
Jovan merasa gembira ketika Mike datang kesana.
"Iya kawan, ah.. rupanya kalian lagi, sangat kebetulan sekali," Balas Mike sembari tersenyum menutupi rasa bimbang yang tengah ia rasakan.
Tetapi di balik senyumnya tersebut, ia merasa ada sesuatu di balik ekspresi Jovan saat dia melihat ia baru datang ke lokasi itu.
"Ada apakah kawan? Kenapa kalian nampak cemas? Oh iya, apakah kalian melihat saudara saya melintasi jalan ini ataupun pada jalan lain?" Tanya Mike sekaligus mengulangi kembali pertanyaannya.
"Saudaramu. Kita tadi melihat Dia di culik bro!" Ceplos teman-nya Jovan.
Sontak membuat Mike melotot setelah mendengar kalimat tersebut. Tetapi ia tidak langsung percaya begitu saja walaupun jauh didalam lubuk hatinya merasa semakin cemas.
"Apakah benar begitu kawan? Lalu itu.." Tanya Mike kepada Jovan melihat ada darah mengalir di lengan Kiri dia.
Jovan mengangguk. "Benar kawan, saudara kembar loe di bawa pergi oleh sekelompok orang misterius. Tadi gua.."
"Oke, terimakasih informasinya, kawan." Mike memangkas kalimat yang belum tuntas Jovan ucapkan. Ia sudah langsung mengambil kesimpulan tentang siapakah orang yang menculik adiknya tersebut.
***
Mata yang sebelumnya bening kini memerah akibat amarah. Sejenak ia menghela napas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri menghadapi lawan. Hasrat berkelahi kian tinggi, degup jantung pun semakin cepat.
Perlahan-lahan namun pasti, ia melangkah mundur kembali ke arah kendaraannya berada.
"Tunggu kawan, dapatkah aku membantumu untuk menyelamatkan saudaramu?" Pinta Jovan melangkah pelan.
"Terimakasih, tetapi tidak, itu tidak perlu kamu lakukan" Mike mengenakkan kembali pelindung kepala.
"Tetapi.."
"Sudahlah tidak perlu kamu pikirkan, ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang kakak." Pungkas Mike menyalakan mesin motor dan langsung pergi.
Brum.. Brum..
"Hei kawan, ketahuilah bahwa kini juga tanggung jawab ku sebagai seorang sahabat!" Teriak Jovan ketika Mike sudah pergi jauh meninggalkan lokasi tersebut.
"Hei Jov, apakah benar dia adalah sahabat loe?" Tanya teman-nya mendekat. Jovan langsung menunduk, lalu menoleh lagi ke arah dia. "Pertanyaan yang tidak harus gua jawab."
Jovan langsung bergegas kembali ke arah kendaraannya terparkir yang terletak kurang lebih 200 meter dari lokasi ia berada saat ini.
__ADS_1
"Tapi Jov, hei tunggu!" Dia langsung menyusul Jovan. Setelah sampai dia pun langsung menarik pundaknya dari arah belakang cukup kuat.
Seet!
"Hei, Haga dipa kawan? Kenapa loe tampak terburu-buru? Apakah loe akan mengejar mereka, lalu menjadi seorang pahlawan yang akan menyelamatkan si kembar, hah?"
"Tidak usah banyak cakap." Jovan kembali melangkah namun lagi-lagi ia di tarik pundaknya oleh temannya tersebut.
Seet!
"Hei Jov, ada apa sama loe, kenapa loe jadi berubah begini? Sejak kapan loe peduli dengan yang namanya sahabat?"
Jovan tidak mempedulikannya, ia kembali melangkah menuju ke tempat kendaraannya berada. Setelah sampai ia langsung berkemas menggunakan helm dan sejenak mengecek kembali kendaraannya yang sebelumnya sempat mati.
"Jov, Gua hanya mau mengingatkan, bahwa psikopat semacam loe tidak akan pernah menemukan seorang sahabat." Ucap teman-nya tersebut berdiri di belakang.
"Apa maksud loe berbicara seperti itu?" Jovan meliriknya dalam posisi masih jongkok.
"Cih, apakah loe lupa bahwa kita berdua di keluarkan dari sekolah dulu akibat perbuatan kita hah? Tidak usah munafik loe, Men."
Sontak Jovan langsung kembali berdiri. "Apakah loe bermaksud untuk mencegah seseorang yang hendak memperbaiki diri menjadi lebih baik dan juga memperbaiki diri dalam menjalin suatu hubungan persahabatan?"
"Itulah mengapa gua sudah berteman lama dengan loe tetapi tidak pernah menjadi sahabat." Jawab Jovan tersenyum tipis.
"Apa maksud loe?" Dia melotot.
"Apakah loe tidak mengetahui bahwa seorang sahabat dengan seorang teman adalah serupa tetapi tidak sama? Sudahlah, Jika kamu ingin ikut pergi denganku, naiklah jika tidak, pergilah." Jovan langsung menyalakan mesin kendaraannya.
Brumm.. brumm..
Sementara teman-nya tersebut langsung melepaskan helm dan menyerahkannya ke Jovan.
"Terimakasih. Gua tidak sudi jika terlibat dalam bahaya tetapi masalah itu samasekali tidak ada hubungannya dengan masalah gua."
"Baiklah. Gua samasekali tidak memaksa loe bukan? tetapi bayangkanlah jika posisi loe berada di posisi dia yang sedang dalam bahaya, lalu ada orang yang loe kenal tidak sudi menolong loe walaupun dia melihat loe sedang butuh pertolongan."
"Aiish, Pers*tan dengan psikopat munafik semacam Loe Jov! Gua sudah tau persis watak busuk loe. Tidak perlu belagak sok bijaksana menasehati gua segala, Anj*ng!"
Usai dia mengucapkan kalimat tersebut, dia pun langsung pergi meninggalkan Jovan. Sementara Jovan masih terdiam sembari melihat teman-nya tersebut melangkah pergi. Jovan merasa sedikit bimbang lantaran didalam pergaulannya selalu berakhir seperti ini yaitu bertengkar dengan beberapa teman-temannya akibat perbedaan pendapat.
__ADS_1
Tetapi Jovan menyadari bahwa kelakuan buruk ia di masa lalu memang sudah melampaui batas. Ia samasekali tidak mempedulikan seorang teman, berwatak egois yang hanya memikirkan untung untuk diri dia sendiri, seperti menikung kekasih teman, tidak menepati janji yang ia buat sendiri, membuat suatu masalah yang fatal lalu masalah tersebut berimbas ke teman-temannya, membesarkan masalah yang sepele dan lain sebagainya.
'Di umur ku yang ke-18 tahun ini, adalah masa-masa yang indah menjadi remaja. Sudah seharusnya ku pergunakan waktu ini dengan baik dalam mengais ilmu yang bermanfaat, memiliki banyak teman dan mempunyai seorang sahabat. Tetapi.. apakah itu mungkin untuk orang sepertiku ini?"
***
Di sisi Mike
Pukul 00:20 Am.
Mike langsung melaju dengan kecepatan penuh menuju ke tempat tujuan yang sedang ia tuju yaitu ke markas Bonanza. Setelah ia sampai, berhenti tepat didepan rumah kosong yang dijadikan markas oleh mereka, Mike diam sejenak sembari memperhatikàn suasana sekitar halaman depan rumah tersebut.
Suasana disana terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil dan motor yang terparkir, pertanda bahwa seluruh kelompok lain sedang tidak berkumpul di sana, bahkan kendaraan milik Bonanza pun tidak ada.
Tetapi, dugaan Mike hanyalah kepada Bonanza atas hilangnya sang Adik. Maka ia pun langsung bergegas masuk kedalam.
Braak!
Ia langsung membuka pintu yang tidak terkunci tersebut dengan sangat kuat. Sontak beberapa orang yang didalamnya terkejut nan perhatian langsung mengarah ke pintu itu.
Beberapa orang yang berada didalam termasuk para kelompok utama geng Bonanza yaitu Satria dan Anwar langsung berdiri. Setelah mengetahui yang datang adalah Mike, semua orang yang berada didalam rumah tersebut langsung berdiri nan memasang ekspresi wajah garang.
"Hey kalian. Katakanlah, diamana kalian menyembunyikan adik saya?!" Tanya Mike secara langsung sembari menoleh ke seluruh ruangan didalam rumah tersebut.
"Hei Anak kecil. Apa maksud kau datang kesini secara tiba-tiba lalu kau mempertanyakan keberadaan adik kau hah? Oho.. ataukah kau akan mengantarkan nyawa datang kesini seorang diri? haha" ejek beberapa orang yang berada disana sembari tertawa-tertawa.
"Tidak usah kalian banyak cakap. Katakanlah dimana ketua kalian membawa pergi adik saya!" Seru Mike semakin geram melihat tingkah mereka.
Satria langsung melangkah mendekat ke Mike.
Drap Drap Drap
"Wow rupanya sang pahlawan sedang kehilangan adik tersayang, lihatlah ekspresi wajah dia kawan, nampak lucu nian" ejek Satria sembari menoleh ke teman-temanya.
"Saya ulangi sekali lagi, katakanlah dimana Bonanza membawa adik saya!"
Usai Mike mengucapkan kalimat tersebut, terdengar suara seseorang bertepuk tangan dari arah belakang-nya.
Prok prok prok
__ADS_1