Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 183


__ADS_3

Paranoid yang ada pada diri Alan kian menjadi-jadi kala gadis itu perlahan mendekat kepadanya.


'Ya Tuhan'


"Hai ..." Gadis itu masih cengegesan bak manusia yang tidak waras.


"Em …" Alan semakin bimbang perlahan geser dari tempat duduk-nya. Dan …. benar saja, kala Alan bergeser gadis itu tiba-tiba langsung mendekap tubuhnya.


Beb!


"Hihihi" Dia tertawa-tawa saat memeluk tubuh Alan, sementara Alan sendiri berusaha kuat untuk menjauhkan dia darinya.


Semasih adegan tersebut berlangsung, kebetulan istri dari bapak itu melihatnya. "Astaga Nduk!" Bergegas langsung meraih sang anak supaya melepaskannya dari Alan.


"Aaarrgg … huaaah" Gadis itu meronta nan menangis histeris enggan lepas dari Alan. Namun sekuat tenaga sang ibu melepaskannya hingga berakhir pukulan keras mendarat ke tubuh gadis itu.


Plak! plak!


Tangan dia pun terlepas dari Alan, lekas sang ibu menarik gadis itu menjauh.


"Pancen cah iki kebiasaan tenan, ayo mlebu'o kamar!" Ucap dia kepada gadis itu. Tetapi sang gadis antusias diri melepaskan tangan sang ibu, hendak mendekat kembali ke Alan.


Namun, sebelum sang gadis berhasil mendekat ke Alan, sang Ayah melihatnya usai dia keluar dari toilet. "Ya, ampun Gusti!" bergegas langsung meraih tangan sang Anak. Kemudian membawanya paksa masuk kedalam kamar.


"Enggak Mau, lepaskan aku, enggak mau lepaskaaaan!" Dia makin histeris tidak karuan.


"Maafkan kekacauan ini, dik." Ucap istri bapak itu lekas menyusul suami ke dalam kamar.


Sementara posisi Alan diam mengkedip-kedip kan mata bak orang bodoh lantaran bingung.


___


Tidak selang waktu lama kedua pasutri tersebut kembali ke ruang tamu menemui Alan. Lekas duduk umum-nya menemui tamu.


"Maafkan kelakuan anak saya tadi ya dik, Dia …." Ucap bapak itu belum usai dalam kalimatnya sudah langsung dijawab oleh Alan. "Ti-tidak apa-apa Pak."


Suasana hening sejenak kala kedua pasutri tersebut sesama menghela napas, begitupun dengan Alan yang terdiam penuh bimbang.


"Beginilah takdir hidup kami …" Bapak itu memulai perbincangan. Lekas Alan menolehnya, siap mendengarkan.

__ADS_1


"Tuhan memberikan kami karunia indah, tapi semua itu membuat kesabaran kami di uji setiap harinya."


Alan fokus menatapnya, masih belum mengerti maksud kalimat tersebut.


"Selama 13 tahun kami berumahtangga masih belum dikarunia seorang anak, kami sangat dan sangaaat menginginkannya, berbagai macam cara telah kami lakukan hingga akhirnya tahun ke-14 Tuhan mengabulkan keinginan kami. Tapi begini keadaannya, Anak kami terlahir tidak sempurna. (Autis)" Ucap bapak-bapak tersebut nampak sedih.


Perbincangan berlanjut hingga akhirnya kalimatnya terhenti sejenak kala dia menyadari sesuatu.


"Loh bu, kita sudah ngobrol panjang lebar, teh yang ibu buat tadi mana?" Ucap-nya menoleh sang istri.


"Hehehe, iya Pak maaf ibu lupa gula-nya habis." Jawab-nya cengegesan merasa tak enak dengan Alan.


"Huelahdalah, piye to …" Gumam dia lantas sang istri berdiri dari tempat duduk-nya. "Hehe iya, maaf saya tinggal ke warung sebentar, ya" Pamitnya dengan Alan, sungguh merasa tak enak hati.


Semasih ibu itu hendak melangkah pergi, Alan berdiri dari tempat duduk-nya.


"Em, maaf bu biarkan saya saja yang membeli-nya, sudah larut malam, sekalian saya mau cari rokok." Ucap Alan terpaksa berbohong.


"Tapi, dik …" Jawab dia merasa semakin tak enak lantaran tidak seharusnya sang tamu melakukan itu.


"Tidak apa bu, di jam ini warung pasti sudah banyak yang tutup, saya mau ke mini market terdekat" Jawab Alan antusias, mereka pun tak kuasa mencegahnya, akhirnya mempersilahkan.


Sesudahnya keluar dari rumah kost-kostsan tersebut, Alan berjalan kaki menuju ke mini market terdekat yang ia lihat sewaktu berkendara menuju rumah bapak tadi.


___


Sementara Disisi Mike masih terus berjalan bersama Jovan mencari keberadaan sang Adik. Ia menerapkan janji pada diri sendiri sebelum sang adik dapat di temukan atau setidaknya ada secercah kabar dari dia, tak akan ia pulang kerumah, Inilah Jiwa asli seorang Mike yang amat sayang kepada saudara kandungnya.


Lantas sudah berjalan sangat jauh dari lokasi gedung itu, masih belum jua melihat tanda-tanda keberadaanya. Meraih telephone genggam dari saku celana lekas menghubungi beberapa rekannya, namun hasilnya masih nihil.


"Huff" Helaan napas pertanda bimbang lekas merogoh saku celananya. Namun, sesuatu yang sedang dicarinya tidak ada. "Aisssh, abis pula"


Lantas menoleh Jovan. "Bro, rokok." Ucap-nya. Lekas Jovan menyodorkan satu bungkus rokok miliknya. "Nih"


Mike meraihnya, "Aissh, merek ini pula punya loe." Ucapnya lekas mengembalikannya lagi. "Nih, gak jadi."


"Jiaaah … Iye iye ... yang seleranya horang kaya" Canda Jovan. Mike tak mengubrisnya melainkan menoleh ke seluruh penjuru arah mencari sesuatu.


"Loe tunggu disini, gua beli rokok sebentar" Pamit-nya kala melihat ada mini market tak jauh dari lokasi itu.

__ADS_1


Ia berlari menuju kesana lantaran tak ingin membuang-buang waktu. Suasana didalam mini market sangat sepi, hanya ada satu pelanggan yang kini berdiri didepan meja karsir sedang menotal belanjaan berupa gula pasir dan beberapa cemilan seperti roti dan snack, tak lain dialah Alan.


Mike masuk dalam mini market tampak tergesa-gesa lekas meletakkan lembaran uang di atas meja karsir.


"Rokok, kak." Ucapnya sekaligus menyebut merek yang dimaksud. Cara dia cukup bar-bar hingga tak mempedulikan ada pelanggan lain yang sedang transaksi.


Mendengar suara tak asing di telinga, Alan maupun Mike secara bersama-sama saling menoleh.


Dan …


"A-Alan?"


"Mike?"


Sungguh tak habis kira bahwa keadaan rumit yang mereka lalui beberapa jam yang lalu kini saling berjumpa didalam mini market tersebut. Mereka sesama bahagia. Hingga keduanya ingin berpeluk ria dengan saudaranya.


Namun disisi Alan senyum merekah itu kembali sirna akan rasa diri memiliki kesalahan. Sementara Mike sendiri menempatkan diri layaknya seorang kakak.


"Darimana saja kamu hah!" Tanya-nya seakan marah kepada sang adik.


Alan terdiam sembari menunduk.


"Sudah, cepatlah selesaikan dulu itu." Ucap Mike, lantaran melihat petugas karsir bengong. Lantas Alan segera menyelesaikan transaksi tersebut. Sesudah usai, mereka keluar bersama-sama.


___


Mike dan Alan sesama saling tahu bahwa keduanya terselubung dengan masalah yang sama. Menjadikan keduanya saling terdiam saat keluar dari mini market tersebut.


Tentu saja, disisi Alan merasa bersalah akibat ponsel mati tak dapat di hubungi, sedangkan Mike merasa bersalah karena Alan menjadi sasaran para musuh-musuhnya hingga berbuntut panjang seperti ini.


Namun, Mike menyadari sikap diam-nya Alan tak akan mudah di ubah kalau tidak dirinya yang mengawali.


Lekas ia merangkul pundaknya, kemudian berkata "Ayo kita pulang, besok kita sekolah." Menutup segala perkara yang sudah terjadi.


"Tunggu, kak" Jawab Alan, menghentikan langkahnya.


"Oit,"


Catatan

__ADS_1


***Slow Update. Namun pasti di lanjutkan. Silahkan pencet tombol Favorit supaya dapat notifikasinya. Terima kasih.


Selamat Natal dan Tahun Baru 2021***


__ADS_2