Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
Michealan Stevanus Lawrence (Alan)


__ADS_3

Catatan


Bab ini Menyambung dengan bab 25.


Setelah Alan selesai melihat-lihat dirinya di kaca cermin, ia berjalan mengelilingi ke seluruh rumah tersebut. Ia tercengang dengan keindahan struktur bangunan didalam rumah tersebut karena sangat rapi dan tertata indah. Namun ia merasa heran, didalam rumah sebesar itu sangatlah jarang ada foto keluarga yang tertempel didinding maupun di lemari hias.


Hanya ada beberapa foto Mike yang terpajang bahkan ia belum melihat foto ibunya. Ia berjalan mendekati kamar Marvin, namun pintu kamarnya terkunci.


"Loh, kakak Mike disini? sedang mencari apa, Kak?" tanya Bu Tiah sembari sedang mengelap-ngelap lemari yang terpajang didekat kamar Marvin.


Alan hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab apapun, kemudian ia kembali berjalan pergi ke ruang lain.


"Lo.. malah pergi gitu aja Kakak Mike, walah.. apa karena dia masih kebingungan ya?" gumam Bu Tiah berbicara sendiri sembari masih mengelap-ngelap dan melihat kearah Alan.


Bu Tiah merasa sangat heran, karena baginya Mike yang ia kenal sedari kecil kini sangat jauh berbeda dengan Mike yang sebelumnya, karena sikap Mike kini sangat dingin dan terkesan sombong. Mike yang ia ketahui sangat ramah dan mudah senyum, namun sekarang ini ia tidak melihat itu padanya.


Alan kembali duduk di kursi sofa.


Kring.. kring.. kring..


Hape Mike berbunyi hingga beberapa kali. Namun hanya dilihat oleh Alan dan tak ia jawab panggilan telpon tersebut.


***


Siang hari kemudian


Tong.. tong..Ting.. tong..


Suara bel rumah berbunyi lalu dibukakan pintu oleh Bu Tiah.


"Bu, apakah Mike ada dirumah?" Tanya tamu tersebut bernama Ananta.


"Iya Non, ada kok di dalam mari Non silahkan masuk" ucap Bu Tiah yang sudah paham dengan cewek tersebut.


"Oh oke, terimakasih Bu" jawab Ananta tersenyum.


Kemudian Ananta bergegas masuk kedalam rumah, ia melihat Alan sedang duduk di kursi sofa sembari membaca majalah.


"Hey Mike.. kok panggilan telpon gue tadi gak di angkat-angkat sih.." sapa Ananta sembari berjalan langsung mendekat ke Alan.


Alan langsung melihat kearahnya. Sementara Ananta langsung mendekat dan duduk di sebelah Alan.


"Eh Mike, kepala loe kenapa tuh Mike, kok di perban? apakah ada terjadi sesuatu padamu?"


Alan hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Eeiit ditanya kok malah diem aja sih Mike, huh! Btw loe kenapa gak masuk sekolah lagi sih hari ini.. tadi pak guru nanyain lembaran soal yang diberikan tempo hari itu tau.. awas lho kamu bisa kena hukum lagi besok"


Lagi-lagi Alan hanya diam dan ia menatap ke wajah Ananta.


"Mike, loe kenapa sih? ngeliatin gue sampe segitunya amat, apa jangan-jangan selama ini loe naksir gue ya.. hihihi" Ucap Ananta dengan percaya diri.


Alan tersenyum tipis.


Kemudian Bu Tiah datang sembari membawa minuman jus untuk Ananta.


Bu Tiah menyadari perubahan Mike yang kini menjadi pendiam, kemudian ia mengatakan bahwa Mike kini hilang ingatan setelah kejadian kecelakaan yang menimpanya pada hari kemarin kepada Ananta selaku dia adalah wanita satu-satunya teman terbaik Mike.


"Astaga Tuhan.. ya ampun Mike." Ananta terkejut dan melotot setelah mendengar yang Bu Tiah katakan.


Sementara Alan sendiri hanya terdiam sembari masih menatap wajah Ananta.


"Mike.. jadi loe sekarang udah gak ingat lagi sama gue?" Tanya Ananta.


Alan menggeleng.


"Ya Tuhan. Okelah fix, kalau memang seperti itu berarti gue adalah satu-satunya orang yang pertama akan loe kenali, nama gue adalah Ananta, gue teman satu kelas sama loe dan gue adalah sahabat terbaik loe selain para si kunyuk rombongan loe itu" ucap Ananta mendengus.


"Rombongan kunyuk?" Jawab Alan penuh tanya.


"Iya rombongan, aiih.. nanti juga kalo loe udah masuk sekolah loe bakalan tau siapa para kunyuk rombongan loe itu" jawab Ananta kembali mendengus.


Disaat Alan sedang mengangguk Ananta hemdak memegang kepala Alan yang masih terdapat perban. Nemun Alan langsung menangkis tangannya.


Seet!


"Oit, Yaelah Mike galak benar sekarang loe, huh! okelah oke sorry gue kan cuma penasaran Mike hehe, oh iya gua datang kesini mau memberikan materi soal yang guru tadi berikan, soalnya gue paling paham sama loe, bolos sekolah sehabis libur karena loe pasti kecapean sehabis keluyuran kan?"


Alan mengambil buku yang diberikan Ananta tersebut tanpa perkataan apapun.


"Aiih.. gak dijawab, Mike ngomong kek dikit, yaelah.." Ananta melirik.


Sementara Alan tersenyum tipis melihat ekspresi wajah gadis yang tidak ia kenali tersebut.


"Yup okelah.. gue paham kok Mike, karena mungkin sekarang loe sedang merasa bingung dan tak ingat siapa gue, emmm yasudah gue balik dulu ya, soalnya ini gue baru pulang sekolah juga nih belum balik kerumah, tadi mampir kesini sekalian gue antar buku ini.. karena gue kan cewek cantik, baik hati dan tidak sombong jadi gue sempetin mengasihkan buku ini ke loe, hehe" ucap Ananta dengan sangat percaya diri.


"Humph.." Alan tersenyum tipis sembari mengangguk.


"Hihihi.. yaudah Mike gue jalan dulu, semoga loe cepat sehat dan balik ke sekolah lagi ya.." pamit Ananta.


Alan mengangguk dan langsung berdiri mengantar Ananta ke pintu keluar. Setelah Ananta sudah keluar, Alan kembali masuk ke dalam kamar sembari membawa buku yang diberikan oleh Ananta tersebut.

__ADS_1


Setelah ia sudah di kamar, ia duduk dimeja belajar dan langsung mengerjakan materi soal tersebut.


Kling..


Klung..


Kling..


Klung..


Hape Mike terus-menerus berbunyi, terdapat banyak chat grup dari teman-teman Mike yaitu Taro, Ivan ,Al, dan kenji serta terdapat banyak @ kepada Mike, namun tak dihiraukan oleh Alan. Ia tetap fokus belajar mengerjakan materi soal tersebut.


Setelah ia selesai mengerjakan materi soal tersebut, Alan masih merasakan penasaran dengan siapa dirinya dan bagaimana kesehariannya, kemudian ia melihat-lihat seluruh isi yang terdapat didalam kamar Mike. Ia membuka di salah satu laci lemari.


Kreek


Ia terkejut melihat isi didalam laci lemari tersebut karena disana terdapat banyak bungkus rokok puluhan pack tertata rapih.


'Wah, banyak sekali bungkus rokok disini? apakah ini semua milikku?' gumam Alan didalam batinnya karena ia merasa bahwa dirinya tidak pernah merokok walaupun ia tidak ingat apapun.


Kemudian ia melihat isi didalam lemari lain. Ia menemukan sebuah album foto milik Mike, ia pun langsung melihat isi didalam album tersebut. Di sana terdapat foto Mike sewaktu kecil bersama dengan Marvin.


Namun Alan merasa heran, karena lagi-lagi ia tak melihat ada foto ibunya, namun ia ingat yang dikatakan oleh Marvin ketika ia baru memasuki rumah, bahwa ibunya telah tiada saat melahirkan dirinya.


Alhasil ia hanya mengangguk-angguk. Selesai ia melihat-lihat isi didalam kamar Mike, kemudian ia beristirahat.


***


Malam hari kemudian


Marvin menepati janjinya, dia pulang tepat pukul 19:00 sudah tiba dirumahnya.


"Bi, dimana Mike? apakah dia sudah makan dan minum obat?" Tanya Marvin ketika baru memasuki rumah.


"Kakak Mike berada di kamarnya Tuan, belum tuan dia belum turun dari kamarnya, mungkin sedang tidur"


"Walah.. yasudah biar saya saja yang membangunkannya" pungkas Marvin.


Kemudian Marvin langsung menuju ke kamar Mike. Ia tidak mengetuk pintu kamar dahulu karena pintunya pun tidak terkunci.


Ia melihat Alan masih terlelap tidur, kemudian ia duduk disebelah Alan yang masih terbaring. Ia memandangi wajah Alan karena Marvin merasa rindu padanya walaupun ia hidup didalam satu atap bersamanya.


Karena selama ini ia sangat sibuk bekerja dan Mike jua jarang sekali pulang kerumah. Mike pulang kerumah hanya berganti pakaian dan menata buku sekolahnya dan lanjut ia pergi lagi. Pada keesokan harinya pasti Mike bolos sekolah dan tidak pulang kerumah lagi, itulah yang dilakukan Mike selama ini.


Ketika Alan membuka matanya, ia melihat langsung ke arah sang Ayah.

__ADS_1


"Emm.. Ayah,"


__ADS_2