Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 174


__ADS_3

Catatan


Terdapat kata umpatan dan bahasa kasar, serta perhatikan petunjuk author didalam tanda kurung apabila lupa dengan alurnya, terimakasih.


***


Hingga pelukan Jessi terlepas dari tubuh Alan. Lantas Semasih tangan seseorang itu meraih pundak Jessi dilanjutkannya dengan memeluknya serta tanpa basa-basi dilumat lah bibir Jessi.


"Emph .. Emph .." Jessi Menggeram penuh amarah kala seseorang tersebut melakukan itu, sekuat tenaga ia hendak melepaskannya namun apalah daya tenaganya tidaklah sebanding dengan orang itu.


Sementara Alan diam mematung seraya melotot kala menyaksikan adegan itu berlangsung terlebih lagi yang melakukannya adalah orang yang sangat ia kenali yang tak lain saudara kembarnya sendiri.


'Oh Tuhan, Mike?'


Lantas akhirnya Jessi berhasil melepaskannya kala dia beraksi melakukan tendangan maut yang tertuju langsung ke daerah terinti si pria.


Blug!


"Aggh, Uhh .. Awwh" Rintih Mike melepaskan pelukannya lantas disusul sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipinya.


Plak!


"Berengs*k loe, Kampang!" Pekik Jessi semasih menamparnya.


"Auhh .. " Mike sedikit membungkuk menahan rasa sakit pada daerah terintinya, sementara tangan kiri memegang pipi usai di tampar oleh Jessi.


Namun, secepat kilat ia kembali ke posisi semula Lantas tersenyumlah ia saat melihat ekspresi Jessi. Sementara Jessi sendiri kian melotot saat menyadari yang melakukannya tersebut ialah pemuda berparas sama seperti pemuda yang ia sukai.


"Ka .. kamu!" Pekiknya seraya menoleh antara ke arah Mike maupun ke arah Alan.


Pada sisi Alan diam tampak bimbang, sementara disisi Mike tidaklah demikian.


"Ya, ini aku .. Masih ingatkah dirimu akan rasa yang pernah kamu berikan kepadaku kala itu?" Ledek Mike dalam tutur bahasa yang khas.


Serta kalimat tersebut tertuju pada kejadian yang telah berlalu yakni ketika Jessi nyaris melakukan hal yang melampaui batas di sekolah. Sebab Kala itu Jessi mengira sedang bersama Alan, namun kenyataannya bukanlah Alan, melainkan bersama Mike saat mereka sedang tertukar posisi. (Lihat bab 56 dan 57)


"Aeh Bangs*t, Tutup Bacot loe itu, Anj*ng!" Pekik Jessi melotot tajam nan berkata kasar, pertanda betapa tidak relanya ia di cium oleh pemuda yang bukan di cintainya meskipun mereka memiliki paras yang sama.


"Uh .. wew, Sungguh indah lidah mu bicara ya. Tapi .. Jujur saja Membuat telingaku sangat gatal" Ledek Mike melangkah mendekat kepadanya seraya memperhatikan gaya mengorek telinganya sendiri dengan jari kelingking.


"Auuh beneran gatal telingaku ini, coba kamu ulangi sekali lagi, aku ingin mendengarnya. Cepatlah katakan." Ledeknya mendekatkan kepala ke bahu Jessi dalam jarak kurang lebih 50 Cm.

__ADS_1


Sontak Jessi kian terbakar emosi karenanya tidak pernah sekalipun menjumpai seorang pemuda yang tingkahnya seperti Mike ini. Maka, semasih Mike mendekatkan diri ke arah bahunya, Jessi mendorong tubuhnya supaya menjauh darinya.


Seet!


"Brengs*k loe Anj*ng!" Ulang Jessi masih terus-menerus mengucapkan kata umpatan yang sangat tidak terpuji. Alhasil, Mike lekas mendekat kepadanya hingga melakukan hal yang tidak baik jua, yakni langsung melum*t kembali bibirnya.


"Emph .. Epmh .."


Semasih kejadian itu berlangsung Alan yang menyaksikan kian melotot di buatnya. Lantas semasih Alan hendak memanggil nama sang Kakak supaya menghentikan aksinya, Mike sudah lebih dulu di dorong oleh Jessi kemudian kembali di tamparnya.


Plak!


"Bedebah loe, Bangs*t!" Pekik dia lagi seraya menyapu bibirnya sendiri dengan tangan.


"Hahahaha" Mike tertawa serta lirikan matanya membuat siapapun orang akan muak melihatnya.


Sementara Alan diam seribu bahasa karena ia benar-benar tidak tau harus berkata apa. Namun, ia pun geram melihat kelakuan sang kakak yang sangat barbar itu didepan matanya. Akan tetapi, lain hal nya dengan pemikiran Mike, ia melakukan itu tak lebih dan tak kurang hanyalah untuk kebaikannya.


"Apa yang loe lakukan Anj*ng! Menjijikan!" Pekik Jessi.


"Aduh .. kenapa pula nama binatang itu keluar dari mulut manismu terus-menerus, nona .. Gatal sekali rasa kupingku ini mendengarnya" Ledek Mike lagi-lagi mempratikkan mengorek telinganya sendiri dengan jari.


"Karna loe itu kek anj*ng tau gak! Kurang ajar" Jawab dia masih saja mengeluarkan kata kotor.


"Tapi kenapa loe lakukan ini hah! Sangat menjijikan tau gak, lebih menjijikan dari binatang!" Jawab Jessi melotot tajam nan tiada hentinya menyapu bibirnya sendiri dengan tangan pertanda tidak relanya ia di cium oleh Mike.


"Hahaha, maaf aku samasekali tidak bermaksud melecehkanmu, tapi .. apa kamu tau alasan kenapa aku melakukannya? Coba kamu lihat dirimu sendiri" Lanjut Mike.


"Apa maksud loe hah!" Jawab Jessi dalam nada tinggi tak ayal membuat perhatian publik.


"Apa kamu sudah melupakan kata-kata yang pernah ku ucapkan kepadamu, Jessi ..?" Jawab Mike seraya mendekat ke Alan, sementara Alan pun masih terdiam sembari menyimak.


"Gak usah bertala-tele, loe!" Lanjut Jessi tampak marah.


"Hemph .. Baiklah, coba aku tanya sama kamu, aku melakukan ini tanpa persetujuanmu ataupun kerelaan hatimu, gimana perasaanmu? Pastinya jijik, muak dan tidak rela bukan?"


Jessi terdiam, namun lirikan tajam tiada padam melihat Mike.


"Aku sengaja melakukan ini supaya kamu tau bahwa sesuatu yang dipaksakan tidaklah baik, layaknya seperti yang kamu lakukan pada adikku ini, kamu memeluknya secara tiba-tiba, apa kamu tidak memikirkan perasaannya mau di peluk oleh mu atau tidak?" Jawab Mike seraya meletakkan tangan pada bahu Alan.


Hening seketika hingga beberapa detik. Lantas akhirnya Jessi kian berbicara.

__ADS_1


"A .. Alan"


Semula ekspresinya emosi kini tampak padam cendrung sedih, sebabnya kalimat kata yang Mike ucapkan telah menusuk kedalam relung hatinya.


"Aku bukan sok tahu, tapi .. aku memang sudah banyak tahu tentang kronologimu. Dan .. Aku samasekali tidak mempermasalahkan kamu sangat menyukai adikku. Tapi tolong .. " Semasih Mike berkata, Alan melepaskan tangan sang kakak dari pundaknya.


"Kak, tolong hentikan." Ucapnya.


Lantas Mike terdiam seraya melihatnya, sementara Alan mendekat ke arah Jessi karenanya tampak air mata berlinang di pipi Jessi.


"Maafkan kami Jessi, khususnya yang kakakku lakukan kepadamu. Tapi .. Maaf sebelumnya, semua yang kakakku ucapkan hanyalah untuk kebaikanmu."


"Kenapa kamu berkata begitu Lan, segitu burukkah penilaian mu terhadapku, seperti saudara kembarmu yang anj*ng itu hah!" Pekik Jessi seraya menunjuk ke arah Mike.


"Hei, hei, hei, Astaga Tuhan .. " Sambung Mike geram mendengar bahasa kotor yang terus-menerus keluar dari mulut Jessi serta Ia langsung meraih tangan Alan nan menariknya supaya menjauh dari Jessi.


Seet!


"Apa yang kamu ucapkan itu? Hei dengarlah Jessi. Aku samasekali tidak memandangmu buruk, karena aku samasekali tidak pernah memandang rendah seorang cewek siapapun itu termasuk kamu. Apa kamu benar-benar lupa yang pernah aku katakan padamu didalam ruangan itu?" Lanjut Mike lagi-lagi mengingatkan kejadian saat itu. (Lihat bab 56 dan 57)


"Maksudmu?" Jawab Jessi dalam suara parau seraya menyapu air mata di pipinya sebab ia sudah teringat akan kejadian waktu itu. Namun ia bingung, yang ia ketahui kala itu sedang bersama Alan sekalipun semuanya telah di jabarkan secara gamblang sewaktu Alan hendak di bakar masa, sebelum akhirnya Alan kembali kepada keluarganya kala Marvin dan Mike menjemputnya untuk kembali kepada keluarga aslinya (Lihat bab 86 sampai bab 93)


"Haiya .. kamu benar-benar sudah lupa" Jawab Mike.


"Jadi maksudmu?" Jessi kian melotot sebabnya semakin teringat.


"Ya Jessi, yang berada didalam ruang sekolah itu adalah aku, bukanlah Alan saudara kembarku. Apa kamu ingat itu?" Lanjut Mike.


"Oh Tidak! Kenapa .. kenapa itu terjadi, tidak mungkin!" Jawab Jessi semakin histeris seraya memegang kepala dengan kedua tangannya.


Sontak Alan dan Mike saling pandang kala menyaksikan Jessi seperti itu.


"Alan .. Hiks, Hiks, Tidaaak! Itu tidak mungkin!" Teriak Jessi semakin dan semakin histeris tampak depresi karena teringat, maka ia malu akibat salah orang dan kini orang itu tepat berdiri didepannya serta karena ia benar-benar lupa akan kejadian itu. (Terbongkarnya fitnah Alan yang dibuat oleh dirinya)


Lantas baik Alan maupun Mike tidak kuasa melihat dia menangis sekalipun aslinya Mike kurang peka' melihat gadis menangis.


Namun entah kenapa kali ini terasa berbeda, maka sebelum Alan melangkah mendekat ke Jessi, ia sudah lebih dulu meraih pundak Jessi lekas didekaplah dia dalam pelukannya.


"Hiks, hiks, hiks," Jessi terus menerus menangis dalam pelukan Mike, tak ayal Mike pun perlahan mengangkat tangan meski penuh keraguan hendak mengusap lembut rambutnya.


Semua itu terjadi dalam durasi yang sangat singkat. Sebelum Mike benar-benar mengusap rambutnya, Tiba-tiba saja Jessi kembali mendorong Mike serta tamparan keras kembali mendarat di pipinya.

__ADS_1


Plak!


__ADS_2