Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 149


__ADS_3

Catatan


Pada bab ini, Author menceritakan dari berbagai sisi secara sekaligus, serta banyak tokoh yang sedang bermain.


Next


Melihat Mobil sang Ayah semakin mendekat, lekas Alan mengambil langkah cepat mengikuti jejak ngawur dari Mike yaitu lompat pagar.


Siapapun orang jika dalam keadaan terpepet pastilah bisa melakukan apapun, meskipun hal tersebut sangat mustahil bila diakukan.


Layaknya yang dilakukan oleh Alan kali ini (Melompat pagar) cukup mustahil berhasil apabila dilakukan seorang diri.


Bagaimana tidak? Sebab saat hendak melompat pagar bersama Mike pada malam kemarin pun sangatlah susah, mengingat pagar gerbang itu memang berukuran cukup tinggi. Tetapi ia mampu naik seorang diri nan berhasil melompati itu.


Braak!


"Aahh" ia meringis kesakitan saat sudah terjun kedalam halaman rumah. Lekas ia berlari menuju ke arah pintu samping yakni pintu yang menuju langsung ke arah jemuran.


Keberuntungan masih berpihak padanya, sebab kebetulan pintu samping itu masih terdapat kunci yang masing menggantung pada gemboknya. Bu Tiah lalai mencabut kunci tersebut.


Ia langsung masuk dan lari menuju kedalam kamarnya.


Crek crek crek


Greeek


"Huff .. Huff .." Napas ia masih tersengal-senggal kala sudah berhasil masuk kedalam ruang kamar nan posisinya menyandarkan kepala seraya mendongak ke atas pada pintu itu.


Tidak selang waktu lama ia menoleh ke arah jam, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 02:15 dini hari. Lanjut ia bergegas membersihkan diri.


***


Tetes demi tetes air yang mengalir dari shower membasahi rambutnya, kata demi kata jua ia gumamkan didalam batinnya. Lekas terbayang semua apa yang sudah dilakukannya, terlintas jua bayangan saudara kembarnya.


'Oh Tuhan, Mike.'


Buru-buru ia menyelesaikan misinya (mandi) lekas kembali meraih handphone di atas ranjangnya. Mencoba menghubungi Mike, tetapi nomor dia tidak bisa di hubungi samasekali.


'Dimanapun keberadaanmu, apapun kesulitanmu, bagaimanapun kondisimu, semoga Tuhan senantiasa melindungimu, kak.' Batinnya sembari menatap diri pada kaca cermin. Lekas meraih pembalut luka untuk membalut Luka gores yang masih menganga dipipinya.


Rasa lelah sangat membelenggu jiwa, lekas ia merebahkan diri pada ranjang. Bayangan demi bayangan masih terus menerjang didalam pikiran membuatnya semakin lelah lekas terpejam.


***


Disisi Mike


Posisi mereka semua dimasukkan dalam 1 ruang sel tahanan. Tidak ada pertengkaran yang berarti meskipun bersama-sama dengan para musuh, sebab dari berbagai kelompok ini banyak yang terluka.


Posisi Mike duduk pada bagian pojok didekat jeruji besi sembari menyandarkan kepala pada dinding nan memejamkan mata. Lekas Saga menghampiri, duduk di sebelahnya.


"Mike, Loe udah tidur?"


Mike tidak menjawab melalui kata, namun ia mengelengkan kepala.


"Maafin gua"

__ADS_1


Mike membuka mata, lekas menoleh ke arahnya. "Maaf untuk hal apa?" Jawabnya


"Berujung didalam ruangan ini" Jawab Saga seraya menoleh ke seluruh ruangan tersebut.


"Cih, sejak kapan loe lebay begini Men?"


"Lebay cemana?" Saga menoleh.


"Semua ini terjadi memang sudah menjadi konsekuensi dari semuanya. Jika berani bermain api, maka kita siap untuk terbakar pada suatu saat nanti. Yang penting gak sampai gosong aja si, nanti bisa ilang pula tampang keren gua ini kalo sampe gosong, haha" Cetus Mike dalam bahasa khas-nya.


"Astaga, ada-ada aja Loe, Mike" Sahut Saga tertawa. Ia terkagum atas sifat dan sikap dari Mike yang tidak pernah berubah itu, yakni dalam situasi dan kondisi apapun Mike tetap Netral.


Ya, jika Mike salah, dia memang mengakui kesalahannya, dan jika dihukum dia pasti akan terima segala hukuman. Tetapi buruk-nya, dia selalu mengulanginya lagi dan lagi, itulah Mike.


Skip


***


Disisi Alan


Pagi hari kemudian


Alan tidak bangun pagi seperti biasanya, bukan karena ia tidak disiplin lagi melainkan ia benar-benar kelelahan hingga nyaris pukul 07:00 am. Ia baru terbagun kala terdengar ketukan dari luar pintu.


Tok tok tok


"Kak Mike .. Kak Michealan .." Panggil Bu Tiah, ia telat membangunkan lantaran memiliki banyak kesibukan lain.


"Iya," Jawab Alan bergegas duduk lekas melihat ke arah jam.


Alhasil ia gerak cepat dalam berbenah diri mulai dari Mandi, menata peralatan sekolah dan lain sebagainya. Hingga tanpa disadari ia salah memakai seragam sekolah yakni memakai baju milik Mike.


Setelah usai berbenah, lanjut ia bergegas untuk segera berangkat ke sekolah.


Setelah sampai di lantai bawah, Etika tetap ia gunakan meskipun sedang sangat terburu-buru yakni duduk sejenak di meja makan walaupun hanya memakan satu lembar roti yang ia oles dengan selai kacang lekas ia makan.


"Loh, kakak Mike sarapan sendirian?" Tanya bu Tiah.


Alan hanya mengangguk sembari mengunyah roti itu. Hingga ia tidak menyadari bu Tiah salah memanggil namanya, namun semua itu bukanlah salah, melainkan Alan yang salah memakai seragam sekolah.


"Em .. Apa Ayah sudah berangkat, Bu?" Tanya Alan


"Iya kak, Tuan malah udah dari subuh tadi berangkatnya"


"Oh .. " Alan mengangguk-angguk sembari menghabiskan gigitan terakhirnya.


Setelah usai sarapan, lanjut ia berangkat ke sekolah seorang diri. Walau posisi sedang sangat tergesa-gesa yakni khawatir jika sampai telat, Tetapi ia masih tidak lepas memikirkan keberadaan saudara kembarnya tersebut.


Namun jika teringat yang diucapkan oleh Dion bahwa kemungkinan besar Mike sedang ikut mengurus jenazah teman-nya yang meninggal Dunia (Kodar) maka ia pun merasa sedikit lebih lega.


Skip


***


Disisi lain.

__ADS_1


#Disekolah


"Wei, Cuy lihatlah itu si Maria disana. Coba kita tanyain ke dia yuk" Ucap Taro (Teman sekelompok Mike di sekolah)


"Yaudah kuy, samper" Sambung Al bergegas mendekat ke Maria.


Kini mereka pun sudah sampai didekat Maria.


"Hai, pagi manis .. " Goda Al, membuat Maria malu lekas Al di timpuk langsung oleh beberapa teman-temannya.


Plak! Plak!


"Awwh"


"Kebiasaan loe nyuk! Lihat Noh, jadi malu dia-nya coeg!" Ucap Taro melirik Al seraya tersenyum ke Maria.


"Em .. Ada apa?" Tanya Maria.


"Itu .. si Ananta apa sudah sembuh? Kita-kita kemarin dengar dia lagi sakit saat beberapa hari dia gak masuk, apa itu benar?" Lanjut Ivan.


"Iya benar, tapi .. tadi subuh gue sempat ada chat sama dia, katanya hari ini dia udah bisa masuk sekolah lagi, em .. tapi saat ini dia belum sampai kayaknya," Jawab Maria seraya menoleh kesana dan kemari.


"Oh, syukurlah kalau gitu, eh tapi loe udah tau belum si Ananta udah tau kalo Mike punya kembaran yang sama-sama sekolah disini?" Sambung Taro.


"Gue gak tau juga Ananta udah tau apa belum kalo Mike punya saudara kembar, memangnya kenapa dan ada apa ya?" Lanjut Maria tampak bingung.


"Gua mau ada rencana," Lanjut Taro.


"Rencana apa?" Tanya Maria.


"Rencananya gini cuy, Selama Ananta belum melihat sendiri si Mike punya kembaran, gimana kalo kita sepakat tidak menceritakannya ke dia dan pura-pura kita gak tau seperti hari-hari biasa, gimana setuju gak?" Lanjut Taro.


"Tapi .. tujuannya apa? Toh nanti dia bakalan tau sendiri, lagian kan kalian semua satu kelas" Lanjut Maria.


"Iya, gua tau makanya gua ada rencana, beberapa dari kita nanti jaga di area parkir, saat tau Mike dan kembarannya datang, kita tarik dan bawa pergi salahsatu dari mereka. Lalu sebagian dari kita samperin si Mike dan berpolah seperti biasa saat kita semua bareng-bareng sama Ananta, dan … saat kita lagi bareng-bareng lalu kita munculkan tuh saudara kembarnya Mike ke depan Ananta. Wuiihh gak kebayang deh tuh bocah pasti bakalan heboh banget kalo melihat Mike ada dua, gimana? Pada setuju gak?" Lanjut Taro.


"Widih, kalo gitu gua setuju banget cuy, aihh gak sabar melihat hebohnya si Ananta saat nanti melihat Mike ada dua, haha"


"Jiaaaha dasar Koplak mau ngerjain si ratu heboh haha tapi gua setuju sangat cuy." sambung Al.


"Oke lah, ide bagus juga tuh, gue setuju." Pungkas Maria menyetujui rencana konyol yang dibuat oleh semua teman-teman sekelompok Mike.


Skip


***


Disisi Marvin


Marvin sedang sangat sibuk meeting bersama orang-orang penting di kantor, namun siapa sangka kesibukannya tersebut terganggu oleh beberapa panggilan masuk dari handphone-nya.


Meskipun handphone dalam mode senyap dan jua sudah berkali-kali ia matikan, tetap saja panggilan telepon tersebut akhirnya ia angkat sejenak untuk sekedar memastikan ada perlu apa. Pikir Marvin.


Sontak ia sangat terkejut saat sejenak menerima panggilan telepon tersebut yang membawa kabar berita bahwa salahsatu putranya sedang berada di kantor polisi yaitu Mike.


Namun, sungguh pekerjaan yang tidak bisa di retas oleh urusan pribadi, maka yang bisa Marvin lakukan saat ini adalah melakukan hal yang sama saat Mike masih kecil dulu yakni menyuruh orang lain untuk menjemputnya.

__ADS_1


__ADS_2