Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 124


__ADS_3

Jovan menyadari bahwa handphone yang sedang ia pegang tersebut bukanlah miliknya, ia pun langsung teringat ketika terjatuh tadi, handphone milik Alan jua terjatuh tepat di sebelah handphone miliknya berada. Maka ia pun menyimpulkan bahwa handphone miliknya tertukar dengan handphone milik Alan.


"Jov, sebaiknya loe angkat saja dulu. Siapa tahu itu penting" saran temannya ketika melihat handphone tersebut terus-menerus berdering panggilan dari Mike, sementara Jovan hanya melihatnya saja tanpa ia hiraukan.


"Aih, bukan urusan gua juga, lagian hape gua yang dibawa dia. Ah, benar-benar manusia pembawa sial dia." Gumam Jovan.


"Ya justru itu bro, nanti loe kan bisa sekalian mengambil kembali hape loe, memangnya loe udah tau rumah dia berada di mana?"


Jovan menggelengkan kepala. Karena ia memang tidak tahu lokasi tempat tinggal Alan. Alhasil ia pun akhirnya berpikir bahwa saran dari temannya tersebut memang masuk logika.


"Ya Hallo," Jovan mengangkat panggilan tersebut.


"Puji Tuhan, akhirnya kamu mengangkatnya Lan, posisi kamu dimana saat ini?" Tanya Mike secara langsung.


Mendengar Mike mengucapkan kalimat demikian, Jovan sudah menduga bahwa saat ini ia sedang berbicara dengan saudara kembar-nya Alan.


"Loe jalan saja ke M.H Thamrin, kalau sudah sampai, nanti Loe telpon Lagi, okey?"Jawab Jovan secara singkat nan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


Bip!


Alhasil, membuat Mike merasa bingung dan semakin merasa khawatir lantaran bukan suara Alan yang menjawab panggilan teleponnya. Ia berminat hendak kembali menghubunginya karena ia benar-benar merasa ada yang aneh, namun karena ia merasa waktu semakin cepat berputar, maka ia pun langsung bergegas melajukan kendaraan ke arah jalan yang Jovan sebutkan itu.


Tidak selang waktu lama, Mike sudah sampai pada jalan protokol yang Jovan sebutkan itu. Karena pada saat ini waktu sudah nyaris tengah malam, maka suasana jalan pun tidak begitu padat. Mike menepi sejenak di bahu jalan untuk kembali menghubungi nomor Alan.


"Saya sudah sampai di jalan yang anda sebutkan. Posisi anda dimana?" Tanya Mike sembari menoleh ke seluruh penjuru arah.


Jovan pun menjawab secara detile posisi dia berada dimana. Alhasil, Mike segera melaju ke tempat tersebut tetapi Mike tidak sempat bertanya siapakah gerangan seseorang itu sehingga handphone milik adiknya bisa sampai berada di tangan dia.


Jrug! jrug! jrug!


Mike sampai tepat di lokasi Jovan berada. Perlahan-lahan ia membuka pelindung kepala dalam posisi masih duduk di atas motor.


Sontak membuat teman-nya Jovan terbengong ketika melihat Mike, karena ia merasa sudah melihat wajah itu pada beberapa menit yang lalu. Namun sekejap kini berada dihadapannya lagi dalam tampilan yang berbeda. Lain halnya dengan Jovan, ia sudah mengetahui bahwa Mike dan Alan adalah saudara kembar bahkan satu kelas dengannya di sekolah barunya.


"Dimana Adik saya kawan, Dan kenapa handphone Milik dia bisa berada di tangan kamu?" Tanya Mike secara to the poin.

__ADS_1


Jovan menjelaskannya secara rinci atas perkara kejadian sebelumnya sembari menyerahkan handphone tersebut kepada Mike.


"Lalu.. ke arah mana mereka pergi?" Tanya Mike sembari memasukkan handphone tersebut kedalam saku.


"Ke arah sana, bro" Jovan menunjuk ke arah yang di maksud. Alhasil, Mike langsung bergegas menuju ke arah tersebut. "Thanks, bro." Pungkas Mike sembari melambaikan satu tangannya.


Brum.. brum..


Ngoeng.. wusshhh.


Mike langsung mengemudikan kuda besinya cukup kencang karena ia memang tengah mengejar waktu.


Ketika Mike sudah pergi, teman-nya Jovan masih terbengong melihat ke arah Mike pergi. Begitupun dengan Jovan karena ia merasa ada sesuatu yang ganjil yang belum selesai dengan Mike.


"Eh, bro. Loe merasa ada yang kurang gak sih setelah dia pergi?" Tanya Jovan. Sementara temannya itu belum menjawabnya dan masih dalam posisi yang sama yaitu menghadap ke arah Mike pergi. Alhasil, Jovan langsung menimpuk kepala dia.


Plak!


"Woeh! Kok Loe malah bengong sih!"


"Gua tadi ngomong, apakah loe kagak dengar hah?"


"Hehe kagak, emangnya loe barusan ngomong apaan?"


"Haissh! Tadi gua ngomong loe merasa ada yang ganjil apa kagak setelah anak itu pergi?" Ulang Jovan sembari naik ke atas motor. "Astaga." Jovan melotot lantaran ia baru mengingatnya.


"Apaan bro? Kenapa mata loe mau copot begitu?"


"Lah hape gua apa kabarnya bro, Astaga.."


"Walah, iya juga ya. Hape loe kan masih sama anak itu"


"Haish! Kamvret. Yaudah buruan loe naik, gua mau ngejar mereka" pungkas Jovan.


Skip

__ADS_1


***


Disisi Alan


Waktu dan menit yang saat ini sedang berlangsung adalah waktu dan menit yang sama dengan Mike yang sedang mengejar Alan. Tetapi, luasnya daerah ibu kota terlebih lagi pada jalan alternatif pastilah terdapat banyak jalanan kecil yang terhubung. Sehingga akan sulit jika menemukan satu orang terlebih lagi yang sedang dalam perjalanan.


Mike menyadari itu, tetapi Mike memiliki jiwa yang pantang menyerah sehingga ia tetap mencoba menelusuri seluruh jalan sesuai yang Jovan arahkan tadi. Tetapi, untuk saat ini Mike melaju pada arah yang berbelok dari jalan yang sedang Alan lalui.


Karena, kebetulan Driver ojek online yang sedang Alan tumpangi tersebut tidak sepenuhnya paham dengan jalan kecil yang saat ini sedang mereka lintasi. Mengingat dia juga masih seorang mahasiswa yang bukan penduduk asli ibu kota, melainkan berasal dari daerah lain. Alhasil mereka hanya bolak balik berputar masih di lokasi itu dan itu saja.


Disaat mereka sedang berjalan, Driver itu banyak sekali mengajak Alan berbincang-bincang tentang perkara kejadian serempetan dengan Jovan tadi, walaupun sedikitnya Alan sudah mengatakan kepadanya supaya mempercepat laju kendaraannya, tetapi Driver itu masih saja berbicara secara terus-menerus hingga ia tidak menyadari bahwa mereka masih berjalan di seputar jalan itu saja.


"Bang, maaf. Bukankah kita sudah melewati jalan ini?" Tanya Alan.


"Ah tidak kok, santai saja bang. Jangan meragukan saya, saya sudah paham seluruh jalanan di ibu kota ini" sang Driver tersebut dengan percaya diri.


Tetapi, Alan bukanlah orang yang bodoh meskipun ia tidak tahu tentang jalan di ibukota ini. Namun yang ia lihat saat ini benar-benar tampak di depan mata bahwa ia sudah melintasi jalan tersebut sebanyak dua kali. Dan kali ini adalah hendak yang ketiga kalinya. Alhasil ia pun menjadi kesal karena ia sedang mengejar waktu tetapi malah berputar-putar tidak jelas.


"Apakah anda akan membodohi saya? Sudah sangat jelas kita sudah melalui jalan ini sebanyak dua kali. Jika anda masih merasa benar, lebih baik saya turun saja disini. Berhentilah sekarang." Ucap Alan tegas.


Alhasil, Driver itu langsung menuruti permintaan Alan, walaupun ia percaya diri dalam bertutur kata, tetapi logika tidak bisa dipungkiri bahwa memang benar yang Alan ucapkan bahwa mereka telah melintasi jalanan itu hingga nyaris tiga kali putaran.


"Ini ambillah. Terimakasih" Alan membayar ongkos jalan sekaligus uang ganti rugi Jovan, sesuai yang sudah ia ucapkan tadi bahwa ia yang akan membayarnya.


"Tap.. tapi.. maafkan saya bang" Driver itu sungguh merasa tidak enak dan merasa sangat bersalah.


"Sudahlah, ambil saja. Terimakasih" pungkas Alan langsung melangkah pergi.


Langkah demi langkah Alan berpijak, kata demi kata jua ia ucapkan didalam hati. Bahwa saat ini kehadirannya pastilah sedang di tunggu oleh keluarga.


Ia masih melangkah dì tengah sepinya lingkungan yang tengah ia lalui tersebut. Sejenak ia meraih hanphone yang berada didalam saku untuk mencoba menghubungi Mike, siapa tahu dapat menyambung, karena sebelumnya ia menghubungi Mike tidak dapat menyambung, nan sekalian hendak memesan ojek online lagi. Pikir Alan.


Namun, setelah ia melihat casing hanphone tersebut, ia langsung menyadari bahwa handphone itu bukanlah milik dia.


'Oh Tuhan, Kenapa semua ini terjadi kepadaku. Setiap hembusan napas ini, langkah ini, semua yang ada didalam hidupku ini, tidak pernah lepas dari kesulitan dan kesusahan. Pantaskah jika aku mengeluhkan tentang semua ini Tuhan.."

__ADS_1


__ADS_2