
Alan geram melihat tingkah sang kembaran tampak sangat kekanak-kanakan, lantas ia datang untuk segera mengajaknya pulang.
"Apa yang kamu lakukan disitu Mike, mari kita pulang." Ajaknya mendekat namun dalam jarak tiga langkah darinya, sebab ia jua tak ingin terpapar asap dari zat Nikotin itu.
"Tunggu Lan, aku habisin sebatang bentar" Mike bersikukuh untuk tetap mengulur waktu seraya malah menyemburkan asap rokok dari mulutnya ke arah Alan.
Wuush!
Sontak Alan pun sedikit menghindar serasa hati semakin geram, Lantas mendekat secepat kilat, langsung menjatuhkan rokok itu dari tangan Mike.
Plak!
"Aish" Mike mendengus.
Rokok itupun Jatuh, lekas Alan meraih tangan Mike seraya menariknya.
Seet!
"Ayo, pulang" Ulang Alan.
"Haiyaa .. kejam!" Celetuk Mike tampak Asam.
"Tidak ada haiya-haiya Mike, mari kita pulang" Ulang Alan semasih menarik tangannya bagai menarik se'ekor Domba.
Ketika adegan tersebut tengah berlangsung lantas menarik perhatian dari setiap mata yang memandang mereka berdua, tampak tertawa-tawa.
Bagaimana Tidak? Sebab adegan tersebut tampak lucu bagi mereka yang melihatnya.
"Mike, cepatlah. Memalukan sekali kamu." Bisik Alan merasa malu, sebab ia paling enggan jika menjadi pusat perhatian, terlebih lagi di ranah publik.
Akhirnya Mike pun berdiri sembari menoleh kesana dan kemari tak luput jua garuk-garuk kepala.
Sesudahnya sampai di kuda besi nan sudah saling menaikinya, Mike pun masih bertingkah. Semata-mata hanya untuk mengulur waktu.
"Ya Tuhan Mike, ada apa denganmu?" Ucap Alan singkat tampak Asam. Mike pun menolehnya
"Hehe, santai aja ngapa si, kayak orang lagi kebelet aja buru-buru nian, heran." Ucapnya. Lantas Alan pun langsung mencubit pinggangnya.
"Mau cepat jalan atau tidak? Maka tidak akan ku lepaskan ini." Bisik Alan seraya tangannya mencubit keras pinggang Mike.
"Aciiiaaaa, sakit Lan, haiyaaa. Astaga .. Ampun Arggh sakit Lan, lepaskan Lan, Aaarrghh" Teriak Mike kesakitan Lantas Alan lepaskan disusul menepuk pundak Mike supaya dia diam.
Plak!
"Berisik sekali mulutmu"
"Buju buseet .. itu jarimu terbuat dari besi apa gimana si Lan, Haish perih nian cubitanmu itu, Huh!" Celoteh Mike sembari mengusap-usap pinggangnya.
"Mau jalan sekarang atau aku ulang lagi?" Ucap Alan seraya memperlihatkan jari tangan, yakni sebuah kode hendak mencubitnya lagi.
"Aiya ya ya Ampun, Ampun, laksanakan Tuan muda. Cuss berangkat kita." Pungkas Mike lantas bergegas menyalakan mesin kendaraan nan langsung jalan.
Bruum .. bruum ..
Ngoeengg ..
***
__ADS_1
Waktu saat ini menunjukkan pukul 14:25 Pm. Lokasi taman yang tengah mereka singgahi tersebut terletak cukup jauh dari kediaman mereka. Namun bisa di tempuh cepat apabila melalui jalan protokol. Namun, Mike malah sengaja melintasi jalan alternatif yang justru memutarnya lebih jauh, tujuan ia semata-mata masih sama seperti tadi, yakni untuk mengulur waktu.
Ketika sudah sampai area yang tidak jauh dari lokasi perumahannya, Mike masih saja bertingkah dengan cara melintasi suatu jalan yang sudah ia lintasi hingga nyaris berkali-kali.
Alan sudah menyadari, tetapi awal mula ia diam lantaran ia berpikir ada sesuatu yang tengah Mike cari hingga dia melintasi jalan itu berkali-kali, Pikirnya.
Namun, setelah sudah tiga kali putaran, Alan pun mulai geram.
"Mike, ada apa denganmu?" Tanya-nya.
"Ada apa-apanya Lan?" Jawab Mike santai.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu cari?"
"Tidak ada," jawab Mike masih santai.
"Lantas apa yang sedang kamu lakukan ini?"
"Melakukan apaan? Bukannya kamu sendiri yang bilang kita pulang bareng, ya ini kita lagi jalan pulang Lan, haiyaa .. Aneh dah." jawab Mike santai, ia tidak berpikir dan jua lupa bahwa Alan tipikal orang yang cerdas.
Alan pun langsung menimpuk pundaknya dari belakang.
Plak!
"Apa Kamu pikir aku bodoh? Atau kamu ingin merasakan ini lagi?" Jawab Alan sembari memperlihatkan jari tangan ke arah depan wajah Mike. (Kode mencubit)
Sontak Mike langsung menyadari bahwa Alan sudah mengetahui, tentang kesengajaan yang ia lakukan memutari jalan itu hingga berkali-kali.
"Haiyaa .. Ampun Lan, plis jangan plis Oke, oke kita pulang. Hehe" Pungkasnya lantas tancap gas menuju ke arah perumahan.
"Huff .."
***
Setibanya tepat didepan pintu gerbang. Mike langsung buru-buru turun dari atas motor untuk mengintip ke area dalam.
Sementara Alan diam saja sembari memperhatikan tingkah kakak-nya yang aneh itu.
"Yeah, Aman. Kuy Lan kita masuk." Celetuknya gembira ketika sudah memastikan bahwa tidak ada mobil Ayah pada area dalam.
Sontak Alan mengangkat satu alisnya, merasa heran. Namun ia tidak berkata apapun meskipun penasaran.
Lekas Mike memencet bel rumah dengan Santai lantaran kunci serepnya tidak ada di tempat persembunyian.
Ting .. tong .. ting .. tong ..
Sesudah pintu gerbang di buka oleh Bu Tiah, lantas Mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Mike merasa lega lantaran sudah tidak ada Marvin di rumah maka ia pun berpolah seperti biasanya yakni bersiul-siul tampak sok cool. Sementara Alan sendiri pun seperti biasanya yakni diam tanpa kata alias kalem.
Sesudah masuk kedalam rumah nan posisi Mike tengah melepas sepatu, Bu Tiah datang menghampirinya.
"Kakak Mike, tadi Tuan menitipkan ini untuk kakak" Ucap Bu Tiah seraya menyodorkan sesuatu untuk Mike yakni selembar kertas bertuliskan pesan dari Marvin.
Lantas Mike pun segera membacanya, sementara Alan sudah melangkah menuju meja makan nan duduk dengan baik disana. Perlahan-lahan Mike membaca tulisan itu. Seraya melangkah pelan menyusul Alan.
'Mike, maafkan papa ya Nak, apabila papa menyampaikan pesan melalui kata-kata terlalu kasar bagimu. Ketahuilah Nak, apa yang papa sampaikan dan lakukan semua untuk kebaikanmu dan untuk kebaikan masa depanmu, Nak. Mungkin saat kamu membaca pesan ini .. Kamu menganggap papa sedang berdrama, tetapi inilah yang bisa papa lakukan, karena papa tidak bisa menghubungimu hingga berkali-kali, Nak. Papa hari ini pergi keluar kota dan hari esok papa akan berangkat keluar Negri selama lima hari. Kamu jaga diri baik-baik ya Nak, jangan pergi main terus dan jangan lupa belajar untuk meningkatkan prestasimu. Jaga Adikmu selama papa belum pulang ya, Nak ..'
Itulah isi pesan dari Marvin melalui selembar kertas yang tengah Mike baca. Lantas Mike pun tersenyum asam kala selesai membaca pesan itu seraya langsung mer*mas kertas itu di tangannya.
__ADS_1
"Pesan apa itu Mike?" Tanya Alan ketika Mike sudah berdiri di sebelahnya.
"Pesan dari neraka." Cetus Mike. Lantas Alan pun langsung melirik asam padanya. "Cih, Berbicara kok sembarangan" Ucap-nya, sebab ia tidak mendengar kala bu Tiah menyampaikan pesan didalam kertas tersebut dari Marvin.
"Biarlah, oeh Lan, piringnya di meja depan situ tuh kenapa pula kamu menatapku seperti itu, kuy lah makan kita. Lapaarrrr" Pungkas Mike seraya menelunjuk jari ke meja lekas ia pun duduk hendak santap siang juga.
***
Usai santap siang, mereka bersama-sama masuk kedalam kamar. Mike langsung berbenah diri untuk mandi, sementara Alan jua demikian yakni berganti pakaian nan merapikan ruang kamar. Sebab belum ia bereskan sedari pagi.
Waktu sangatlah cepat berputar. Kini waktu menunjukkan pukul 16:00 pm.
Usai Mike mandi nan berpakaian santai ia langsung pegang Ipad, bukan untuk belajar maupun berselancar di sosial media melainkan malah bermain Game, di atas kasur.
Sementara Alan jua usai berbenah tengah duduk di kursi biasa ia duduk yakni meja belajar. Belum ada percakapan apapun diantara keduanya, namun selang beberapa menit kemudian, Alan terkejut kala mendengar Mike berteriak cukup lantang hingga memekak'kan telinganya.
"Duar! Hantam .. hancurkan, hancurkan, Kikuk." Mike berteriak-teriak lantaran asik bermain Game. Alan pun menolehnya lantas menggelengkan kepala.
Sebelumnya Alan tidak begitu mempedulikannya nan kembali membuka buku pelajarannya. Namun, semakin di diamkan Mike malah semakin menjadi-jadi.
"Ciaat! Hiyak! Hancurkan, Hantam kikuk!"
"Ya Tuhan, Mike." Seru Alan. Tetapi Mike tidak menolehnya samasekali, ia masih sangat fokus dengan gamenya seraya memakan beberapa cemilan yang ia taruh di atas pangkuannya.
Alan memanggilnya satu kali, tetapi tak lepas memandangnya hingga beberapa detik, namun Mike samasekali tidak menolehnya melainkan masih berteriak-teriak seperti tadi.
Lantas Alan menutup sejenak bukunya, melangkah mendekat ke arah kakaknya. Setelah sampai disampingnya lantas diraihlah Ipad itu.
Seet!
"Aish, Lan. Haiyaaa itu nanggung bentar lagi klimaks!" Pinta Mike seraya hendak meraih kembali Ipad itu. Alan langsung mengangkat satu alisnya saat mendengar celotehan sang kakak yang tidak bisa ia mengerti kosa katanya.
Lantas Alan pun langsung menyembunyikan Ipad itu ke belakang badannya.
"Lan, haiyaaa kembalikan bentar si, aaaissh." Rengek Mike seraya meraih-raihnya.
Seet! Seet!
Tetapi Alan pun sigap menyembunyikannya namun semua itu membuat Alan tertawa lantaran melihat Ekspresi Mike tampak Lucu baginya.
"Haish, malah ngejek, udahlah. Sue!" Mike mendengus nan menyerah sembari garuk-garuk kepala.
"Lagipula bukannya kamu belajar malah main game." Jawab Alan seraya menaruh Ipad itu di atas meja sampingnya.
Mike terdiam sembari masih garuk-garuk kepala menyesali Game yang belum tuntas baginya.
Alan pun langsung terkekeh melihatnya, sebab melihat kakaknya bagaikan melihat dirinya sendiri didalam kaca.
"Ketawa aja terus Lan, kagak usah di tahan biar kamu puas." Celetuk Mike.
Alan masih saja terkekeh sembari memegang perutnya akibat menahan tawa.
"Haish, puasin aja Lan, puasin. Oh iya .. Anu Lan, Itu si Ananta begimana ceritanya sih, kok tadi dia marah-marah gak jelas gitu?" Tanya Mike.
Sontak perlahan-lahan Alan pun berekspresi seperti semula.
"Oh, Itu .. Anu."
__ADS_1