
"Mike.. Ada apa?" ulang Alan.
Perlahan-lahan Mike menoleh, sontak Alan sedikit menimpuk kepala dia lantaran ekspresi Mike nampak aneh baginya.
Pluk!
"Kenapa pasang ekspresi konyol begitu Mike?" Tanya Alan. Sementara Mike tidak sadar walau kepala dia ditimpuk.
"Anu.. aih matilah Lan. Tapi, aku ada ide briliant" Lanjutnya ekspresinya masih seperti tadi. Ia teringat bahwa ia tidak membawa kunci.
"Maksudmu?" Alan benar-benar tidak mengerti yang Mike bicarakan tersebut.
"Turun dulu, cepatan"
"Hah?" Alan bingung namun ia pun langsung menurutinya.
Setelah Alan turun, Mike bergegas membawa motornya tanpa dinyalakan.
"Ayo buruan jalan, jangan sampai kita terlihat dari jendela kamar papa" Bisik Mike seraya melangkah.
Setelah sampai didekat pintu gerbang, Mike mengintip melalui celah pintu gerbang tersebut. Sementara Alan diam nampak eskpresi bingung melihat tingkah kakaknya seperti maling.
"Mike, apa yang.."
"Sttt.. jangan keras-keras kalau mau tanya nanti saja. Aha, sudah sepi didalam, Kuy" Mike mengajak Alan hendak melakukan sesuatu.
"Maksudmu?"
"Aih, buruan mendekat sini. Cepatlah" Ajak Mike sembari mencari teori hendak menaiki pagar gerbang.
"Apa yang akan kamu lakukan Mike? Seperti maling saj.." Alan berkata-kata namun Mike langsung kembali melangkah untuk membungkam mulut Alan dengan tangannya.
Beb!
"Em.. Bbrrruuah! Kamu kenapa si Mike? Pich," Alan menghempaskan tangan Mike dari Mulutnya. Seraya sedikit meludah lantaran tangan sang kakak yang membungkam mulutnya terasa di mulut.
"Sttt aku udah bilang tadi, jangan keras-keras, eh kenapa muka mu jadi asam begitu? asin ya rasanya hehe, maklum saja hampir 3 hari aku belum mandi" Lanjut Mike sembari cengegesan, sadar diri.
"Cih, Jorok sekali." Alan melirik asam sembari masih menyapu bibirnya dengan tangan.
"Hehe, sudahlah ayo cepetan," Mike langsung meraih tangan Alan.
Seet!
"Ait, ait, hei Mike lalu itu anunya gimana?" Alan menunjuk ke arah Motor.
"Aish, santai saja gak bakalan hilang si anu itu, ada satpam komplek kok, sudahlah ayo buruan" Ajak Mike memaksa Alan untuk ikut dengannya menaiki pagar gerbang.
Alan tidak banyak berkata, lantaran ia tidak ingin jika Mike sampai membungkam mulutnya lagi, alhasil ia pun mengikuti sang kakak yang sedang berpolah seperti maling untuk bisa masuk kedalam rumahnya sendiri.
"Aishh! Alangkah Susah nian ini akh, sebaiknya kamu duluan deh yang naik, aku bantuin. Cepat Naiklah" tawaran Mike sembari jongkok supaya sang Adik dapat menaiki pundaknya.
"Tidak Mike, tubuh kamu sedang banyak luka-luka. Sebaliknya Kamu yang naik lebih dulu."
"Haiyaaa kalau begini kapan kita masuknya, udahlah jangan banyak cakap. Cepat naik, cepat Lan." Lanjut Mike bersikukuh supaya sang Adik segera naik ke pundaknya.
Namun, sebaliknya Alan justru langsung meraih tangan Mike sampai dia berdiri lalu ia mengganti posisi Mike tadi, jongkok.
Seet!
"Oit, Lan. Haiyaa"
"Tidak ada haiya-haiya, bukan drama india bukan pula cina, Cepat naiklah" Ucap Alan singkat.
"Haiya.. kalau drama indonesia jadi-nya sinetron dong? Baiklah-baiklah" Mike akhirnya menerima tawaran tersebut lantaran ia tidak bisa meretas keinginan Alan karena ia sudah mulai paham bahwa keputusan yang Alan ambil pastilah tidak bisa diganggu gugat.
Perlahan-lahan ia menginjakkan kaki satu per satu di pundak Alan, Sementara Alan pun siap berdiri kala kedua kaki Mike sudah berada di atas pundaknya.
"Siap.."
"Yosh" Sahut Mike penuh yakin.
"Satu, dua, tig.." ucap Alan kala hendak berdiri. Namun ketika ia sudah sepenuhnya berdiri tiba-tiba ada seru suara seseorang datang.
"Woi apa yang kalian lakukan, berhenti!"
Alan terkejut lantaran tengah malam menjelang pagi seperti saat ini sangatlah sunyi. Ia pun menjadi goyah sementara Mike jua menjadi tidak stabil. Alhasil, keduanya langsung terjatuh.
"Oit, oit, oit,"
Brak!
"Awwh, oihh"
__ADS_1
"Siapa kalian! Mau maling kalian hah!" Seru seseorang tersebut datang mendekat.
Perlahan-lahan Mike dan Alan menoleh. Sontak membuat orang yang datang itu terkejut.
"Huealahdalah Den Mike to, apa yang sedang Aden berdua lakukan?" Tanya orang itu sembari membantu Mike yang posisinya masih menimpa Alan, yaitu satpam perumahan sedang tugas keliling komplek.
"Anu.. tidak pak, hehe terimakasih" balas Mike.
"Ada yang bisa saya bantu Den?" Lanjut Satpam itu.
"Tidak ada, eh.. ada" Jawab Mike plin-plan membuat Alan sedikit menimpuknya.
Plak!
"Awh, hehe anu.. itu tolong bawa motor saya ke pos kalian dulu, ya pak." pinta Mike.
"Hah? Tapi Den.."
"Haiya.. Sudahlah tidak ada tapi-tapian, esok pagi saya ambil. Oh iya, ingat satu hal Pak, jangan panggil dengan sebutan itu, risih saya dengarnya. Panggil Kakak saja."
"Err.. ya baiklah, tapi ini kalian.." Satpan itu menunjuk mereka lantaran bingung melihat mereka tampak mencurigakan di rumah mereka sendiri.
"Haiya.. sudahlah lanjutkan saja tugas bapak, nih ambillah buat beli kopi, cepatlah bawa motor saya" Pungkas Mike sembari memberi beberapa lembar uang kepada satpam tersebut.
Alhasil satpam itu menuruti permintaan Mike untuk membawa motor dia ke pos.
'Huelahdalah.. Pak Marvin, Pak Marvin, nduwe Anak buagos tapi kok yo.. kelakuan'e koplak'e rak ketulungan.'
(Walah.. Pak Marvin, pak Marvin, punya anak tampan tapi kok tingkah konyolnya tidak karuan)
Batin Satpam tersebut geleng-geleng kepala sembari melangkah pergi membawa motor milik Mike.
***
Next
Setelah satpam itu sudah melangkah jauh, Mike mengajak Alan untuk kembali melakukan Aksi yang tertunda tadi.
Setelah berhasil melompati pagar, Mike mengajak Alan berjalan mengendap-ngendap ke arah pintu samping yaitu pintu yang mengarah langsung ke bagian belakang berujung ke arah jemuran.
"Haiya.. terkunci pula bagian sini." Gumam Mike.
"Kenapa bahasa kamu jadi haiya-haiya begitu terus Mike, sebenarnya ada apa ini, Kenapa kamu melakukan hal konyol seperti ini, Bukankah kita bisa saja langsung pencet bel rumah?"
"Tapi apa? Takut dimarah ayah karena kita pulang jam segini?"
"Cih, kamu bilang aku takut sama papa? Tidak Lan, sama sekali tidak. Tapi.."
"Ah, kamu terlalu banyak tingkah" Pungkas Alan lelah mendengar celotehan sang kakak sembari hendak melangkah menuju ke pintu depan, namun tangan ia langsung Mike raih.
Seet!
"Tunggu Lan,"
"Apa lagi? Kamu takut jika ayah memarahi kita dan menanyakan kemana kita tadi? Ingatlah Mike, berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab." Alan bersikukuh lantaran ia tidak tahu ada hal yang Mike sembunyikan darinya.
Sementara Mike sendiri melakukan hal demikian karena ia sedang tidak ingin mendengarkan Ayahnya mengomel. Namun disatu sisi ia waspada akan kemarahan sang adik kala sudah mengetahui bahwa Malam ini adalah malam hari pesta ulang tahun mereka yang sudah mereka lewatkan. Dan semua itu belum ia nyatakan kepada Alan.
Mike menyadari Semua itu mutlak disebabkan olehnya sendiri sewaktu kesalahan saat meninggalkan Alan sejenak di rumah sakit hingga berujung menjadi seperti ini.
Namun bagi Alan yang tidak mengetahui hal tersebut maka ia hanya menjalankan sebagaimana mestinya untuk bertanggung jawab atas segala apa yang membuat ia sampai terlambat pulang.
'Aih.. matilah aku' Batin Mike
Mike sudah tidak bisa mencengah Alan untuk melangkah menuju pintu depan, alhasil ia pun mengikutinya dari belakang.
Setelah keduanya sudah berdiri tepat di depan pintu, Alan pun hendak memencet bel rumah. Namun, sebelum jadi ia lakukan terdengar suara ada yang membuka kunci dari dalam.
Crekk crek kreeeg
"Ee.. Papa" Lirih Mike sembari cengegesan. Sementara Alan terdiam seribu bahasa.
"Kalian pikir, papa tidak melihat kelakuan kalian hah! Cepat masuk!" Seru Marvin nampak marah.
Perlahan-lahan Mike dan Alan melangkah masuk seraya menunduk tampak ekspresi bersalah dari keduanya.
"Berhenti disana!" Seru Marvin usai menutup pintu.
Alhasil, Mike dan Alan berhenti nan berdiri bersebelahan di ruang tamu sembari menunduk.
"Matilah, matilah, mampuslah, mampuslah" Gumam Mike, ia langsung mendapat cubitan dari Alan. "Diam, Mike."
Marvin melangkah memutari mereka sembari memperhatian kedua putranya tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia melihat tampilan Alan masih bersih namun melihat ada beberapa luka lebam di area bibir. Sementara melihat disisi Mike tampak lusuh nan terdapat beberapa luka lebam di beberapa bagian tubuh dan wajah.
__ADS_1
"Darimana kalian?" Tanya Marvin bernada pelan.
"Kita.." Alan hendak menjawab. Namun tidak jadi ia teruskan lantaran tangannya di cengkram oleh Mike. "Kamu diam Lan, biar aku saja" Bisik Mike.
"Maaf pa, kita pulang terlambat."
"Yang papa tanyakan, darimana kalian" Ulang Marvin bernada semakin tinggi.
"Kita dari.."
"Sudah berapa kali tadi papa menelpon dan mengatakan untuk kalian secepatnya pulang hah!"
"Mungkin ada lima kali atau sepuluh kali, Pa" Cetus Mike.
"Diam! Kebiasaan sekali kamu Mike, setiap kali papa sedang berbicara, kamu Menjawab dengan kalimat tidak sopan! Apa Setiap kali kata demi kata yang keluar dari mulut papa, kamu anggap sampah hah! Sekalipun tidak pernah kamu hiraukan!"
'Aih.. mulai drama deh' Batin Mike disela-sela Marvin masih berbicara
"Dan lagi apa ini.. Apa kamu mau menjadi jagoan? Berkelahi seperti preman begini hah! Kamu pikir papa akan bangga memiliki anak yang sok jagoan bertarung sana-sini, balapan liar, keluyuran malam dan apa lagi sekarang kamu akan mengajak Adikmu untuk mengikuti kelakuan burukmu itu hah, mau jadi apa masa depanmu Mike!"
"Tidak pa, Bukan seperti itu"
"Bukan seperti itu gimana Mike! Kalian pulang larut malam begini, pakaian compang-camping seperti orang tak berguna begini. Dan apa kamu tau akibat kelakuan kalian papa harus menanggung malu didepan rekan-rekan papa, hah!"
Alan masih saja terdiam nan menunduk lantaran ia merasa bersalah menyadari pulang larut malam, namun selebihnya ia tidak mengerti tentang kalimat 'malu' yang Marvin ucapkan tersebut. Sementara Mike sendiri geram lantaran sudah teramat banyak kalimat yang Marvin ucapkan tanpa mengetahui kejadian yang telah mereka alami.
"Ya! Papa memang tidak pernah bangga terhadapku, bahkan tidak pernah sama sekali, yang papa banggakan hanyalah perusahaan, kejayaan, kedudukan, kekuasaan, kesuksesan" Mike tengah mengatakan kalimat-kalimat tersebut membuat Marvin emosi.
"Cukup, Mike!" Ia pun langsung menampar Mike.
Prak!
"Ayah," Lirih Alan. Melihat Mike teringat masa lalu kala ia tengah ditampar oleh Ferdi.
"Ya pa, Mike tempatnya salah, bahkan jika pun disebut tempatnya Sampah, Mike tidak peduli. Tetapi kenapa papa main kasar seperti ini tanpa mendengarkan dulu penjelasan kami, pa. Apakah setiap orangtua berkata selalu benar dan anak selalu salah, pa?"
"Hentikan Mike!" Marvin masih didalam amarah yang cukup tinggi, ia pun mengangkat tangan lagi hendak menampar Mike.
Namun, saat ia mengayunkan tangannya, Alan melangkah mendorong Mike hingga tersungkur ke lantai, Alhasil ia yang terkena tamparan dari sang Ayah.
Prak!
Alan memejamkan mata saat tamparan keras itu mengenai pipinya, lantaran ia teringat masa lalunya.
"Oh tidak." Marvin merasa bersalah sembari melihat tangannya sendiri.
"Papa!" Seru Mike beranjak berdiri.
"Michealan.." Lirih Marvin saat Alan masih di posisi yang sama.
"Ayah, kami saudara kembar memang tidak semua yang ada didalam diri kami kembar. Tetapi untuk hal ini, tidak mutlak kesalahan Kakak. Jika ayah menampar dia, maka tampar juga aku. Karena kami melakukan kesalahan ini bersama-sama." Ucap Alan lirih nan bijak.
"Tetapi Michealan, kakak kamu ini benar-benar"
"Sudahlah pa, masih beruntung kami bisa pulang dengan napas." Cetus Mike meraih tangan Alan nan menariknya melangkah menuju anak tangga.
"Apa maksud ucapan kamu Mike, hei Mike! Papa belum selesai bicara!" Seru Marvin ketika Mike sudah melangkah menaiki anak tangga.
"Mike.. itu, Ayah" lirih Alan sembari menoleh ke arah Marvin saat ia di tarik Mike.
"Sudahlah.. diam saja dulu, besok juga papa udah sembuh."
"Maksudmu, sembuh?"
"Ssstt.. udah, diamlah"
'Ah, selamet.. selamet..' Batin Mike, lantaran Alan belum mengetahui penyebab Ayah mereka marah besar.
Bersambung
Catatan
Bagi para pembaca yang masih belum paham dan mengatakan bahasa yang saya pakai amburadul akan saya perjelas.
Saya mencampur kosa kata baku maupun non-baku.
Mike memanggil Marvin dengan sebutan Papa
Sementara Alan memanggil Marvin dengan sebutan Ayah.
Untuk penggunakan bahasa panggilan yaitu Kau, kamu, anda dan loe yang sering author pakai bebarengan bukanlah amburadul melainkan semua itu sudah tersetting dengan sengaja.
Untuk lebih jelasnya perhatikanlah setiap tokoh yang sedang bermain. Karena itulah kunci kenapa penggunaan bahasanya berbeda.
__ADS_1
So.. kala tokoh barbar yang sedang bermain menggunakan bahasa lembut apakah itu enak di baca?