Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
Alan Vs Mike Part 2


__ADS_3

Pesan Pengarang:


Jadikan suatu perbedaan menjadi sebuah keunikan/Ciri khas, seperti bahasa yang digunakan didalam cerita ini. Memiliki beragam kosa kata bercampur-campur yang tentunya tidak akan dimiliki oleh kebanyakan Penulis. Tapi, Apapun tanggapan anda, itu Hak anda.


___


#Next Story.


Orang itu berteriak cukup lantang semasih Alan hendak mengayunkan badik tersebut ke arahnya. Sebelum Alan lakukan tindakan lebih jauh, ia hentikan niatnya sejenak ketika ada suara dari arah belakang-perkelahian terdengar semakin ricuh. Penasaran, lantas dia tengok sejenak.


Benar adanya, didalam perkelahian itu Mike kini sedang melawan kelompok Bonanza seorang diri, seketika berubah menjadi sebuah perkelahian antar kedua kelompok. Lantaran Dimas beserta kawan-kawannya yang telah lolos dari sergapan polisi pada arena balap tadi telah menyusul Mike hingga kini tiba ke markas ini.


Semasih Dimas beserta teman sekelompoknya barusaja masuk sana, mereka langsung terjun menyerang lawan begitu melihat Mike sedang kesusahan melawan mereka seorang diri.


Mike menoleh "Dim"


"Yosh Mike, sebaiknya loe selametin teman cewek loe itu, bawa dia pergi dari sini biarlah mereka kita semua yang melawannya, Cepat!" Dimas belum melihat bahwa didalam ruangan tersebut ada dua Mike serta masih mengira si Mike sedang bersama Ananta.


Membuat Mike heran cenderung tak paham. "Apa loe bilang, temen cewek?" sembari masih menangkis beberapa serangan lawan mengarah padanya.


"Aiih, sudahlah jangan banyak mikir loe, buruan bawa dia pergi, cepatlah Mike! Loe kagak usah pedulikan tentang ini, biar semua yang ada disini urusannya beralih sama kita." Dimas sembari masih menangkis beberapa serangan yang menuju padanya juga.


"Ba--baiklah, kawan." Singkatnya.


__


Sementara Disisi Alan semasih perhatian tertuju ke arah perkelahian tersebut menjadikannya lengah, membuat kesempatan bagi orang yang jatuh itu, beranjak berdiri kemudian langsung membekapnya lagi dari arah belakang.


Bep!


Menyeringai begitu berhasil membekap pemuda kecil ini lagi, "Hahaha hey, mau jadi sok jagoan loe baj*ngan Lunik!"


Namun orang tersebut jua lengah, karena tidak menyadari bahwa Alan masih menggenggam erat senjata tajam jenis badik itu ditangannya.


Saat yang bersamaan, ketika Alan disergap kembali oleh orang tersebut, Mike melihatnya dari arena perkelahian saat-setelah di pinta Dimas untuk menyelamatkan teman wanitanya walau ia sendiri masih bingung, teman wanita yang mana maksud dari perkataan Dimas tadi?


Apapun yang mengganjal pikiran, dia kesampingkan sejenak lantaran ia belum mengetahui permasalahan apa yang yang terjadi sebelumnya. Kini yang paling utama dia pikirkan adalah untuk segera menyelamatkan seorang pemuda yang memiliki wajah sama persis dengan dirinya.


__

__ADS_1


Sementara disisi Alan kini masih meronta, disergap oleh orang itu. Kedua tangan dililit ke belakang membuatnya benar-benar sulit berkutik. "Lepaskan saya!"


"Aiih, Berisik nihan niku sanak Lunik!"


"Saya bilang lepaskan saya!" Alan mengulang kalimatnya. Teramat sulit melepaskan diri lantaran cengkraman orang itu benar-benar kuat. Semasih dia dalam kesusahan, Mike sudah sampai dan berdiri tepat didepan mereka berdua.


"Hahaha hey, Mike …" Menyeringai khas penuh ejek melihat ekspresi Mike tampak marah melihat aksi yang dia lakukan itu.


"Lepaskan dia!" To the poin Mike.


Orang tersebut masih tawa mengejek masih mencengkram kuat tubuh Alan cenderung lebih kuat bahkan membuat sorot mata Alan tampak kelihatan kesakitan bagi Mike yang melihatnya.


Mike masih coba menahan sejenak rasa emosi itu belum bertindak gegabah, lantaran kini sedang melihat posisi yang tepat untuk bisa melepaskan Alan dari cengkaraman orang itu tanpa berakhir terluka.


Selepas mendapatkan teori yang tepat, maka tak ingin lama-lama dia berpikir lekas melangkah hendak melepaskan Alan. Tetapi, barusaja dua langkah kakinya berpijak, si Alan sendiri langsung teriak,


"Mike! Awas di belakangmu, Mike!"


Brrrak!


"Arrgh!"


"Mike! Mike! Mike!" Teriak Alan memanggilnya secara berulang-ulang selepas Mike tersungkur tak jauh dari letak dia berdiri. Alhasil karena Alan jua adalah manusia biasa yang memiliki emosi juga didalam jiwanya, ia langsung melepaskan cengkraman orang tersebut sekuat tenaganya.


Begitu berhasil terlepas, tanpa ragu-ragu dia langsung mengayunkan badik yang sedang dipegangnya itu ke arah orang tersebut. Selepas orang itu berhasil dia lumpuhkan, ia cabut badik itu, kemudian langsung mengayunkannya ke arah Bonanza.


Jleb!


"Ka-kau--" Bonanza benar-benar tak habis kira!


Beruntung, Alan berhasil melumpuhkan Bonanza dengan badik tersebut sebelum Bonanza beraksi menyerangnya. Lantaran bila Bonanza beraksi menyerang Alan lebih dulu, sudah bisa dipastikan Alan dengan mudah dia lumpuhkan menyadari perbandingan bentuk fisik dan jua teori perkelahian yang mana Alan tidak memiliki bakat tentang hal semacam itu.


Setelah posisi Bonanza telah terjatuh akibat luka dari yang ia buat. Dia beranjak mendekat Mike yang tersungkur di lantai itu, meraih lengannya kemudian dia kalungkan di bahunya langsung bergegas pergi keluar dari rumah tersebut.


___


Perlahan cenderung tergesa-gesa Alan membawa Mike keluar dari markas itu sebelum keberadaannya diketahui oleh kelompok Bonanza yang lain. Tetapi, Bonanza sendiri sudah melihat itu maka lekas ia berkata pada para kelompoknya,


"Woi! Kalian semua, cepat kalian kejar kedua baj*ngan Lunik itu, Cepat! Aaaaggh!" merintih kesakitan akibat luka tikam yang disebabkan oleh Alan.

__ADS_1


Beruntung sekelompok Dimas teramat tangkas menghalanginya sehingga tiada satupun yang berhasil keluar dari arena perkelahian itu serta sebagian besar lagi tak ada yang mendengar seruannya.


__


Next


Meski puing-puing bagunan yang berserakan disekitar halaman depan markas itu membuat langkah Alan tak seimbang tak membuatnya pantang untuk terus maju kedepan.


Walau tiada bisa memastikan hendak kemana langkahnya berjalan, lantaran belum paham kemana arah jalan menuju pulang dia terus berpijak ke arah selatan.


Alam seakan menyertai betapa malangnya nasib kedua saudara kembar ini, yang mana setiap langkah kaki Alan berjalan air hujan masih terus membasahi bumi. Kini, waktu sudah menempati dini hari terlebih lagi cuaca sedang teramat ekstrim tentunya tiada insan yang melihat Alan sedang berjalan menanggung beban tubuh saudara kembar di punggungnya, serta tampang yang tak beraturan penuh luka lebam dari keduanya itu.


Alan belum lama tinggal didaerah perkotaan, yang mana terdapat begitu banyak jalan yang terhubung, terlebih lagi posisi ia masih didaerah perkampungan yang terdapat di pinggiran kota yang letaknya sangat jauh dari kediamannya. Menjadikan ia tidak mengetahui kemana arah jalan untuk kembali pulang kerumahnya. Rasa dingin yang begitu menusuk tulang akibat terlalu lama terguyur hujan tidak ia pedulikan, ia terus melangkah kemanapun langkah kakinya melangkah sembari masih memanggul beban dari tubuh saudara kembarnya itu.


Hingga tiba saatnya lelah, ia berhenti sejenak di pinggiran salah satu rumah warga yang kosong tidak berpenghuni. Ia letakkan tubuh Mike serta menyandarkan kepalanya perlahan di dinding rumah tersebut. Ia melihat Mike masih belum jua sadarkan diri.


"Hey, Mike, hey, Mike," Alan menyebut namanya berulang-ulang sembari ia tepuk lembut kedua pipi Mike. Namun Mike masih belum jua sadarkan diri.


Diam sejenak sembari memperhatikan wajah Mike Lantaran dia merasa seperti sedang bercermin ketika melihat wajah dari pemuda tersebut.


Tak lama tertegun, dia menyadari sesuatu begitu memperhatikan Mike dengan seksama, tersirat rasa khawatir "Mike, Hei Mike," Lantaran wajah dan jua bibirnya tampak sangat pucat.


Ia kembali menepuk-nepuk pipinya dan jua pundaknya sembari memanggil-manggil namanya berulang-ulang. "Mike, hey … sadarlah, Mike, Mike, bangunlah."


Masih tidak ada respon sama sekali.


'Oh Tidak, Ya Tuhan. Ada apa sama dia kenapa dia tak merespon samasekali?'


"Hey Mike, sadarlah Mike, bangunlah!"


Bersambung ...


___


Catatan Revisi bab ini.


Rabu, 31 Maret 2021


Pukul: 02:28 WIB.

__ADS_1


Revisi bab tak berurutan berdasarkan nomor bab melainkan sesuai keinginan penulisnya saja, yang kini sudah tidak menulis lagi menggunakan nama pena Ini. Terima kasih.


__ADS_2