Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 98


__ADS_3

"Hehe aiya ya baiklah, emm.. yang terpenting kini aku sudah memiliki dia." Lanjut Mike sembari melirik Alan seraya merangkul pundaknya. Kemudian Alan langsung melepaskan tangan Mike sembari sedikit bergeser menjauh dari dia.


"Kenapa si Lan, hilih punya adik satu tapi jaimnya bukan main." Mike meliriknya.


"Napas kamu bau, cepatlah kamu sikat gigi dan bersihkan diri." Jawab Alan sembari menutup hidungnya.


"Sue!" Mike mendengus.


Membuat Alan langsung tersenyum setelah ia mengucapkan kalimat tersebut karena melihat ekspresi Mike nampak Lucu ketika mendengus. Begitu jua dengan Marvin ia tertawa melihat kedua putranya kini telah berkumpul dan bercanda ria seperti ini. Yang mana semua ini telah ia harapkan semenjak dahulu.


"Mike, dengarkanlah. Bagi papa, memiliki kalian berdua dan berkumpul bersama seperti ini sudah membuat papa sangat bahagia. Dan satu hal yang perlu kalian ketahui khususnya kamu Mike, lihatlah disana." Marvin menelunjuk kearah foto almarhum sang istri.


Alan dan Mike langsung menoleh kearah foto tersebut.


"Mama kalian di surga sangat bahagia melihat kalian kembali berkumpul bersama seperti ini, mengingat telah bertahun-tahun lamanya kalian berpisah. Dan sekalipun papa tidak pernah memiliki keinginan untuk menggantikan mama kalian di hati papa, papa hanya mengiginkan kalian berdua, tidak lebih dan tidak pula kurang nak, dan pastinya jua mama kalian menginginkan seperti yang papa inginkan."


Mendengar yang Marvin ucapkan, Alan tersenyum, sementara Mike menunduk karena merasa bersalah karena sering kali ia berkata suapaya sang ayah dapat menikah lagi, semata-mata ia hanya ingin memiliki seorang ibu, yang mana ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki sosok seorang ibu.


"Papa tau apa yang sedang kamu pikirkan Mike,"


Mike kembali mendongak ke arah foto itu.


"Tidak, tidak ada pa, Mike mau mandi dulu" Pungkas Mike singkat kemudian ia langsung bergegas keluar dari dalam ruang kamar sang ayah sembari kepala ia masih menunduk.


Mike merasa sangat bersalah karena hingga sampai saat ini ia masih saja berkata supaya ayahnya menikah lagi, terlebih lagi didepan foto almarhum sang ibu, yang mana foto tersebut terpajang sangat jelas didinding, karena foto almarhum sang ibu tersebut hanya berada didalam ruang kamar sang ayah saja, sehingga Mike merasa malu kepada almarhum ibunya. Terlebih lagi melihat dan mendengar betapa kukuhnya pendirian sang ayah dalam sekali berkata tidak maka dia tetaplah berkata tidak.


"Dia.. kenapa yah?" Tanya Alan ketika melihat ekspresi wajah Mike seperti itu. Dan jua karena ia belum begitu paham atas pembicaraan yang sedang mereka berdua bicarakan.


"Tidak kenapa-kenapa, dia memang seperti itu, lambat laun kamu pasti akan segera mengetahui tingkah laku dan karakternya nak." Pungkas Marvin.


Alan mengangguk.


"Yasudah, hari sudah semakin siang, papa akan segera berberes soalnya nanti papa mau mengurus akte kelahiran di dinas kependudukan setempat dan lain sebagainya dulu nak, dan jua pendidikanmu."


"Benarkah ayah.. jadi, aku bisa sekolah lagi?" Alan merasa senang mendengar kalimat sang ayah.


"Tentunya nak, papa pastinya akan memprioritaskan pendidikan kalian, yasudah kamu jangan telat sarapan dan minum kembali obatmu supaya kamu secepatnya pulih dan dapat kembali bersekolah ya nak." Pungkas Marvin sembari mengusap lembut kepala Alan.


Alan mengagguk seraya tersenyum. Setelah itu, Alan beranjak keluar dari dalam ruang kamar sang ayah dan kembali lagi kedalam ruang kamarnya.


***

__ADS_1


Setelah ia sampai, ia langsung membereskan kamarnya yang masih berantakan, sementara Mike masih berada didalam kamar mandi. Setelah beberapa menit berlalu, Mike telah keluar dari dalam kamar Mandi, kemudian ia menoleh kearah Alan yang sedang sibuk mondar-mandir membereskan kamarnya.


Ia tersenyum melihat Alan sangat begitu rajin, yang mana sangatlah jauh berbeda dengan dirinya sendiri, karena ia cenderung malas. Ia memang melarang Bu Tiah maupun beberapa asisten rumahtangga yang lain untuk membereskan ruang kamarnya supaya ia sendiri yang membereskan.


Namun apalah daya karena ia sangat pemalas tentang hal kebersihan, alhasil ruang kamarnya selalu dalam keadaan berantakan. Bahkan banyak putung rokok berserakan di lantai balkon, yang mana ia selalu merokok disana ketika ia lupa membawa asbaknya. Dan ia selalu menaruh asbaknya di sembarang tempat termasuk di meja belajar dan di bawah tempat tidur.


Mike melangkah kearah lemari baju untuk mengambil pakaian, dan melewati Alan yang sedang menyapu dibagian meja belajar. Mike mulai bertingkah jahil dengan tiba-tiba menimpuk pundak Alan.


Plek!


Sontak membuat Alan langsung menoleh kearahnya, selain ia terkejut, karena tubuhnya jua masih terasa sakit jika di pukul.


"Aiih"


"Hehe" Mike cengengesan.


Kemudian Alan hendak kembali melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan, namun lagi-lagi Mike menimpuk pundaknya.


Plek!


"Aiissh, Mike!" Alan mengerutkan kening.


Mengetahui itu Alan langsung berdiri dalam posisi tegak dan hendak memukul kembali Mike. Sementara Mike sendiri langsung berkuda-kuda siap menerima serangan Alan.


"Come on, ayo maju hihihi" Mike nampak gembira.


Alan tersenyum tipis dan ia langsung mengayunkan satu tangannya kearah Mike. Namun dengan mudahnya langsung Mike tangkis.


Seet!


"Aha, Come on serang lagi, hihihi"


Mike cengegesan merasa semakin gembira ketika Alan melayani tingkahnya. Kemudian ketika Alan mengayunkan kembali pukulanya, lagi-lagi dengan mudahnya Mike menagkap tangan Alan yang sedang dia ayunkan ke arahnya.


Seet!


Ketika tangan Alan ditangkap oleh Mike, kemudian Mike langsung memberikan contoh gerakan saat ketika ia mematahkan legan tangan dari para musuhnya.


"Begini Lan, kamu tarik secara langsung dan putar dengan kecepatan penuh sebelum tangan yang satunya meraih tubuh kita, lalu tekan kearah sini, c*ngkram bagian ini dan pukul di titik ini maka terputuslah urat dia" Ucap Mike sembari melepaskan kembali tangan Alan setelah ia selesai mengucapkan kalimat tersebut.


"Cih, Pelajaran macam apa pula itu" Jawab Alan tidak begitu menghiraukan yang Mike ucapkan, ia kembali mengambil sapunya dan hendak melanjutkan kembali aktifitasnya.

__ADS_1


"Hey, Alan dengarkanlah. Kita ini adalah seorang lelaki, sudah seharusnya kita memiliki tubuh yang kuat serta memiliki kekuatan bela diri yang bagus. Tidak untuk orang lain kok, melainkan untuk diri sendiri. Jika semua sudah ada didalam diri kita sendiri, maka kita bisa melindungi orang-orang yang kita sayangi" Ujar Mike.


"Lantas.. haruskah dengan kekerasan untuk bisa melindungi orang-orang yang kita sayangi?" Sahut Alan.


Mendengar jawaban Alan, Mike tersenyum.


"Lan, dengarlah. Hidup ini penuh dengan lika-liku dan jua penuh dengan kekerasan, mana yang kuat dialah yang menang dan berkuasa, mana yang lemah pastilah tertindas. terlebih lagi didalam kehidupan seorang lelaki seperti kita."


"Tetapi.. Aku tidak menyukai kekerasan Mike,"


Mike melangkah mendekat ke Alan dan langsung memegang kedua pundak Alan dengan tangannya.


"Hey Alan, Tidak hanya kamu saja yang tidak menyukai kekerasan, Aku jua demikian Lan, aku sangat membenci sebuah tindakan kekerasan, maka dari itu yang tadi aku ucapkan, Jadilah kita lelaki yang kuat untuk bisa menetralisir tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang dan untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi."


Alan langsung melepaskan tangan Mike yang berada di kedua pundaknya.


"Apakah kamu sedang membicarakan kedua orang tua angkat ku Mike?" Jawab Alan terpikir kedua orang tua angkatnya yang selalu melakukan tindakan kekerasan kepadanya, mengingat Mike telah menjadi dirinya dalam beberapa hari yang lalu secara otomatis Mike sangat mengetahui tentang hal tersebut. Dan segala perkara apapun kejadian yang telah berlalu selama Mike menjadi dirinya, Alan berpikir Mike sedang membicarakan kedua orang tua angkatnya.


"Tidak Lan, Aku sama sekali tidak membicarakan siapapun, Aku hanya memberikan saran sesuai apa yang aku ketahui dan apa yang ku alami"


"Hmm, baiklah. Mike, sebuah tindakan kekerasan jika dibalas jua dengan kekerasan, bukankah sama saja kita seperti orang tersebut? Jika Api dibalas dengan Api apakah akan ada harapan api tersebut untuk padam?" Jawab Alan.


Mendengar kalimat yang Alan ucapkan, Mike kembali mendekat seraya memegang kembali kedua pundak Alan sembari menatap kedua matanya.


"Hey, Ke.. kenapa Mike, kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Hmph, apa yang kudengar dan apa yang kulihat darimu sejatinya sangatlah berbeda, Ada Api membara sangat mengerikan pada sorot mata kamu Lan, hanya saja api tersebut tidak pernah berkobar. Karena jiwa damaimu jauh lebih tinggi." Ucap Mike yang mana ia memang sedikit pandai melihat bahasa tubuh.


"Maksudnya?" Alan nampak polos.


"Ah, sudah lupakanlah. Kamu Tidak perlu berpikir yang tidak-tidak, yang terpenting sekarang kamu sudah bersama-sama denganku, ingatlah sampai titik darah penghabisan pun aku pasti akan selalu melindungimu, dan jua em.. betul juga yang kamu ucapkan tadi, tidak perlu kamu belajar bela diri deh, Kan karna sekarang ada aku, hehe" Cetus Mike yang mana sebenarnya ia takut jika Alan menjadi kuat karena sedikitnya ia sudah bisa mengira-ngira tentang Alan kedepannya.


"Drama." Cetus Alan sembari melepaskan tangan Mike yang masih berada di kedua pundaknya.


"Aiissh, ini serius Lan, sepuluh rius malah" Mike cengengesan sembari mengangkat kedua alisnya.


"Ngomong apa kamu, cepatlah pakai baju kamu. Nanti kamu bisa masuk angin." Jawab Alan langsung bergegas menyelesaikan apa yang sedang ia kerjakan.


"Kalo angin berani masuk tanpa se izinku, aku udah lebih dulu masukin tuh angin. Hihihihi" Celoteh Mike sembari memilah-memilih pakaian yang berada didalam lemari.


"Cih, eror." Gumam Alan sembari meliriknya seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2