
Alan langsung menyingkirkan tangan Taro yang sedang memegang pundaknya.
Seet!
Seraya langsung berbalik badan ke arah mereka semua.
"Mike, ada apa sih sebenarnya sama loe? coba lah loe menjadi diri loe seperti biasanya, tidak dingin seperti ini." Ucap Taro seraya memandang ke semua temannya.
"Hem.. Apakah seorang sahabat mengharuskan sahabatnya menjadi seperti yang mereka inginkan?" jawab Alan.
"Bukan begitu maksud gua Mike, loe harusnya sudah mengerti lah maksud gua gimana," jawab Taro.
"Sstt.." tangan Taro di sentil oleh Ivan, dia menyadari melihat ekspresi wajah Alan sungguh-sungguh tidak bisa ditebak.
"Bukankah seorang sahabat dapat menerima segala apapun yang ada pada diri sahabatnya? yang mau saya tanyakan engkau itu hanya sekedar seorang teman ataukah seorang sahabat?" jawab Alan.
"Kenapa loe berkata seperti itu, Mike?"
Alan tersenyum tipis.
"Iya Mike, maksudnya apa Mike kok loe berkata seperti itu?" sambung Al nampak asam.
Alan terdiam seraya memandang mereka semua, kemudian ia kembali berbalik badan hendak melangkah pergi lagi.
"Hey Mike! Gak asik bener sih loe sekarang!" Pekik Taro merasa geram. Kemudian Taro langsung dipegang oleh semua teman-temannya.
Sementara Alan sendiri langsung menghentikan langkah kakinya seraya kembali menoleh ke arah mereka.
"Sahabat akan menerima bagaimanapun sikap dan karakter dari sahabat itu sendiri tanpa menuntut apapun perubahan yang ada pada watak sahabatnya tersebut. Saya sungguh-sungguh tidak mengingat seperti apa saya dahulu, namun jika menurut kalian Mike yang sekarang tidak asik seperti yang baru saja kalian ucapkan maka kenalilah kembali Mike yang sekarang, jika kalian memang benar-benar sahabatnya" pungkas Alan langsung bergegas pergi keluar kelas.
"Benar-benar sudah berubah sekarang loe, Mike!" teriak Taro setelah Alan sudah pergi.
"Hey bro, yang baru saja dikatakan oleh Mike ada benarnya juga, bro" sambung Ivan.
"Apa Maksud loe, Van?" lanjut Taro.
"Coba gih loe pikirin juga perasaan dia, Mike tidak ingat dengan dirinya sendiri apalagi dengan kita semua coy, kita juga tadi terlalu memaksakan dia untuk bisa seperti sedia kala, loe pikir aja deh dia saja susah untuk mengenali dirinya sendiri apalagi di paksa untuk mengingat masa-masa bersama kita." Jawab Ivan.
"Bener juga tuh bro, harusnya kita sebagai sahabat menuntun dia secara perlahan agar semuanya kembali seperti semula, tapi kalimat yang kita ucapkan tadi memang sungguh menekan dia si" sambung Al.
"Iya benar tuh, kacian ayank beb akoh, dia sangat tertekan dengan perkataan kita, coba aja kalo kita yang berada di posisi dia mungkin udah tersulut emosi, tapi ngomong-ngomong emang bener juga si, si beb Mike hilang ingatan masa dia kehilangan sifatnya juga, jadi dingin banget begitu kayak es" lanjut Kenji.
"Udah gak usah kompor loe banci!" Pekik Al melirik tajam ke arah Kenji. Membuat Kenji langsung terdiam nan menunduk. Kemudian Ivan dan Al langsung merangkul Taro.
"Udahlah bro, yang sedang loe rasain sama kok dengan kita semua, tapi kita yakin sajalah bro suatu saat nanti Mike sahabat kita pasti akan berubah seperti sedia kala." Tutur Ivan.
__ADS_1
"Betul bro, kita sabar saja yang terpenting kita selalu ada menjadi sahanat dia (Mike)" sambung Al sembari tersenyum. Alhasil Taro menjadi ikut tersenyum.
***
Alan berjalan keluar hendak mencari ruang perpustakaan karena ia tidak begitu suka dengan kegiatan lain selain membaca. Lagipula kini Alan merasa sendirian tidak memiliki seorang sahabat yang bisa mengerti akan sifat yang dimilikinya, ia lebih memilih menghabiskan waktu yang kosong untuk membaca karena baginya membaca bagaikan jendela dunia selain untuk menambah wawasan.
Ia berjalan cukup lama ke sana dan kemari mencari keberadaan ruang perpustakaan karena hari ini adalah hari pertama ia masuk di sekolahan tersebut. Maka tidak heran jika ia belum mengetahui letak ruang perpustakaan.
Dan ia pun enggan bertanya kepada para siswa-siswi yang sedang duduk maupun yang sedang berdiri didekat ia berjalan.
"Door! Hehe" Sapa Ananta mengejutkan Alan dari arah belakang. Sontak membuat Alan menjadi terkejut.
"Mau kemana kamu Mike?" Tanya Ananta
"Perpustakaan"
"Loe udah tau ruangannya di mana?" Lanjut Ananta.
Alan menggelengkan kepala tanpa menjawab satu kalimatpun.
"Yaelah, ciri-ciri sikap yang bagus tetapi tidak bagus ya ini nih orang yang dulunya periang jadi pendiam. Loe ingat kan kata pepatah yang mengatakan bahwa malu bertanya akan tersesat dijalan?"
"Di mana letak ruang perpustakaannya?" Tanya Alan langsung tnpa menghiraukan yang baru saja Ananta ucapkan.
"Yaelah Mike, to the poin amat loe. huh!" Ananta mendengus.
Seet!
Alan pun langsung menoleh ke arah Ananta dengan tatapan khasnya.
"Udahlah loe tidak usah melotot begitu, arah perpustakaannya ke sana bukan ke situ, huh!" Ucap Ananta sembari menarik tangan Alan hingga sampai di ruang perpustakaan.
Setelah mereka sampai pada ruang perpustakaan, kemudian mereka masing-masing mencari buku untuk dibaca. Setelah mendapatkan buku yang hendak mereka baca, mereka duduk berdua di kursi yang telah disediakan di dalam ruang perpustakaan tersebut.
Alan terlalu fokus membaca buku yang sedang ia baca sehingga ia tidak sadar bahwa Ananta memperhatikannya sedari mereka mulai duduk.
'Kenapa kamu sangat berbeda dari bisanya Mike? mulai dari sikapmu, tingkahmu serta aura wajahmu seperti bukan dirimu yang ku kenali selama ini, aku merasa seperti bukan sedang berada bersama mu saat ini Mike, aku ingin bercerita (curhat) padamu seperti biasanya, namun kini melihat sikap dinginmu aku tidak bisa mengucapkan banyak kata padamu' Batin Ananta.
Ketika Ananta sedang terdiam sembari melihat ke wajah Alan, berlahan-lahan Alan menyadari bahwa ia sedang diperhatikan olehnya. Kemudian Alan meniup wajah Ananta yang posisinya sedang bersandar di atas meja sembari terbengong melihat dirinya.
"Huuufff"
Sontak Ananta terkejut ketika wajah ia ditiup.
"Ih, apaan sih Mike, main tiup aja huh!" Ananta mendengus tetapi ia merasa senang karena ia berpikir Mike sudah bisa bercanda seperti sedia kala.
__ADS_1
"Eh Mike, Mike, hei Mike."
"Hem"
"Aku Bosen baca nih.. btw Aku mau curhat nih, Mike"
Alan masih fokus membaca bukunya sementara Ananta sudah mulai berkicau mencurahkan isi hatinya tentang masalah pribadinya (kekasih) namun samasekali tidak di dengarkan oleh Alan.
Beberapa menit kemudian, ada teman Ananta bernama Maria datang menghampiri mereka, dia langsung bergabung dan duduk disebelah Ananta. Namun untuk Alan sendiri masih tetap fokus pada buku bacaannya tanpa menghiraukan teman Ananta yang baru saja bergabung duduk bersama.
Tidak lama setelah itu ada Seorang siswa datang ke arah mereka, setelah dia sampai siswa itu langsung menggedor meja yang diduduki oleh Alan beserta Ananta dan Maria.
Brak!
Siswa yang datang tersebut tak lain dia adalah kekasih Ananta bernama Andika, adik dari Anwar teman terdekat Bonanza. Andika datang bersama dengan temannya. Sontak semua yang sedang duduk terkejut ketika Andika datang tiba-tiba menggedor meja mereka dengan pukulan yang cukup keras.
"Andika, kenapa sih loe datang-datang langsung bikin ulah!" Pekik Ananta seraya melirik dia nampak asam diwajahnya.
"Gua udah bilang sama loe berkali-kali, jangan loe dekat-dekat dengan si b*jingan manja satu ini." Jawab Andika menelunjuk ke arah Alan seraya melotot. Kemudian tangan Andika yang sedang menelunjuk ke arah Alan, langsung di tangkis oleh Ananta.
Seet!
Sementara Alan sendiri hanya diam seraya meliriknya.
"Apa urusannya sih dengan Mike, loe kan tau gua temenan sama dia udah lama kenapa pula loe mempermasalahkan ini sekarang sih." Ananta mengerutkan kening.
"Tidak usah banyak tanya! gua tidak suka saja loe dekat-dekat sama dia, ngerti!" Andika melotot lalu dia langsung menarik tangan Ananta pergi keluar dari ruangan perpustakaan itu.
Disaat tangan Ananta ditarik pergi oleh Andika, Ananta menoleh ke arah Alan seraya memanggil nama dia dengan suara lirih
"Mike"
Ananta menyebut nama Mike nampak matanya berkaca-kaca karena Ananta merasa Alan sama sekali tidak menghiraukan yang baru saja tengah ia ceritakan menyangkut hal ini (Kekasih)
Sementara Alan sendiri hanya diam ia hanya melihat ke arah Ananta ketika sedang ditarik pergi oleh Andika, karena bagi Alan sendiri ia tidak tahu menahu ada urusan apa dengan semua yang ada di kehidupan Mike yang kini ia jalani.
Bersambung..
***
Catatan
kisah perjalanan kehidupan Alan dan Mike masih sangat panjang sebelum keduanya saling bertemu.
Pesan-pesan Author
__ADS_1
Hay semuanya Salam sejahtera untuk semua pembaca yang terhormat. Jika tidak keberatan, tinggalkan like di setiap BAB ya.. dan berikanlah komentar jika terdapat bahasa yang keliru ataupun cara penyampaian author yang kurang dimengerti. Vote poin dan juga rating bintang lima saya nantikan. Karena semua hal tersebut adalah simbol mendukung sang penulis untuk melanjutkan karya yang sedang anda baca sekarang ini. salam hangat dan selamat tahun baru Terimakasih.