Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 136


__ADS_3

Mendengar suara Alan, Perlahan-lahan dia menegakkan pandang. Sebab sebelumnya dia tengah menunduk menaruh oleh-oleh yang di bawa ke tanah. Memang benar adanya dia adalah Verza.


Sontak Verza melotot penuh gembira.


"Alan.. ini.. ini.. beneran loe kah?" ucapnya gagap.


Alan tersenyum, beranjak turun dari atas motor lekas mendekat kepadanya.


"Benar sobat, Aku Alan, sahabatmu." Jawabnya seraya melangkah.


"Oh Tuhan, Lan, Alan hiii.. Alaann beneraan" Verza semakin sangat gembira, ia pun langsung memeluk Alan seperti teletubis seraya mengucapkan banyak kalimat seperti yang biasa dia lakukan saat bersama Alan dulu.


Sementara Jovan bengong menyaksikan mereka, sebab mereka terlihat bagaikan saudara kandung lama tak jumpa dan saling mengasihi.


"Eit, bentar-bentar. Kok kalian bisa saling kenal?" Tanya Jovan kala Verza tengah nyerocos. Heran.


"Dia ini sahabat gua satu-satunya Jo, kenalin nih, tapi.. eh, kok sekarang dia disini bersama loe yak? Apa kalian udah saling kenal?" Jawab Verza balik tanya.


"Ei, dia juga sahabat gua satu-satunya, Ver." Cetus Jovan seraya melirik ke Alan.


"Oh.." Verza mengangguk tampak kecewa terlihat dari ekspresinya.


"Loe betah tinggal disini ya Lan, syukurlah sekarang loe udah memiliki sahabat baru" Ucap Verza mengarah ke Alan, seraya memiringkan bibir khas dia saat dia tengah kecewa.


"Jiah.. loe ngapa Ver, tiba-tiba mulut loe monyong gitu, asam pula muka loe." Cetus Jovan, merasa heran.


"Asam apaan, biasa aja tuh. Gua tadi mabok kendaraan coeg, lelah sangat" Jawab Verza, ngeles.


"Whaaat! Loe mabok kendaran? Parah amat" ejek Jovan.


Alan tersenyum melihat ekspresi sahabatnya tersebut, ia pun mendekat.


Tangan kanan meraih pundak Verza, sementara tangan kirinya meraih pundak Jovan.


Seet!


Plek!


Seet!


Ia merangkul keduanya dalam posisi berada ditengah-tengah mereka.


"Aku bahagia bisa kenal kalian dan sangat bahagia memiliki sahabat seperti kalian. Apakah kalian merasakan hal sama sepertiku?" Ucapnya seraya menoleh Verza maupun Jovan.


Namun diantara keduanya malah terdiam seraya mengedip-kedip mata tampak seperti orang bodoh. Alhasil Alan pun menepuk pundak mereka.


Plek!


Plek!


"E kodok" latah Verza keluar saat Alan menepuknya.


"Kenapa kalian terdiam? Apa aku ini tidak kalian anggap ya.. Kenapa kalian tega sekali?" Ucap Alan sengaja berekspresi memelas (bercanda) sembari melepas tangannya.


Alhasil, Verza langsung mengangkat tangan lekas menempelkannya di kening Alan.


Plek!


"Sejak pindah, Loe masih waras kan Lan? Apa loe bukan Alan si?" Ucapnya seraya membolak-balik telapak tangan di kening Alan lalu oper tempel ke keningnya sendiri.


Alan pun langsung menyingkirkan saat Verza hendak mengulangi lagi. (Menempelkan tangan di kening Alan)


Seet!


"Lantas.. menurut kamu, aku ini siapa?" Jawabnya masih berekspresi seperti tadi.


"Bukan-bukan, maksud gua tuh gini, Sejak kapan Loe jadi lebay begini Lan? Coba gih, gua trawang loe bentar, Gua penasaran Loe Alan atau bukan." Verza mendekatkan wajah ke mata Alan seraya komat-kamit tidak jelas.

__ADS_1


Sontak Alan pun langsung menyingkirkannya lagi.


Seet!


"Haha" Verza tertawa lepas disusul oleh Jovan melihat ekspresi Alan sungguh terlihat lucu bagi mereka.


"Parah kalian." Alan melirik keduanya lantaran mereka sama-sama memiliki selera humor yang cukup tinggi, cenderung konyol.


"Ah, baiklah loe tadi sudah ngomong begitu kan, Lan. Maka gua akan nyatakan 'Yes!' " Verza mengulurkan jari kelingking didepan mereka.


Namun Alan dan Jovan masih diam hanya melihatnya saja. Belum mengerti.


"Ayolah, kita lakukan bersama-sama seperti ini" lanjut Verza.


Alhasil Alan maupun Jovan menurutinya, tampak seperti orang bodoh.


"Yup! Janji sahabat telah kita buat, sekalinya sahabat tetap sahabat. Walau debat, walau berkeringat, kita tetap hangat sampai akhir hayat" Cetus Verza.


Alhasil, Jovan langsung menimpuk kepalanya.


Plak!


"Loe komat kamit apaan si Ver, kagak jelas bet dah ah, sue!" Ucapnya dalam logat bahasa khas ibu kota.


Sementara Alan menahan tawa sembari menutupi mulutnya mendengar celotehan Verza.


"Oihh ini janji kita bertiga kunyuk! Promise bahasa kerennya Men, ngerti kagak Loe?" Lanjut Verza memoyongkan bibir.


"Apa loe bilang? Kremes?" Ledek Jovan.


"Promise nyuk! Jauh amat loe melencengnya"


"Booomat, weeek"


"Sudah-sudah, hari sudah semakin siang dan juga sinar matahari semakin terik, mari kita pulang" Pungkas Alan memangkas percakapan mereka.


"Wei, ngemeng-ngemeng gua mau di taro mana coy! Mau jadi terong-terongan kah kita?" Cetus Verza melihat hanya ada satu motor, ia berpikir akankah berboncengan tiga orang dalam satu motor sedangkan barang yang ia bawa cukup memakan tempat.


***


Verza memang memiliki sifat yang setara dengan Jovan. Maka tidak heran jika mereka saling bertemu keadaan yang semula sepi pastilah menjadi ramai.


Verza datang ke ibu kota hari ini hanya untuk bermain, mengingat hari ini adalah hari libur. Namun pada sebenarnya Verza datang ke ibu kota hanya waktu-waktu tertentu saja yakni bersama keluarga saat ada libur panjang maupun saat tahun baru.


Sementara Jovan sendiri hanya satu kali berkunjung ke daerah perkampungan sepupunya tersebut, yakni saat ia masih kecil. Setelah besar ia samasekali tidak pernah berkunjung ke daerah sana karena dari pihak keluarga yang di kampunglah yang selalu berkunjung ke kota. (Silaturahmi)


Oleh sebab itu, Alan selaku sahabat terbaik Verza tidak pernah mengetahui tentang Jovan. Begitupun Jovan.


Tetapi sudah menjadi suratan takdir kini mempertemukan mereka bersama-sama sesuai jalan-Nya.


***


Matahari sudah semakin terik, sebelum kembali berkendara Alan berkali-kali melihat ke arah jam tangan.


"Wei Men, sorry." Ucap Jovan seraya memakai helm.


"Atas dasar apa kamu meminta maaf?" Jawab Alan sembari memakai helm juga.


"Merebut waktumu."


"Pikiranmu saja yang berlebihan, Jov."


"Jiah.. ekspresi loe kagak bisa membohongi fakta Bro, asal loe tau gua nih ahli membaca bahasa tubuh." Lanjut Jovan sok cool.


"Cih,"


"Woi kalian ngerumpinya nanti saja woi, perut gua udah demo nih, panas pula ni matahari woi, buruan" teriak Verza saat driver ojek yang ia naiki sudah lebih dulu melaju.

__ADS_1


"Iya, bawel loe ah!" Balas Jovan bersuara lantang.


***


Jovan bergegas menyusul Verza yang sudah lebih dulu melaju pelan. Sebab sang Driver pastilah menunggu Jovan berkendara didepan dia.


Beberapa menit berkendara, sudah memasuki waktunya makan siang, yakni pukul 12:30 pm. Alan mengalihkan sejenak tujuan utama dia untuk berkunjung ke rumah sakit.


Sebab momen berharga seperti saat ini pastilah tidak mudah terulang kembali, yaitu bertemu sahabat masa kecilnya.


Tidak selang waktu lama mereka sudah sampai di rumah Jovan. Begitu mereka sampai, langsung di sambut oleh kedua orangtua Jovan atas kehadiran Verza.


Mereka berbincang-bincang sejenak di ruang tamu. Tak lupa pula Jovan memperkenalkan teman-nya yaitu Alan kepada kedua orangtua-nya.


"Lawrence? Kamu Putra pak Marvin kah?" Tanya Ayah-nya Jovan saat Alan menyebutkan nama lengkapnya.


"Benar, pak." Jawab Alan, santun.


"Oh Tuhan.. tidak saya sangka calon penerus Lawrence grub setampan ini, benar-benar luar biasa pak Marvin."


"Anda terlalu memuji, Pak" Alan tersimpuh malu.


Sementara Verza menunduk saat mendengar percakapan mereka, lantaran ia teringat masa lalu pahit yang Alan alami dulu.


Namun kini ia merasa sangat bahagia nan bersyukur melihat sang sahabat sudah memiliki kehidupan yang layak dan sejahtera. Meskipun terbesit rasa sedih didalam hatinya lantaran jarak memisahkan ia bersama sang sahabat tersebut.


Namun apalah daya, ia selaku menjadi sahabat terbaik tidak ada yang lebih bahagia selain melihat sahabatnya bahagia.


***


Setiap manusia pastilah memiliki nasip yang berbeda-beda walaupun mereka saudara kandung. Layaknya seperti Ayah-nya Jovan dan Ayah-nya Verza. Mereka adalah kakak-beradik Namun berbeda nasip.


Ayah-nya Jovan seorang pembisnis juga, tidak heran saat dia mendengar nama belakang milik Alan maka dia langsung mempertanyakannya.


Usai berbincang-bincang sejenak, mereka lanjut santap siang, karena Verza sudah banyak berkata-kata cenderung nyeplos tentang apa yang ia rasakan semenjak tadi yaitu lapar.


Setelah makan siang selesai.


Pada area halaman belakang rumah Jovan cukup luas. Terdapat saung kecil yang sangat nyaman untuk bersantai disana.


Biarpun cuaca siang ini cukup terik, namun disana sangat sejuk lantaran ada sebuah pohon berdaun rindang berukuran sedang di samping saung tersebut.


Mereka bertiga duduk-duduk disana di temani minuman dingin dan beberapa potongan buah.


"Lan, apakah kamu betah tinggal disini?" Tanya Verza.


"Ini bukan rumahku, melainkan rumah Jovan" Jawab Alan.


"Huaaaak skakmat dah Loe, Ver" Sahut Jovan terkekeh.


"Aih.. merusak suasana aja si loe Lan, kebiasaan, Huh." Verza mendengus.


Alan dan Jovan tertawa melihat ekspresi Verza, tampak lucu.


"Haiss! Ngakak aja terus, nyampe kering mulut kalian, huh."


"Kamu masih sama seperti dulu ya Ver, cantik saat marah."


"Haissh, Mata loe juga masih sama aja Lan, Juling. gua nih ganteng Men, inget! Gua ganteng bukan cantik, huh!" Verza semakin mendengus.


"Hahaha.." Jovan tertawa terbahak-bahak sembari guling-guling.


Alan jua demikian, ia tertawa lepas kala berhasil kembali mengejek sahabatnya tersebut.


"Puas kalian orang ketawa hah! Puas, huh."


"Ya ya Ver, maaf maaf hehe, oh iya gimana kabar ibuku dan adikku?" Lanjut Alan bertanya.

__ADS_1


"Mereka.. anu.. mereka.. anu.." Verza ragu-ragu hendak mengatakannya.


"Mereka anu apa Ver, apa ada sesuatu? Cepat katakanlah"


__ADS_2