
Alan diam sejenak kala pertanyaan tersebut terlontar dari mulut sang kakak. Hingga akhirnya Mike mengulangi pertanyaan yang sama sebab Alan menjawab terasa lama baginya.
"Oeh, malah melamun? Anu apa Lan?"
"Apa kamu sudah mengetahui sebelumnya, Mike?" Tanya Alan secara langsung.
"Mengetahui apa maksudnya?" Tanya Mike sembari mengunyah beberapa cemilannya seraya fokus melihat ke mata Adiknya.
"Ananta menyukaimu sejak dahulu, Mike." Ucap Alan. Sontak Mike langsung terbatuk.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Ia terkejut nan reflek hingga cemilan yang tengah dikunyahnya menyembur ke wajah Alan.
Burrrrrt
"Astaga Mike!" Seru Alan tampak Asam seraya meraih selembar tissu disebelahnya lantas menyapu wajahnya dengan segera.
"Ehehehe, maap, maap. Itu beneran dia ngomong gitu? Kapan? Kok bisa? Lalu?" Mike cengengesan kala melihat ekspresi Alan nan tak disadari menayakan pertanyaan secara sekaligus.
Lantas ekspresi Alan tampak semakin asam dibuatnya lantaran sang kakak mengucapkan pertanyaan tampak bercanda baginya.
"Apa kamu bisa serius saat berbicara Mike?" Ucapnya.
"Ya ini sudah serius, 10 rius malah .. Gimana, coba kamu cerita gih" Lanjut Mike sembari mengunyah kembali cemilan ditangannya.
Alan pun langsung menghela napas, melihat Sang kakak tampak tidak begitu serius menanggapinya. Namun akhirnya ia pun lekas melanjutkan kalimatnya.
"Dia menyukaimu sudah sejak dulu Mike, tapi .. dia tidak pernah mengatakannya langsung padamu. Lalu .. kejadian saat aku sedang menjadi dirimu, ada suatu musibah yang menimpa dia. Disaat itu Tuhan memberikan suatu jalan padaku bertemu dengannya dalam perkara dengan seseorang yang bernama .." Alan hendak menyebutkan nama orang itu, tetapi dia lupa namanya.
"Bonanza?" Sambung Mike.
"Iya, benar. Saat perkara yang terjadi dengan orang yang bernama Bonanza dan para rombongannya, Aku berhasil membawa dia lari untuk menyelamatkan diri, dan ketika kami sedang berlari, kami berhenti sejanak untuk berteduh di pinggir rumah orang. Waktu itu sedang terjadi hujan yang sangat lebat, Mike.
Disanalah dia menyatakannya bahwa dia sudah lama menyukaimu. Tapi saat itu, dia belum tau bahwa aku bukanlah kamu. Dan disaat aku akan mengatakan bahwa aku bukanlah kamu, keberadaan kami diketahui oleh para kelompok itu. Akhirnya aku belum sempat mengatakannya dan berpikir untuk menyelamatkan dia terlebih dahulu. Dan setelah aku berhasil menyelamatkan dia, aku tertangkap oleh kelompok mereka, disaat itulah awal pertemuan kita, Mike." Alan menceritakannya panjang dan lebar.
Mike semula tengah mendengarkan sembari asik mengunyah cemilan, kini ia diam tampak mata yang berkaca-kaca.
"Dirumah sakit kemarin kala menjenguk dia, kamu samasekali tidak mengatakan apapun kepadaku bahwa kamu mau mengunjungi Ananta. Dan disaat aku pergi ke toilet sejenak, serta sudah kembali lagi kedalam ruang perawatan dia, sambutan orangtua Ananta seperti sedang menyambutmu.
Aku berpikir apa kamu belum mengatakan kepada mereka tentangku? Dan setelah aku melihat situasinya aku pikir kamu memang benar-benar belum mengatakan bila kamu berkunjung kesana bersamaku.
__ADS_1
Akhirnya, saat itu aku terpaksa tetap menyandang nama sebagai dirimu, bahkan orangtua Ananta meminta kamu untuk sering berkunjung kerumah sakit itu. Apa kamu tahu? Akulah yang berkunjung kesana, karena saat itu ada perkara yang susah ku sampaikan langsung kepadamu, Mike."
Mike terdiam sembari memikirkan.
"Apa kamu ingat saat kemarin kamu tidur dalam waktu sehari penuh?" Lanjut Alan.
Mike mengangguk.
"Sebelumnya aku sempat akan bercerita kepadamu tentang cerita di atas. Tetapi melihatmu sangat lelah, aku berpikir untuk membiarkanmu beristirahat. Serta saat itu aku menepati janjiku untuk berkunjung menemui Ananta sebagai dirimu Mike. Maafkan aku"
"Maaf kamu bilang? Maaf untuk hal apa Lan?" Tanya Mike.
"Untuk semua hal, karena aku telah menjadi dirimu." Ucap Alan sembari menundukkan kepala.
"Wei, wei, kenapa ekspresimu tiba-tiba berubah begitu Lan?" Tanya Mike seraya meraih dagu Alan dan membenarkan posisi pandang lurus ke arahnya.
"Maafkan Aku Mike" ulang Alan masih berekspresi yang sama.
Lantas Mike menempatkan kedua telapak tangan pada kedua bahu Alan.
Plek! Plek!
Alan mengangguk
"Apa kamu tau Lan? Aku sudah lama mengetahuinya." Lanjut Mike.
"Em .. Maksudmu?" Jawab Alan tampak bingung.
"Ya, aku sudah mengetahui bila dia menyukaiku. Tapi .. aku tidak ingin itu." Jawab Mike melepaskan kembali tangannya dari bahu Alan.
"Kenapa Mike?"
"Apa kamu sungguh ingin mengetahui alasanku?" Tanya Mike. Sementara Alan diam namun tak lepas pandang.
"Karena dia adalah sahabatku, Lan. Itu alasanku"
"Bukankah itu bukan suatu Alasan Mike?" Tanya Alan.
"Bagiku itu sebuah alasan yang terbaik daripada membiarkannya larut menyukaiku sementara aku tidak memiliki perasaan apapun ke dia selain perasaan sayang terhadap sahabatnya. Oleh sebab itu, sekalipun aku mengetahui dia menyukaiku tidak akan ada celah baginya untuk menyatakannya padaku. Karena .. bila aku menjawabnya 'Aku tidak menyukaimu, sebaiknya kita berteman saja' bukankah itu sangat menyakiti perasaan dia?"
__ADS_1
Alan terdiam.
"Dan sudah bisa dibayangkan kan? Apabila dia sudah menyatakan perasaannya kepadaku dan sudah mengetahui jawabanku seperti itu, bisa-bisa hubungan sahabatpun akan rusak. Aku paling tidak ingin hal itu terjadi."
"Maafkan aku Mike" Ucap Alan sembari menunduk kembali.
"Hah? Maaf buat apaan lagi si" Jawab Mike.
"Aku telah salah" Lanjut Alan singkat.
"Haiyaaa .. kagak usah misteri begitu ngapa si, Lan."
"Pada saat dia menyatakan perasaan itu kepadaku dia belum mengetahui aku bukanlah kamu, Mike. Jadi aku mengira kamu juga menyukainya. Maafkan aku telah membuka harapan palsu kepadanya"
"Hah? Oh .. hahahaha" Mike malah tawa terbahak-bahak setelah mendengar kalimat Alan tersebut.
"E .. kenapa kamu tertawa Mike? Apa yang membuatmu tertawa?" Tanya Alan tampak polos.
"Jadi itu toh alasan dia ngamuk di taman tadi, Astaga hahaha koplak." Jawabnya masih terbahak-bahak.
"Mike, hentikan. Aku sedang tidak bercanda."
"Ya, ya. Baiklah hehe. Hufff .. Jadi begitu, haha Lan, Alan dengarlah. Tidak perlu kamu cemaskan untuk hal ini. Aku tahu Semua yang terjadi hanya kesalahpahaman. Biarlah esok aku akan menjelaskannya sama dia." Ucap Mike.
"Apa kamu tidak memikirkan perasaan dia samasekali Mike?" Tanya Alan.
"Justru inilah aku sedang memikirkan perasaan dia dan juga perasaanmu" Jawabnya.
"Em, maksudmu?"
"Maksudku adalah, jadilah Mike yang bisa mencintai dia sepenuh hati. Jadi, dia tidak perlu mengorbankan perasaan yang berlebih untuk Mike yang ini. Apa kamu paham maksudku?" Ucapnya seraya tersenyum sembari meletakkan telapak tangan pada area tengah dadanya sendiri.
Sontak membuat Alan jua senyum tampak malu-malu sebab ia sudah memahami maksud sang kakak bahwa Mike memintanya untuk bisa menjaga hati sahabatnya. (Ananta)
Lantas segala perkara tentang si wanita telah usai mereka bicarakan. Namun kini mereka masih saling berbincang nan tertawa-tawa.
Sebab diantara keduanya memiliki perasaan yang sama yakni tidak ingin menyakiti dalam segala masalah apapun, baik didalam keluarga maupun cinta.
***
__ADS_1
Karena .. Mereka adalah kakak beradik sang pemilik paras sama, serta kepribadian yang berbeda namun mereka saling mengasihi kepada saudaranya sendiri yang terangkum didalam kisah cerita ini. "Story Of The Lives Twins"