
Catatan
Terdapat kata umpatan.
Ia berteriak-teriak memanggil Alan secara berulang-ulang selayaknya seperti orang yang tengah depresi ketika kereta api tersebut sudah selesai melintas.
Ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Alan. Karena ketika Alan melangkah kearah rel kereta tersebut, jarak antara dia dan kereta api yang hendak melintas tidak begitu jauh.
Disaat Mike tengah seperti orang yang sedang depresi, kemudian ada seseorang yang datang menghampiri Mike dan langsung menepuk pundaknya.
Plek!
"Dik, tenanglah. Saudaramu baik-baik saja, dia sudah berjalan pergi kearah jalan itu," Ucap orang tersebut sembari menelunjuk kearah jalan yang dimaksud.
"Puji Tuhan, benarkah demikian pak.." Jawab Mike merasa lega sembari menyapu air matanya.
"Benar, tadi saya dan beberapa orang yang ada diseberang sana membantu dia berdiri ketika dia melompat ke parit saat dia menyelamatkan diri dari kecelakaan maut yang hampir saja menimpanya." Jawab seseorang tersebut.
"Oh Tuhan, Baiklah, terimakasih pak, terimakasih sekali, semoga Tuhan lekas membalas kebaikan bapak." Jawab Mike merasa sangat bersyukur.
"Ah sudah-sudah, terimakasih kembali dik, yasudah segeralah kau kejar saudaramu, saya tidak tau apa permasalahan yang sedang kalian lalui, namun tadi saya melihat saudaramu nampak sedang sangat depresi." Lanjut bapak tersebut sembari menepuk-nepuk lirih pundak Mike.
"Baik pak, saya ucapkan kembali terimakasih." Jawab Mike langsung bergegas hendak menyusul Alan kearah jalan yang bapak tadi tunjukkan.
***
Kemudian, Mike langsung berlari kearah jalan yang dimaksud, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berharap segera menemukan keberadaan Alan. Ia bertekad jika ia sudah menemukan Alan kembali dan jua sekiranya Alan menolak untuk pulang, ia akan memaksanya untuk pulang bagaimanapun caranya. Karena ia tidak ingin dan tidak mau pula merasakan kejadian semacam ini terulang kembali yaitu ditinggalkan.
Namun, sudah ratusan kilometer jarak tempuh telah ia lalui, ia samasekali tidak mendapati keberadaan Alan. Ia sesekali berhenti untuk mengambil napas sembari memegang lututnya karena ia merasa sangat lelah berlari.
Kemudian, gerimis tipis berjatuhan dari atas langit. Karena memang cuaca hari itu sudah mendung dari semenjak pagi hari. Kemudian Mike melanjutkan perjalananya kembali meskipun lelah telah ia rasakan.
Ia berjalan disepanjang jalan. Sembari masih menengok ke kanan dan ke kiri. Dan sesekali air matanya tidak dapat dibendung karena rasa kehilangan dan keinginan yang belum tercapai hingga sekarang yaitu bisa hidup bahagia bersama dengan saudaranya yang mana selama ini ia tidak pernah merasakannya dan ingin sekali memilikinya.
Meskipun ia baru saja bertemu dengan Alan dan mengetahui bahwa dia adalah saudara kembarnya, namun rasa kasih sayang dia terhadap Alan sudah tumbuh dengan sendirinya. Selayaknya rasa kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya.
***
Kemudian, ia berjalan melewati sebuah jembatan yang cukup lebar. Dan Kemudian, dari arah kejauhan, ia melihat ada seorang wanita naik keatas pagar jembatan tersebut hendak melompat ke sungai itu (bunuh diri)
Tanpa berpikir panjang, Mike langsung berlari menuju kearah wanita tersebut dan langsung menarik tangannya saat wanita itu hendak melompat.
__ADS_1
Seet!
Ketika Mike menarik wanita tersebut, menjadikan wanita tersebut langsung terjatuh dan terjatuhnya menimpa tubuh Mike.
Brak!
"Aaaihhh hey! Apa yang hendak kau lakukan!"
Teriak Mike ketika wanita tersebut jatuh menimpa dirinya dan khususnya tangan dia terjepit tubuh dari sang wanita itu, yang mana tangan dia terdapat luka goresan akibat terserempet mobil tadi.
Kemudian, Mike langsung menggeser wanita tersebut dan kemudian ia langsung beranjak kembali berdiri. Mike merasa kesal karena ada-ada saja orang yang berpikiran sempit semacam wanita yang hendak bunuh diri tersebut. Dan jua menjadikan waktu untuk mengejar Alan menjadi terpangkas.
"Hey! Gadis, Apa yang hendak kau lakukan!"
Ulang Mike sebelum wanita tersebut menengok kearahnya dan jua posisi Mike sedang merapikan sikunya karena menjadi tergores lagi ketika ia terjatuh. Sehingga ia belum menengok siapakah wanita yang hendak bunuh diri tersebut.
Kemudian, ketika mereka saling memandang satu sama lain, Mike langsung melotot. Begitupun dengan wanita tersebut.
"Aih! Kau rupanya Kunyuk! Mau ngapain kau tadi hah!" Ucap Mike setelah mengetahui siapa wanita tersebut, yang tak lain dia adalah Ananta.
"Mike.." ucap Ananta lirih sembari menyapu air mata yang mengalir diantara kedua pipinya ketika melihat Mike. Terlebih lagi nada bicara Mike tidak seperti pada kemarin hari yang terdengar lembut.
"Mike.." Ulang Ananta merasa heran ketika nada bicara Mike kembali seperti sedia kala dan tidak seperti pada malam hari kemarin.
(dengan Alan)
"Eh, Tata, loe kenapa sih? Tumben amat." lanjut Mike ketika melihat ekspresi Ananta terlihat sangat serius dan nampak sedih. Dan nama Tata adalah nama Ananta kala Mike menyebutnya seperti biasanya.
"Mike! Hiks hiks hiks" Lanjut Ananta langsung menangis histeris ketika melihat Mike seperti tidak peduli dengan perasannya sehingga dia berbicara seperti sedia kala, tidak seperti saat malam kemarin. Dan jua karena ia sedang mengalami depresi berat akibat nasip yang telah ia alami.
"Aiih, malah nangis pula sih kau ah!" Lanjut Mike sembari memegang kepalanya sendiri karena ia sudah tertinggal jauh dari Alan, dan jua pikiran dia masih fokus kepada Alan.
Kemudian, karena respon Mike seperti itu, Ananta semakin menangis histeris sembari jongkok. Dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
Mike semakin merasa pusing ketika melihat Ananta malah semakin menangis histeris karena ia tidak tahu menahu apa yang terjadi sebelumnya dan tidak tau apa yang tengah Ananta alami.
"Aiih! Kau membuatku pusing kunyuk! Sudahlah ngapain pula kau menangis, jika memang kau putus sama pacarmu yaudah ngapain masih dipikirin! Pakek acara mau bunuh diri segala pula! Emang kau pikir dengan bunuh diri bisa menyelesaikan masalah hah! **** amat sih loe jadi cewek!" Cetus Mike.
Mendengar kalimat tersebut, sontak membuat Ananta langsung melotot, kemudian ia langsung kembali berdiri. Dan Setelah ia kembali berdiri ia langsung melangkah mendekat ke Mike. Kemudian ia langsung menampar pipi Mike cukup keras.
Prrak!
__ADS_1
"Dasar Anj*ng kau Mike!"
"Awwwh hey, sakit kunyuk, kok kau nampar gua sih, apa salah gua. Mengumpat pula kau!" Lanjut Mike dengan nada bahasa seperti biasanya sembari memegang pipi setelah ditampar oleh Ananta.
"Lelaki bermulut busuk kau Mike! Dasar bed*bah! Ternyata Kau sama saja dengan para baj*ngan itu! Dasar Munafik kau Mike!" Lanjut Ananta berkata dengan suara lantang sembari memukul-mukul dada Mike karena depresi berat telah menimpa pikirannya terlebih lagi ia mendengar nada bicara Mike kembali seperti itu.
Namun ia sama sekali tidak tahu bahwa lelaki yang bertutur kata lembut dan perhatian yang ia kira Mike pada hari kemarin bukanlah Mike yang asli seperti yang berada dihadapannya saat ini, melainkan kembarannya Mike yaitu Alan.
"Hey, hey, woi, woi, cukup! hentikan Ananta!" Teriak Mike merasa kesal.
Kemudian Mike langsung memegang kedua tangan Ananta supaya berhenti memukulinya. Sementara Ananta sendiri tidak henti-hentinya menangis.
"Cukup Ananta! Gua benar-benar tidak mengerti kenapa dan ada apa sama loe, yang jelas sekarang gua sedang punya urusan yang sangat penting, sudahlah kau bisa ceritakan masalah loe lagi nanti ataupun lusa." Ucap Mike sembari melepaskan tangannya yang sedang memegang kedua tangan Ananta.
Kemudian, Mike langsung melangkah pergi meninggalkan Ananta seorang diri dalam keadaan Ananta masih menangis histeris.
***
Mike memang tidak begitu respon terhadap wanita, dan juga tidak begitu peduli jika ada wanita yang sedang menangis terlebih lagi dengan masalah yang tidak ia ketahui.
Itu semua sangatlah jauh berbeda dengan Alan.
Namun tidak bisa dipungkiri jika sampai Mike mengetahui permasalahan yang telah menimpa Ananta adalah disebabkan oleh Bonanza, terlabih lagi jika dia sampai mengetahui bahwa Ananta telah dilecehkan, dia pasti akan marah besar dan bahkan kemarahannya itu sungguh tidak bisa diperkirakan akan menjadi seperti apa.
Namun saat ini karena pikiran Mike masih fokus terhadap masalah seputar keluarganya. Sehingga ia tidak begitu mempedulikan dengan masalah lain, terlebih lagi masalah orang lain.
Namun siapa sangka dan tanpa ia duga, bahwa segala masalah yang ada didepannya baik itu masalah Ananta ataupun Alan. Semua terhubung dan menyambung menjadi satu dan terhubung semua dengan dirinya.
***
Kemudian, setelah Mike sudah melangkah pergi menjauh dari Ananta, Ananta masih dalam keadaan menangis histeris. Ia jongkok sembari tangannya menutupi mulutnya menahan tangis.
Depresi, rasa putus asa dan ditambah kini rasa kekecewaan setelah melihat respon Mike seperti itu. Ia merasa hidupnya sungguh sudah tidak berarti lagi.
'Mike.. Kenapa dengan mudahnya kau melupakan kalimat yang telah kau ucapkan sendiri. Kau menyatakan bahwa apapun adanya diriku, bagaimanapun keadaanku dan apapun adanya diriku kau akan selalu ada untukku. Tetapi dimanakah Mike yang mengucapkan kalimat itu kemarin, kenapa engkau berubah dengan secepat ini Mike..'
Kemudian, ia beranjak berdiri, dan kembali lagi kearah pagar jembatan tersebut. Kemudian ia berbicara didalam batinnya sembari melihat ke bawah sungai itu.
'Ya, Mungkin aku hanyalah seorang wanita terbodoh yang ada didunia ini, mengharapkan suatu kebahagiaan yang tidak mungkin bisa aku dapatkan. Andai kau tahu Mike, tutur kata lembutmu yang kau ucapkan padaku kala itu, yang membuat nafas ini masih berhembus sampai di detik ini.
Namun, bayangan kebahagiaan itu hanyalah sebuah bayangan semu yang hanya wanita bodoh ini rasakan. Dan kini, bayangan kebahagiaan itu telah kusimpan didalam sanubariku. Mike.. aku akan membawa tutur kata lembut yang pernah kau ucapkan padaku ke alam surga.'
__ADS_1