
Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 14:30 pm. Cuaca hari ini memang sangat terik namun teriknya cuaca tidak terasa oleh mereka lantaran tengah asik dalam bercanda ria.
"Ada apa Lan, gua perhatiin dari tadi loe liat jam melulu." Tanya Verza.
"Apa kamu disini menginap Ver?" Tanya balik Alan.
"Ya kagak lah, besok kan udah masuk sekolah lagi, tapi ya.. tetep aja gua bolos, hehe. Wajarlah sampai disana kan pasti udah siang, itupun tergantung antrean kapal di penyebrangan nanti."
"Memang Kamu pulang jam berapa dari sini?" Lanjut Alan.
"Palingan tengah malam nanti Lan. Naik travel, ogah gua kalo misal naik bus Lagi, mabok"
"Cih, tinggal pilih kelasnya lah Ver, kelas ekonomi kan bersih. Kemungkinan besar tidak akan membuatmu mabuk kendaraan."
"Jiahh mau kelas ekonomi atau kelas dewa pun tetap aja dia bakalan mabok bro, dasar wong ndeso!" Sahut Jovan mengejek penuh puas.
"Lanjutin aja terus Jo, bentar lagi ada sendal melayang ke jidat loe!" Jawab Verza meliriknya.
"Bodo mamat.. huaaaak" ledek Jovan semakin puas.
"Herman gua, punya sepupu sengklek kayak loe Jo," Ucap Verza.
"Gua juga Tarman, punya sepupu yang otaknya cuma segini kek loe, Ver" Ledek Jovan sembari memperlihatkan jari kelingking.
"Huss, apa-apaan sih kalian, nama orang kok di buat bahan candaan." Alan memangkas perbincangan mereka.
Alhasil, keduanya saling cengegesan tampak bodoh.
Hehehe
"Baiklah teman, berhubung waktu sudah semakin senja, aku mau pergi dulu" pamit Alan beranjak berdiri.
"Yah.. loe kagak bisa lama'an dikit disini kah Lan?" Sahut Verza tampak memelas khas dia.
"Bukan begitu Ver, sebab aku sedang ada janji" Lanjut Alan.
"Oh begitu rupanya, baiklah Lan, hati-hati di jalan. Gua seneng banget bisa ketemu loe disini" Jawab Verza masih berekspresi seperti tadi. Namun ia sudah paham jika Alan berkata demikian, tidaklah pernah berbohong.
"Oh iya Lan, dari tadi gua lupa, sini nomor telepon Loe gua save." Lanjut Verza seraya mengambil handphone di saung tempat ia duduk tadi.
"Baik, ketiklah" jawab Alan seraya menyebutkan nomor dia.
"Lan," Lanjut Verza kala sudah menyimpan nomor telepon Alan.
Alan siap mendengarkan.
"Setelah lulus nanti, Loe melanjutkan kuliah di sini kan?"
"Maksudmu?"
"Loe kan cerdas, jenius dan pintar, semua jurusan bisa aja loe ambil tanpa perlu berpikir sampe kepala botak kayak sahabat loe ini,"
"Kamu ngomong apa Ver, Aku tidak mengerti yang kamu maksud"
"Ya.. loe kan tau sendiri faktanya Lan, kalau loe itu anaknya orang berada, gak mungkin kan dengan kemampuan loe yang jenius itu orangtua loe bakal membiyayai pendidikan loe di Universitas yang biasa-biasa aja, pasti.. loe bakal kuliah di luar negri ya Lan," Lanjut Verza tampak sedih.
"Oh.. jadi itu maksudmu" Jawab Alan singkat.
"Hu um, secara kan.. lulus nanti gua bakal kuliah disini Lan, kalo loe gak disini.. kita pasti akan semakin jauh, tapi gak papa si, soalnya semua demi kebaikan loe juga, tapi.. gua sendirian lagi, walau gak papa si.." Ekspresi Verza belum berubah cenderung parah yakni tampak memelas.
Namun itu semua justru membuat Alan tertawa.
__ADS_1
"Haish, loe ngapa malah ketawa si Lan,"
"Hehe tidak-tidak, kamu berbicara muter-muter Ver, membuat ku bingung untuk bisa mencerna apa maksud ucapan kamu" Alan terkekeh.
"Aih, intinya gua mau kuliah disini tuh karna loe juga disini Lan. Bodo' amat jika loe mikir gua sahabat yang egois"
"Uluh.. uluh.." Ledek Alan.
"Hilih, gua lagi serius ni Lan, aih loe mah" Verza mendengus.
"Hehe baiklah-baiklah, Verza sahabat ku yang cantik sekaligus ganteng, dengarlah" Ucap Alan, meledek seraya memegang kedua pundak Verza.
Plek! Plek!
"Orang yang sukses tidak selalu di ukur dari seberapa tingginya dia menempuh pendidikan. Contoh kecil kamu lihatlah sebuah pohon beringin dan pohon cemara. Menurutmu mana yang lebih tinggi dari kedua pohon itu?"
"Cemara lah yang tinggi, beringin mah boncel" Jawab Verza.
"Benar, lebih tinggi pohon cemara daripada pohon beringin, namun.. jika kamu melihat kedua pohon itu berjejeran kala hujan datang lebat, menurutmu akan kemanakah orang-orang berteduh diantara kedua pohon itu?"
"Ya pastinya ke pohon beringin," Jawab Verza.
"Pohon cemara tumbuh tinggi, tapi dia tidak bisa banyak menampung orang berteduh cenderung tidak bisa. Sementara pohon beringin yang tidak bisa tumbuh setinggi pohon cemara, dia mampu menampung orang banyak untuk berteduh.
Jadi kesimpulannya adalah daripada mengais ilmu tinggi untuk kesejahteraan diri sendiri namun sedikit bermanfaat untuk orang lain, masih lebih baik mengais sedikit ilmu namun lebih bermanfaat untuk banyak orang."
"Lan.. otak gua gak nyampe buat mengartikan kalimat-kalimat loe itu, sumpah" Lanjut Verza polos.
"Baiklah-baiklah, aku akan berbicara secara jelas. Siapapun orang pasti ingin menempuh pendidikan setinggi-tingginya, seperti layaknya aku dan kamu juga pasti sama. Tetapi.. sebuah pendidikan yang berkualitas baik tidak selalu harus mengais ilmu di universitas yang ternama, sebab semua itu tetap tergantung diri kita yang menjalaninya. Bukan Formalitas belaka, Ver."
"Maksud loe.. loe gak akan kuliah ke luar negri?" Tanya Verza mengambil kesimpulan.
"Benar Ver. Aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap menempuh pendidikan disini, bersama kalian semua."
"Apa kamu sudah tidak mengenaliku Ver?" Lanjut Alan.
"Gua sedikitpun kagak pernah meragukan loe si Lan, hanya saja.. apa orangtua loe nantinya gak gimana-gimana jika tau keputusan loe itu?"
"Itu urusan nanti Ver, masih cukup jauh untuk membicarakan seputar itu. Yang jelas sekarang ini kita harus fokus belajar, kamu jangan menyontek saja kerjaannya, Ver." Ledek Alan.
"Aish, mau nyontek ke siapa lagi gua Lan, semenjak loe pindah udah kagak ada bahan contekan lagi tauk"
"Hmm.. jadi, sekarang kamu baru mengakuinya ya.. setelah aku sudah tidak disana?" Lanjut Alan.
"Hehe, keceplosan dah gua" Ucap Verza seraya tepuk jidat sendiri.
Plak!
"Baiklah, aku jalan dulu ya Ver, kamu hati-hati di jalan saat pulang nanti"
"Pasti Lan, loe juga hati-hati, eh tapi Lan.."
"Ada apa Ver?" Tanya Alan saat Verza mendekatkan diri melihat ke bagian area bibirnya.
Yakni terlihat lebam, Verza menyadari ada luka itu sejak awal bertemu tadi di terminal, namun belum sempat ia tanyakan.
"Loe disini baik-baik saja kan, Lan?" Lanjutnya ekspresinya tampak penuh curiga.
"Ah, aku baik-baik saja Ver, oh iya dimana Jovan?" Alan sedikit menutupi bibirnya dengan tangan, lekas mengalihkan perhatian.
Karena ia tidak ingin jika Verza menggali lebih dalam tentang lika-liku hidupnya disini, ia tidak ingin terlihat kacau meskipun lika-liku hidupnya masih sangat kacau. Yaitu memiliki musuh.
__ADS_1
"Gua disini men, kuy" Sahut Jovan terlihat sudah rapi seperti tadi, yakni pakai jaket lengkap dengan helm di tangannya.
"Wei Jo, loe mau kemana?" Tanya Verza.
"Udahlah Ver, mending sekarang Loe molor aja dulu, pulihin badan loe yang mabok itu, gua mau pergi cuma sebentar kok. Kuy Bro" Ajak Jovan hendak mengantarkan Alan.
"Iya, iya cerewet loe Jo, yaudah kalian hati-hati di jalan" Pungkas Verza seraya melambaikan tangan kala Alan dan Jovan hendak melangkah.
Alan sebelumnya sempat menolak saat Jovan memberikan tumpangan secara tiba-tiba. Namun melihat tawaran Jovan tampak tulus maka Alan pun menerimanya.
Sementara Jovan mengantarkan Alan lantaran ia merasa bersalah akibat mengambil waktu milik Alan, sebab ia memperhatikan Alan sewaktu sedang bercanda ria tadi, yakni Alan terlihat berulang kali melihat ke jam tangan, Jovan telah menduga bahwa Alan pasti sedang ada urusan lain.
***
Next
"Eh iya Bro, loe kenapa masih diem-diem aja, gua lupa pula mau tanya dari tadi." Tanya Jovan kala mereka sedang berkendara.
"Tanya apa Jov?" Jawab Alan.
"Alamat Men, ini kita udah jalan dari tadi tapi loe kagak ngomong satu kalimatpun mau menuju kemana."
"Oh menuju ke rumah sakit" jawab Alan sembari menyebutkan nama rumahsakit yang tengah ia tuju.
"Nah, gini kek ngomong dari tadi. Gua kan jadu tau musti lewat mana biar cepet sampe ke alamat itu tanpa harus melewati jalan gede ini, macet Men kalo udah mau sore gini" Lanjut Jovan.
"Baiklah, pilih yang ternyaman menurutmu saja Jov." Balas Alan.
"Wei Men, loe kalo ngobrol sama gua kagak usah pakai bahasa formal mulu ngapa si,"
"Memang kenapa Jov?" Tanya Alan.
"Ya kagak kenapa-napa si, cuma rada' gak enjoy aja rasanya Men, tapi.. kagak masalah juga si.. tapi ya gitu.. gak plong rasanya" Ucap Jovan dalam bahasa khas Verza yakni mengucapkan kalimat berulang kali nyaris Muter-muter.
Mendengar Jovan berkata demikian, Alan sudah tidak menjawabnya lagi melainkan tertawa tanpa suara.
Sebab bagi Alan, antara Jovan maupun Verza, mereka nyaris serupa dalam bertingkah maupun tutur kata.
Namun itulah keunikan mereka yang tidak semua orang bisa seperti mereka, sebab Alan jua merasa demikian. Ia tidak bisa seperti mereka-mereka yang bisa selalu tampil ceria dalam situasi apapun.
***
Next
Jovan melaju melalui jalur alternatif supaya cepat sampai ke tempat tujuan yang sedang di tuju.
Namun, jalur yang ia lalui tersebut bukanlah masuk ke gang-gang sempit, melainkan masih melalui jalan lintas yang ramai (seperti jalan pondok kelapa, jakarta timur)
"Jov, bisa berhenti sebentar?" Pinta Alan kala ia teringat sesuatu ketika melihat sesuatu disana, sembari sedikit menepuk pundak Jovan.
Pluk!
"Oit, ada apa Bro?" Tanya Jovan, sedikit terkejut saat Alan menepuk pundaknya.
Bersambung..
Catatan
Author masih berusaha update sering, jadi kalau bisa jangan nabung bab kalau mau baca ya langsung baca saja ya. 😉
Jika tidak keberatan ramaikan saja kolom komentar ye, 🤗
__ADS_1
Cukup Authornya aja yang misterius, kalian jangan ikutan misterius, kan ngeri 😱
Ketahulilah bahwa itu adalah doping buat Author 🤭 supaya Author semakin semangat menulis, oke.. Bu, Pak, Kakak, Adik, Om, Tante dan.. siapa lagi ya? 😁 😅