Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 78


__ADS_3

Sementara Alan masih saja terdiam. Kemudian, Tanpa basa-basi Marvin langsung melangkah maju hendak memeluknya.


Namun, ketika Marvin maju, Alan langsung mundur satu langkah kebelakang.


Sontak membuat Marvin semakin menangis, ia melangkah lagi satu langkah ke depan, namun Alan langsung mundur dua langkah kebelakang.


"Alan.."


Seru Mike sembari melangkah maju jua kehadapan Alan, sontak membuat Alan langsung melangkah ke arah meja dan langsung mengambil pakaiannya yang berada di atas meja yang sebelumnya memang telah ia siapkan dan memang ia menaruhnya disana. Kemudian, ia langsung melangkah menuju pintu keluar kamar tanpa mengucapkan kalimat apapun.


"Alan tunggu, berhentilah Alan!" Seru Mike.


Sementara Marvin semakin menangis histeris ketika melihat Alan tidak mengucapkan satu kalimatpun ataupun merespon yang telah ia nyatakan.


Ketika mendengar panggilan dari Mike, Alan langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah mereka dan nampak air mata telah membanjiri kedua pipinya.


Melihat hal demikian, sontak membuat Marvin langsung berlari kearah Alan dan langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Anakku.. hiks.. hiks.. hiks.. maafkanlah Papa nak, maafkan papa.. Michealan anakku.." Ucap Marvin secara berulang-ulang sembari menangis histeris dan membelai lembut rambut Alan yang tengah dalam pelukannya.


Namun, tidak selang waktu lama, Alan langsung kembali melepaskan pelukan Marvin dari dirinya.


Seet!


"Nak.."


Ucap Marvin lirih ketika Alan langsung melepaskan pelukannya tanpa membalas pelukan yang ia berikan tersebut.


"Hentikanlah" Ucap Alan singkat setelah ia sudah melepaskan pelukan Marvin.


"Michealan..."


"Apakah saya tidak salah mendengar, anda mengatakan bahwa saya adalah anak anda?"


"Apa maksud ucapanmu nak, kamu memanglah anakku, dan saya adalah papamu, kamu adalah darah dagingku nak." Jawab Marvin tidak henti-hentinya meneteskan air mata.


"Anda bilang Darah daging? Lantas kenapa saya dibuang ditempat sampah? Apakah anda bisa menjelaskan itu?" Jawab Alan langsung melontarkan sebuah pertanyaan tersebut sembari meneteskan air mata.


"Alan! Apa yang kamu katakan Alan." Sahut Mike sembari melangkah mendekat kearah Marvin.

__ADS_1


"Apa? Dibuang ditempat sampah? tidak nak. Tidak seperti itu."


Jawab Marvin nampak bingung dan kesalahan yang tidak ia sadari adalah ia tidak mengorek keterangan lebih lanjut tentang Alan ketika ia sedang berada didaerah perkampungan yang kemarin ia kunjungi yaitu dikediaman Ferdi.


Sehingga ia tidak mampu menjelaskannya pada Alan. Dan justru malah membuatnya kebingungan.


"Ya, ya, ya. Baiklah." Lanjut Alan singkat sembari menganguk-angguk ketika melihat ekspresi wajah Marvin. Kemudian ia langsung melangkah pergi keluar dari dalam ruang kamar tersebut.


"Michealan tunggu nak.. Michealan."


Seru Marvin semakin menangis histeris. Kemudian, Mike langsung melangkah mendekat ke Marvin. Dan Mike telah teringat ketika ia tengah menjadi Alan dalam beberapa hari yang lalu, bahwa ia sering mendengar kalimat yang sering diucapkan oleh Ferdi dan Yadi ketika memanggilnya dengan sebutan anak sampah. Namun pada saat itu tidak begitu ia hiraukan kalimat tersebut.


"Pa. Ada apa sebenarnya dengan semua ini pa? Apakah benar papa membuang saudara kembarku ditempat sampah? Katakanlah pa! Kenapa dia mengatakan bahwa papa membuang dia di tempat sampah, katakanlah pa!" Seru Mike nampak marah dan bersuara cukup lantang.


"Tidak! Sekalipun papa tidak pernah berbuat demikian! Kalian adalah harta yang tak ternilai dengan apapun yang ada di dunia ini nak. Kalian adalah putraku dan kalian adalah hartaku, Sungguh papa tidak mengetahui tentang hal ini." Jawab Marvin.


"Apa maksud papa dengan tidak mengetahui. Dan kenapa pula papa tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa aku memiliki saudara selama ini, dan terlebih lagi aku memiliki saudara kembar. Kenapa pa! Papa sudah sangat paham bahwa aku sangat menginginkan memiliki saudara dari dulu, tetapi kenapa papa tega melakukan ini hah! Kenapa papa tega tidak pernah mengatakan apapun kepadaku pa!"


"Papa bisa jelaskan ini nanti nak."


"Jelaskan macam apa pa! Oh.. ataukah karena pekerjaan papa lebih penting daripada kami pa! Apakah pekerjaan papa lebih berharga daripada perasaan kami!"


"Cukup, hentikanlah Mike! Kenapa dengan mudahnya kau menyimpulkan segala kejadian yang belum engkau ketahui pasti tentang kebenarannya. Papa sudah mengatakan bahwa papa tidak pernah membuang anak papa sendiri."


Kring.. kring.. kring..


"Iya halo.." Marvin langsung menjawab panggilan telepon tersebut dan sedikit bergeser dari hadapan Mike. Dan yang menelponnya adalah orang-orang kantor.


"Aaissh! Pers*tan dengan semua ucapan papa!" Gumam Mike berbicara lirih ketika Marvin langsung menjawab panggilan telepon tersebut ketika ditengah-tengah dalam pembicaraan dengannya.


Mike merasa kesal, karena seringkali Marvin melakukan hal demikian ketika ia sedang berbincang-bincang dengannya. Mike selalu merasa diacuhkan dari ia masih kecil oleh Marvin. Karena Marvin terlalu sibuk akan urusan pekerjaannya.


Kemudian, ia langsung beranjak pergi hendak menyusul Alan yang sudah berlari keluar rumah. Percakapan antara Mike dan Marvin memakan waktu hingga kurang lebih 10 menit lamanya. Sehingga posisi Alan sudah sangat jauh berlari pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Mike, tunggu!" Ucap Marvin ketika Mike langsung berlari keluar dan ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


Namun, Ketika Marvin hendak menyusul Mike berlari untuk mengejar Alan, tiba-tiba handphonenya berbunyi kembali, yaitu panggilan telepon dari urusan pekerjaannya lagi.


***

__ADS_1


Disisi Mike pada saat ketika ia keluar dari dalam kamar, ia langsung berlari mengelilingi sejenak seluruh ruangan yang berada didalam rumahnya, ia masih berharap Alan masih berada dilingkungan rumahnya.


Namun, setelah ia sudah mengelilingi seluruh bagian ruangan rumah sekaligus ke halaman, ia tidak menemukan keberadaan Alan. Alhasil ia berpikir Alan pasti sudah pergi keluar rumah.


Kemudian ia langsung bergegas keluar rumah. Dan Kemudian Ia langsung berlari kemanapun langkah kakinya melangkah sembari menengok ke kanan dan ke kiri berharap ia segera melihat Alan.


Pada saat itu masih berada didalam musim penghujan. Dan pada saat pagi hari itu jua hujan masih turun secara beriringan. Mendung hitam masih menutupi sinar mentari. Mike masih berlarian ditengah padatnya aktivitas orang-orang yang berlalu lalang.


'Alan.. kemanakah kamu pergi.. Oh Tuhan.. dimanakah dia, dia tidak mengetahui jalan dan arah. Aku sungguh mengkhawatirkannya Tuhan..'


Mike terus-menerus berlari hingga sudah sangat jauh dari kediamannya. Sesekali ia berhenti sejenak untuk mengambil napas yang masih tersengal-sengal akibat terlalu lama ia berlari.


Kemudian ia bertanya kepada salah satu orang yang berlalu lalang didepannya.


"Permisi mas, apakah anda melihat saya?" Tanya Mike meleset karena pikiran ia sedang kacau.


Sontak membuat orang yang sedang ia tanyai tersebut mengerutkan keningnya, dan menggelengkan kepala, orang tersebut berpikir bahwa Mike anak yang tidak waras.


"Oit, Hey, mas mas tunggu."


'Lah.. ditanya malah memasang wajah begitu sih tuh orang, dasar aneh!' gumam Mike didalam hatinya ia tidak menyadari kalimat yang ia tanyakan kepada orang itu.


Kemudian, ia kembali berjalan untuk melangsungkan pencariannya mencari Alan. Ia berjalan tidak hanya fokus pada satu jalan, melainkan masuk pula kearah gang-gang sempit maupun komplek, karena ia berpikir pastilah Alan tidak mengetahui arah.


Dan jua ia merasa sangat khawatir jika Alan sampai ditemukan oleh para musuhnya yaitu geng Bonanza. Mengingat perkara yang telah terjadi pada malam sebelumnya ketika para komplotan geng Bonanza menangkap Alan.


Dan juga karena Mike belum mendapatkan informasi dari Dimas ketika Dimas membantunya berkelahi dengan geng Bonanza antara menang atau kalah dia melawan kelompok Bonanza.


***


Kemudian, Mike berjalan melewati sebuah pasar. Ditengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang, ia menyadari pastilah sangat susah untuk bisa menemukan satu orang. Namun Mike memiliki jiwa yang tidak mudah menyerah terlebih lagi demi menemukan saudara yang ia inginkan semenjak dahulu.


Bagi Mike, sampai ke ujung duniapun pasti dia akan terus mencari keberadaan Alan sampai napas terakhirnya.


Kemudian, ditengah-tengah ia berjalan didekat pasar tersebut, dan didalam kerumunan orang-orang yang sedang berlalu-lalang, ia menabrak salah satu orang yang sedang berlalu-lalang tersebut, karena mata ia terus-menerus menoleh kesana dan kemari sehingga ia kurang fokus kearah depan.


Bruk!


"Eh, maaf Mas, " Ucapnya.

__ADS_1


Kemudian orang tersebut menoleh kearah Mike. Setelah ia hampir saja terjatuh ketika Mike menabraknya. Dan Ketika orang tersebut sudah menoleh kearah Mike, sontak membuat Mike langsung melotot penuh gembira.


"Alan."


__ADS_2