Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 173


__ADS_3

Perlahan namun pasti Alan menoleh tepat saat Ananta sedang turun dari mobil tersebut. Sontak ia terperangah dalam kagum akan paras jelita yang hadir menghampirinya itu.


Akan tetapi, terlintas perasaan heran kala melihat busana yang sedang Ananta pakai, sebabnya tampak formal khas busana pesta cenderung tidak lumrah apabila busana tersebut di pakai untuk bertemu dengannya.


"Hei .." Sapa Ananta sedikit melambaikan tangan, sebelum akhirnya lamunan Alan tercabik lantas ia pun tersenyum menyambutnya.


"Miche .. " Lirih Ananta sedikit kesusahan menyebut namanya, sebabnya ia jua ragu antara Mike atau Michealan kah yang sedang dihampirinya ini.


Semasih Ananta mengucapkan kalimat tersebut, Alan lekas menjabarkan-nya "Aku Alan." Diiringi senyum khasnya.


"I .. Iya .. Alan, Maafin aku, Karena Aku .."


Semasih Ananta berkata, Mata Alan tidak lepas memandang ke arah lain, yakni ke arah busana dia hingga membuat Ananta langsung menyadarinya. Lantas akhirnya Ananta pun mengemuka'kan apa yang hendak ia katakan. Akan tetapi belah bibir sangat sulit baginya untuk berkata-kata.


"Ini .. Aku .. "


"Katakan saja, Ananta." Ucap Alan secara langsung.


"Seperti yang kamu lihat ini." Lanjut Ananta seraya melihat bagian tubuhnya sendiri sebagai pertanda bahwa ia paham apa yang sedang Alan pikirkan.


"Maafkan aku sebelumnya, Aku sedikit sulit menghubungi kamu karena .. Aku gak punya nomor kamu, dan juga .. ini" Ananta masih saja merasa ragu hingga sulit baginya menuntaskan kata seraya berkali-kali menoleh ke arah belakang, yakni ke arah mobilnya.


Sementara Alan yang memiliki sifat pendiam cenderung irit berbicara, maka ia malah kebingungan dibuatnya. Lantas Ananta segera melanjutkan kalimatnya sebab dia menyadari bahwa pemuda yang sedang di hadapannya tidak sama seperti orang yang ia kenali selama ini (Mike)


"Baiklah aku mau ngomong langsung, bukan maksudku mau mengingkari janji yang sudah kita buat tadi siang Lan, jujur saja .. sebelumnya aku gak tau kalau Papa aku bakal mengajakku pergi malam ini. Tadi aku pun udah menolaknya, tapi .." Belum usai Ananta berkata tiba-tiba menghentikan kalimatnya kala melihat Alan tersenyum kepadanya.


"Tidak masalah Ananta, kita masih bisa mengobrol di lain hari. Di sekolah pun kita masih bisa bertemu, Sebaiknya .. kamu turuti permintaan ayahmu terlebih dahulu, ya."


Ananta mengangguk diiringi senyum indah pertanda lega didalam hatinya, Lantas ia pun segera memungkas perbincangan kecil itu.


"Oke .. Aku .. Pergi dulu ya, sampai ketemu besok di sekolah."


Alan mengangguk, namun semasih Ananta memutarkan badan hendak menuju ke mobil, Ia pun memanggilnya.


"Ananta." Seraya memasukkan tangan kanan pada saku switer yang sedang ia pakai. Akan tetapi, sebelum ia melanjutkan kalimatnya maupun mengeluarkan apa yang hendak ia ambil (Kue dalam stoples kecil) Ananta lekas melambaikan tangan kepadanya.


"Sampai berjumpa esok ya,"


Maka, membuat Alan menghentikan niatnya untuk mengambil sesuatu dalam sakunya itu lantaran situasinya pun tidak tepat, Pikirnya.


"Iya, hati-hati." Pungkas Alan seraya membalas lambaian tangannya.


Semasih kendaraan tersebut perlahan pergi, Alan masih berdiri disana serta masih belum melepaskan perhatian ke arah mobil tersebut, hingga beberapa detik kemudian, ia pun hendak kembali menuju restoran untuk menyampaikan kepada Marvin tentang sang Kakak.

__ADS_1


Akan tetapi, baru saja tiga langkah kakinya berpijak, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang barusaja turun dari mobil taksi tak jauh darinya memanggil namanya.


"Alan."


Lantas Alan menghentikan langkahnya seraya perlahan menoleh kearah sumber suara itu.


Skip


***


Disisi Mike


Ia terus memacu kendaraannya dalam kecepatan penuh untuk mengejar mobil kendaraan yang di kendarai ketiga orang itu.


Tidak lama kemudian, mobil kendaraan itu berhenti di sebuah rumah sakit lantas salahsatu orang yang didalam mobil itu keluar dari dalam kendaraan lanjut memasuki rumah sakit seorang diri, yakni Zamry.


Sementara Mike masih terus membuntuti tanpa sepengetahuan mereka, hingga ia pun ikut masuk kedalam rumah sakit tersebut dengan mengenakkan masker penutup sebagian wajah.


Sebelum informasi berhasil Mike dapatkan maka ia akan terus menggali informasi seputar orang itu kemanapun orang itu pergi. Lantas dilihatnya Zamry masuk kedalam salahsatu ruang perawatan pasien, Mike masih mengintai dari arah kejauhan.


Semula ia hendak mengintip dari luar ruang, namun teori itu terlalu beresiko pikirnya, Alhasil ia pun menunggu sampai Zamry keluar dari ruang rawat tersebut.


Beruntung, tidak butuh waktu lama, Zamry keluar lagi dari ruang perawatan tersebut seraya memegang telepon genggam yang sedang dia letakkan di telinga pertanda sedang berbincang melalui telephone, lantas Mike bergegas untuk melihat siapakah gerangan seseorang yang berada didalam ruang rawat itu.


Perlahan namun pasti, ia mengintip dibalik kaca pintu ruang itu sebelum akhirnya ia sangat terkejut melihat siapa yang ada didalam ruang rawat tersebut.


Meskipun informasi yang Mike dapatkan masih tergolong 'Baku' tapi ia tidak ingin ambil resiko bila sampai keberadaannya dapat diketahui oleh Zamry. Sebab Mike sudah sangat paham terhadap orang semacam Zamry ini, yakni meskipun sedang berada di ranah publik keberadaan seorang pengintai lebih rentan di ketahui.


Lantas Mike ambil langkah seribu untuk segera pergi dari rumah sakit tersebut.


Usai keluar dari rumahsakit, ia masih duduk sejenak sembari berpikir di atas motor yang ia parkirkan di sisi pojok rumah sakit. Lantas lamunan tercabik kala teringat sesuatu.


'Alamak, matilah aku'


Batinnya seraya melihat jam tangan, lantaran teringat saat ini ia sedang santap malam bersama keluarga beserta janji yang sudah dibuatnya yakni menemui Jessi.


Lantas tidak butuh waktu lama ia pun bergagas kembali menuju restoran itu. Akan tetapi semasih ia berkendara, tiba-tiba teringat janji dengan gadis itu. Maka, timbullah keinginan dalam benaknya hendak langsung menuju tempat yang hendak bertemu dengan si dia.


Skip


***


Disisi Alan

__ADS_1


Sontak ia terkejut kala sudah menoleh ke arah sumber suara itu.


'Oh tidak' Batinnya bergumam karenanya tidak habis ia kira akan melihat seorang gadis yang nyaris membuat nyawanya melayang beberapa waktu yang lalu, kini tiba-tiba datang menghampirinya seolah sedang ada sebuah janji yang tampak dari ekspresi wajahnya, tak lain dialah Jessi.


"Alan .." Seru dia lagi, lantas mendekat diiringi senyum pertanda betapa bahagianya dia dapat berjumpa dengan Alan.


Sementara Alan diam seribu bahasa serta tubuhnya bagaikan patung berdiri tegak di posisi yang sama, sebabnya ia benar-benar bingung.


Lantas sesudah Jessi sampai didekatnya, dia langsung meraih tangan Alan kemudian ditariknya perlahan.


"Yuk kita ketempat itu, gak jauh kan dari sini paling cuma 200 meter." Ucapnya semasih menarik tangan Alan.


"Em .." Alan benar-benar seperti orang ling-lung kala tangan di tarik oleh Jessi hingga ia pun lekas mengikutinya bagaikan se'ekor domba yang sedang di tarik oleh sang penggembala.


Ya, Pikiran Alan sedang berkecambuk tidak beraturan lantaran semua perkara menyatu didalam pikirannya hingga dia berhasil di bawa oleh Jessi ke tempat yang hendak dijadikan bertemu dengan Mike.


Yakni, hanya disebuah taman sederhana namun sangat nyaman untuk duduk dan berbincang. Lantas Sesudah memasuki taman tersebut, perlahan Alan melepaskan tangan Jessi.


"Maaf," Ucapnya.


"Maaf? Apa yang membuatmu minta Maaf Lan? Aku baru aja datang kok, justru aku yang minta maaf kalau kamu menungguku terlalu lama." Jawab Dia diiringi senyum khas Manja.


"Apa?" Alan terkejut mendengar penjelasan Jessi, karena ia benar-benar tidak mengerti.


"Dih, kok kamu kayak bingung gitu si, Aneh deh." Lanjut dia dalam tutur kata khas Manja lantas diraihnya lagi tangan Alan kemudian ditariknya menuju ke dalam taman.


Sementara Alan masih saja bingung sebabnya ia samasekali tidak mengetahui bahwa Jessi kini menempuh pendidikan di sekolahan yang sama dengannya, maka ia pun samasekali tidak terpikirkan bahwa semua yang terjadi ini ada hubungannya dengan saudara kembarnya.


Semasih melangkah di dalam area taman itu, Alan lekas melepaskan kembali tangan Jessi yang kini masih menggenggam tangannya.


Seet!


Namun, begitu tangan itu terlepas, tiba-tiba saja Jessi mendekat hingga tanpa basa-basi lagi dia pun langsung memeluknya.


"Alan .. Jujur Aku seneng banget bisa bersamamu sedekat ini. Tolong biarkan aku .. jangan larang aku melakukan ini Alan" Ucapnya semasih memeluknya.


Sementara Alan yang semula bingung, kini semakin tambah bingung di buatnya, ia hendak melepaskan tubuh Jessi yang masih memeluknya erat. Namun, setiap kali Alan hendak melepaskannya, Jessi semakin mempererat pelukannya.


"Jessi, tolong hentikan yang kamu lakukan, ini di tempat umum." Ucap Alan.


"Aku tidak peduli, yang kupeduli hanya kamu, Alan. Aku sangat merindukanmu." Jawab dia seraya memejamkan mata semasih memeluknya.


Lantas membuat Alan selaku seorang pria sangat sulit baginya melepaskan itu, terlebih lagi dia bukanlah tipikal pemuda yang kasar. Maka, ia hanya mampu mendongak kepala ke atas langit seraya memejamkan mata pertanda ia bingung dan pasrah semasih tubuhnya di peluk oleh gadis ini.

__ADS_1


Semasih mereka pada adegan itu, tiba-tiba saja ada tangan yang meraih pundak Jessi dari arah belakang cukup kuat cenderung kasar.


Seet!


__ADS_2