Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 117


__ADS_3

Catatan


Cerita ini hanyalah fiktif belaka, segala aksi kejahatan yang ada didalam cerita ini, bukan untuk di tiru!


Deril sudah tidak mampu lagi untuk berkutik terlebih lagi untuk melawan mereka karena badik tersebut sudah menancap cukup dalam di bagian perutnya. Alhasil ia menghembuskan napas terakhir-nya pada waktu itu juga.


"Wah, sepertinya mati dia bro, lalu bagaimana selanjutnya?" Tanya salah satu temannya yang memegang kendali mobil (menyetir)


"Sebelum darah dia membanjiri mobil ini, lebih baik kita segera keluarkan dia dan tinggalkan dia di tempat ini, ayo cepatlah kita bergegas."


"Baik."


Mereka langsung mengeluarkan Deril dari dalam kendaraan dan menaruhnya diantara semak-semak rumput liar yang terdapat di pinggir jalan itu, tetapi tidak tepat persis di pinggir jalan melainkan sedikit ke pinggir. Kedua orang itu langsung menutupi tubuh Deril dengan daun-daun yang mereka petik dari pohon kecil yang berada di sekitar sana.


Setelah mereka usai, mereka langsung bergegas pergi membawa serta mobil milik Deril nan meninggalkan Deril yang sudah tidak bernyawa di tempat itu.


Sebelumnya Deril memang sedikit lancang membawa mobil sedan milik sang kakak tanpa izin kepada Bonanza terlebih dahulu untuk menemui Mike dan membayar kedua ajudan itu.


Sementara dari sisi didalam keluarganya, Deril termasuk anak yang sangat di manjakan oleh kedua orang tuanya karena ia berhasil menjadi siswa yang berprestasi cukup baik di sekolah. Tetapi lain dari pada itu, keluarga mereka memang semua masuk dalam kategori Liar.


Mulai dari ayah adalah seorang Mafia. Sang Ibu ahli dalam bidang judi dan jua Bonanza yang mengikuti jejak kedua orang tuanya tersebut cenderung ia sudah masuk kedalam semua bidang kegelapan tersebut, bahkan jauh lebih parah dari semua itu.


Deril anak kedua dari keluarga ini hampir saja berhasil hendak mengangkat martabat keluarga menjadi pemuda baik yang berguna bagi nusa dan bangsa, tatapi ia malah terhasut oleh masukan buruk dari sang kakak hingga akhirnya ia menjadi salah melangkah. Mengingat ia hanyalah pemuda remaja yang masih sangat labil untuk bisa berpikir dengan baik dan mengambil sebuah keputusan nan tindakan.


Kini Deril telah menghembuskan napas terakhir akibat ia salah melangkah.


***


Pagi harinya, Deril di temukan pertama kali oleh seorang bapak-bapak paruh baya yang tengah mencari beberapa barang bekas yang berada tidak jauh dari Deril berada (pemulung)


Sungguh terkejutnya bapak-bapak tersebut ketika melihat ada seorang pemuda yang sangat mengenaskan di balik semak-semak rumput nan tertutup ranting pohon di sana. Wajah-nya penuh luka lebam (akibat berkelahi dengan Mike) dan terdapat sebilah badik yang masih tertancap dalam di bagian perut-nya.


Bapak-bapak itu langsung bergegas memberitahukan kepada warga setempat di area sana hingga para warga yang melihatnya langsung melaporkannya kepada pihak kepolisian.


Setelah pihak kepolisian hadir, polisi berhasil menemukan ponsel milik Deril yang masih ada di saku jaket yang tengah ia pakai. Kedua ajudan yang di bayar oleh Deril selepas mereka membunuh Deril semalam, lupa untuk menghilangkan jejak tentang hal itu.


Maka semua itu memudahkan para polisi untuk dapat menghubungi pihak keluarga dari sang korban. Polisi telah menduga bahwa kematian Deril diakibatkan oleh tindak kekerasan yang terjadi sebelumnya, namun pihak keluarga tetap membawa Deril ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya meskipun Deril sudah tidak bernapas.

__ADS_1


Deril di bawa ke rumah sakit yang sama dengan Ananta.


Pihak keluarga Deril meminta kepada pihak kepolisian untuk segera menemukan sang pelaku pembunuhan terhadap putra mereka. Namun untuk penyelidikan Awal, polisi telah mengatakan kepada mereka bahwa kematian Deril diakibatkan ada hubungannya dengan nomor ponsel yang berada didalam ponsel milik Deril.


Terlihat jelas dari percakapan terakhir Deril melalui pesan didalam ponsel tersebut yang tak lain adalah kedua Ajudan itu. Tetapi didalam percakapan itu tidak menyebutkan perkara apa yang tengah terjadi. Melainkan hanya secercah percakapan tentang sebuah upah dan jam berangkat. Maka kasusnya sedikit rumit untuk bisa diselesaikan.


Tetapi sang polisi tetap hendak menuntaskan kasus ini dengan menyelidiki sang pemilik nomor yang tertera didalam ponsel milik Deril tersebut dan jua nomor plat kendaraan yang di bawa kabur oleh kedua orang itu. Karena itu adalah salah satu cara untuk bisa menemukan sang pelaku pembunuhan sadis tersebut.


Sementara Bonanza sendiri tidak begitu mendengarkan percakapan kedua orang tuanya dengan para polisi, karena saat kedua orangtua-nya tengah berbincang-bincang dengan para polisi di luar ruang perawatan Deril, posisi Bonanza sedang berada didalam ruang perawatan adiknya tersebut.


Bonanza berdiri di samping mayat sang adik yang tengah terbaring. Ia memandang wajah sang adik sembari mengusap lembut kening sang Adik namun tangan satunya lagi mengepal erat nan ia hempaskan di meja sebelah Deril.


Brak!


"Bedebah! Tidak akan ku biarkan kalian berdua hidup dengan tenang, wahai para baj*ngan kecil." Bonanza telah mengira bahwa kematian sang Adik di sebabkan oleh Mike.


Walaupun Bonanza mengira bahwa kematian sang adik di sebabkan oleh Mike, namun ia samasekali tidak terpikir untuk melaporkannya kepada polisi, melainkan ia ingin membunuh salah satu diantara Mike ataupun kembarannya dengan tangannya sendiri, mengingat ia juga memiliki dendam terhadap kembarannya Mike yaitu Alan atas perkara kejadian yang sudah terjadi sebelumnya yaitu saat Ia di tikam oleh Alan.


Siasat buruk langsung tumbuh didalam pikirannya selepas ia melihat mayat sang adik. Yaitu pikiran untuk bisa mendapatkan salah satu diantara Mike ataupun Alan dengan cara dan rencana yang terangkai sedemikian rupa di dalam pikiran liciknya.


***


Disisi Alan dan Mike.


"Mike, kenapa kamu masih diam saja? Apakah kamu tidak mendengarkan pertanyaanku?" Ucap Alan sembari sedikit menepuk pundak Mike lantaran Mike masih saja terdiam.


Plek!


"Ah tidak, anu.. eh tunggu dulu," kalimat Mike terpangkas ketika ia menoleh ke suatu arah, ia melihat ada salah satu siswi yang tengah melangkah hendak pulang, yaitu Maria.


"Kamu tunggu disini dulu Lan, meneduhlah sejenak di bawah pohon itu. Aku sedang ada sedikit perlu dengan dia." Pamit Mike sembari menunjuk ke arah bawah pohon dan jua menunjuk ke arah Maria.


Melihat Mike menunjuk ke arah Maria, sedikit terbesit keinginan Alan hendak menyusulnya untuk menanyakan tentang Ananta kepada-nya, namun ia redam sejenak rasa keinginan itu, karena ia merasa sungkan terhadap Mike.


Karena apapun itu, ia merasa telah pernah mengambil kehidupan Mike atas perkara kejadian saat ia tertukar posisi dengan Mike. Alhasil ia menuruti perkataan Mike tadi untuk menunggunya di bawah pohon yang berada di lingkungan sekolah itu.


Mike langsung berlari menuju ke arah Maria.

__ADS_1


"Hei kamu, tunggu." Panggil Mike.


"Eh kamu Mike, ada apa?" Tanya Maria nampak malu-malu terlihat pada ekspresi wajahnya.


"Apakah kamu tau dimanakah Ananta? Nomor dia tidak bisa ku hubungi." Tanya Mike secara langsung.


"Oh, kebetulan Aku baru saja mendapat kabar saat tadi aku menelpon ke rumah-nya" Jawab Maria nampak sedih.


"Kabar? Kabar apa itu? Apakah dia baik-baik saja?" Lanjut Mike nampak khawatir setelah ia melihat perubahan ekspresi Maria. Mengingat ia sedikit pandai dalam melihat ekspresi dari seseorang.


"Aku tadi menelpon ke rumah-nya karena aku juga sama sepertimu, menghubungi nomor dia tidak bisa menyambung. Tadi yang mengangkat telepon sih asisten rumah tangganya dan mengatakan bahwa Ananta sekarang ini sedang di rawat di rumah sakit, Mike"


"Di rawat di rumah sakit? Lah.. memangnya dia sedang sakit kah?" Lanjut Mike.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Rencana-nya si pulang sekolah ini aku mau langsung menjenguk dia, tapi.. tadi om dan tanteku sudah menelponku lebih dulu untuk mengajakku pergi, mungkin aku bisa menjenguk Ananta nanti malam."


"Oh, baiklah kalau begitu, aku pun akan segera menengoknya ke sana." Jawab Mike tersenyum.


"Yasudah Mike, aku jalan dulu ya.. takut om dan tanteku sudah menungguku." Pamit Maria.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya." Pungkas Mike sembari melambaikan tangan seraya tersenyum.


"Hu um" balas Maria melambaikan tangan nan tersenyum sembari melangkah pelan.


"Maria, tunggu." Pangil Mike kembali, seraya melangkah mendekat ke arah Maria lagi.


"Hum, ada apa lagi Mike?" Tanya Maria menoleh kembali.


"Ini.. aku belum sempat bertemu denganmu saat jam istirahat tadi, jika kamu tidak ada acara lain tengah malam nanti, aku harap kamu bisa hadir di acara pesta ulang tahun kami," ajak Mike sembari menoleh ka arah Alan.


"Pesta ulang tahun? Wah.. selamat ulang tahun untuk mu dan kepada saudaramu Mike, semoga kalian panjang umur dan sehat, bahagia selalu didalam perlindungan Tuhan." Maria nampak gembira mendengar kabar tersebut sembari menoleh ke arah Alan.


"Terimakasih Maria, tapi.. hei belum saatnya kamu mengucapkan kalimat itu bukan?" Mike mencandainya sembari tersenyum khas yang membuat Maria menjadi malu.


"Hum.. tetapi baik sekarang ataupun nanti, do'a ku selalu menyertai kalian berdua Mike, semoga kalian selalu dalam lindungan kasih Tuhan." Lanjut Maria.


"Ah baiklah, terimakasih ku ucapkan kembali padamu Maria. Aduh.. mendengar kalimat yang kamu ucapkan itu seperti akan ada sesuatu saja kepada kami hehe, yasudah kamu hati-hati di jalan. Kami juga akan segera pergi dan sekalian nanti mengunjungi Ananta." Pungkas Mike.

__ADS_1


"Hu um"


__ADS_2