
"Lantas.. bagaimana denganmu? Pakaian mana yang mau kamu pakai?" Tanya Alan sembari bercermin.
"Lihatlah ini, apakah yang ini cocok?" Jawab Mike sembari memperlihatkan pakaian yang hendak ia pakai.
"Cih, konyol." Alan hanya meliriknya saja.
"Aiih, serius aku tanya, cocok atau tidak menurutmu aku pakai yang ini?" Lanjut Mike.
"Terserah kamu saja." Alan hanya menjawabnya tanpa menoleh lagi ke arah Mike.
'Aih, susah amat dia di ajak becanda. Buset!' Batin Mike.
Kemudian ia bergegas memakai pakaian yang sewajarnya, karena pakaian yang ia perlihatkan ke Alan tadi adalah pakaian yang biasa dia pakai saat pergi nongkrong bersama teman-temannya. Dan itu sengaja ia lakukan (memperlihatkan ke Alan) supaya Alan lebih banyak berbicara kepadanya. Namun tetap saja Alan susah untuk di ajak berbicara dengan pembicaraan yang kosong.(pembicaraan yang tidak perlu)
Setelah Mike usai memakai pakaian, ia mendekat ke Alan yang masih berdiri sembari merapikan pakaiannya didepan cermin. Ia memperhatikan tampilan Alan dari ujung kaki hingga kepala.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apakah ada yang salah dengan tampilanku?" Tanya Alan.
Mike masih terdiam nan bengong. Kemudian Alan memetik jari tepat di depan wajah Mike.
Klik.
"Eh, ada apa?" Mike sedikit terkejut ketika Alan memetik jari di depan wajahnya.
"Ada apa apanya? kamu yang ada apa, kenapa kamu melihatku seperti itu. Apakah ada yang salah?" Alan mengulangi kembali kalimatnya.
"Eh Tidak, aku hanya heran saja. Saat aku memakai pakaian itu, aku merasa pakaian itu sama sekali tidak cocok denganku. Tapi setelah kamu yang memakainya, sangat singkron dengan tampilanmu."
"Maksudmu Tampan?" Alan meliriknya dengan senyuman khas.
"Cih, kagak. Siapa bilang," Mike mengelak walau sesungguhnya ia kagum dengan tampilan Alan setelah Alan memakai pakaian tersebut.
Melihat ekspresi Mike seperti itu membuat Alan teringat dengan sahabatnya (Verza) ia pun tersenyum.
"Halah tidak usah senyum-senyum begitu." Mike meliriknya.
"Iya-iya kakak Mike yang cantik." Alan mengejek sembari merenges.
"What! Apa yang baru saja kamu bilang?" Mike melotot langsung merangkul Alan sembari mencubitinya (bercanda) Alhasil membuat mereka tertawa bersama-sama karena Alan jua membalas Mike (mencubitnya)
Ketika mereka sedang bercanda seperti itu, Marvin datang ke kamar mereka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Marvin langsung tersenyum ketika melihat kedua anaknya sedang bercanda seperti itu. Yang mana ia memang ingin sekali melihat seperti yang sekarang ini ia lihat.
"Eh papa, hehe" Mike melihatnya kemudian ia menghentikan bercandanya dengan Alan.
__ADS_1
Sedangkan Alan tersenyum kaku ketika sang Ayah memasuki kamar, menyadari kondisi kamarnya sangat berantakan.
"Apakah kalian sudah siap-siap?" Tanya Marvin tidak menghiraukan kondisi kamar Mike yang sangat berantakan tersebut.
"Kami Sudah siap, Kapten. Iya gak Lan, hehe" jawab Mike sembari melirik Alan.
"Yasudah, mari kita berangkat." Pungkas Marvin.
"Yup. Come on Lan.." Mike mengagguk seraya merangkul Alan hendak berjalan mengikuti sang Ayah.
***
Mereka bertiga berangkat tidak bersama supir. Marvin mengendarai sendiri kendaraannya, sedangkan Mike dan Alan duduk di kursi belakang.
"Apakah kamu sudah bisa berjalan cukup lama, Nak?" Tanya Marvin kepada Alan ketika mereka tengah didalam perjalanan.
"Tenang saja pa, Jika dia tidak bisa, maka aku siap untuk menggendongnya. Lihatlah, pundaku ini bagaikan baja yang sangat kuat." Sambung Mike sebelum Alan menjawabnya.
"Cih," Alan melirik Mike.
"Hehehe" Mike cengegesan.
"Iya, saya sudah bisa Ayah," Jawab Alan dari pertanyaan Marvin Tadi.
Perjalanan mereka cukup lancar, tidak terjadi kemacetan yang begitu parah ketika mereka melalui jalan tol didalam kota maupun ketika melalui jalan non-tol. Karena pada waktu tersebut bukanlah waktu sibuk. Alhasil perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam.
Setelah mereka sampai dan sudah memasuki area parkir. Mereka bergegas menuju tempat yang ingin mereka tuju. Awal mula Mike mengajak Alan dan Marvin ke bagian fashion. Ketika sudah sampai disana, Mike sibuk mondar-mandir mencari pakaian yang ia inginkan.
Sedangkan Alan dan Marvin hanya melihat-lihat dengan santai. Meskipun selama ini Alan tinggal di daerah perkampungan, dan saat ini adalah pertama kalinya ia memasuki pusat perbelanjaan yang besar, namun ia samasekali tidak terlihat kampungan, justru sebaliknya ekspresinya terlihat seperti sudah terbiasa di tempat keramaian tersebut.
"Aha, pa, Alan. Lihatlah, aku menemukan sesuatu." Ucap Mike melangkah ke arah mereka sembari membawa pakaian yang ia temukan.
"Ini untuk papa, yang Ini untuk Alan dan ini untuk aku" Mike sembari memberikan pakaian tersebut kepada mereka.
"Dan satu lagi, ini khusus untuk aku dan Alan," Lanjut Mike memberikan lagi pakaian yang ia temukan untuk Alan.
"Kamu meminta papa memakai kaos Mike?" Tanya Marvin sembari melihat ke pakaian yang Mike berikan tadi.
"Hu um, itu sudah ku pilih sesuai ukuran Papa, klo Alan kan.. sudah pasti sama ukurannya denganku. Bagaimana pas banget kan dengan kita?" Jawab Mike sembari tersenyum bahagia setelah menemukan pakaian yang sesuai ia inginkan tersebut.
Pakaian yang Mike cari dan temukan tersebut sebenarnya hanyalah kaos oblong biasa, hanya saja ia mencari yang terdapat sablon dibagian depan dengan adanya tulisan M3 yaitu Mike mengartikannya dengan keluarga M. (Marvin, Mike, Michealan)
"Ada-ada saja kamu Mike, yasudah ambil saja mana yang kalian suka." Jawab Marvin.
__ADS_1
Sementara Alan melirik Mike ketika ia sedang melihat pakaian yang Mike khususkan untuk dirinya dan dia, dan pakaian tersebut terdapat sablon dengan adanya tulisan ML yang sama-sama terdapat dibagian depan.
"Anggaplah tulisan itu adalah nama kita Lan, Mike Lawrence dan Michealan Lawrence (ML)" Tutur Mike.
"Walah, jadi maksud kamu mencari baju dengan adanya tulisan itu untuk mengartikan nama kalian Mike?" Tanya Marvin sembari geleng-geleng kepala dan tertawa.
"Iya Pa, hehe" Mike tersenyum lebar.
"Kalau kamu menginginkan baju couple kan terdapat banyak Mike, tinggal pilih saja mau model yang seperti apa sesuai yang kalian suka." Lanjut Marvin.
"Iya, Mike tau Pa, hanya saja pakaian yang Mike pilih ini memang sederhana, namun artinya sangat ngena' hehe" Jawab Mike dengan santai, karena ia memang sudah tau terdapat banyak koleksi baju kembar disana, Namun ia berpikir saat ini adalah momen pertama ia bersama-sama dengan saudara kembarnya, maka dari itu ia segera mencari sesuai apa yang ia inginkan.
"Ada-ada saja kamu Mike." Marvin tertawa mendengar penjelasan Mike yang terdengar konyol tersebut.
Kemudian, mereka melanjutkan kembali perjalanannya untuk mencari sesuai apa yang mereka butuhkan. Namun rata-rata yang Mike cari untuk Alan pastilah kembar dengan yang ia punya, seperti model sepatu, aksesoris dan yang lainnya. Namun bagi Alan sendiri tidaklah memilah dan memilih. Karena entah kenapa ia masih merasakan bahwa hidupnya tidak berhak untuk memilih.
Alan masih banyak terdiam ketika Mike sibuk mencari apapun yang ingin diberikan kepada Alan. Bahkan Mike sering kali meledek Alan saat ia meminta Alan untuk mencoba pakaian ataupun sepatu yang ia temukan.
"Apakah kamu lelah nak?" Tanya Marvin ketika melihat ekspresi Alan terlihat lesu setelah cukup lama mereka berjalan.
"Tidak Ayah, saya tidak apa-apa, mari kita lanjutkan." Jawab Alan.
"Apakah perlu saya menggendongmu sekarang, tuan muda?" Sambung Mike sembari mendekatkan wajahnya ke Alan.
"Cih." Alan meliriknya sembari menggeser kepala Mike yang terlampau dekat dengan wajahnya.
Seet!
"Aissh. Haha apakah perlu saya mencari kamus untukmu supaya kamu bisa belajar lebih banyak tersenyum, Lan?" ledek Mike.
Mendengar yang Mike ucapkan tersebut (kamus) Alan teringat akan sesuatu.
"Bagaimana jika kita melanjutkan untuk mencari buku saja?" Ucapnya tanpa menggubris celoteh Mike tadi.
"Wah.. Boleh, mari kita segera kesana" Jawab Marvin.
Setelah mereka sampai pada bagian buku, Alan dan Mike bersama-sama mencari buku sesuai apa yang mereka butuhkan. Sementara Marvin sendiri sedang sibuk menerima panggilan telepon.
Alan fokus melihat-lihat buku yang berada disana, begitupun dengan Mike. Kemudian Alan melangkah hendak mencari buku lain ketika dibagian lorong rak buku tempat dimana ia berdiri dengan Mike tidak ada.
Alan terus-menerus melangkah ke lorong lain yang posisinya jauh dari Mike sembari mata ia fokus melihat ke arah buku tersebut, ia tidak sengaja menyenggol seseorang yang berada di sana hingga buku yang sedang dipegang orang itu terjatuh dari tangannya.
Prak!
__ADS_1
"Aiissh, Brengs*k!"