
Setelah mereka telah sampai kembali di pos ronda, Mike langsung banyak berbincang-bincang dengan orang-orang yang berada disana walau ia tidak mengenal dengan mereka semua. Karena kepribadian Mike sangat ramah tamah nan terbuka membuat ia dengan mudah dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Kebetulan obrolan yang mereka bicarakan adalah obrolan kosong sehingga mereka tidak menyadari bahwa Alan yang sedang duduk mengobrol bersama mereka tidak mengenali mereka semua.
Namun pak Tarman merasa sedikit heran, karena yang ia ketahui selama ini, Alan adalah anak yang pendiam dan tertutup, tidak banyak memiliki teman, jarang sekali berbicara terlebih lagi berbicara dengan obrolan-obrolan kosong seperti saat ini. Dari cara Mike yang kini menjadi Alan yang pak Tarman lihat lebih banyak tersenyum dan tertawa daripada Alan yang dia kenal sebelumnya.
"Oh iya Alan, tadi bapak tanya memang kamu jatuh dimana? Dan itu..? itu kenapa bibirmu berdarah? wajahmu juga terlihat lebam, apakah kamu sehabis berkelahi?"
***
Di sisi lain, Verza sedang berjalan dari arah warung setelah ia membeli rokok melihat Mike berada di pos ronda itu, ia pun langsung menghentikan langkahnya sejenak.
'Eh, itu Alan ngapain malam-malam begini nongkrong disana?' gumamnya dalam batin
Kemudian ia beranjak untuk datang ke pos ronda tersebut.
"Hey Alan." Panggil Verza dari arah kejauhan sehingga Mike belum menjawab pertanyaan yang pak Tarman tanyakan tadi.
Setelah Verza sudah sampai di pos ronda tersebut, ia langsung duduk di sebelah Mike.
"Lan, sudah lama loe disini? bukannya istirahat malah keluyuran, eh tapi ngomong-ngomong tumben loe pergi malam-malam begini?" Tanya Verza secara langsung.
"Emmm.. kamu yang berada di klinik tadi pagi itu ya?" tanya balik Mike, karena ia sedikit lupa dengan Verza.
Sontak membuat para orang-orang yang berada disana merasa heran, atas pertanyaan Mike yang dia lontarkan kepada Verza, karena selama yang diketahui oleh orang-orang tersebut Verza adalah teman satu-satunya yang selalu terlihat bersama Alan ketika berangkat ke sekolah dari mereka masih kecil hingga sekarang ini, dan terlebih lagi rumah mereka saling berdekatan.
__ADS_1
"Loh kok bisa begitu? haha lucu juga Alan ternyata ya? bisa bercanda juga dia" Ucap salah seorang yang berada disana. Mereka semua mengira Alan kini sedang bercanda ketika dia menanyakan pertanyaan tersebut kepada Verza.
"Maaf Pak, Alan sebenarnya mengalami cedera cukup serius di kepalanya setelah kejadian kemarin, dan kini dia hilang ingatan Pak, dia pun tidak mengenali saya bahkan dia tidak mengenali dirinya sendiri" Verza langsung menjelaskannya.
"Iya Lan, gua yang di klinik tadi pagi, gua Verza sahabat terbaik loe" jawab Verza dari pertanyaan Mike tadi.
"Astaga Tuhan, apakah itu benar Dik Alan? kamu hilang ingatan? apakah kamu tau nama saya, Bapak itu dan Bapak yang ini?" Tanya pak Tarman sembari menelenjuk ke arah beberapa orang yang duduk bersama-sama disana.
Mike menggelengkan kepala.
"Ya Ampun Tuhan, maafkan kami Alan, kami semua tidak tahu. Lantas luka-luka yang berada di bibir dan wajahmu itu kenapa Alan? apakah itu akibat luka terjatuh? Namun nampaknya seperti habis di pukul?" lanjut pak Tarman.
"Iya benar, saya habis di pukuli oleh orangtua Saya semenjak saya baru pulang dari klinik tadi pagi." Jawab Mike.
"Saya tidak tahu dan tidak mengerti kenapa mereka kasar kepada Saya, Saya benar-benar tidak bisa mengingat apapun Pak," Jawab Mike, Lalu ia menoleh ke arah Verza
"Verza, rumah kamu kan bersebelahan dengan rumahku, apakah dahulu aku sering dianiaya oleh mereka?" Tanya Mike
"Em.. anu.." Verza ragu-ragu hendak menjawabnya karena ia takut dengan Pak Ferdi jika ia mengatakan yang sebenarnya bahwa memang benar Alan sering dipukuli oleh Ayahnya.
"Apakah itu benar Dik Verza? kamu teman Alan sedari kecil dan letak rumah kalian hanya bersebelahan berjarak 3 rumah, sudah bisa dipastikan kamu pasti mengetahui tentang banyak hal tentang dia (Alan)" Sambung pak Tarman.
"Iya benar katakan saja yang sebenarnya Dik Verza, masalahnya selama ini saya juga jarang sekali melihat Dik Alan keluar rumah terlebih lagi pada malam hari, apakah Dia terkekang oleh orangtuanya? saya benar-benar penasaran," sambung Bapak-bapak yang lain.
Verza merasa terdesak oleh pertanyaan dari mereka dan juga ia sendiri benar-benar merasa iba terhadap Alan yang selama ini dianiaya oleh pak Ferdi, akhirnya ia pun angkat bicara.
__ADS_1
"Iya, itu memang benar Pak, saya sangat prihatin dengan yang Alan alami selama hidupnya, dia menjadi tertekan dan tumbuh menjadi orang yang sangat pendiam dan susah untuk bergaul dengan banyak orang maupun sama teman-teman di sekolah kami. Saya sudah sangat paham dengan sifat dan karakternya dia, maka dari itu hanya saya yang bisa menjadi temannya"
"Memangnya selama ini yang kamu ketahui apa saja yang pak Ferdi lakukan padanya (Alan) Dik Verza?" Lanjut pak Tarman bertanya.
"Yang sering saya lihat selama ini Alan dianiaya oleh beliau (Ferdi) ketika kebetulan saya sedang di belakang rumah, Alan sering dipukul, ditendang, disuruh-suruh mengerjakan segala pekerjaan rumah seperti memasak, bersih-bersih dan lain sebagainya. Miris saya melihatnya pak, karena itu bukanlah pekerjaan yang sepenuhnya lelaki kerjakan menurut saya. Bahkan tangan dia disiram air panas oleh beliau (Ferdi) pun dulu pernah Pak, ketika ada masalah hal yang sangat sepele.
Saya mengetahuinya karena setelah Alan dianiaya oleh beliau (Ferdi) dia selalu diam menyendiri dan duduk termenung di bawah pohon besar yang berada di pinggir sungai belakang rumah, Pak. Saya selalu disana untuk menemaninya, dan untuk menghibur dia. Alan pun sudah terbuka pada saya, dia menceritakan segala yang dia alami kepada saya.
Saya sungguh-ungguh sangat kagum dengan dia, selama dari dia masih kecil, saya tidak pernah melihatnya menangis setelah dia baru saja dianiaya oleh beliau (Ferdi)" Verza berkaca-kaca setelah ia menceritakan dengan kalimat yang panjang tersebut.
***
"Astaga Tuhan. Benar-benar keterlaluan sekali pak Ferdi, ini tidak bisa dibiarkan! kita laporkan saja dia kepada pihak yang berwajib, menganiaya seorang anak ada pasal hukumnya tidak sembarangan seperti ini!" Orang-orang yang mendengar ungkapan Verza merasa geram.
"Iya benar itu Pak, saya setuju dengan yang bapak katakan, bukti sudah ada, serta saksi pun sangat jelas mari kita laporkan saja dia kepada pihak yang berwajib" Sambung salah satu orang yang berada di sana bernama pak Morik.
"Tunggu dulu Pak, apakah tidak bisa secara kekeluargaan dulu saja pak? jangan terburu-buru kepada polisi, itu akan berbuntut panjang urusannya, Pak. Jujur saja, saya terlalu takut untuk bisa menjadi saksi, terlebih lagi Alan kini sudah hilang ingatannya Pak, dia tidak akan bisa mengungkapkan kebenaran tentang hal itu bahwa dia dahulunya dianiaya oleh beliau (Ferdi)" jawab Verza.
"Iya benar juga yang Dik Verza katakan itu Pak, kita jangan langsung mengambil tindakan untuk langsung melaporkannya kepada pihak kepolisian. Karena akan berbuntut panjang urusannya" sambung pak Tarman.
"Akan tetapi, tindakan seperti yang pak Ferdi lakukan itu tidaklah benar pak, kita jangan mengabaikan masalah yang seperti ini. Kita semua sebagai warga tetangga yang baik-baik harus saling menjaga kerukunan dan kedamaian warga kampung kita. Jika kita melihat dan mendengar ada perlakuan buruk dari salah satu warga desa kita seperti itu (penganiayaan) Maka kita harus segera selesaikan bersama-sama, Pak." Lanjut salah satu orang yang berada di sana bernama Pak Moza.
"Iya memang benar Pak, itu sangatlah benar. Namun pendapat saya bagaimana jika kita bersama-sama datang kerumah pak RT dulu, lalu kita diskusikan masalah ini dulu kepada pak RT supaya beliau (Pak RT) segera menegur pak Ferdi secara baik-baik" jawab pak Tarman.
"Iya benar yang pak Tarman ucapkan, saya setuju dengan pendapat Bapak." Jawab pak Morik dan yang lainnya.
__ADS_1