
Semasih mereka melangkah bersama-sama hendak mendekat pada kursi sofa Alan dan Mike saling tatap pandang sejenak tak ayal banyak sekali kata-kata tanpa diutarakan didalam benak masing-masing atas tamu sang ayahnya tersebut.
Sesudahnya sampai tepat di bagian kursi sofa, lantas mereka saling berjabat, tersirat senyum keramahan baik Alan maupun Mike yang membuat Marvin jua tersenyum.
"Mike dan Michealan, perkenalkan tamu Ayah ini .. bernama Paulina dan dia adalah .." Semasih Marvin berkata demikian, dengan percaya dirinya Mike langsung nyeletuk.
"Kurang dari 24 jam, kita sudah saling berjumpa kembali Bu, hehe" Ucapnya seraya menoleh ke Alan sembari mengangkat kedua Alisnya. Alan pun langsung menyenggol tangan sang Kakak supaya dia menjaga etika terhadap tamu.
Sementara Marvin terkejut atas kalimat yang Mike ucapkan tersebut hingga membuatnya tersenyum heran dan penuh tanya.
Wanita tersebut jua tersenyum sebelum akhirnya ia pun berkata "Benar sekali dik, tidak saya sangka kita saling berjumpa kembali, dan tidak habis saya pikir ternyata kalian putra-nya pak Marvin, saya sangat senang bertemu kembali dengan kalian."
"Loh, loh, tunggu sebentar. Apa Kalian sudah saling bertemu sebelumnya?" Tanya Marvin menoleh ke arah kedua putranya maupun ke arah Paulina.
"Benar Pa, tidak disengaja siang tadi kami saling bertemu Pa, benar begitu, kan bu? Hehe" Celetuk Mike dalam bahasa dan ekspresi yang khas, tak Ayal membuat Paulina tersenyum malu.
Usai berbincang awal, lantas mereka saling melanjutkan perbincangan. Awal mula mereka berbincang seputar awal kenalnya Marvin dengan wanita tersebut lantas akhirnya Marvin pun menyatakan kepada kedua putranya bahwa Wanita tersebut hendak menjadi ibu pengganti mereka dalam waktu dekat.
Ya, wanita tersebut adalah seorang Dokter spesialis penyakit dalam. Dia berjumpa Marvin lantaran sering kali Marvin memeriksakan diri kepada Dokter tersebut di luar kota. Semua itu berlangsung sudah cukup lama, namun .. Awal mula Marvin masih teguh dalam pendirian tentang statusnya yang tidak ingin menikah lagi.
Namun Seiring berjalannya waktu Marvin kian terpikir akan permintaan Mike sedari masih balita dulu yakni menginginkan sosok seorang ibu, dan Juga Marvin berpikir bila adanya seorang ibu ia berharap Mike dapat berubah menjadi anak yang lebih baik.
***
Teruntuk status Paulina adalah seorang wanita yang berasal dari ibu kota namun dia bertugas lama di luar kota hingga memiliki rumah di sana. Ia masih berstatus gadis hingga usia saat ini lantaran ada suatu misteri dibalik tidak menikah sedari dulu.
Dan misteri dibalik belum menikahnya tersebut adalah salahsatu alasan tertentu dibalik kenapa dia tidak bertugas di ibu kota. Namun, misteri akan status yang dimilikinya tersebut dikunci rapat-rapat olehnya hingga Marvin samasekali tidak mengetahuinya.
Usai Marvin berbincang mengenai hal tersebut (Menikah) Tentu saja dari sisi Mike sangat menyetujuinya begitupula dengan Alan Karena sejatinya masing-masing diantara Mike maupun Alan sangat mendambakan keluarga yang utuh dan harmonis.
Perbincangan berlangsung cukup lama, hingga saat ini waktu menunjukkan pukul 21:15 Pm. Lantas sejenak Marvin menoleh ke arah Jam tangan sebelum akhirnya ia pun menyatakan "Wah, tak terasa tampaknya jam makan malam sudah terlewat, maafkan saya Lin. Em .. sebaiknya mari kita semua pergi makan malam sekarang, gimana?"
Teruntuk Paulina makmum dia hanya mengangguk menyetujuinya, namun tidak demikian dengan Mike maupun Alan lantaran keduanya sama-sama memiliki rencana lain pada malam ini yakni Alan hendak bertemu Ananta, sementara Mike hendak menemui Jessi.
__ADS_1
"Mike, Michealan?" Panggil Marvin kala keduanya sama-sama diam dan melamun.
"E .. iya Pa," Jawab Mike serentak bersama Alan.
"Kok malah pada bengong. Cepat kalian berbenah dulu, kita segera berangkat ke restoran." Perintahnya.
Lantas Mike maupun Alan mengangguk meskipun keduanya sama-sama ragu hendak menyetujuinya. Namun apalah daya, mereka sama-sama berpikir menjaga nama baik sang Ayah dan menghormati calon ibu barunya maka urusan pribadi dapat mereka kesampingkan.
"Yasudah, kami berbenah dulu Pa,"
"Iya, jangan Lama-lama ya .." Jawab Marvin.
"Iya pa, yuk Lan." Pungkas Mike seraya meraih tangan sang adik menuju kembali ke kamarnya.
Meskipun keduanya sesama bimbang, namun mereka tetap menuruti permintaan Ayah, nan sesama memiliki rencana lain, yakni usai santap malam nanti mereka hendak langsung pergi menemui masing-masing yang hendak mereka temui.
Akan tetapi kali ini mereka memakai pakaian kembar dimulai dari celana Jeans berwarna biru dongker, kaos oblong biasa berwarna silver lengkap dengan switer berwarna biru dongker, serta mereka memakai sepatu yang kembar.
Sewaktu mereka berganti pakaian sama-sama tidak saling sepakat maka mereka saling tertawa kala sama-sama berdiri menghadap ke kaca cermin.
"Cih, siapa yang plagiat. Konyol" Jawab Alan seraya merapikan rambutnya tak begitu mempedulikan celoteh sang kakak sebelum akhirnya ia keluar kamar terlebih dahulu.
Usai turun dari lantas atas, Alan melanjutkan langkahnya menuju dapur nan mengambil kue yang sudah ia persiapkan untuk Ananta. Namun kue tersebut di masukkan kedalam wadah kecil hingga mudah baginya dimasukkan kedalam jaket untuk menyembunyikan keberadaannya dari Mike maupun Marvin.
"Loh, Michealan. Mana Kakakmu?" Tanya Marvin saat melihatnya di dapur seraya melangkah mendekatnya.
Alan hendak menjawabnya, namun sebelum belah bibir terbuka lantas ada suara yang terdengar.
"Mike disini pa." Jawab Mike semasih dirinya melangkah pada anak tangga.
"Yasudah mari kita berangkat." Pungkas Marvin hendak melangkah kembali ke arah kursi sofa namun, Mike bergegas mendekat sang Ayah sebelum akhirnya mengatakan sesuatu.
"Alan dan papa berangkat saja satu mobil sama itu, Mike nyusul dibelakang pakai motor ya, pa" Ucapnya.
__ADS_1
"Apa apaan kamu Mike, tidak. Kalian berdua harus bersama-sama." Jawab Marvin mengerutkan kening.
"Tapi pa .. please." Jawab Mike bersikukuh.
"Mau keluyuran kemana lagi kamu hah? Apa susahnya kali ini kamu nurut. Cepatlah waktu sudah semakin malam. Jangan banyak tingkah kamu Mike." Cetus Marvin sebelum akhirnya ia melangkah menuju kursi sofa dan dilanjutkannya keluar bersama-sama Paulina menuju kendaraan.
Teruntuk Alan jua memiliki rencana, tetapi ekspresinya tetap tenang meskipun suasana hati bimbang.
Sementara kebimbangan yang dirasakan oleh Mike sangatlah tampak, tapi dia tetap menyusul ke dalam mobil. Lain daripada itu dia memiliki ribuan cara untuk mempermudah jalannya pergi nanti yakni menghubungi beberapa rekannya melalui chat untuk mengantarkan motor ke lokasi restoran yang hendak mereka tuju.
***
Restoran yang menjadi tujuan mereka kebetulan berlokasi tidak jauh dari area yang hendak dijadikan tempat bertemu antara Alan dan Ananta. Namun tiada sangka, tempat tujuan Alan tersebut adalah tempat yang sama yang Mike tuju untuk menemui Jessi.
Lantas masing-masing diantara keduanya merasa sedikit lega meskipun mereka sesama tidak saling mengetahui.
Semasih mereka didalam kendaraan tak pernah lepas dari perbincangan. Teruntuk Mike menjadi peran utama atas perbincangan yang menumbuhkan keceriaan mereka. Sementara Alan hanya tersenyum dan berulang kali menyenggol sang kakak apabila mendapati celotehan kakak dirasa kurang sopan saat berbincang dengan orangtua.
Teruntuk Paulina jua hanya tertawa-tawa saat salahsatu putra Marvin mengutarakan kata yang menimbulkan kekonyolan tersebut. Namun dia sudah dapat mengerti dan memahami karna sebelumnya Marvin sudah menjelaskan kepadanya bahwa 'Jangan terkejut' apabila sudah bertemu dengan salahsatu putra kembarnya yang bernama Mike Stevanus Lawrence.
Bersambung ..
***
Pesan
Maafkan Author bila terlambat Update ya, sembari menunggu Cerita ini Update silahkan baca karya Author lain yang sejenis (tetapi tidak sama) dengan 'Story Of The Lives Twins' ini, Klik saja profil Author, berikut Karya yang masih di garap.
Woman Inside Man (Slow Update)
Life Story Of the Brothers (Sejenis, On going)
Terimakasih, Salam sejahtera dan sehat selalu.
__ADS_1
100% Original Story
By: @Kapten1868