
Catatan
Terdapat kata umpatan
Sementara Alan juga melihat ke arah mata Ananta kemudian Alan langsung melirik kembali ke arah Bonanza.
"Lepaskan dia!" Ucapnya dengan nada tinggi sembari melotot ke arah Bonanza, ia pun langsung melangkahkan kaki untuk maju hendak ke arah Ananta.
Namun Bonanza langsung menghentikannya.
"Wait, loe mau gadis ini kembali sama loe kan? tapi tidak semudah itu. Bukankah loe sudah berjanji menerima tantangan gua bukan? jadi, gadis ini gua akan berikan untuk hadiah kemenangan loe beserta mobil gua jika loe menang dalam pertandingan kali ini. Namun loe harus ingat! sesuai janji yang sudah disepakati jika sampai loe kalah dalam pertandingan kali ini, loe akan menjadi budak gua, paham!"
"Pers*tan loe anj*ng!" sambung Dimas melangkah maju, dia tidak terima Bonanza berkata seperti itu kepada Mike.
"Woi! tidak usah ikut ngebacot kau b*ngsat!" Bonanza melotot tajam ke arah Dimas.
"Sungguh perlakuan yang menjijikan menjadikan seorang wanita sebagai bahan taruhan." ucap Alan.
Bonanza tidak langsung menjawab perkataan yang Alan ucapkan, dia hanya melirik seraya langsung menarik Ananta dengan cara menjambak rambutnya
Seet!
"Aaahh!" Ananta berteriak kesakitan sembari melihat ke arah Alan diiringi deraian air mata.
Bonanza sengaja menarik rambut Ananta untuk menunjukkannya kepada Alan, sontak membuat Alan emosi ketika melihat Ananta diperlakukan demikian oleh Bonanza. Alan mengepalkan kedua tangan karena sudah sangat geram.
"Hahaha"
Bonanza tertawa lepas melihat ekspresi Alan ketika ia sengaja menjambak rambut Ananta.
"Kenapa Mike? Akan berkelahi, hah!"
"Lepaskan dia bedebah! Lelaki macam apa kau! Mempermainkan seorang wanita semacam ini! Sungguh tidak bermoral!" Pekik Alan sembari melotot. Ini adalah pertama kalinya Alan merasa emosi yang cukup tinggi terhadap seseorang.
"Lelaki macam apa kau bilang hah? woi! Anj*ng! Tak usah kau banyak bacot! bicara tentang sebuah moral pula bukankah kau selalu menjadi pahlawan hah? So.. jika kau benar-benar jagoan lawan gua di area sana. Buktikan kehebatan loe untuk bisa mengambil kembali gadis ini!" ucap Bonanza sembari menelunjuk ke arah arena balap.
"Pih! Besar nian mulut kau! bilang saja kau tidak berani melawan Mike, kau jadikan wanita sebagai umpan dan taruhan, benar-benar lelaki bernyali ciut! sungguh pengecut kau!" sambung Vidze.
"Woi! tak usah ikut ngebacot kau anj*ng!" Pekik Bonanza kepada Vidze sembari melotot tajam.
Kemudian Bonanza langsung melemparkan kembali Ananta kepada teman-temannya.
Seet!
__ADS_1
Sontak membuat Alan semakin emosi ketika Bonanza melempar Ananta kepada teman-temannya, Namun Bonanza sendiri sudah langsung berjalan pergi masuk ke dalam mobilnya setelah usai mengatakan bahwa pertandingan hendak segera dimulai.
Alan langsung menghadap ke arah teman-temannya, lalu Dimas menyodorkan kunci mobil kepada Alan, Alan pun langsung mengambil kunci mobil tersebut beserta tangan Dimas langsung ia tarik menuju mobilnya.
Seet!
"Oit, oit, oit, apa yang kau lakukan, Mike." Teriak Dimas merasa terkejut ketika ia langsung ditarik oleh Alan.
Sontak teman-teman yang lain bingung ketika Alan menarik Dimas untuk ikut serta masuk ke dalam mobil hendak bertanding balap melawan bonanza. Mereka merasa heran atas sikap Mike yang tidak langsung menghajar Bonanza ketika dia melihat seorang teman (Ananta) diperlakukan demikian oleh musuhnya.
Namun Alan sendiri tidak mengatakan apapun kepada mereka maupun kepada Dimas ketika tiba-tiba ia langsung menarik Dimas untuk ikut bersamanya.
***
Ketika mereka berdua telah masuk ke dalam mobil, Alan masih terdiam. Sementara Bonanza sudah menginjak gasnya dengan sangat kencang di sebelah mobilnya.
Brum.. brum.. Brum..
"Mike kok loe belum menyalakan mesinnya sih? buruan Mike, sebentar lagi Pluit dan bendera akan dikibarkan" Ucap Dimas nampak bingung dan tergesa-gesa.
"Bagaimana cara menyalakan ini?" Tanya Alan singkat.
"Astaga Tuhan, lihat posisinya donk Mike dalam posisi begini masih aja loe becanda!"
"Saya tidak sedang bercanda dan saya tidak suka dengan becanda. Jika bukan karena untuk menyelamatkan teman saya, saya tidak akan menuruti tantangan tidak penting semacam ini" jawab Alan bersuara cukup lantang.
Crek crek
Brum.. Brum.. Brum
Setelah mesin mobilnya sudah menyala Alan kembali bertanya
"Bagaimana cara mengemudikannya?"
"Aaiish! Astaga Tuhan. Mike plis deh! Jangan kelewatan becanda loe dalam posisi seperti ini sih! kita semua menghawatirkan loe ngerti gak!" Pekik Dimas merasa kesal.
Alan pun melotot ke arah Dimas.
"Saya tidak bisa mengemudikan mobil, paham!"
Alan berbicara dengan nada tinggi karena ia pun sudah merasa geram ingin segera menyelamatkan Ananta, tetapi karena sebelumnya ia tidak pernah mengemudikan mobil sama sekali maka dari itu ia sengaja mengajak Dimas untuk ikut serta dalam perlombaan tersebut, untuk bertanya-tanya mengenai cara mengemudikan mobil itu.
Priiiitttttt
__ADS_1
Pluit pun telah di tiupkan, bendera juga telah dikibarkan, Bonanza sudah dulu memacu kendaraannya.
Brumm brumm brumm
Ngoengggggg.. Wusssssssss
Sementara Dimas merasa sangat geram atas tingkah Mike, kemudian ia meredamkan sementara apa yang sedang ia pikirkan tentang perubahan Mike, alhasil ia langsung menunjukkan bagaimana cara mengemudikan mobilnya tersebut.
Setelah itu Alan mulai memacu kendaraan sesuai aba-aba dari Dimas. Ia langsung menginjak gas dengan sangat kencang. Namun karena ia belum dapat mengontrol setir mobilnya dengan baik maka baru beberapa kilo meter jarak tempuh dari garis start mobil yang sedang ia kendarai mulai berjalan sedikit ke pinggir.
"Woi Mike injak rem Mike! cepat injak remnya, Mike!" Dimas berteriak karena mobilnya terus menerus berjalan ke arah pinggir. Akhirnya Alan langsung menginjak remnya secara kasar tidak berirama.
Ciiiiiiiit
Braaakk!
Alhasil Mobil yang sedang ia kemudikan langsung menabrak tiang listrik yang berada dipinggir jalan itu. Seketika mobilnyapun langsung terhenti. Posisi Dimas aman karena ia mengunakan sabuk pengaman dengan baik, sementara kepala Alan menatap setir mobil yang sedang ia kemudikan hingga kepalanya terbentur cukup keras dan seketika ia langsung tidak sadarkan diri.
"Mike! hey Mike, loe gak papa Mike, hey Mike! Bangun Mike!" Dimas terus-menerus memanggil-manggil Alan sembari menepuk-nepuk pundaknya.
Plek plek plek
Sementara Alan belum jua sadarkan diri, Dimas terus-menerus mengulangi memanggil-manggil namanya. Karena keadaan mendesak ia hendak oper alih untuk mengemudikan mobilnya, ia mengangkat tubuh Alan lalu langsung ia keluarkan. Selanjutnya ia memasukkan Alan kembali ke bangku sebelahnya.
Kebetulan posisi mobilnya saat menabrak tiang listrik tidak begitu parah masih dapat berjalan seperti sedia kala hanya bagian bemper depan saja sedikit penyok. Setelah itu Dimas langsung memacu kendaraannya menyusul Bonanza yang sudah sangat jauh jarak tempuh dari mobil yang sedang ia dikendarai.
Sembari menyetir, Dimas terus-menerus memanggil-manggil nama Mike, karena Alan masih belum jua sadar. Dimas merasa heran dengan perubahan drastis dari Mike, sembari ia menyetir ia terbayang ucapan Mike terakhir kali pada waktu itu.
'Hey Bro, dengarlah, kalian lihat dan perhatikan wajah dan tubuh gua dengan baik-baik ya, jika ada sesuatu yang berbeda dari tubuh ini, maka itu bukanlah gua, yasudah gua cabut duluan ya guys, dan sampai jumpa kembali kawan'
Ucapan terakhir Mike yang sedang Dimas bayangkan waktu itu. (Lihat kembali pada bab 15 dan 16)
Dimas sesekali menoleh ke arah wajah dan tubuh Alan. Namun pakaian yang sedang Alan pakai sekarang ini adalah pakaian yang biasa Mike pakai ketika bertemu dengan mereka, alhasil tidak ada perbedaan sedikitpun dari tampilan fisiknya. Karena wajah mereka nyaris sama.
***
Beberapa menit kemudian saat mobil masih sedang berjalan dikemudikan oleh Dimas perlahan-lahan Alan mulai sadarkan diri, namun disaat ia belum sadarkan diri dengan sempurna, di ambang-ambang pikirannya terdengar suara-suara semua orang-orang yang ada didalam kehidupannya.
'Dasar anak sampah! Alan.. woi Mike.. Alan.. Mike, hey Anak bisu! woi Mike! kamukah ini Michealan?'
Perlahan-lahan namun pasti Alan kembali membuka kedua matanya, suara orang-orang tersebut yang memanggil-manggil kedua nama didalam pikirannya membuat kepala Alan terasa sangat sakit.
Dan suara yang terakhir ia dengar di dalam pikirannya adalah suara dari sang Ayah. (kamukah Michealan anakku?)
__ADS_1
"Aaah.. kepalaku aaarrrghh!"
Alan langsung berteriak-teriak dengan sangat keras sembari kedua tangannya memegang kepala.