Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 155


__ADS_3

Disisi Alan


Pelajaran telah usai, setelah lonceng sekolah sudah kembali di bunyikan kini tiba waktunya untuk pulang. Seluruh siswa-siswi saling bercanda ria seraya menata peralatan sekolahnya, begitupula dengan Alan dan Ananta, disibukkan saling menata buku kedalam tasnya.


Namun Ananta kian merasa ragu kala Gurauan teman tak tampak seperti dulu, Meski keraguan kian membelenggu jiwa, tetapi belah bibir tak ingin terbuka sebelum fakta nyata tampak didepannya.


Tiada seutas kata ingin menyapa, lekas meninggalkan badan dari kursinya. Melangkah pelan dalam keraguan mencoba menutup pikiran yang masih terngiang-ngiang.


"Ananta .." Panggil Alan bernada pelan.


Lantas membuat Ananta menoleh kearahnya, Namun tersirat senyum tanpa canda dari bibirnya, sebab keraguan kian menyelimuti hatinya.


Semua terjadi bukan tidak ada 'Karena' melainkan dirinya sudah merasa ada yang berbeda dibalik rupa 'Sama' dengan lelaki yang dikenalinya.


"Em .. Aku sedang terburu-buru, Aku mau pulang dulu, sampai jumpa." Pungkasnya dalam kalimat yang tak berirama, membuat Alan merasa ada yang berbeda dalam sikapnya.


"Ee .. baiklah, hati-hati di jalan" Sahut Alan tetapi Ananta sudah lebih dulu hengkang.


Sejenak terpikirkan akar dari permasalahannya tetapi ia malah tersenyum dibuatnya. Tiada sebab maupun ibarat sebab diri jua tak ingin lama-lama terjerat dalam muslihat.


Ia sudah memantapkan hati sedemikian rupa, bagaimanapun konsekuensinya nanti meski semua berujung benci.


Tetapi, tiada dipungkiri didalam lubuk hati yang terdalam, terngiang di pikiran akan kesalahan yang belum ia sampaikan. Yaitu mengutarakan tentang kebenaran, bahwa dirinya bukanlah lelaki yang dikenalinya.


Namun, segala yang terjadi adalah murni kala tertukar posisi dengan saudara kembarnya sendiri.


***


Next


Mengingat hari sudah semakin siang, lantas ia jua hengkang hendak pulang.


"Wei Mike, buru-buru amat loe balik, Sini dulu lah kumpul bareng kita-kita .." Sapa para rombongan Mike lantaran lupa bahwa dia bukanlah Mike.


Sejenak Alan menoleh ke arahnya lantas mereka menyadari bahwa dia kembarannya.


"Eh, maaf gua lupa, loe Mike yang kedua yak, hehe" Celetuk Al seraya garuk-garuk kepala sebab segan terhadap Alan.


Lantas Alan tersenyum melangkah kemudian berkata, "Tidak masalah, jangan sungkan kawan, Saya pulang dulu, hari sudah siang" pungkasnya.


"Yup, baiklah. Hati-hati dijalan." Balas semua teman-teman, seraya menunjuk ibu jari ke arah depan.

__ADS_1


Alan hendak melangkah keluar kelas, lekas dirangkul pundaknya oleh Jovan dari belakang.


Plek!


"Wait, Kuy jalan kita jalan kuy bareng, hehe" Ajaknya tampak sok akrab seperti biasanya, seraya menggunakan bahasa yang rada' belibet. (Kosa kata terbalik-balik)


"Cih," Alan hanya meliriknya saja lekas melanjutkan langkah, menuju di tempat mobilnya berada. "Aku pulang dulu" pamitnya saat sudah sampai di tempat parkiran.


"Oke sip, sayonara" Pungkas Jovan melambaikan satu tangan seraya hendak memakai helm.


"Mari pak jalan sekarang" pintanya kepada sopirnya kala sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang.


Skip


***


Disisi Mike


Pada jam kejadian saat Mike tengah berseteru dengan Marvin, adalah jam yang sama saat Alan pulang dari sekolah.


Mike tancap gas tampak terburu-buru sebab dada terasa sesak yang tak lain hanyalah kesalahpahaman belaka.


Ketika sampai tepat didepan palang pintu keluar perumahan, Mike meluapkan amarah kala petugas keamanan telat membukaan palang pintu otomatis itu, sebab beberapa diantara mereka tengah makan siang dan yang bertugas didepan kebetulan tengah berada di toilet.


Tiinn .. Tiinn .. Tiin ..


"Woi pak, buruan buka pintunya! Lemot amat sih!" Teriaknya membuat petugas satpam bergegas membukakan pintu otomatis itu nan merasa tak enak kepadanya.


"Maafkan saya Den," Ucapnya seraya membuka palang otomatis itu.


"Dan den dan den, Bapak pikir saya Sinden!" Celetuk Mike di tengah amarahnya yang membuat satpam itu gagal fokus nyaris membuat gelak tawa. Tetapi semua sirna kala Mike melanjutkan kembali kalimatnya.


"Kalo kerja itu yang benar Pak! Gak cuma tongkrang tongkrong makan gaji buta saja! Anda pikir kami membayar kalian tak pakai uang hah!"


Sontak petugas keamanan itu terkejut atas kalimat yang Mike ucapkan tersebut, sebab kalimat itu pertama kali ia mendengar dari mulut Mike yang terkenal akan keramahannya kepada siapapun termasuk kepada dirinya.


"Astagfirullah Den Mike, Maafkan kesalahan saya Den .." Lirihnya tampak wajah datar.


"Aish! Dan den dan den aja terus, besok saya oplas lah jadi sinden! Udahlah" Pungkas Mike melajukan kembali kendaraannya.


Bruum .. brum ..

__ADS_1


Sang petugas keamanan itu masih berdiri di tengah-tengah palang pintu sembari melihat Mike pergi. Tangan tak lepas memegang dada seraya menggelengkan kepalanya.


"Ada apa tadi pak? kok Anak pak Marvin bicara lantang seperti itu?" Tanya teman sesama satpam menghampirinya usai makan siang.


"Entahlah, nada bicara anak itu tak pernah seperti itu sebelumnya. Mungkin dia sedang ada masalah, biarkanlah" pungkas Sang satpam itu lekas kembali menjalankan tugas.


***


Ya, sikap Mike seperti itu tidak lebih dan tidak jua kurang tanpa adanya kesengajaan. Lantas melanjutkan perjalanan menuju kemanapun kendaraannya terpacu tanpa ada tempat yang hendak ia tuju.


Di saat sampai pada suatu jalan, berhenti sejenak di bawah pohon rindang yang berada di bahu jalan hendak menelpon beberapa teman.


Dari arah sebrang jalan ada sebuah mobil pribadi yang tengah melintas yang tak lain adalah mobil yang tengah menjemput Alan dari sekolah.


Alan melihat Mike melalui jendela kaca lantas sedikit menepuk pundak sang sopir yang tengah menyetir.


Plek!


"Pak, pak, tolong putar balik didepan nanti ya pak" Pinta Alan. "Baik kak" Jawab Sang Sopir lekas mempercepat lajunya.


Siang hari itu tidak terlampau padat kendaraan dijalan yang tengah Alan lintasi, sehingga untuk mencapai putar balik arah, tidak banyak memakan waktu.


Hingga tiba pada jalan yang sejalur dengan Mike, Alan lagi-lagi meminta sang Sopir untuk sedikit mempercepat laju kendaraannya. Namun, saat ia sampai di area yang di singgahi oleh Mike tadi (Bawah pohon rindang) Mike sudah tidak berada disana.


"Pak, tolong kejar dan ikuti motor itu ya pak," Pinta Alan saat ia melihat Mike sudah melaju dari Arah kejauhan. "Baik kak" Jawab sang Sopir.


Alan mengikuti Mike dalam jarak yang sedang (Tidak jauh dan tidak dekat) semata-mata hanya untuk memastikan hendak kemana dia pergi, lantaran tak pulang semalam.


Hingga tiba saatnya Mike masuk ke arah jalan alternatif, Alan masih terus mengikutinya. "Apa sebaiknya saya klakson dia saja supaya dia berhenti kak?" Tanya sang sopir lantaran Alan masih diam saja.


"Jangan, ikuti saja terus selama dia melintasi jalan yang bisa dilintasi mobil." Jelas Alan. "Baik kak" Pungkas sang Sopir menuruti tanpa mengetahui siapakah orang yang tengah di ikuti oleh anak majikannya tersebut. Lantaran sopir itu sendiri tidak begitu memahami motor yang sedang Mike kendarai.


Hingga sampai pada suatu jalan, Na'as pun terjadi saat Mike hendak menyalip mobil pribadi yang melintas didepannya, Motor yang Mike kendarai menyerempet bagian spion dari mobil itu.


Ciiitttt!


Brak!


Sontak Alan terkejut melihat kejadian tersebut. Sang sopir jua sigap menginjak rem sekuat tenaga. Alan hendak turun dari mobil tetapi ia menghentikan niatnya kala melihat seorang gadis masih berseragam sekolah keluar dari mobil yang berserempetan dengan Mike itu,


Dan seorang gadis yang berseragam sekolah itu tak lain ialah Ananta.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2