
"Putar Balik kesana, sebentar." Pinta Alan menunjuk ke arah yang di maksud yaitu sebuah toko bunga.
"Oho, oke-oke.." Jovan kembali ke arah yang Alan Maksud tersebut.
Sesampainya disana, Alan melihat-lihat sejenak berbagai macam jenis bunga ditemani Jovan.
"Bunga yang ini bagus bang, sangat cocok jika diberikan kepada kekasih atau teman wanita" sang penjual bunga merekomendasikan salahsatu bunga hias jenis mawar merah.
"Tidak, saya ingin mencari bunga dari bunga asli" Jawab Alan masih fokus melihat-lihat.
Sang penjual itu menjalankan tugas sebagaimana mestinya menghadapi pelanggan, maka ia pun banyak menawarkan berbagai jenis bunga lain, lengkap dengan maksud dari berbagai bunga tersebut.
"Ini bang, Bunga yang ini memiliki arti yang sangat mendalam yaitu 'Aku tidak akan pernah melupakanmu' " Ucap penjual bunga itu sembari meraih bunga tersebut.
Yakni bunga Anyelir atau bisa disebut jua dengan bunga carnation berwarna merah dan putih memiliki kelopak cantik yang bergelombang. Kadang, orang menyebutnya sebagai bunga kertas karena teksturnya halus dan kelihatan seperti potongan kertas.
Sebelumnya Alan sempat tidak melirik bunga itu lantaran bunga tersebut mirip bunga hias biasa, sebab yang ia cari adalah bunga asli.
"Baiklah, saya ambil yang ini." Alan menerimanya, Walau ia sendiri tidak tahu-menahu, sebab yang ia inginkan hanyalah mencari bunga saja.
Entah bunga apapun itu. Yang penting bukan bunga jenis lily atau bunga bakung yakni bunga simbol duka cita. Pikir Alan, meskipun ia sendiri tidak mengetahui sedikitpun tentang bunga.
Jovan seringkali menahan tawa melihat ekspresi Alan saat masih memilah-memilih bunga-bunga tersebut. Sebab Alan terlihat sangat polos.
Sebenarnya ia sedikit lebih tau tentang hal itu, namun ia sengaja diam untuk mengetahui sejauh mana polos-nya seorang Alan dalam hal ini. Pikir Jovan. Dan faktanya memang benar, Alan benar-benar polos.
Usai mendapatkan bunga tersebut, mereka melanjutkan kembali perjalanan.
***
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit.
"Terimakasih Jov," Ucap Alan seraya mengembalikan helm usai ia pakai.
"Santai bro, eh nanti loe pulang gimana? Mau gua jemput gak? Tapi loe bayar ya.. hehe" tawaran Jovan seraya meledek.
"Ah, terimakasih Jov, nanti aku pulang sendiri saja. Verza juga masih di rumah kamu 'kan?"
"Iya juga si, hehe yaudah gua balik deh." Pamit Jovan seraya menghidupkan kembali mesin kendaraan.
Brumm.. brumm..
"Hati-hati, Jov." Alan melambaikan tangan.
"Sip," Sahut Jovan melaju kencang.
Ngoweeerrr.. wusssh.
Membuat Alan menggelengkan kepala melihat tingkah Jovan benar-benar nyeleneh.
Setelah Jovan pergi, Alan melanjutkan langkahnya menuju ke dalam. Meskipun ia baru sampai ke tujuan Awal, namun ia masih seringkali melihat jam, yakni mengukur waktu.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 15:15 pm. Sesampainya Alan diruang rawat Ananta, disambut langsung oleh Andreas (Ayah-nya Ananta)
Setelah usai berbincang, Andreas berpamit hendak pergi sejenak lantaran ada suatu perlu. Alan menyanggupi untuk menemani Ananta kala Andreas belum kembali.
Tersirat senyum lebar pesona manis dari bibir Ananta kala melihat Alan hadir di sana. Tampak rasa bahagia menanti yang tengah di nanti-nanti kini baru hadir menghampiri.
"Semoga Tuhan selalu memberkati kesembuhan untukmu, Ananta. Maafkan aku, datang terlambat." Lirih Alan sembari meletakan bunga di pangkuannya.
"Um" Balas Ananta seraya menghirup semerbak harum dari bunga tersebut. Sejenak Ia hembuskan lagi lekas menghirupnya lagi dan lagi, sebab baru satu kali ini ia di beri bunga oleh seseorang yang sangat ia nanti-nantikan pemberiannya walau hanya setangkai bunga.
Namun siapa sangka orang yang ia inginkan bukanlah sejatinya orang yang memberikan bunga tersebut, yakni adiknya.
Tidak banyak perbincangan langsung saat Alan mulai duduk disana, hingga beberapa menit.
"Matahari sudah tidak begitu terik, bagaimana jika kita pergi ke area taman untuk menghirup udara segar?" Ajak Alan mengawali percakapan, Ke taman rumah sakit.
"Hum, aku juga sudah sangat bosan dengan ruangan ini Mike," Ananta menerimanya cenderung antusias.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sejenak" Alan mengambilkan kursi roda, lekas membantu Ananta untuk duduk di kursi itu.
***
"Mike," Panggil Ananta kala Alan masih melangkah pelan nan mendorong kursi roda tersebut, di area taman.
"Iya" sahut Alan singkat.
"Bisa berhentikan aku di sana? Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan ke kamu." Ananta menunjuk ke suatu arah yang dia maksud.
"Baiklah" Alan menuritinya lekas menuju ke sana.
Sesampainya pada tempat yang dimaksud, tersirat senyum lebar penuh gembira dari Ananta, yakni ia langsung beranjak berdiri.
"Taraa.. Mike, lihatlah aku sudah sembuh, Mike." Ucapnya lekas melangkah nan memeluk Alan.
Seet!
Sontak degup jantung Alan dag dig dug tidak karuan kala tiba-tiba Ananta melakukan itu, hingga lisan pun tidak mampu untuk berkata-kata bahkan tangan jua tidak mampu bergerak bak patung yang tidak memiliki nyawa.
Merasa tidak ada respon yang signifikan dari Alan, maka Ananta langsung melepaskannya lagi tampak kecewa, sebab tidak sesuai harapan yang ia inginkan kala ia melakukan itu.
Ya, Ananta berharap Mike dapat merespon baik seperti respon biasa dalam bercanda, apalagi saat mengetahui dirinya sudah sembuh seperti saat ini, yang mana biasanya Mike pasti sudah heboh meluncurkan banyak kalimat kata serta candaan yang nyaris membuatnya tawa terpingkal-pingkal.
Namun kini sebaliknya, dia malah diam seribu bahasa. Pikir Ananta.
Sebab itu terjadi bukan tanpa alasan, melainkan Ananta tidak mengetahui bahwa yang berada dihadapannya saat ini adalah Alan, bukanlah Mike, maka wajar jika respon yang ia harapkan tidaklah ia dapatkan.
Perlahan-lahan Ananta mundur satu langkah.
"Setelah kamu mengetahui semuanya, aku ini memang sangat bodoh jika masih mengharapkan suatu yang tidak semestinya aku harapkan darimu Mike, kamu pasti jijik didekatku bukan? Aku sadar diri Mike. Aku.. aku.." Lirih Ananta tampak berkaca-kaca.
Sontak Alan melotot, sebab semua itu berbalik dari yang ia pikirkan.
"Hentikan Ananta, jangan kamu ulangi kalimat seperti itu, aku tidak pernah berpikir seperti yang kamu pikirkan" Alan kebingungan memilih kalimat kata.
"Mike, dengar dan ingatlah, kita saling mengenal satu sama lain sudah sejak lama, bahkan nyaris setiap hari kita berjumpa, baik disekolah, pulang sekolah, maupun saat hari-hari kita berkumpul bersama teman-teman kita. Aku sangat mengenalimu Mike, tetapi.. musibah apa ini yang terjadi di hidupku, aku kehilangan suatu yang paling berharga didalam diriku, dan juga kehilangan kamu"
"Kini Aku tidak bisa mengenali kamu Mike, sesungguhnya ada apa denganmu Mike! Who are You Mike! Kenapa kamu tidak seperti yang Mike aku kenali dulu hah!" Ucap Ananta lantang mengulang-ulang kalimat yang sama.
Sebab ia terbelenggu dalam rasa bingung akibat perbedaan sifat dan karakter dari pemuda yang berada dihadapannya tersebut.
Namun Alan jua sangat bingung, yakni harus atau tidakkah ia mulai berkata-kata untuk mengatakan kebenaran tentang siapa dirinya bahwa ia bukanlah kakaknya, alhasil yang ia pikirkan utama untuk saat ini adalah membuat Ananta kembali merasa tenang.
Tanpa banyak pikir panjang, ia langsung meraih tangan Ananta lekas ia mendekap lembut tubuh Ananta.
Seet!
Tidak peduli posisi mereka saat ini sedang dimana yang terpenting baginya si dia bisa dapat kembali ceria. Pikir Alan.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Ananta, ku nyatakan sekali maka akan selalu seperti itu" Ucapnya mengingatkan tentang kalimat yang pernah ia katakan sekali pada malam itu (lihat bab 47 & 48)
"Hiks hiks hiks" Ananta menangis, saat teringat akan kalimat tersebut.
Bahkan pertanyaan yang masih membelenggu didalam pikirannya tentang perbedaan sifat dari pemuda tersebut bagai musnah di telan bumi. Sebab dari pelukan tulus yang Alan berikan mengingatkannya lagi pada malam itu.
'Oh Tuhan, siapakah dia sebenarnya, jika memang dia Mike yang aku kenali, maka buatlah sikap dia selalu lembut seperti ini." Batin Ananta kala masih di pelukan Alan.
Ya, Ananta sangat merasakan perbedaan itu. Namun logika belum menjelaskan secara pasti bahwa yang sedang dihadapannya tersebut bukanlah Mike, maka ia hanya mengira Alan tetap Mike dalam karakter yang berbeda.
Sementara Alan sendiri sudah mengerti jika semakin ia menunda mengatakan kebenaran tentang siapa dirinya maka konsekuensi siap ia terima yakni dibenci oleh Ananta pada suatu hari nanti.
Namun dari sekian banyak-nya kejadian diantara mereka, semuanya adalah murni dari jalan-Nya. Yakni akibat tertukar posisi.
Maka kini Alan hanya berpikir tentang konsekuensi namun tidak membuatnya terjerumus dalam kesalahan lebih dalam lagi. Ia tetap akan mengatakan kebenaran itu, namun nanti pada saat yang tepat.
***
Setelah Ananta sudah lebih tenang, ia pun kembali melepaskan pelukan lekas menyapu air mata Ananta.
__ADS_1
"Jangan menangis Ananta, dan ketahulilah bahwa air mata kita ini sangatlah mulia, sebab air mata terhubung dengan hati dan pikiran kita untuk mengespresikan bagaimana suasana hati kita, namun lebih mulia lagi jika air mata itu menetes saat hati kita sedang bahagia, jadi.. menangislah nanti saat bahagia saja ya.." Ledek Alan mencandainya.
Sontak Ananta langsung menyingkir.
"Cih apaan sih kamu Mike, itu rumus dari mana kata-kata mutiara itu?" Tanya Ananta sedikit bersuara manja.
"Dari dalam sini, lihatlah" jawab Alan seraya memegang dada dia sendiri.
"Cih, lebay!" Ananta mendengus sembari berpaling wajah.
"Hei, lihatlah ini Ananta dari dalamku sini nih, hei.. lihatlah" Goda Alan seraya meraih pundak Ananta.
Namun Ananta menyingkirkannya lagi dan lagi.
Seet!
Seet!
"Aku bilang, ogah" Jawab Ananta mendengus manja masih di posisi yang sama.
"Hm.. ceritanya ada yang ngambek nih.. nanti semakin pendek loh.." Goda Alan lagi.
"Apaan si ngatain aku pendek, so.. Biarin, biar high hills di mall pada laku!" Jawab Ananta.
Sontak membuat Alan tertawa melihat kelucuan Ananta kala berekspresi seperti itu. Namun setidaknya ia berhasil membuatnya kembali ceria.
Akhirnya mereka melanjutkan perbincangan kosong di taman itu sembari duduk berdua di salahsatu kursi yang tersedia disana.
"Mike, ada kabar gembira lagi loh.." ucap Ananta.
"Hm.. Kabar apa itu?" Tanya Alan sembari senyum.
"Kemungkinan besar, hari besok aku sudah bisa kembali ke sekolah Mike, yeeah" Ucap Ananta penuh bahagia.
Namun tidak demikian dengan Alan, mendengar kalimat tersebut serasa hatinya bagai di sambar petir.
Duuaaarrr!
Bukan karena ia tidak bahagia, tetapi ia belum terpikir akan jawaban nanti kala Ananta melihat dirinya bersama dengan Mike, apalagi mereka semua didalam satu kelas yang sama.
"Em.. Mike, hei Mike!" Seru Ananta kala Alan masih terdiam.
"E, Iya.." Jawab Alan singkat terkejut penuh misteri.
"Kok kamu malah diem aja si, dan.. ada apa denganmu? Kenapa ekspresimu begitu?"
"Ah, tidak apa-apa, syukurlah jika kamu sudah bisa kembali sekolah, tapi.. apa kamu yakin dengan kondisimu?" Tanya balik Alan.
"Tentu saja Mike, sebab semua karena dirimu aku kuat" Jawab Ananta menatapnya.
'Tetapi.. jika kamu sudah mengetahui tentangku, apakah kamu masih akan mengucapkan kalimat seperti itu, Ananta?' Batin Alan.
Alan tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum khas seraya mengusap lembut rambut Ananta.
***
Beberapa waktu telah berlalu, kini hari sudah semakin senja yakni pukul 17:30 pm.
Mereka menghabiskan waktu berbincang-bincang cukup lama, namun terasa sangat singkat bagi mereka khususnya bagi Ananta.
Sebab Ananta sangat bahagia atas kehadiran Alan menepati janji yang telah dibuatnya. Namun rasa bahagia itu bukan hanya dari janji yang ditepati saja melainkan sikap dan canda yang Alan berikan sungguh berbeda dari saat dia bersama Mike, yakni Alan jauh lebih lembut dalam bertutur kata khas pujangga yang diinginkan oleh banyaknya wanita.
Setelah Andreas kembali, lekas Alan berpamit pulang. Sebab ia jua terpikir hal lain yakni ia enggan jika membuat sang kakak khawatir.
Namun Alan sedikit heran, nyaris satu hari penuh ia pergi, tidak ada satupun panggilan maupun pesan dari sang kakak. Yang mana biasanya Mike sudah sibuk mencarinya.
Mike jika mengetahui Alan tidak berada dirumah pastilah sangat khawatir. Wajar saja, mereka berdua kini memiliki banyak musuh di luaran sana yang berkeliaran mengintai mereka berdua.
Bersambung..
__ADS_1
Catatan
Author Lupa mau mencatat apa, yaudah jangan lupa like aja deh ya.. 😆