
"Ini ... Saya memasak untuk ayah" jawab Alan singkat.
"Hah, Kamu masak untuk papa? hahaha" Marvin tertawa lantaran berpikir si Mike sedang bercanda.
Semasih berbincangan berlangsung, Bu Tiah berjalan melewati ruang meja makan itu sedang menuju ke arah kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari dapur.
"Bu, kesini sebentar deh, hahaha dengarkan Mike, masa dia bilang dia yang memasak semua makanan ini hahaha" Marvin mengatakannya pada Bu Tiah sembari masih tawa terpingkal-pingkal.
Bu Tiah bengong kemudian berkata "Lah, itu memang benar kok Tuan, Kakak Mike yang memasak semua makanan ini untuk Tuan"
"Hah, masa?" Meski sulit mempercayai, Marvin menoleh ke arah sang anak "Apa benar begitu Mike?"
"Iya, benar Ayah" jawab Alan seraya mengangguk dan senyum.
"Am-Oke baiklah, Papa percaya deh, yasudah Papa cicipi ya ... dan sekalian kamu juga sarapan, setelah itu minum obatmu ya," lanjut Marvin masih merasa tidak percaya, kini mencoba untuk mempercayai sesuatu yang aneh baginya, mengingat Mike tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Alan mengangguk, beranjak duduk bersama ayahnya untuk bersantap.
"Emm--apa ini sungguh masakan buatanmu, Nak?" tanya Marvin sembari melotot ke arah Alan setelah mencoba satu suap makanan tersebut.
"Iya benar Ayah" Singkat Alan.
"Wah ... Papa tidak habis kira, ternyata diam-diam kamu memiliki bakat yang luar biasa tanpa Papa ketahui selama ini Nak, tapi ... kenapa selama ini kamu tidak pernah memasak?" tanya Marvin sembari terus mengunyah makanan tersebut.
Lantaran cita rasa masakan itu sangatlah enak dan cocok dengan seleranya, tentunya dengan bumbu racikan yang pas bak restoran bintang 5 terlebih lagi makanan itu adalah makanan favoritnya.
Alan terdiam karena dia tidak tau yang Marvin katakan tadi, tetapi dia tersenyum bahagia melihat sang Ayah sangat menikmati makanan yang ia masak cenderung lahap.
"Oh iya Mike, maaf hampir Papa lupa hehe, tidak seharusnya Papa berkata seperti itu."
(Marvin baru nyadari Alan sedang hilang ingatan, istilah dia ngomong apa saja pastilah percumah. Alan tidak akan paham)
"Emm ... ayo Mike kamu juga makan, rasanya luar biasa enak." Lanjut Marvin tiada henti-hentinya memuji lantaran dia benar-benar menikmati, bahkan merasa ketagihan akan cita rasa makanan tersebut.
"Baik ayah" singkat Alan langsung ikut makan.
__
Selepas bersantap, Alan mengangkat piring kotor dari meja makan hendak dibawanya ke tempat cucian piring.
"Hei Mike, apa yang kamu lakukan? Biar nanti Bu Tiah atau mba yang lain saja yang membereskannya." Ucap Marvin.
"Tidak apa-apa ayah, tidak masalah, bukankah biasanya saya sudah seperti ini?" jawab Alan diluar batas kesadarannya.
"Hah, Kapan kamu melakukan seperti itu Mike?" Marvin terheran-heran atas kalimat yang baru saja Alan ucapkan itu.
Alan pun langsung terdiam sejenak lantaran tidak sengaja tiba-tiba mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan membuat dirinya sendiri bingung kenapa dia berkata seperti itu?
"Haha, bercanda saja kamu masih pagi begini Mike, biasanya kamu itu langsung pergi bahkan terkadang masih sambil mengunyah ayam goreng kesukaan mu. Oh iya, kalau kamu bisa masak kenapa tadi kamu tidak sekalian masak ayam goreng kesukaan mu, Nak?" Lanjut Marvin mengalih perbincangan.
"Ayam goreng?" Alan nampak bingung.
"Iya, ayam goreng kesukaan kamu Mike, kamu paling suka dengan ayam goreng loh" lanjut Marvin.
"Oh, itu ... saya sedang tidak ingin, Yah." jawab Alan singkat seraya tersenyum walau didalam hatinya bertanya-tanya apakah benar dia suka ayam goreng? tetapi didalam lubuk hatinya mengatakan sebaliknya yakni ia tidak begitu suka dengan ayam goreng.
"Oh begitu, baiklah jika seperti itu, justru bagus jika kamu banyak makan sayur, karena sehat dan baik untuk kebugaran mu, Papa senang jika kamu sekarang suka makan sayur, Nak" jawab Marvin tidak terpikir yang tidak-tidak dengan segala keganjilan ini.
__
__ADS_1
Marvin memang mencengah yang tidak seharusnya di lakukan oleh sang anak, tetapi yang Alan lakukan adalah bentuk kemanusiaan maka dia biarkan Alan melanjutkan aksi yang selama ini tidak pernah dia dapati dari Mike.
Alan beranjak menyelesaikan-membereskan piring yang berada di meja, sementara Marvin sudah berdiri dari meja makan sembari membenarkan ikat pinggangnya, lantaran kekenyangan usai makan masakan Alan dengan sangat lahap dan juga dalam porsi yang cukup banyak.
Lantas begitu Alan berbalik badan kembali ke arah meja, dia melihat ayahnya sedang memegang ikat pinggang itu, sontak tiba-tiba dia langsung merintih kesakitan pada area kepalanya.
"Arrghh! aarggh! arrghh!" Dia pegangi kepala dengan kedua tangannya.
Marvin terkejut, "Mike, kamu kenapa Nak, Mike." Buru-buru mendekat ke arahnya, meraih bahu sang anak saat keseimbangan tubuh Alan mengurang nyaris terjatuh.
Terlintas suatu bayangan didalam pikiran Alan meski samar-samar tapi tampak jelas. Yakni bayangan semasih ayah angkatnya (Ferdi) mencambuk tubuh-nya dengan gesper semasa hidupnya.
Ya, karena yang Ferdi lakukan itu adalah terakhir kali Alan alami sebelum dia kehilangan ingatannya, dan juga hal tersebut sudah Ferdi lakukan sejak Alan masih balita, tak heran semua itu sebenarnya membuat Alan trauma, hanya saja dia pendam sedalam-dalamnya rasa takut, sakit, dan segala hal yang menyiksa dirinya itu hingga berlarut-larut lamanya.
"Arggh!"
"Mike, apa yang terjadi. Kamu kenapa Nak!" Marvin sangat mengkhawatirkannya.
Tidak selang waktu lama, rasa sakit dikepala Alan berangsur mereda, lekas ia menjawabnya "Saya Tidak kenapa-kenapa ayah" bernada Lirih.
"Duh! ini pasti gara-gara kamu kelelahan, yasudah kamu istirahat saja dulu, badan mu masih belum pulih total, biar Bu Tiah saja yang melanjutkan pekerjaan ini!" jawab Marvin sedikit kesal lantaran tidak mencengah Alan sebelum semua ini terjadi, lantas dia tuntun Alan ke arah sofa.
"Yasudah, kamu baik-baik dirumah ya Mike, Papa mau berangkat kerja dulu, Papa usahakan malam ini Papa pulang cepat ya," mengulur tangan lekas dia usap rambut sang anak.
Alan menggangguk pelan "Iya ayah, hati-hati di jalan." Jawab-nya singkat.
Entah mengapa begitu kalimat itu Alan ucapkan, rasa hati Marvin teramat bahagia, lantaran selama ini Mike tidak pernah seperti ini padanya.
"Iya Mike, papa jalan dulu" Pungkasnya sedikit melambaikan tangan menuju pintu keluar.
__
Ting ... Tong ... Ting ... Tong
Alan menoleh ke kanan dan ke kiri, tampak para pembantu sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, akhirnya dia berinisiatif hendak melihat siapakah gerangan tamu yang memencet bel rumahnya itu seorang diri.
Tipe pintu gerbang cukup rapat sehingga (tidak bisa lihat dari luar gerbang maupun dalam) seseorang yang memencet bel tersebut. Meskipun ada celah untuk melihat, Alan tidak melihat ke sana.
Kini dia sampai di dekat gerbang, perlahan Alan membukanya.
Lantas ...
"Loh Mike, Puji Tuhan ... Mike, ini beneran loe kah, Mike?" Ucap orang itu melotot penuh terkejut melihat Alan yang dikira Mike. Tak lain tamu tersebut adalah Ke-3 teman Mike yang mendaki gunung diantaranya Saga, Samuel dan Dion.
Tetapi kini yang memencet Bel Rumah adalah Saga, sementara ke-2 teman lainnya berada didalam mobil yang terparkir tak jauh dari pintu gerbang itu.
Melihat Paras yang 'sama' dengan Mike pastilah mereka mengira dia Mike, si Dion dan Samuel beranjak turun dari mobil mendekat ke Saga.
"Mike, Mike, ya ampun, puji Tuhan syukurlah loe selamat dan udah di rumah." Ucap mereka berdua sangat gembira melihat Mike sudah berada di rumah. Yang mana mereka mengira telah terjadi hal buruk menimpa Mike lantaran tak berhasil menemukan keberadaannya di dasar gunung.
"Maaf, Kalian siapa ya?" tanya Alan singkat, nampak bingung.
"Siapa apanya? Ngaco' loe ah! Oh iya, kemarin loe kok gak ngabarin kita sih kalo loe udah sampe rumah? Dasar kunyuk loe! Seneng bener bikin orang cemas. Sue!" lanjut Dion.
"Becanda loe gak asik Mike, loe tau gak kita semua kutirin elo tau! sampe tim SAR dikerahkan untuk mencari keberadaan loe kemarin!" Sambung Saga.
"Hei Mike, becandanya kira-kira dong loe ... Ama temen sendiri tega bener kagak mau ngabarin, Monkey dasar! " lanjut Samuel.
Sekian bait kalimat yang mereka kemukakan tak mengubah ekspresi Alan sedikitpun! hanya diam menatap mereka semua lantaran bingung melihat mereka saling berbicara, yang mana Alan benar-benar tidak mengerti maksud yang mereka katakan itu.
__ADS_1
Saga mendekat, menepuk pundaknya pelan.
Plak!
Disusul kalimat "Puji Syukur Mike, loe udah selamat, lega gua bro."
"Awah" Rintih Alan lantaran pundak dia memang terasa nyeri.
"Ett dah, lebay amat loe di tepuk dikit aja kesakitan!" Cetus Saga, lantaran paham seperti apa seorang Mike, yang mana dia memiliki tubuh tangguh bagaikan baja (Kuat) dan memiliki semangat bagaikan kuda (Tak memiliki rasa lelah)
Alan menyingkirkan tangan Saga sembari melirik mereka dengan tatapan khas.
"Aiissh, Loe kenapa sih Mike, aneh banget deh, biasa aja kali muka loe." Lanjut Dion merasa ada yang berbeda dari Mike yang dia kenal sebelumnya.
"Kalian semua siapa? Dan ada perlu apa?" Tanya Alan.
Sontak membuat Ketiga orang itu merasa bingung, lantaran mereka sudah berteman cukup lama, kenapa Mike berbicara seolah-olah tidak mengenal mereka? Terlebih lagi ekspresi wajah Alan sangat jelas terlihat bahwa Dia benar-benar tidak mengenali mereka.
Tak henti masing-masing saling berkutat didalam hati.
Lantas Bu Tiah datang dari arah belakang, langsung menghampiri mereka. Bu Tiah sangat ingat dengan mereka bertiga semasih mengajak Mike pergi pada hari kemarin.
"Eh, teman-nya Kakak Mike yang kemarin ya?" Sapa-nya.
"Iya Bu, kami yang kemarin kesini, oh iya, ini Mike kok--" belum tuntas Saga berkata hendak di jawab oleh Bu Tiah
"Anu--"
Tetapi, belum sepenggal kata Bu Tiah ucapkan tiba-tiba terhenti lagi kala mendapati Alan beranjak pergi ke dalam rumah-meninggalkan mereka semua tanpa sepatah katapun.
Ya, tentunya Alan seperti itu Selain memiliki kepribadian yang pendiam, dingin dan cuek, Alan benar-benar bingung nan enggan untuk berbincang dengan orang yang tidak dia kenali, apalagi penampilan mereka semua sangatlah barbar!
Membuat mereka ber-3 diam tercengang, lantaran Mike tidak pernah bersikap dingin seperti itu.
"Kakak Mike mengalami hilang ingatan mas, mohon maklumi saja ya ..." Jelas Bu Tiah, mengerti situasi ini.
Sontak mereka semua terkejut, "Apa! Mike hilang ingatan? Ya Ampun Tuhan ... Mike." Tak ayal saling menolah-noleh.
Tersirat siasat hendak menyatakan kejadian yang menimpa Mike sewaktu di gunung itu, tapi entah mengapa perhatian ke-3 nya selalu teralihkan hingga tak ada celah untuk menjelaskannya pada bu Tiah.
Apalagi setiap kalimat yang Bu Tiah katakan selama berbincang, samasekali tidak menyangkut tentang perjalanan mereka kemarin, alias kronologi detile tentang kenapa Mike hilang ingatan tidak dijelaskan.
Malahan bu Tiah dengan polosnya hanya berbincang seputar perubahan sikap Mike sejak hilang ingatan itu, salah satunya kini Mike pandai masak dan lain sebagainya.
Membuat mereka bertiga hanya jadi pendengar cenderung sering garuk-garuk kepala meski tak gatal,
"...."
Lantas ...
Saga beranjak ke arah mobil, meraih barang-barang milik Mike berupa Ransel dan telephone genggam.
"Ini ... barang-barang milik Mike Bu, yang dia bawa kemarin." Hanya kalimat itu yang mampu Saga ucapkan, selebihnya tidak dia jelaskan.
Bu Tiah juga terlampau polos dan minim untuk bisa meneliti suatu hal yang ganjil bagaikan seorang Detektif lekas dia hanya menjawab "Iya mas, terima kasih ya mas" Seraya meraih ransel itu.
"Sama-sama Bu, yasudah kami pamit pulang dulu, Bu." Pamit Saga mewakili ke-2 teman-temannya.
"Iya, hati-hati di jalan ya mas." Pungkas Bu Tiah.
__ADS_1
Selepas usai, mereka beranjak masuk kedalam kendaraan, memacu kendaraan pergi dari sana.