Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 111


__ADS_3

"Apa yang hendak kamu bicarakan, Lan? Dan.. kamu mau membawaku kemana?" Tanya Mike ketika Alan masih menarik tangannya.


"Diam dan patuhlah." Jawab Alan singkat.


"Aiyaya baiklah tuan Muda, tapi.. atah, atah, tanganku jangan di cengkram begini, auh sakit Lan."


"Bukankah kamu pernah mengatakan sendiri bahwa tubuhmu tidak selemah itu? maka diam dan patuhlah." Jawab Alan.


"Aiyaya, hehe"


'Alamak, kenapa kamu jadi terlihat menakutkan begini sih,' Batin Mike.


Ketika mereka berdua tengah berjalan menuju tempat sesuai yang hendak Alan tuju, banyak para siswa-siswi melihat mereka berdua, karena yang berbeda kelas dari mereka pastilah belum ada yang mengetahuinya. Mereka banyak yang bengong dan beberapa diantaranya saling berbisik-bisik.


"Eh, eh, guys lihatlah itu di sana, bukankah itu Mike ya?" Ucap salah satu diantara mereka yang dominan ke siswi-siswi.


"Eh iya itu Mike, tapi.. loh kok dia ada dua? ini.. gue yang salah pakek kaca mata apa gimana sih?"


"Tidak guys, itu Mike benar-benar ada dua. Astaga apakah dia punya saudara kembar?"


"Duh menggemaskan sekali cowok ganteng seperti Mike ada dua, adudududu Mike.. aku tuh sangat mengidolakanmu dari dulu tau Mike, aaah"


"Sama guys, gue juga mengidolakan dia banget dari dulu, selama ini dia ramah si ramah tapi.. dia cuek bebek banget sama kita-kita, huh! sebel."


"Eh ladies yang sama-sama mengidolakan Mike dari dulu, untuk menghilangkan rasa penasaran kita dengan siapakah gerangan pujangga memiliki paras yang sama dengan idola kita-kita itu, cuss kita samperin mereka. Now"


"Yosh, Lets go, tidak ada rotan maka daun pepaya pun jadi."


"Jiah.. daun pepaya?"


"Astaga, melesetnya jauh amat pribahasa loe"


"Haha bodo amat' cus kita samper."


Mereka semua langsung bergegas mendatangi Alan dan Mike yang sedang berjalan. Mereka berombongan memotong arah sehingga posisi mereka sampai tepat didepan Mike dan Alan. Sontak membuat Mike dan Alan langsung menghentikan langkahnya ketika para siswi yang berjumlah lima itu orang tiba-tiba berdiri didepan mereka.


"Hehe, hai Mike.." sapa mereka sembari melambaikan tangan khas wanita centil, namun mereka tidak ada yang mengetahui yang manakah yang bernama Mike antara Alan dan Mike yang saat ini mereka lihat. Maka tidak heran mereka pun memandang ke arah keduanya.


"Ada apa kalian tiba-tiba menghalangi jalan kita?" Tanya Mike.

__ADS_1


'Buset, si Mike mah cuek bebeknya gak ketulungan dari dulu,' batin salah satu diantara mereka.


"Tidak ada apa-apa Mike, itu.. hehe itu kok anu.. " Jawab salah satu diantara mereka hendak menanyakan siapakah Alan sembari saling cengegesan karena merasa sungkan.


Akan tetapi melihat Mike menjawab dengan kalimat tersebut mereka sudah paham bahwa itu lah yang bernama Mike.


"Oh, dia ini.. seperti yang bisa kalian lihat sendiri, dia adalah saudara kembarku." Jawab Mike sembari tersenyum ke arah Alan.


Alan jua langsung tersenyum hangat sembari sedikit melambaikan tangan, yaitu tanda sapa ke arah para siswi-siswi yang berdiri didepannya tersebut.


"Hai,"


Sontak membuat mereka semua kegirangan melihat senyuman Alan yang khas terlihat sungguh mempesona itu.


"Hai juga.." sapa mereka secara serentak.


"Anu, nama kamu siapa?" tanya langsung diantara mereka.


"Nama Saya Michelan," Jawab Alan singkat.


"Iya, dia adalah Michealan dan aku Mike, bagaimana menurut kalian apakah kita berdua sudah terlihat seperti Jo twins si Oppa korea?" Sambung Mike sembari merangkul Alan nan mengedipkan mata ke arah para siswi-siswi tersebut.


"Aaah hu um banget, banget Mike"


"Emm.. Mike, apakah kita boleh minta Foto kalian berdua?"


"Iya Mike gue setuju, boleh ya, boleh ya, foto bareng sama Kita-kita juga ya, pliss"


"Yup. Tentu saja," Jawab Mike penuh percaya diri. Sembari melirik Alan nan mendekat ke telinga Alan seraya berbisik


"Ingat Lan, berpose lah seperti yang sudah aku ajarkan kemarin. Jangan kaku," Ucap Mike.


Akan tetapi, Alan sendiri malah langsung melotot ketika Mike berbisik di telinganya karena ia ingat akan tujuan utamanya tadi membawa Mike keluar kelas. Lagipula Alan sendiri adalah tipikal orang yang susah jika di ajak berfoto. Kemudian Alan langsung kembali meraih tangan Mike ketika para siswa-siswi sudah mengeluarkan handphone dari saku mereka hendak memfoto mereka berdua.


"Maaf, kami sedang ada urusan sejenak, lain waktu saja ya?" Pamit Alan langsung menarik tangan Mike hengkang dari sana.


"Loh, loh, mau kemana kamu Mike, hei Mike, yah.. gagal deh mendapatkan foto mereka, Huh!" Sesal mereka semua ketika gagal memperoleh foto Mike dan Alan.


***

__ADS_1


Alan menarik tangan Mike cukup kuat sehingga Mike hampir terjatuh.


"Oit, oit aiyaya Alan, buset dah hampir saja aku jatuh, Kamu mau membawa ku kemana sih, dan apa yang hendak kamu bicarakan?" Mike tiada henti-hentinya bertanya.


"Tunggu saja. Diamlah"


"Ebuset, galak amat." Gumam Mike.


Alan membawa Mike ke arah Toilet, setibanya mereka di ruang toilet Alan menarik tangan Mike masuk ke dalam ruang toilet tersebut cukup kuat sehingga Mike nyaris terpeleset dan terjatuh.


Seet!


"Oit, oit, Astaga. Hampir saja aku nyungseb Lan, duh bisa benjol nanti kepala ku ini, hehe. Untung saja badan ku ini kuat dan stabil." Mike malah cengegesan walaupun dia hampir terjatuh.


Alan tidak menjawab apapun, melainkan langsung mendekatkan diri ke area leher Mike sembari sedikit mengendusnya untuk memastikan aroma yang tercium dari tadi.


"Coba kamu berbicara lagi." Ucap Alan ketika ia masih di posisi itu.


"Bicara apaan? Apa yang sedang kamu lakukan, Lan?" jawab Mike, sontak membuat Alan langsung menghindar darinya seraya melotot tajam.


"Kamu kenapa Lan? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Tanya Mike.


"Darimana kamu semalam, kenapa kamu tidak pulang? Dan aroma apa itu dari mulut kamu?" Tanya Alan.


"Aku.. anu.. itu.." Mike ragu-ragu hendak menjawabnya.


Kemudian Alan langsung memegang dagu Mike seraya mendogakkannya sedikit ke arah atas sembari memperhatikannya.


"Apa ini Mike, kenapa mulut mu lebam begini? Apa yang kamu lakukan semalam dan apa yang telah terjadi padamu?" Lanjut Alan ketika ia baru menyadari ada luka lebam di bibir Mike.


"Ini.. itu.. anu.." Mike masih ragu-ragu hendak menjawabnya.


"Katakanlah saja Mike," Lanjut Alan.


Mike langsung menunduk.


"Mike, bukankah aku adalah saudaramu? Apakah kamu harus menutupi segala permasalahanmu itu dariku?"


"Tidak kok, sungguh tidak ada apa-apa, santai saja men.. hehe" Mike berlagak santai.

__ADS_1


"Baiklah, aku tahu dan sangat paham. Baik saudara ataupun bukan jika itu masalah pribadi maka akan tetap menjadi pribadi dari setiap individu. Tetapi Mike.." Alan hendak berkata dengan lebih banyak kalimat, namun menjadi terhenti ketika melihat Mike tengah melihatnya nampak serius.


"Mike, apakah kamu mendengarkanku?" Lanjut Alan.


__ADS_2