Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
Alan Vs Mike Part 4


__ADS_3

Seet!


Alan langsung melepaskan tangan Mike ketika Mike menarik tangannya.


"Tunggu, lepaskanlah tanganku!" Ucap Alan sembari menunduk setelah tangan Mike ia lepaskan.


Mike langsung menghentikan langkahnya serta langsung menoleh kearahnya.


"Kenapa? Marilah ikut denganku."


"Haga Dipa?"


"Pulang kerumah." Jawab Mike.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Tidak sepantasnya aku ikut denganmu, dan ini.. maaf aku belum sempat mengatakan ini kepadamu."


"Aaah, sudahlah tidak masalah, aku sudah tau kok, apa yang hendak kamu ucapkan, maka ayolah"


"Tat.. tapi anu Mike"


"Tidak ada tapi-tapian. Come on!" jawab Mike bersikukuh. Kemudian ia langsung memberhentikan mobil taksi yang melintas didepannya sembari masih memegang tangan Alan untuk segera menaiki mobil tersebut hendak pulang menuju ke kediamannya.


Mike merasakan senang ketika melihat Alan, dan bersikukuh untuk segera membawa Alan pulang, hendak mempertanyakan kepada sang ayah tentang keluarganya. Apakah ia memiliki saudara kembar atau tidak sehingga ia menemukan seseorang yang memiliki wajah sama persis dengan dirinya.


Walaupun selama ini ia samasekali tidak pernah diberitahukan oleh Marvin tentang ia memiliki saudara atau tidak, karena ia jua tidak pernah menanyakannya.


***


Ketika didalam perjalanan, Mike seringkali menengok kearah Alan, ketika ia menengok kearahnya Alan menengok jua kearah dia kemudian ia langsung berpaling. Dan terulang- ulang hingga beberapa kali membuat Alan tersenyum.


"Kenapa?"


"Oh Tidak, tidak papa hehe." Mike cengegesan.


Ia merasa sangat senang dan ia sudah tidak sabar ingin segera menanyakannya kepada sang ayah kelak jika sudah sampai dirumah.


Kemudian Alan menoleh kearah kaca jendela ketika Mike sudah tidak lagi menengok kearahnya. Ia melamun, dan memiliki sejuta rasa yang bercampur aduk menjadi satu didalam hatinya.


Dan jua, Mike sendiri samasekali tidak mengatakan bahwa dalam beberapa hari ini ia juga menjalani seperti yang kini sedang dialami oleh Alan. yaitu, ia menjadi dirinya didalam kehidupannya. Maka dari itu, Alan tidak mengetahui bahwa Mike telah menjadi dirinya juga.


***


Karena sudah lewat tengah malam, jalanan kian sepi dari pengendara yang melintas, alhasil hanya dalam hitungan menit mereka telah sampai di kediamannya.


Mike langsung turun, disusul Alan jua turun dari dalam kendaraan tersebut. Mike langsung memegang tangan Alan untuk membawanya masuk kedalam, karena ia melihat ekspresi wajah Alan nampak ragu-ragu.


"Ayolah.."


Mike langsung melangkah menuju gerbang depan rumah, ia langsung mengambil sesuatu dari balik tempat yang tersembunyi yaitu sebuah kunci gerbang depan yang memang ia taruh didalam tempat persembunyian tersebut.


Karena, sudah menjadi kebiasaan dia selalu keluyuran dan keluar masuk pada sembarang jam. dan jua jika ia memencet bel rumah pada tengah malam begini pastilah percumah, karena para pembantu jua pastilah sudah beristirahat. dan jua karena ia tidak ingin membuat para pekerja dirumahnya menjadi susah.

__ADS_1


Setelah pintu gerbang berhasil ia buka, ia menarik kembali tangan Alan hendak menuju pintu rumah. Karena lagi-lagi Alan nampak ragu-ragu. Ketika sudah sampai tepat didepan pintu rumah ia baru tersadar bahwa ia tidak membawa kunci serep karena ia baru saja kembali dari daerah tempat tinggal Alan.


"Aiisssh!"


Kemudian Mike menengok kearah Alan.


Alan: ?


"Tidak, tidak ada apa-apa hehe" Mike meyakinkan Alan sembari cengegesan.


Kemudian, karena mengharuskan ia memencet bel rumah karena ia tidak memiliki kunci serep, alhasil ia melakukannya untuk segera memencet bel rumah tersebut.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


Ia memencet bel rumah hingga beberapa kali.


Crek klek


Suara kunci dari dalam rumah sedang dibukakan oleh Bu Tiah.


"Loh, kakak Mike baru pulang, tumben sekali memencet bel rumah?" Ucap Bu Tiah ketika pintu rumah telah dia buka.


"Hehe, maaf kalau mengganggu ibu sedang istirahat, anu kunci serep ketinggalan Bu." Jawab Mike sembari tersenyum.


"Uwalah halah.. Yasudah, mari kak masuk sudah lewat tengah malam juga ini" lanjut Bu Tiah.


"Okelah, yuk Lan," Ajak Mike kepada Alan yang posisinya berdiri disebelahnya namun tidak terlihat oleh bu Tiah, karena Bu Tiah tidak keluar dari dalam rumah ketika ia membukakan pintu rumah tersebut.


Alan mengangguk dan tangan ia kembali ditarik oleh Mike. Ketika Mike Manarik Alan masuk kedalam sontak membuat Bu Tiah merasa sangat terkejut.


Mendengar yang Bu Tiah ucapkan, Mike menoleh dan tersenyum kearahnya.


"Ini beneran kakak Mike? ataukah ibu sedang bermimpi sih, kok kakak Mike ada dua?" Ulang Bu Tiah sembari menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri.


Plek plek plek


Melihat hal tersebut sontak membuat Alan dan Mike tersenyum secara bersamaan, karena ekspresi wajah Bu Tiah Nampak terlihat sangat lucu.


"Hehe, iya Bu, yasudah kami masuk kedalam kamar dulu ya, sudah sangat ngantuk nih, huaaam." Mike sembari menguap-nguap dan langsung bergegas hendak menaiki anak tangga.


Sementara Bu Tiah masih terbengong melihat kearah Mike dan Alan karena wajah dan tubuh mereka nampak terlihat sama persis bagaikan buah pinang dibelah dua. Dan yang membuat ia heran karena yang ia ketahui selama ini sedari Mike masih balita, Mike tidak memiliki saudara kandung terlebih lagi saudara kembar.


Namun Bu Tiah juga tidak mengetahui karena ia mengasuh Mike saat setelah Alan sudah hilang dan ibunya telah meninggal dunia. Alhasil iapun tidak mengetahui samasekali tentang hal ini.


Ketika Mike dan Alan belum sampai sepenuhnya di lantai atas, Mike berhenti sejenak dan menengok kembali kearah Bu Tiah.


"Oiya Bu, apakah papa sudah pulang?" Tanya Mike.


Namun Bu Tiah tidak langsung menjawabnya karena ia masih didalam lamunan alias terbengong.


"Bu, hey Bu Tiah, Bu, Bu Tiah.."


"Eh iya kak, ada apa?" Jawabnya ketika tersadar dari lamunannya setelah dipanggil oleh Mike hingga beberapa kali.


"Apakah papa ada dirumah? Apakah beliau sudah pulang?" Lanjut Mike mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Be..belum kak, tuan sedang berada diluar Negri, loh tapikan? bukannya tuan sudah berpamitan langsung sama kakak tadi siang ya?" Tanya kembali Bu Tiah merasa heran.


"Oh.. Ah anu, sudahlah kalau memang begitu, yasudah ibu kembali beristirahat ya.. Dan jangan lupa nanti pagi seperti biasa siapkan ayam goreng ya dan lauk lainnya juga" Pinta Mike.


"Ba..baiklah kak." jawab Bu Tiah singkat sembari garuk-garuk kepala.


***


Kemudian ia menyusul Alan yang sudah berjalan masuk kedalam kamarnya. Setelah ia melangkah memasuki ruang kamarnya, ia terkagum-kagum setelah melihat isi didalam kamarnya.


"Uwaaahhh.. apakah ini benaran kamarku?"


Ia melangkah pelan sembari menoleh ke seluruh ruang kamarnya karena sebelumnya tidak pernah rapih seperti itu. Dan jua semerbak harum tercium dari saat ia memasuki ruang kamar tersebut.


Alan tersenyum ketika melihat tingkah Mike nampak sangat terkagum-kagum, sembari ia sedang berganti pakaian karena pakaian yang sedang ia pakai masih basah nan lembab.


"Hey, apakah kamu yang melakukan semua ini? emmm.. sungguh harum sekali."


Alan menengoknya sembari tersenyum.


"Hu um.. Sudahlah, cepat ganti pakaianmu, maaf tadi aku segaja mengganti pakaianmu dengan pakaian itu." Ucap Alan yang kini menjadi banyak berbicara.


"Emm, tidak masalah. Cukup nyaman kok." jawab Mike langsung merebahkan badannya di atas kasur.


"Aaaahhhh! Nyaman nian rasanya ini uhh!" Ucapnya sembari merenggangkan badan.


"Hey, Gantilah dulu pakaianmu, aku tidak tahu pakaian milik siapa itu yang ku pakaikan padamu, dan jua bersih atau tidak akupun tidak tau, cepatlah bergegas dan beristirahatlah. Kamu masih belum sepenuhnya sehat." Ucap Alan.


Kemudian Mike menengok kearahnya dalam posisi ia masih rebahan dikasur, kemudian ia tersenyum. Ia merasa seperti mendapatkan perhatian layaknya memiliki seorang saudara yang ia idam-idamkan selama ini.


"Ahhsiyyap boss." Jawab Mike.


Kemudian ia bergegas untuk segera berganti pakaian. Sementara Alan sudah selesai berganti pakaian kemudian ia berjalan kearah jendela dan berdiri menyendiri menghadap kearah jendela tersebut, dan sesekali menengok kearah Mike.


'Kenapa dia terlihat begitu santai, sementara ada orang lain yang memiliki wajah yang sama dengannya dan telah hidup menjadi dirinya? Oh Tuhan, kenapa dia samasekali tidak menanyakan tentang kenapa aku berada disini? Siapa sebenarnya dia. Bukan, tetapi siapakah sebenarnya aku?'


***


Setelah Mike selesai berganti pakaian, ia melihat Alan berdiri menyendiri sembari melihat kearah jendela kaca, iapun langsung melangkah menghampirinya.


Plek!


Ia langsung merangkul pundaknya sembari tersenyum.


"Hey, kenapa kamu melamun, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Mike.


Alan langsung melepaskan tangan Mike yang sedang berada dipundaknya kemudian ia melihat kearahnya.


"Kenapa?" Alan langsung to the point.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kamu tidak bertanya samasekali?"


"Apa maksudnya bertanya, bertanya apa?" Mike pura-pura bodoh walau ia sendiri sudah mengerti apa maksud pertanyaan Alan.

__ADS_1


"Dengarkanlah Mike, aku akan mengatakan yang belum kukatakan hingga sekarang."


__ADS_2