Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 131


__ADS_3

ketika Alan mengulurkan tangan, Mike tersenyum sembari meraihnya.


Seet!


Selepas Mike sudah kembali dalam posisi berdiri, ia pun menoleh ke seluruh ruangan tersebut. Terlihat disana Perhatian Orang-orang yang tidak tumbang mengarah ke mereka, tampak garang.


"Mari kita segera bergegas pergi, orang-orang ini tidak bisa diprediksi walaupun ketua mereka sudah tumbang" Bisik Mike.


Mereka bertiga langsung bergegas keluar, Biarpun Mike masih bisa berjalan, namun ia dituntun oleh Alan karena badan dia lemas. Sementara Jovan melangkah lebih cepat hendak ke arah motornya berada.


"Hei, Tunggu!" Seru Alan sembari melepas jaket disusul melepas pakaian seragam sekolah yang masih ia pakai (masih memakai kaos dalam)


"Ada apa? jangan buang-buang waktu lagi, sebelum mereka semua mengejar, lebih baik kita segera pergi" Ucap Jovan nampak cemas.


"Tidak usah banyak berbicara, Saya tahu. Tetapi lihatlah ini," Alan meraih tangan Jovan yang tertebas tadi masih bercucuran darah.


"Tapi, awh sakit, itu.. pakaian loe jadi kotor terkena darah, Men." Jovan meringis kesakitan.


"Diam saja." Alan langsung mengikatnya dengan pakaian tersebut supaya Jovan tidak kehabisan darah mengingat luka itu cukup dalam.


"Apa kamu masih bisa mengendarai motor?" Lanjut Alan setelah selesai membalut luka itu.


"Wei, jangan meremehkan gua Men, bahkan gua memukul wajah loe sampai nyonyor saja masih sanggup, ingat itu." Cetus Jovan berlagak sok cool.


"Cih, yasudah jika seperti itu cepatlah bergegas, segera menuju ke rumah sakit terdekat sebelum kamu kehabisan darah" pungkas Alan.


"Iy.. iya, baiklah" Jovan merasa heran nan kagum karena tidak habis kira Alan memiliki kepedulian yang cukup tinggi sekalipun sebelumnya pernah ada masalah dengan dirinya sendiri.


Jovan melanjutkan langkahnya menuju ke arah motornya berada, sementara Alan sendiri bergegas kembali ke Mike sembari memakai kembali jaket. Ia melihat Mike nampak sempoyongan ketika dia sedang menyalakan motor. Alhasil ia pun langsung meraih motor tersebut.


"Naiklah, biar aku yang akan mengemudikannya." Ucap Alan penuh yakin.


"Tapi, anu.." Mike nampak ragu karena sebelumnya Alan baru pertama kali mengemudikan Motor pada siang hari tadi.


"Tidak ada Anu, segera naiklah. Cepat!" Seru Alan nampak tergesa-gesa karena ia mendengar suara hentakan kaki dari dalam rumah tersebut.


Melihat ekspresi Alan seperti itu terbesit rasa takut didalam diri Mike karena melihat Paras Alan sama halnya seperti melihat paras dia sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Alhasil ia pun langsung menurutinya penuh yakin.


"Woi! Berhenti kalian, kep*rat!" Seru orang-orang dari arah dalam rumah itu, mereka berlari hendak menuju halaman depan.


"Cepat Lan, tancap gas!" Seru Mike sembari menepuk pundak Alan.


Plek! Plek!


Alan pun langsung memacu kendaraannya tanpa ragu. Namun, tiada seorangpun jika dalam situasi tergesa-gesa seperti itu bisa sempurna menjalankan sesuatu.


Layaknya yang terjadi dengan Alan saat ini, ia memang tanpa ragu-ragu hendak mengemudikan motor itu. Alhasil ketika ia melepas kopling, motor yang ia kendarai itu sempat mati hingga beberapa kali. (Sempat hampir jungkir)


Jrug! Brum.. Jrug!


"Adaw! Apa kamu yakin, Lan?" Tanya Mike nampak tergesa-gesa sembari menoleh ke belakang.


"Diamlah." Pungkas Alan fokus mengemudikannya. Ia sangat bersungguh-sungguh untuk tetap mengemudikannya, Akhirnya ia pun berhasil.


Brum.. brum..


Tetapi Sebagian orang-orang itu ada yang hendak mengejar mereka. Namun waktu mereka terpangkas lantaran mencari kunci motor dan lain sebagainya.


Setelah Alan sampai didekat Jovan berada, ia pun langsung memberikan kode melalui klakson supaya dia cepat bergegas pergi mengikutinya.


Tin.. tin..


"Ayo cepatlah!" Seru Alan.


Jovan langsung memacu kendaraannya menyusul Alan meskipun ia sedang kesusahan untuk menggenggam kopling dari tangan satunya. (Yang terluka)


***


Tepat pukul 02:20 am.


Mereka masih didalam kendaraan menuju ke rumah sakit terdekat, namun rumah sakit terdekat di area sana tidak ada yang buka 24 jam, alhasil mereka berkendara ke arah pusat kota yang terdapat banyak rumah sakit kecil maupun besar yang tersedia 24 jam.


Plek!

__ADS_1


Kepala Mike tiba-tiba bersandar di pundak Alan.


"Mike.. apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alan. Namun tidak ada jawaban dari Mike.


"Kakak? Apa kamu baik-baik saja?" Ulang Alan memanggilnya dengan sebutan kakak. Tetapi Mike tidak jua menjawabnya.


Alhasil ia mencoba menepi terlebih dahulu untuk memastikan, namun ketika ia hendak menepi di bahu jalan terdengar suara dari arah belakang cukup keras.


Braak! Ngoweeerrrrr werrrr


Alan terkejut, ia segera menepikan kendara'an di bahu jalan, sembari hendak menoleh ke arah belakang, namun saat yang bersamaan kepala Mike yang masih bersandar pada pundaknya, nyaris terjatuh.


"Ya Tuhan, Mike!" Seru Alan melihat Mike tidak sadarkan diri. Kemudian ia menoleh juga ke arah belakang hendak melihat sumber dari suara tadi.


"Astaga, Jovan!" Seru Alan melotot melihat Jovan tergeletak di Aspal sebagian badannya tertimpa motor, dia terjatuh.


Alan merasa bimbang, di satu sisi Mike tidak sadarkan diri, disisi lain Jovan selaku yang membantunya jua tidak sadarkan diri nan butuh pertolongan dengan segera.


Namun beruntung sudah langsung ada beberapa orang disana membantu Mengangkat motor yang menimpa badan Jovan seraya menepikan Jovan di bahu jalan.


Alhasil, Alan langsung berdiskusi dengan beberapa orang yang berada disana meminta pertolongan dari salahsatu orang-orang tersebut untuk membawa Jovan ke rumah sakit, lantaran ia sendiri tengah membawa Mike yang sama-sama sedang tidak sadarkan diri.


***


Beberapa waktu kemudian, Mereka telah sampai di rumah sakit. Alan sibuk mengurus administrasi mereka berdua.


Setelah keduanya usai dari ruang UGD Alan menuju ruang perawatan mereka, karena mereka masuk dalam satu ruang perawatan yang sama yaitu kelas 2.


Alan duduk terdiam sembari melihat jarum jam yang terus berputar, sesekali menoleh ke arah keduanya yang sama-sama belum sadarkan diri.


Ia merenung sejenak memikirkan tentang perkara kejadian yang sudah terjadi saat ia menikam dan menebas para musuh dengan sebilah badik tadi.


"Salah atau tidak kah diriku ini Tuhan.." Batin Alan seraya melihat kedua tangannya. Ia melotot ketika menyadari bahwa masih terdapat bercak darah di kedua tangannya.


Ia pun langsung bergegas ke wastafel yang tersedia disana untuk membersihkan bercak darah tersebut. Usai membersihkannya ia kembali ke arah semula ia duduk tadi.


Saat ia menoleh, tersimpul senyum khas dari bibirnya lantaran Mike dan Jovan sudah sadarkan diri, sesama sudah duduk.


Tidak ada percakapan langsung dari mereka bertiga, namun masing-masing banyak bergumam didalam hatinya sesuai apa yang sedang mereka pikirkan masing-masing.


"Hum" sahut Alan menoleh.


"Terimakasih"


Alan tersenyum, begitupula dengan Mike.


"Errr.. anu, hei! Kenapa kalian melihat ku dengan ekspresi seperti itu?" Tanya Jovan salah tingkah, ketika Mike dan Alan sama-sama melihat kearah-nya.


"Tidak, justru kami yang seharusnya berterimakasih" Jawab Mike dan Alan secara serentak, tidak disengaja. Alhasil membuat keduanya saling pandang dan tertawa.


"Halah.. macam mana pula jadi seperti drama begini aih" Gumam Mike di sela-sela ketawanya.


"Eee.. dasar si gundul upin-ipin." Lirih Jovan.


"Apa loe bilang?" Tanya Mike. Tidak mendengarnya.


"Ah tidak, bukan apa-apa hehe" Jovan mengelak sembari melirik Alan.


"Cih," Alan jua meliriknya lantaran ia mendengar dengan jelas.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alan kepada Jovan.


"Seperti yang bisa loe lihat sendiri, gua baik-baik saja. Dan ingat satu hal tubuh gua tidak lemah seperti yang loe kira Men, paham!" Ucap Jovan dalam bahasa khas, sok cool.


"Wait," sahut Mike.


"Apa?" Jovan menoleh.


"Itu pelanggaran hak cipta." Lanjut Mike.


"Hak cipta?" Balas Jovan nampak bingung.


"Ya, asal loe tau Kalimat itu Mike Stevanus Lawrence lah yang menciptakannya, Jangan sembarangan loe pakek, bro" Lanjut Mike mendengus lantaran kalimat yang keluar dari mulut Jovan tadi adalah kalimat yang biasa ia pakai sewaktu berbicara dengan Alan.

__ADS_1


"So..?" Jovan meledek.


Mike dan Jovan beradu argumen lantaran mereka memang memiliki sifat yang nyaris sama, yaitu tidak mau kalah. Sementara Alan sendiri hanya geleng-geleng kepala menyaksikan mereka beradu mulut (bercanda) sembari tertawa melihat kelucuan dari keduanya.


"Woi! Apa yang kamu tertawakan?" Tanya Jovan kepada Alan namun kali ini ia serentak dengan Mike. Alhasil terulang seperti tadi yaitu saling pandang dan tertawa.


"Hahaha Anj*r"


"Tidak tidak, bukan apa-apa" Alan menahan tawa sembari memegangi perut.


"Alan, Alan, jika kamu tertawa lepaskan saja tertawa kamu, jika di tahan seperti itu bisa-bisa malah ada suara merdu yang terdengar dari belakang, haha" Ucap Mike sembari tertawa-tertawa.


"Kentutt maksud loe?" Cetus Jovan.


"Aissh! Anj*r, ngapa loe ceplosin sue!"


"Haha"


Alan merasa kagum dengan mereka berdua, lantaran saat ini mereka masih merasakan sakit akibat banyak luka-luka di tubuh, namun melihat canda ria yang terpapar jelas dari ekpresi mereka, rasa sakit yang mereka rasakan seakan-akan telah hilang tanpa bekas.


Ya, Alan kagum lantaran ia tidak pernah merambah dunia luar seperti mereka, yang mana didalam kehidupan luar (sisi positif) semakin jauh kita pergi, maka semakin banyak kita menuai pengalaman dan pelajaran tentang banyak hal.


Mike dan Jovan memiliki sifat yang nyaris sama dan jua sesama suka dalam kehidupan liar, maka tidak heran jika mereka bisa bercanda bak sudah kenal lama.


"Mau kemana kamu, Mike?" Tanya Alan ketika Mike berbenah.


"Kamu pikir mau kemana lagi?"


"Baiklah jika dirasa kondisimu sudah tidak apa-apa, Dokter sudah memberikan resep obat, aku akan mengambilkannya" Alan beranjak pergi.


"Eits tunggu, itu tidak perlu. Bukankah sudah seringkali aku mengatakan bahwa tubuh kakakmu ini tidak selemah itu?" Ucap Mike sembari melirik Jovan.


"Cih, dasar upin-ipin" lirih Jovan mendengar Mike mengucapkan kalimat tersebut.


"Diam kau" gumam Mike.


"Semua untuk kebaikan diri kamu sendiri, bukan untuk bergaya." Tegas Alan melangkah pergi.


"Aiih.." Mike cemberut.


Alhasil Jovan tertawa lepas menyaksikan saudara kembar yang ia lihat ini. Lantaran ia tidak habis kira bahwa mereka berdua benar-benar terlihat unik. Bagi Jovan.


"Puas?" Mike melirik.


"Sorry, No Comments. Haha, atah atah tanganku awuuh.."


"Sukurin, ketawa lagi aja yang keras" ledek Mike ketika Jovan merintih kesakitan pada area lengannya.


***


Next


Jam menunjukkan pukul 03:15 am.


Alan, Mike dan Jovan bergegas pergi dari rumah sakit tersebut, jarak tempuh antara rumah sakit itu dengan kediaman mereka masing-masing terbilang cukup jauh.


"Oke terimakasih Bro, hati-hati" Ucap Mike ketika sampai di suatu jalan yang mengharuskan Jovan melalui jalan lain.


"Yup, oh iya untuk loe, ingat hutang!" Cetus Jovan ke arah Alan.


"Hutang? Apa kamu ada pinjam uang sama dia?" Tanya Mike kepada Alan.


"Cih," Alan melirik Jovan sembari tersenyum karena ia mengerti maksud dia.


Sementara Jovan langsung meniup-niup kepalan tangan yang berarti bahwa ia masih memiliki suatu keinginan yang belum tercapai hingga saat ini yaitu memukul Alan.


Usai berpisah dengan Jovan, Mike dan Alan kembali melanjutkan perajalan menuju pulang.


Jrug! Jrug! Jrug!


Mike menghentikan laju kendaraannya secara mendadak didalam komplek perumahan belum sampai tepat didepan rumah, alhasil membuat Alan terkejut nyaris kepalanya terpentok kepala Mike.


Suut!

__ADS_1


"E, eh Ada apa, Mike? Kenapa berhenti secara mendadak seperti ini?" Tanya Alan.


"Alamak, matilah aku" Mike melotot melihat ke arah rumah sembari menepuk jidat dia sendiri, lantaran ada hal penting yang sudah terlewat.


__ADS_2