Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 28


__ADS_3

Kemudian salah satu diantara mereka ada yang hendak langsung melaporkannya kepada pak RT setempat, pada waktu itu juga.


Namun ketika mereka belum melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi dari pos ronda tersebut, salah satu diantara mereka (Pak Moza) mengambil hape dari saku celananya.


Ia langsung memfoto wajah Mike yang sedang terluka beserta memfoto Verza dan yang lainnya di pos ronda tersebut. Foto tersebut hendak ia gunakan sebagai bukti yang akan ia laporkan pada pak RT bahwa yang ia laporkan tersebut bukanlah rekayasa belaka, melainkan benar-benar nyata apa adanya.


"Aiih.. Bapak ini, main foto aja tanpa bilang dulu, kan saya belum berpose, jadi terlihat jelek dehh.." Ucap Mike.


"Haha ada-ada saja kamu Dik Alan, dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa bercanda," Jawab Pak Moza tertawa sembari menggelengkan kepala.


"Ada yang bilang supaya awet muda katanya, Pak. Jadi, harus sering bercanda ria dan lebih banyak tertawa, haha" jawab Mike, ekspresinya nampak konyol.


"Walah Halah.. Saya tidak menyangka, ternyata kamu selucu ini, Dik Alan. haha, yasudah saya akan segera berangkat ke tempat Pak RT dulu" pamit Pak Moza.


***


Ketika semua orang sedang memikirkan tentang Alan, Mike yang kini menjadi Alan malah terlihat biasa-biasa saja, ia justru asyik hendak bermain catur di pos ronda tersebut.


"Ayo.. siapa yang mau tanding melawan saya main?" Ajak Mike.


'Weleh, anak ini.. malah asyik mengajak mainan catur' gumam pak Tarman didalam batin.


"Verza, ayo kau lawan gua mainan catur ini,"


Ajak Mike kepada Verza, yang mana Verza masih terdiam nan bengong melihat ke arah Mike. Karena selama yang Verza ketahui, Alan tidak pernah mainan-mainan seperti itu dan berkata-kata dengan kalimat-kalimat konyol seperti yang baru saja Mike ucapkan.


"Hey, malah pada bengong semua sih, aaiih.. gak asik" Lanjut Mike sembari menoleh ke arah beberapa orang yang masih berada disana.


Kemudian ada bapak-bapak yang mau melawan tantangan Mike untuk bermain catur.

__ADS_1


Ketika mereka asyik bermain catur, Mike lebih banyak berbicara dengan celotehan konyol dan juga lebih banyak tertawa ketika lawan bermainnya sedikit lebih unggul darinya.


Verza melihat Mike merasa heran sekaligus senang, karena selama ini ia jarang sekali melihat Alan tersenyum seperti ini, bahkan kini Alan lebih banyak kalimat ketika sedang berbincang-bincang dengan berbagai orang yang dia lihat di pos ronda tersebut.


Namun Verza melihat perubahan drastis dari sikap Alan seperti saat ini ia merasakan senang sekaligus khawatir, karena sejatinya banyak sekali yang kagum dengan Alan, kagum akan pesona fisik maupun kepintarannya, dan yang mengagumi Alan tersebut dari berbagai banyak kalangan, baik laki-laki maupun perempuan.


Namun sifat pendiam dan dingin yang Alan miliki selama ini, membuat hanya Verza-lah satu-satunya orang yang bisa menjadi sahabat terdekat Alan. Verza merasa sedikit takut akan kehilangan Alan jika sifat dinginnya berubah menjadi periang seperti saat ini.


***


Disisi lain


Pak Moza beserta rombongan (2 orang) yang ikut serta pergi bersamanya telah sampai di kediaman pak RT.


Tok tok tok


"Permisi pak.." ucapnya sembari mengetuk pintu rumah dari luar pintu, walaupun pintu rumah tersebut sedang dalam keadaan tidak tertutup.


"Wah.. tumbenan sekali nih sepertinya ada perlu ,mari silakan masuk dulu bapak-bapak, silahkan duduk" Ucap pak RT mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk.


Dan tamu lain yang sedang berada di rumah pak RT tersebut adalah pak Toni (ayahnya Naldo). Ketika pak Moza masuk beserta kedua bapak-bapak yang lain, Pak Toni pun berdiri untuk menyambut seraya saling berjabat tangan.


"Jadi begini Pak, maksud kedatangan kami kemari, kami mau melaporkan dari laporan salah satu warga yang mengatakan bahwa ada tindakan warga kita yang menganiaya anaknya sendiri pak" Ucap pak Moza mengawali pembicaraan.


"Menganiaya? siapakah gerangan nama warga tersebut pak?" Jawab pak RT.


"Itu si Pak Ferdi, Pak. Dia menganiaya putranya sendiri yang bernama Alan, dan penganiayaan yang dia lakukan tersebut sudah cukup lama pak, kami baru mengetahui hal ini setelah ungkapan yang di ucapkan oleh Verza, putranya pak Agus yang rumahnya bersebelahan dari rumah beliau (Ferdi)" lanjut pak Moza.


"Astaga Tuhan, benarkah orang itu adalah pak Ferdi, Pak?" Sambung pak Toni merasa terkejut, karena Ferdi adalah anak buahnya sekaligus rumah yang pak Ferdi tinggali adalah miliknya.

__ADS_1


"Benar sekali, Pak. jadi pendapat kami dan laporan kami ini, untuk mengatakan kepada bapak RT yang mana Anda memiliki wewenang atas rukun warga desa kita untuk memberikan saran dan teguran atas tindakan yang pak Ferdi lakukan itu pak, karena tindakan seperti itu sudah masuk kategori tindakan hukum, Pak." lanjut pak Moza.


"Baik pak, namun tunggu sejenak, apakah bapak-bapak sekalian memiliki bukti dari laporan yang bapak-bapak sampaikan ini?" jawab pak RT.


"Tentu ada Pak, tunggu sejenak" Pak Moza mengambil hape dari saku celana.


Setelah pak Moza membuka hapenya, ia langsung menunjukkan berbagai foto luka lebam yang sengaja tadi ia memfoto wajah mike saat masih berada di pos ronda.


"Astaga Tuhan, ya ampun.." Pak RT terkejut dan merasa iba. Kemudian pak Toni pun ikut melihat ke dalam foto tersebut, karena penasaran.


"Baiklah lah Pak, terimakasih untuk laporan yang bapak berikan ini, saya mendengar ini sungguh sangat prihatin ternyata ada warga kita yang berbuat demikian tanpa kita semua ketahui selama ini" Ucap pak RT.


Karena sudah selama bertahun-tahun lamanya warga desa di Daerah tersebut selalu aman dan tentram, tidak terdengar adanya hal-hal yang seperti itu. (Penganiayaan)


"Iya pak, saran saya sebaiknya Bapak juga bertanya dahulu kepada warga di sebelah rumah pak Ferdi, karena jika memang benar yang Verza katakan adanya penganiayaan yang Pak Ferdi lakukan, pastilah akan terdengar oleh para tetangga terdekatnya, selain pak Agus" sambung salah satu orang yang berada disana bersama pak Moza.


"Itu pasti Pak, saya akan menanyakannya terlebih dahulu kepada para tetangga sebagai saksi kuat dari laporan yang bapak-bapak sampaikan ini, dan saya juga akan menanyakannya langsung kepada Alan selaku korban penganiayaan yang ayahnya lakukan tersebut" lanjut pak RT.


"Tapi Pak, masalahnya anu..?" Pak Moza hendak berkata, namun kalimatnya belum tuntas ia ucapkan. (Ragu-ragu)


Pak Toni dan pak RT langsung melihat ke arah pak Moza ketika dia ragu-ragu hendak meneruskan kalimat yang belum tuntas dia ucapkan.


"Apakah itu pak masalah yang bapak maksud? apakah ada yang ingin bapak sampaikan lagi, katakan saja pak supaya masalahnya bisa kita selesaikan secara baik-baik" ucap pak RT.


"Masalahnya Alan kini telah mengalami hilang ingatanya pak, setelah dia mengalami jatuh pada hari kemarin, dan saya melihatnya sendiri sekaligus Verza yang telah mengatakannya, karena dia (Verza) sendiri yang membawanya ke klinik, jadi tentang masalah ini dia (Mike) tidak bisa di interogasi apapun, Pak. bahkan tadi dia (Mike) bertanya kepada Verza tentang masa lalunya, dia bertanya 'apakah benar saya sering di dianiaya oleh orang tua saya sebelumnya?' lalu Verza pun membenarkan semua itu bahwa dia (Mike) dulu sering dianiaya oleh ayahnya" jawab Pak Moza.


"Astaga Tuhan, Alan.." Pak Toni sangat terkejut mendengar Alan kini kehilangan ingatannya. Karena Pak Toni sangat mengenal Alan meskipun jarang bertemu.


"Ya ampun Tuhan, sungguh kasihan sekali anak itu, yasudah saya akan segera menanyakanya langsung kepada warga sekitar sana, Pak. Oh iya, saya berpesan kepada bapak-bapak sekalian tolong jangan langsung memberitahukan ke seluruh warga desa ya pak, yang dikhawatirkan mereka akan langsung menghakimi pak Ferdi sebelum saya sendiri yang menegurnya" Ucap pak RT.

__ADS_1


"Baik pak, kami mengerti tentang itu." Jawab pak Moza berpikir bijak, ia sangat paham kepada warga yang rukun dan damai di desanya jika ada sesuatu yang melanggar hukum.


Walaupun di daerah tersebut damai dan rukun namun satu hal yang berada didalam desa tersebut jika ada masalah yang melanggar hukum para warganya lebih sering main hakim sendiri.


__ADS_2