
"Itu … polisi Bro, di area luar banyak mobil polisi menuju kesini" Jawab Dion tergesa-gesa.
"Apa! Wah gawat." Saga melotot kebingungan sembari melihat keseluruh penjuru Arah, ia melihat masih ada Mike sedang berkelahi, tetapi ia tidak melihat Alan. Lekas ia melotot setelah melihat ke sisi pinggir masih ada Samuel.
"Sam … oh tidak! Kemana saudara kembar Mike? Apa loe lihat dia?" Lanjut Saga
"Saudara kem .. kem .. bar oh, ya. Gua ingat bro, tadi gua lihat dia di luar tapi .. gua kagak tau dia pergi sama siapa" Jawab Dion tampak ekspresi bodoh.
"Halah! Kebiasaan loe telat mikir, yaudah loe buruan kejar saudara kembar Mike, pastikan dia aman dan loe pastikan juga dia dibawa pergi oleh siapa. Biar gua urus semua yang ada disini sebelum polisi mengepung tempat ini, udah sana loe buruan pergi, gobl*k!" Pekik Saga emosi sembari sedikit mendorong Dion
Seet!
Ia kesal melihat Dion malah garuk-garuk kepala tampak bodoh.
"Aish, iya ya ya, gua pergi sekarang" pungkas Dion langsung meninggalkan lokasi itu.
Skip
***
Disisi Alan
Alan terus ditarik oleh orang itu hingga kini berada di lokasi yang cukup jauh dari area tadi.
Ketika tepat berada disebelah rumah kosong kumuh di sekelilingnya terdapat rumput-rumput liar berukuran cukup tinggi, Alan menghempaskan tangan orang itu sekuat tenaga hingga terlepas nyaris membuat orang itu tersungkur.
Seet!
"Siapa kamu, apa yang kamu lakukan!" Seru Alan sembari memegangi pergelangan tangannya.
Perlahan-lahan orang itu membuka penutup kepala. Sontak ekspresi Alan sedikit asam kala melihat wajah orang itu tersorot sinar lampu dari arah kejauhan yang tak lain adalah salahsatu kelompok utama Bonanza, yaitu Rehan.
Rehan sengaja menarik Alan pergi lantaran ada sesuatu perlu yang hendak ia bicarakan dengan Mike, namun ia salah orang.
Ya, saat di area perkelahian tadi, Rehan tidak bersama Anwar maupun Satria saat mereka sedang berkelahi dengan Mike, maka tidak heran jika kini ia salah membawa orang.
"Apa kamu akan terus terlibat perkelahian disana hah!" Pekik Rehan tampak emosi yang membuat Alan bingung, sebab setahu Alan Rehan adalah pihak musuh.
"Apa maksud perkataan mu," Jawab Alan.
"Gua hanya tidak ingin saat ini orang yang teristimewa dihati seseorang yang gua sayangi mati konyol di area sana, ngerti!" Lanjut Rehan.
Alan sedikit melotot dan paham bahwa Rehan sedang mengira dirinya Mike, alhasil ia sedikit mendekat sebab ia benar-benar tidak mengerti maksud kalimat Rehan tersebut.
"Saya paling tidak suka jika harus mengulangi sebuah pertanyaan dengan kalimat yang sama." Jawab Alan melotot tajam.
__ADS_1
"Ya Mike, gua akui gua bukanlah sosok kakak yang baik terhadap adiknya, tetapi sebagai seorang kakak melihat orang yang adiknya sayangi dalam bahaya bukankah sudah sepantasnya gua melakukan ini? Walaupun orang itu adalah loe!" Jawab Rehan.
Alan masih terdiam, namun tidak lepas pandang kepadanya dengan sorot mata tajam penuh pertanyaan tanpa melalui lisan. Yang membuat Rehan dengan sendirinya menjelaskan lebih rinci apa maksud perkataannya itu.
***
Ya, Rehan ini adalah salahsatu kelompok utama Bonanza dan dia adalah kakak-nya Maria sementara Maria sendiri adalah sahabat terdekat Ananta di sekolah.
Rehan menceritakan kepada Alan tentang apa yang ia ketahui tentang adiknya itu bahwa Maria sudah lama menyukai Mike namun Maria tidak pernah mendapat respon apapun dari Mike dan tidak pernah jua dia nyatakan.
Selama ini Rehan memang tidak begitu dekat dengan adiknya, menyadari ia memang gemar keluyuran cenderung jarang pulang kerumah. Tetapi Pada suatu malam ia pulang dan saat itu ia memiliki suatu perlu dengan Maria, namun posisi Maria saat sedang di kamar mandi. Alhasil ia menerobos masuk kedalam ruang kamar.
Saat sudah masuk, ia tercengang melihat apa yang ada didalam ruang kamar adiknya, yakni terdapat banyak koleksi foto Mike baik didinding maupun di lemari-lemari hias.
Rehan emosi melihat itu, namun ia tahan rasa emosi tersebut, lekas ia melihat sejanak buku-buku di meja belajar lalu ia menemukan buku diary milik Maria. Sebelum Maria keluar dari kamar mandi, Rehan mengambil buku diary tersebut lekas ia bawa ke kamar dia sendiri dan di baca-baca olehnya.
Didalam buku diary tersebut tertulis sangat rinci tentang aktifitas hari-hari Maria yang tidak pernah lepas tertulis nama Mike beserta foto Mike melekat pada setiap kalimat.
Rehan muak saat membaca itu namun posisi ia saat itu bagaikan buah simalakama yakni disatu sisi ia adalah musuh Mike, namun disisi lain Mike adalah orang yang disukai adiknya.
Ia menyadari bahwa selama ini tidak pernah dekat dengan adik kandungnya tersebut. Namun apapun itu Maria tetaplah satu-satunya adik yang ia sayangi, maka saat ini ia hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya menjadi seorang kakak, dengan cara menyelamatkan seseorang istimewa bagi adiknya yang sedang dalam bahaya meskipun orang itu adalah musuhnya sendiri.
***
Next
"Cih, loe pikir setelah gua melihat adik gua suka dengan orang macam loe … lalu gua akan membiarkannya saja hah? Cuih! Jangan berharap Mike! Sampai kapanpun tidak akan pernah gua biarkan adik gua berlarut-larut suka sama loe, ngerti!"
Alan tersenyum tipis, melihat gaya berbicara Rehan dan jua melihat jalan pemikiran dia terombang-ambing tidak jelas. Namun Alan masih belum mengetahui siapakah adik Rehan.
"Namun ingat satu hal Mike, Gua melakukan ini sama loe (menyelamatkan) bukan karena gua menyetujui adik gua sama loe, tetapi gua hanya tidak ingin jika dia sedih melihat loe mati sekarang, sebelum dia membenci loe terlebih dahulu, paham?"
"Cih, manusia Egois." Lirih Alan.
"Apa loe bilang .. Egois hah?" Lanjut Rehan seraya mendekat.
"Ya, sifatmu sangatlah egois." Jawab Alan singkat.
"Perset*n dengan kata egois! Gua adalah kakaknya maka terserah gua, karena gua berhak."
"Bukankah suatu urusan pribadi adalah hak masing-masing setiap orang? tetapi … tunggu dulu, kamu memiliki seorang adik perempuan yang seharusnya mengetahui rasa sakit jika adik perempuanmu di sakiti oleh seorang lelaki. Lantas … bagaimana dengan kelakuanmu terhadap satu perempuan yang telah kamu hancurkan masadepanya bersama seluruh teman sekelompokmu itu?! Dimana pikiran manusiawi mu saat kamu melakukan itu!" Jawab Alan mengarah pada topik kejadian yang telah menimpa Ananta pada malam itu.
Sontak Rehan langsung melotot lekas mundur satu langkah ke belakang.
"Tidak! Si .. siapa loe!" Ia tergagu sebab baru menyadari bahwa ia salah membawa orang. Sebab yang mengetahui kejadian saat itu adalah Alan bukan Mike. Rehan sudah paham sekali mengenai hal itu.
__ADS_1
"Ya, Saya bukan Mike, tetapi saya adalah adiknya. Sepanjang kalimat yang telah kamu ceritakan ini, saya tidak mengetahui siapa adikmu. Jikapun adikmu menyukai kakakku, maka semua itu adalah urusan pribadi mereka. Tetapi .. Tentang seorang perempuan yang telah kamu hancurkan masa depannya kini sudah menjadi bagian urusanku!" Alan melotot tajam seraya mengepalkan kedua tangan.
Sontak Rehan mundur lagi satu langkah ke belakang. Tersirat seraut wajah dia tampak takut, betapa tidak? sebab saat ia melihat aksi Alan melawan ketua gengster tadi sungguh membuat bulu kuduknya merinding.
"Tidak! Semua itu tidak seperti apa yang loe pikirkan, Gua akui gua memang lelaki berengs*k, tetapi gua bukan lelaki baj*ngan seperti yang lain. Gua tidak pernah menyakiti perempuan apalagi menghancurkan masadepannya." Jawabnya tampak ketakutan.
"Membiarkan suatu tindak kejahatan yang sedang berlangsung tanpa bertindak apapun supaya tindakan kejahatan itu tidak terjadi, bukankah itu sama saja kamu telah melakukan kesalahan yang sama dengan orang yang tengah melakukan kejahatan tersebut?" Ucap Alan seraya melangkah mendekatinya.
"Tidak, gua .. gua .." Rehan tergagu sebab ia memang merasa bersalah dan menyesali saat ia tidak melakukan tindakan apapun untuk menyelamatkan Ananta dari kebringasan teman-temannya ketika mengagahi Ananta.
***
Emosi Alan sangat membelenggu Jiwa, namun dia bukanlah orang yang hiperaktif. Alhasil suasana Percakapan antara Alan dan Rehan seperti layaknya adegan drama yang sedang di putar lambat.
Hingga Akhirnya terdengar suara mobil aparat kepolisian semakin mendekat pada area perkelahian tadi.
Wiiww .. wiiiww … wiiiww …
Sontak Alan maupun Rehan saling terkejut. Alan memikirkan saudara kembarnya, sementara Rehan pun memikirkan teman-teman selompoknya yang masih berada di area perkelahian tadi.
Walaupun perbincangan sekaligus permasalahan mereka belum tuntas, namun keadaan saat ini sangat tidak tepat untuk menyelesaikan masalah itu. Alhasil Alan lebih dulu bergegas hendak kembali ke area tadi.
Namun, saat satu langkah ia berpijak, tangan Alan langsung Rehan raih.
Seet!
"Loe Jangan kembali kesana!" Ucap Rehan.
Lekas Alan pun menghembaskan tangan dia tanpa menjawab kalimat apapun.
Seet!
Alan tetap bersikukuh untuk kembali ke area perkelahian tadi, namun lagi-lagi Rehan meraih tangannya. Namun kali ini Rehan kebablasan, ia menarik tangan Alan sangat kuat hingga Alan terhempas lekas jatuh tersungkur.
Seet!
Brak!
"Aissh"
Namun, saat kejadian itu sedang berlangsung tiba-tiba ada seseorang yang datang dan langsung menyerang Rehan dari arah belakang.
Seet!
Brak! Brak! Brak!
__ADS_1
Seseorang tersebut adalah Dion.