Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 55


__ADS_3

Mike langsung membalikkan badannya ke arah Ferdi dan langsung berjalan kembali mendekat ke arah Ferdi.


"Ayah, Anda selalu mengatakan bahwa saya anak sampah yang tak berguna, lantas anda tadi berkata bahwa pekerjaaan biasanya sayalah yang melakukannya, bukankah itu artinya adalah saya ini sangatlah berguna bagi anda untuk mengerjakan segala pekerjaan anda?" Ucap Mike.


"Apa maksud ucapan kau Alan!" Jawab Ferdi melotot penuh sengit.


"Tidak ada maksud apapun Ayah, saya hanya berkata sesuai alur yang ada. Maaf jika saya lancang akan mengatakan ini Ayah, jagalah kesehatanmu, ingatlah berapa usiamu, jika anda masih terus-menerus marah-marah seperti ini tidak baik untuk kesehatanmu Ayah, karena rentan akan serangan darah tinggi jika anda selalu larut dalam emosi." ucap Mike sembari melangkah mundur ke belakang dan langsung bergegas pergi keluar rumah.


"Bedebah kau Alan! Berani sekali kau berkata seperti itu! Hey berhenti kau Alan! Awas saja kau anak sampah sialan!" Teriak Ferdi. Namun sudah tidak digubris oleh Mike karena ia sudah langsung berjalan pergi ke arah rumah Verza.


"Aarrggh!"


Brak! Brak! Brak!


Prannnggg! Prangggg!


Ferdi berteriak-teriak sendiri sembari memukul-mukul meja dan menendang segala barang serta melemparnya karena dia sangat emosi. Sehingga banyak barang yang berada didekatnya menjadi hancur dan berantakan.


***


Sementara Mike sendiri sudah langsung berjalan menuju ke rumah Verza tanpa menggubris Ferdi yang tengah larut dalam emosi. Verza sudah siap di depan rumahnya hendak berangkat ke sekolah. Ia sengaja berdiri di depan rumah karena memang dia tengah menunggu kehadiran Mike. Karena Mike pasti tidak mengetahui letak sekolahannya dan ruang kelasnya, Pikir Verza.


Verza tidak mendengar kegaduhan yang baru saja terjadi di dalam rumah Ferdi, Karena letak posisi rumahnya berderet tiga rumah dari jarak rumahnya. Sementara rumah tetangga yang tepat disebelah rumah Ferdi tidak mendengar suara gaduh yang baru saja terjadi karena mereka masing-masing pergi ke ladang dari subuh.


"Nih!"


Ucap Mike sembari melemparkan langsung handuk Verza ke wajah Verza setelah ia pakai tadi.


"Aisssh! Sue loe!" Ucap Verza sembari mengangkat handuk tersebut dari wajahnya.


"Udah yuklah kita cabut!" Ajak Mike secara langsung nampak ekspresi wajahnya kurang sedap dipandang.


Verza langsung menjemur kembali handuknya dan lanjut berjalan bersama-sama ke Arah jalan raya untuk mencari angkutan pedesaan yang melintas. Tidak selang waktu lama mereka telah sampai tepat dipinggir jalan raya.


"Aiiih! Lama nian mobil yang lewat ini oi!" Teriak Verza ngomel sendiri ketika mereka berdua berdiri dipinggir jalan.


Sementara Mike masih berdiam diri sembari menoleh ke sana dan kemari melihat mobil-mobil besar pengangkut barang industri yang melintas dijalan raya tersebut.


"Hey Lan! Ada apa sama ekspresi wajah loe itu? apakah loe lagi ada masalah?" Tanya Verza.


Sementara Mike hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan dari Verza. Kebetulan mobil angkutan pedesaan yang tengah mereka nantikan sudah ada yang melintas didepan mereka.

__ADS_1


"Tuh mobilnya sudah ada tuh, yuk kita cabut!" Ajak Mike menelunjuk ke arah mobil itu sembari berjalan pelan ke arah mobil tersebut. Selanjutnya disusul oleh Verza langsung memasuki mobil angkutan pedesaan itu.


Didalam mobil yang mereka tumpangi cukup padat penumpang pada pagi hari ini, karena didalam sebuah pedesaan masih terdapat pasar yang hanya buka pada hari-hari tertentu tidak buka setiap hari seperti didalam kota. Menjadikan pada saat hari-hari tertentu, angkutan umum banyak yang padat penumpang dari segala penumpang yang hendak berbelanja maupun penumpang yang membawa dagangannya untuk jual-beli ke pasar.


Ditambah lagi penumpang dari sekolah lain yang hendak berangkat jua ke sekolah menaiki angkutan umum juga. Menjadikannya sangat sempit didalam angkutan umum yang sedang ditumpangi oleh Mike dan Verza.


Namun apalah daya, memang begitulah adanya transportasi umum yang kurang memadai di era perkembangan zaman yang sudah berkembang di kota. Namun, tidak ada perkembangan apapun didalam pedesaan tersebut.


***


Beberapa menit kemudian.


Mereka telah sampai tepat didepan pintu gerbang sekolahannya. Selanjutnya masing-masing turun dari dalam kendaraan. Mike terdiam sejenak ketika tepat berdiri didepan pintu gerbang sekolah.


"Wei Lan, ayok kita come on, malah bengong loe," ucap Verza ketika Mike menghentikan langkah kakinya sejenak sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Lan, gua tau apa yang sedang loe pikirkan, loe pasti merasa asing sama tempat ini ya kan?" Ucap Verza.


"Iya, gua lagi mikir apa benar gua sekolah di sekolahan ini." jawab Mike.


"Udahlah gak usah kebanyakan mikir, entar otak loe makin pinter kalo loe kebanyakan mikir. Terus gak akan ada kesempatan buat gantian sama gua dong untuk bisa melebihi kepinteran loe! hehehe, tenang Lan, gua pasti akan menuntun loe pelan-pelan supaya loe bisa mengingat lagi masa lalu loe." Ucap Verza sembari tersenyum.


"Yup! Loe kan siswa paling pinter dikelas Lan, jujur aja gua iri sama loe selama ini."


"Masa? Em.. okelah sahabatku yang super bawel semacam wanita hahaha." jawab Mike singkat sembari tertawa.


"What! Apa loe bilang? Semacam wanita hah? Jadi maksud loe, Loe ngatain gua banci gitu hah? Sue loe! Hey, Tungguin gua Alan!" Teriak Verza karena Mike sudah langsung berjalan masuk kedalam lingkungan sekolah.


Plek!


Verza langsung merangkul pundak Mike sembari berjalan bersama hendak menuju ke ruang kelas. Namun sebelum Verza dan Mike sampai pada ruang kelas dan posisinya masih berada di halaman sekolah, Verza langsung menghentikan langkahnya.


"Wei, Ada apaan?" Tanya Mike ketika Verza berhenti secara mendadak karena tangannya sedang berada dipundaknya sehingga Mike pun ikut menghentikan langkahnya.


"Anu,"


"Anu-anu apaan?" Lanjut Mike merasa heran melihat ekspresi di wajah Verza.


Plek!


Satu tangan Verza langsung memegang perutnya sendiri Sembari melotot. Membuat Mike ikut jua melotot.

__ADS_1


"Anu, Gua kebelet Lan." ucapnya.


"Aiish.. Sue loe!" Jawab Mike melirik ke arahnya.


"Hahaha, aduh beneran nih udah di pucuk, gua tinggal bentar yak, tuh kelas kita yang sebelah situ." lanjut Verza sembari menelunjuk ke arah yang dimaksud.


"Aiih yasudah Cepat pergilah loe, sue!"


"Hehehe"


Verza cengegesan langsung bergegas pergi menuju toilet sembari memegangi vantatnya. Membuatnya terlihat konyol dan membuat Mike menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekonyolan Verza.


***


Setelah Verza pergi, Mike melanjutkan langkahnya seorang diri hendak menuju ke dalam ruang kelas sesuai petunjuk Verza.


Ia memiliki wajah yang sama dengan Alan, layaknya seperti Alan ketika ia datang ke sekolah menjadi sorotan dari banyak para siswi yang melihatnya. Namun Mike tidak begitu memperhatikan hal tersebut bahwa banyak dari mata siswi yang sedang melihat ke arahnya.


Ketika ia hendak masuk kedalam ruang kelas sebelum tepat sampai didepan pintu masuk, ia tak sengaja menyenggol salah satu siswi yang sedang berjalan berlawan arah dengannya yang tak lain dia adalah Jessi.


Seet!


Mike sangat cepat tanggap langsung menangkap tubuh Jessi saat Jessi tersenggol olehnya dan hampir membuatnya terjatuh. Alhasil membuatnya menyentuh tubuh Jessi. Namun itu semua tidaklah Mike sadari bahwa Jessi dengan sengaja melakukannya dan sudah dia rencanakan sebelumnya.


"Eh, maaf, apakah kau tidak papa?" Tanya Mike sembari membantu Jessi kembali dalam posisi berdiri tegak.


"Tidak, aku tidak papa, emmm.. tumben kamu sendirian Lan?" Lanjut Jessi bertanya.


"Oh anu, tadi si Verza sedang ke toilet sebentar." jawab Mike dengan tersenyum.


***


Mike tidak mengetahui siapakah gadis yang sedang berada di depannya itu dan jua semua yang ada di dalam sekolahan itu tidak ada yang ia kenali selain Verza.


Namun, ia memiliki jiwa yang netral dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan di manapun ia berada, membuatnya dengan mudah bergaul seakan-akan telah mengenal mereka. (sok kenal)


Walaupun sebenarnya sama sekali ia belum kenal dengannya maupun siapapun yang berada di sekolahan tersebut.


Catatan


Kisah lika-liku kehidupan Mike saat menjadi Alan masih berlangsung cukup panjang. Akan tetapi segala konflik yang terjadi diantara Alan maupun Mike semuanya terhubung. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2