
Mereka sedikit terkejut ketika menoleh ke arah Mike, karena Posisi Mike sendiri sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam.
"Cih, dasar wanita, Suka sekali ngerumpi." Ucap Mike lirih sembari melempar buntalan kertas ke arah mereka.
Suut!
"Hehe" mereka semua langsung cengegesan.
"Hei yang disana, sudah-sudah jangan berisik." Ucap guru dari arah depan. Sontak mereka semua langsung kembali terdiam dan fokus kembali menghadap ke arah depan.
***
"Pak, sebelumnya tolong maafkanlah perlakuan saudara saya. Kejadian semua ini sungguh diluar dugaan saya sendiri. Dan.."
"Ah, sudah-sudah tidak masalah. Saya mengerti. Baiklah lebih baik sekarang silakan kamu memperkenalkan diri dulu kepada teman-teman baru mu," jawab guru seraya tersenyum.
"Baik"
Perlahan-lahan Alan kembali menghadap ke arah semua siswa-siswi seraya tersenyum tipis membuat para siswa-siswi yang sebelumnya sudah diam kembali saling berbisik-bisik dengan para teman-teman sebelahnya.
"Perkenalkan nama saya Michealan Stevanus Lawrence. Mohon bimbingan dan kerjasama-nya ya, Terimakasih" Ucap Alan.
'Astaga.. hanya kalimat seperti itu saja kah?' Batin Mike sembari menggelengkan kepala ketika mendengar dialog Alan sangat begitu singkat.
Sementara pada sisi semua siswa-siswi jua demikian. Mereka banyak yang mengharapkan Alan dapat berbicara dengan banyak kalimat, mengingat kejadian yang sudah terjadi sungguh-sungguh membuat mereka banyak yang penasaran.
Guru pun masih terdiam hingga beberapa detik ketika Alan sudah selesai berbicara, sementara Alan sendiri tengah menanti sang guru untuk mempersilakan ia kembali duduk di tempat duduknya.
"Pak.." panggil Alan.
"Eh, oh sudah selesai ya.. yasudah silakan kembali ke tempat duduk mu, di sana" Ucap guru sembari menunjuk ke arah sebelah tempat duduknya Mike.
"Baik, terimakasih"
Alan mengangguk nan tersenyum hangat kemudian ia bergegas kembali ke tempat duduk yang telah guru sebutkan itu. Ketika Alan tengah melangkah ke arah yang di maksud, semua perhatian tiada henti-hentinya tertuju padanya.
"Sstt eh bro, apakah sebenarnya dia kembarannya Mike ya?" Bisik para siswa kepada teman-teman sebelah dan belakangnya. Mengingat tidak ada kalimat apapun mengenai kronologi tentang diri Alan dalam dialog yang Alan ucapkan tadi maupun yang guru berikan.
"Gimana kita bisa tahu, dia saja sangat irit berbicara, sangat jauh berbeda dengan Mike. Tapi.. jika dia bukan saudara kembar-nya Mike sepertinya itu tidak mungkin kawan. Lihatlah paras wajah dia, terlihat benar-benar sama dengan Mike."
"Betul juga si, tapi.. bukankah Mike anak tunggal ya?"
"Iya setahuku sih.. dia anak tunggal."
__ADS_1
"Tapi, apakah mungkin ada di Dunia ini orang yang berwajah sama persis jika mereka tidak ada hubungan darah?"
"Entahlah, coba saja nanti kamu muterin seluruh perpustakaan."
"Jiah ngapain muterin perpustakaan? Kurang kerjaan amat"
"Cari buku bacaan supaya menambah wawasan, Lagian kenapa kamu penasaran banget sih sama dia, Mike kan orang yang enjoy, tinggal kita tanya langsung saja nanti ke dia." Pungkas salah satu mereka menyudahi pembicaraan mereka tentang Alan dan Mike.
"Baiklah Anak-anak, mari kita segera mulai pelajaran." Ucap Guru ketika Alan sudah duduk dengan rapi.
Ketika Alan baru saja duduk, ia langsung menoleh ke arah Mike. Sementara Mike sendiri langsung menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan karena dia malu atas perlakuan yang sengaja ia lakukan tadi.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin Alan tanyakan saat ini kepada Mike, namun ia redam sejenak keinginannya tersebut mengingat saat ini pelajaran sudah berlangsung.
***
Beberapa waktu kemudian
Teng.. teng.. teng..
Lonceng sekolah telah dibunyikan pertanda tiba saatnya untuk beristirahat. Guru sudah keluar dari dalam ruang kelas, disusul sebagian para siswa-siswi perlahan-lahan juga keluar.
Tetapi banyak dari mereka-mereka khususnya para siswa yang masih tinggal di dalam ruang kelas termasuk teman kelompok Mike. Sementara para siswi malu jika mereka ikut serta berkumpul bersama para siswa itu, walaupun rasa penasaran mereka sama saja seperti yang lainnya.
"Hey Mike, wei Mike" panggil mereka secara serentak, posisi mereka berdiri mengelilingi tempat duduk Alan dan Mike yang mana pada saat ini posisi Mike sedang melihat hape sementara Alan sedang membenahi buku hendak ia masukkan kembali ke dalam tas.
Perlahan-lahan Alan dan Mike secara bersamaan melihat ke arah mereka semua yang berkumpul mengelilingi mereka berdua.
"Hehehe, sstt Mike, itu.." Ucap salah satu diantara mereka sembari mengangkat kedua alis. (Kode menanyakan Alan)
"Oho.. baiklah gua paham maksud kalian, kalian semua bertanya-tanya tentang siapa dia bukan?" Jawab Mike sembari tersenyum.
Mereka semua saling mengangguk nan antusias untuk mendengarkan jawaban Mike.
"Baiklah, perkenalkan dia adalah orang yang paling berharga didalam hidup saya selain orang tua saya. Seperti yang bisa kalian lihat sendiri. Dia adalah saudara kembar saya, yang sangat saya sayangi." Jawab Mike menggunakan bahasa formal sembari mendekat ke Alan seraya merangkulnya.
Plek!
"Tapi Mike, bukankah loe kan.." Jawab salah satu diantara mereka hendak berkata bahwa yang mereka ketahui selama ini Mike adalah anak tunggal.
"Wait, saya tahu apa yang sedang kalian pikirkan dan saya tahu apa yang hendak kalian tanyakan. Akan tiba saatnya nanti saya pasti akan menceritakan pelan-pelan kepada kalian semua. Dan ingat satu hal ini baik-baik, siapapun yang berani menyenggol saudara saya ini.. maka akan berurusan langsung dengan saya." Jawab Mike seraya mengedipkan satu matanya ke Alan.
Cling!
__ADS_1
"Cih, lebay." Lirih Alan.
"Aissh, kamu mah susah sekali di ajak kompromi." Balas Mike berbisik ke telinga Alan. Sontak membuat Alan sedikit melotot ketika Mike berbisik di telinganya karena ia mencium aroma sesuatu dari mulut Mike.
"Asiap Pangeran. Slow Men," jawab salah satu diantara mereka atas ucapan Mike tadi.
"Eh Mike, sejak kapan loe memakai bahasa halus semacam ini, terdengar aneh tau gak, haha" ucap Taro
"Iya Mike, udah semacam orang bener saja loe," Sambung Al.
"Aissh, sue! Kalian." Jawab Mike mendengus.
"Hahaha"
Mereka semua saling tertawa ria sembari masih banyak berbincang-bincang dengan obrolan kosong seperti yang biasa Mike dan mereka lakukan. Sementara Alan sendiri merasa sedikit risih mendengar celotehan-celotehan yang tidak ada arti seperti itu. Mike masih sembari merangkul Alan ketika dia tertawa-tertawa dengan para teman-temannya.
Kemudian, Alan mendekat ke telinga Mike.
"Aku ingin berbicara denganmu, sejenak." Ucap Alan langsung berdiri sembari meraih tangan Mike.
Seet!
"Maaf, kami tinggal dulu sejenak," pamit Alan kepada seluruh teman-teman Mike sembari menggenggam tangan Mike cukup kuat seraya sedikit menariknya hendak membawanya pergi keluar kelas.
Seet!
"Oit, oit, aiyaya Lan,"
"Diam, dan patuhlah." Jawab Alan sembari masih menarik tangan Mike.
"Kita tinggal sebentar ya kawan," Teriak Mike menoleh kembali ke arah teman-temannya setelah dia sudah sampai di pintu.
Mike sedikit merasa tidak enak atas sikap dinginnya Alan terhadap semua teman-temannya, karena dari awal berbincang-bincang dengan mereka semua, Alan tidak ikut menimbrung bahkan tidak mengucapkan satu kalimatpun kepada mereka. Yang mana pada sebenarnya teman-temannya Mike pun ingin berkenalan dengan Alan.
Walaupun pada sebenarnya mereka semua sudah banyak yang berbincang-bincang dengan Alan ketika insiden Alan tertukar Posisi dengan Mike. Namun apapun perkara insiden itu, mereka semua tidak akan ada yang mengetahuinya.
Karena, baik itu Mike dan Alan sendiri tidak akan ada yang mau menceritakan kronologi kejadian kehidupan mereka kepada siapapun selain kepada keluarga inti hingga sampai anak cucu mereka nanti, seperti yang telah Mike sebutkan saat itu bersama Alan bahwa kisah kehidupan mereka akan mereka tulis dan simpan dalam buku memori 'Story Of The Lives Twins.'
Bersambung..
***
Catatan
__ADS_1
Lika-liku kehidupan saudara kembar ini masih terus berlangsung cukup panjang. Jadikan favorit supaya mendapatkan notifikasi ketika cerita ini sudah Update. Terimakasih.