraan bermotornya kembali.
Setelah Naldo pergi, Marvin dan Daniel masuk kedalam rumah penginapan tersebut untuk beristirahat karena hari sudah semakin petang dan gerimis sudah mulai berjatuhan namun dalam volume yang kecil.
***
Daniel sudah langsung beristirahat. Sementara Marvin masih merasakan gelisah tak menentu didalam hatinya. Ia seringkali mengecek hapenya namun karena mereka berada didaerah pedesaan, alhasil sangat jarang ada sinyal seluler yang Marvin dapatkan sesuai kartu GSM yang Marvin pakai.
Kini Jam sudah menunjukkan pukul 22:00 pm pada waktu setempat. Ia masih belum bisa jua beristirahat. Kemudian ia melangkah keluar dari dalam rumah tersebut hendak mencari angin segar, menyadari rumah penginapan yang mereka sewa tidak disediakan fasilitas yang baik seperti AC dan lain sebagainya.
Ketika ia keluar dari dalam rumah, ia melihat disebelah rumah penginapan dia terdapat para warga yang sedang berkumpul sembari bermain karambol dan meminum kopi.
Mereka langsung menyapa Marvin ketika melihat Marvin baru keluar dari dalam rumah tersebut.
Marvin membalas sapaan mereka dengan senyum hangat. Ia masih berdiri didepan rumah tersebut sembari melamun menghadap kearah langit.
Kemudian, karena rasa kantuk belum jua ia rasakan, ia bergegas mendekat kearah warga yang sedang berkumpul tersebut. Ia langsung tersenyum dan disambut hangat oleh para warga tersebut.
"Ngopi pak.."
"Terimakasih, saya tidak biasa meminum kopi" jawab Marvin sembari tersenyum.
"Oh iya, bapak berasal dari mana pak?" Ucap salah satu warga mengajak berbincang sebagaimana mestinya menyapa orang asing yang datang di desanya.
"Saya dari ibu kota pak" jawab Marvin.
"Apakah sedang berkunjung ketempat sanak saudara yang berada didaerah sekitar sini?"
"Benar sekali pak, saya sedang berkunjung di kediaman pak Ferdi."
"Apa! Pak Ferdi?" Jawab warga langsung fokus semua melihat kearah Marvin.
"Iya Benar pak Ferdi, ada apa memangnya ya pak?" Jawab Marvin merasa keheranan ketika ia menyebut nama Ferdi kemudian terlihat ekspresi wajah dari para warga nampak geram.
"Apakah anda saudaranya? Atau anda siapanya pak Ferdi?" Lanjut salah satu warga bertanya.
"Bukan, saya sedang ada perlu dengan beliau, menjadikan saya datang ke daerah sini, namun setelah saya sampai disini beliau malah sudah tiada." Jawab Marvin.
"Sudah tiada? Maksud bapak?" Jawab para warga terkejut karena kebanyakan belum mengetahui kabar bahwa pak Ferdi telah wafat. Karena jarak tempuh dari kediamannya berjarak sekitar 2,5 km.
"Pak Ferdi telah tiada setelah saya baru saja sampai didaerah sini beberapa jam yang lalu pak, dan menurut para warga sekitar, beliau hendak disemayamkan pada esok pagi pak." Lanjut Marvin.
__ADS_1
"Wah, syukurlah manusia biad*b itu telah mati!" Ucap para warga secara langsung.
"Iya benar, bahkan akupun tak Sudi untuk berbelasungkawa kesana!" Sambung warga yang lain.
"Iya benar! Iya benar!"
Sontak membuat Marvin terkejut dan keheranan.
"Tunggu, memangnya ada apa ya pak? Memangnya apa yang terjadi dengan beliau semasa beliau masih hidup?" Tanya Marvin.
"Manusia biad*b itu memang sudah sepantasnya musnah dari muka bumi ini, asal anda tau saja, kita sangat muak dengan beliau."
"Iya benar, itu benar, kita semua muak dengan beliau!" Sambung para warga mengucapkan kalimat tersebut secara serentak.
"Iya, tapi apakah yang beliau perbuat sehingga anda semua membenci beliau?" Lanjut Marvin bertanya.
"Beliau benar-benar Biadab, semasa hidupnya telah menganiaya putra sulungnya sendiri."
"Iya benar, bahkan penganiayaan itu telah beliau perbuat dari anak sulungnya itu masih balita, bahkan hingga kini."
"Apa? jadi maksud bapak-bapak, pak Ferdi telah melakukan tindakan penganiayaan kepada putra sulungnya?" Marvin sangat terkejut.
"Iya benar pak, saya sungguh kasihan sekali dengan putra sulungnya itu, dia anak yang pendiam, baik dan sangat penurut, sungguh tak disangka pak Ferdi tega melakukan tindakan penganiayaan itu kepadanya."
"Astaga Tuhan, benarkah demikian pak?" Lanjut Marvin nampak semakin terkejut nan sedih.
"Itu benar adanya pak, jujur memang kami tidak secara langsung menyaksikannya, karena beliau melakukan tindakan tersebut di kediamannya dan tidak nampak sama sekali selama ini, karena anak beliau juga tidak pernah mengungkapkan penganiayaan yang dilakukan oleh pak Ferdi kepadanya"
"Lantas.. dari siapakah berita tersebut pak? Apakah itu sungguh benar?" Lanjut Marvin masih mengorek keterangan.
"Itu Benar pak, berita tersebut diungkapkan oleh sahabat terdekat dari anak itu sendiri saat setelah anaknya pak Ferdi telah mengalami amnesia beberapa waktu yang lalu. Setelah kami semua mendengar, kami semua datang ke kediamannya untuk mencari keterangan. Dan setelah kami semua disana, pak Ferdi telah mengungkapkan kebenaran tersebut bahwa selama ini beliau memang menganiaya putra sulungnya sendiri yang bernama Alan."
"Ya ampun Tuhan.."
Mata Marvin langsung berkaca-kaca, hatinya bagaikan tersayat seribu badik yang sangat tajam setelah mendengar bahwa putranya selama ini telah hidup dalam penganiayaan yang diperbuat oleh orang yang mengasuhnya. Yang mana ia tidak pernah mengetahuinya selama 17 tahun lamanya.
Kemudian secara kebetulan saat para warga selesai mengucapkan kalimat tersebut, kilat petir diiringi suara Guntur yang menggelegar terdengar sangat dahsyat
Duaaarr...
Disusul angin yang berhembus cukup kencang dan membuat mereka yang tengah duduk berkumpul diteras depan rumah tertampis rintikan air hujan yang terbawa angin.
Wuuussshh
Sontak membuat semua warga langsung saling berpamitan satu sama lain, karena bertanda hujan lebat akan segera turun. Begitupun dengan Marvin, ia berpamitan dan bergegas kembali masuk kedalam rumah penginapannya.
***
Setelah ia baru saja masuk kedalam, ia masih berdiri dibalik pintu yang baru saja ia tutup. Air mata pun tidak lagi bisa dibendung setelah mendengar berita bahwa putranya telah menjalani masa kehidupan yang sangat pahit selama ini.
Kemudian Marvin langsung memutuskan untuk segera menyelesaikan urusannya pada waktu itu juga, karena ia ingin secepatnya kembali pulang dan sudah sangat ingin memeluk putranya.
Ia tidak peduli dengan keadaan cuaca yang sangat ekstrim saat ini. Kemudian ia langsung bergegas membangunkan Daniel yang sudah beristirahat.
"Daniel, bangunlah.."
Kemudian Daniel membuka matanya ketika Marvin membangunkannya sembari sedikit menepuk pundaknya.
"Iya, Ada apa Vin, loh.. kamu kenapa? Itu.. kok?"
__ADS_1