Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 92


__ADS_3

"Hahaha" Verza tertawa sangat lepas.


"Oiih, Bahagia nian kau tampaknya bro" Mike melirik Verza.


"Haha tidak-tidak, hahaha" Verza masih saja tertawa-tawa dan tidak bisa melontarkan kalimat apapun ketika melihat mereka.


"Hey Lan, kau bilang Mengharap dan mengharap terus dari tadi, nih mengharap nih. Hem." Ucap Mike semakin merangkul Alan dengan sangat erat.


Seet!


Sontak membuat Alan langsung berteriak.


"Awh, Aaaarggh aiih lepasin."


"Oit, oit, hehe maaf aku lupa" Mike langsung melepaskan kembali tangannya dari pundak Alan ketika ia menyadari bahwa ia merangkul Alan cukup keras sehingga membuatnya kesakitan karena tubuh-nya terdapat banyak luka-luka.


Verza pun langsung menggelengkan kepalanya sembari masih tertawa ketika melihat Mike sangat konyol bertingkah seperti itu. Kemudian, setelah Mike sudah melepaskan tangannya dari pundak Alan, ia langsung menyodorkan tangannya kearah Verza sembari tersenyum.


Verza pun nampak bingung ketika Mike tiba-tiba seperti itu.


"Apakah engkau sudah tau namaku?" Tanya Mike.


"Oh, Aiya ya ya, gua tau, loe adalah Alan yang kedua kan? hehe" Verza tertawa sembari menyodorkan tangannya jua untuk berjabat.


"Aiihsh, ah baiklah, Yap Yap gua Alan yang kedua hemm" Mike masih dalam posisi berjabat tangan dengan Verza seraya meliriknya.


"Haha, tidak-tidak bukan begitu. Em, baiklah perkenalkan nama saya Agustinus Verzavan, putra tunggal dari pak Agus, saya biasa dipanggil Verza." Ucap Verza dengan bahasa formal.


Sontak membuat Mike hendak tertawa ketika mendengar kalimat tersebut dan jua ketika ia melihat ekspresi wajah Verza nampak konyol, namun ia tengah menahan tawanya, kemudian ia pun langsung menjawabnya.


"Baiklah-baiklah, ehem Perkenalkan juga nama saya adalah Mike Stevanus Lawrence, putra dari bapak Marvin Muangka Lawrence, biasa dipanggil Alan yang kedua oleh putranya pak Agus yang bernama Verza." Jawab Mike yang juga menggunakan bahasa formal sembari mengangkat kedua alisnya ketika menatap Verza.


Selesai Mike mengucapkan kalimat tersebut, kemudian Verza sudah tidak bisa lagi untuk menahan tawa, begitupun dengan Mike, Alhasil mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, sue!"


Sementara Alan sendiri hanya tersenyum tipis ketika melihat sang sahabat dan sang saudara sedang bercanda ria.

__ADS_1


"Konyol." Gumam Alan.


Walaupun Mike dan Verza belum begitu lama berjumpa dan bersama, namun karena kepribadian dari masing-masing keduanya sama-sama terbuka, alhasil mereka bisa bercanda ria bak sudah saling mengenal lama.


***


Beberapa saat Kemudian, Marvin kembali datang ke arah mereka setelah ia selesai bercakap-cakap dengan kepala desa dan dengan beberapa orang yang berada disana.


Ketika Marvin menghampri mereka, Verza kembali menyapanya dengan senyum, namun senyuman yang sebelumnya ceria ketika bercanda dengan Mike, kini berubah nampak sedih, karena sudah detik-detik ia segera akan ditinggalkan pergi oleh sang sahabat dari mereka kecil.


"Pak.." sapa Verza.


Marvin pun menyambut sapaannya dengan senyum hangat. Kemudian, Marvin kembali menoleh kearah Mike dan Alan yang posisi berdirinya bersebelahan.


"Mike, Michealan, Mari kita pulang, hari sudah semakin senja." Ajak Marvin secara to the point. Mike tersenyum, begitupun dengan Alan, ia mengangguk ketika Marvin langsung berkata demikian. Kemudian, sebelum mereka beranjak pergi, Alan menoleh dahulu kearah Verza, yang mana ekspresi wajah Verza nampak sedih.


Tanpa basa-basi, Alan langsung melangkah mendekatinya dan langsung memeluk sang sahabat.


Ketika Alan tengah memeluknya, Verza langsung meneteskan air mata.


"Lan, Apakah gua bisa bertemu sama loe lagi..?" Verza sembari mengucek-ngucek kedua matanya setelah Alan sudah melepaskan pelukannya dan tengah menatapnya.


"Hey, Jawablah Lan, kenapa loe masih diem aja seperti biasanya sih.. hari ini kan beda Lan, besok gua udah gak lihat senyuman ngece dari loe lagi"


"Hemph Kamu tuh lagi ngomong apaan Ver?"


"Ih, sekarang lagi gak becanda Alan." Lanjut Verza sembari masih mengucek-ngucek matanya.


Kemudian, Alan langsung melepaskan tangan Verza yang sedang mengucek-ngucek matanya sendiri.


"Udah gede kok masih nangis.." Lanjut Alan sembari menatap mata Verza dalam posisi dekat.


"Aiissh, Alan!" Verza nampak malu dan kesal.


"Hemph, sudahlah jangan menangis ya sahabatku yang cantik.." lanjut Alan mengece seperti biasanya.


"Alan ih, masih aja ngatain gua cantik! Sue!"

__ADS_1


Gumam Verza sembari langsung menimpuk pundak Alan ketika Alan mencandainya seperti itu.


Plek!


"Aawh, ah nyeri Ver. Hehe iya maaf-maaf, kamu itu lho berkata seperti itu seakan-akan aku mau mati saja. Ver, dengarlah, Aku tetaplah akan menjadi diriku sampai selamanya. Dan kamu jua tetaplah menjadi kamu sampai kapanpun. Dan antara aku dan kamu tetaplah menjadi sahabat hingga selama-lamanya. Tentang pertanyaan darimu tadi, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu kembali, emph tetapi.. apakah tidak berlebihan ya Ver?"


"Hah? Berlebihan apanya?" Jawab Verza pikirannya menjadi terpecah ketika mendengar kalimat terakhir yang Alan ucapkan.


"Kita masih di negara yang sama Ver, hanya berbeda pulau saja" lanjut Alan sembari tersenyum.


"Oh iya ya hehe" Verza sembari tertawa namun ia memiliki banyak kata didalam hatinya.


'Tidak Lan, semua ini akan menjadi berbeda, gua sudah tidak bisa bersama-sama loe setiap harinya, kita sudah gak akan berangkat sekolah bareng-bareng lagi, makan di kantin bareng, bercanda bareng, dan gua udah gak bisa lagi melihat loe duduk dibawah pohon itu' Batin Verza.


"Ver, kenapa kamu melamun?" Tanya Alan.


"Ah, tidak Lan, gua bodoh jika gua sedih, karena sahabat gua kini telah kembali kepada keluarga aslinya, gua nangis karna gua ikut bahagia Lan. Karena selama ini gua tidak tau kalo loe bukanlah anaknya...ah sudahlah, Yasudah loe hati-hati dijalan ya, jangan pernah melupakan sahabat loe ini."


"Tentu." Alan tersenyum sembari menepuk pundak Verza.


***


Kemudian, Alan melangkah pergi meninggalkan Verza dan menuju kearah Marvin dan Mike yang sedang menunggunya tak begitu jauh dari sana.


"Ayo nak," ajak Marvin setelah Alan telah sampai, karena ia berjalannya sangatlah pelan.


Alan dan Mike saling mengangguk kemudian mereka berlahan-lahan berjalan pelan hendak menuju kearah kendaraannya berada. Posisi Alan di tuntun oleh Mike karena kaki Alan sakit setelah kejadian dihakimi oleh para warga.


"Alan!" Teriak Verza ketika mereka sudah jalan lumayan jauh dari Verza berada. Alhasil mereka semua langsung menghentikan langkahnya dan kembali menoleh kearah Verza.


Kemudian, Alan dan Mike saling melambaikan tangan secara bersamaan kearah Verza karena ketika mereka menoleh kesana, Verza sudah langsung melambaikan tangannya lebih dulu.


"Sampai jumpa kembali teman."


Alan merasa sedih, walaupun selama ia hidup didaerah tersebut penuh dengan kesedihan dan penganiayaan yang dilakukan oleh keluarga angkatnya, namun ia mendapatkan satu orang sahabat yang paling bisa mengerti akan dirinya yaitu Verza.


Sesudah mereka saling melambaikan tangan, kemudian mereka melanjutkan kembali langkahnya, namun baru beberapa langkah mereka berjalan ada suara seseorang yang memanggil Alan.

__ADS_1


"Alan.. Tunggu"


__ADS_2