Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 99


__ADS_3

Setelah Alan usai mengerjakan apa yang sedang ia kerjakan, dan Mike jua telah usai memakai pakaiannya, Mike melangkah mendekat ke Alan yang mana posisi Alan sedang berdiri didepan meja belajar, dia sedang menulis sesuatu diatas selembar kertas.


"Kamu sedang menulis apaan?" Tanya Mike sembari hendak melihat yang sedang Alan tulis.


"Kepo." Alan langsung menilap kertas tersebut.


"Idih, surat cinta kah?"


"Cih." Alan hanya meliriknya.


"Hilih, Semacam jaman purba saja pakek surat-surat segala, hey Lan, kalau kamu suka dengan seseorang langsung nyatakan saja, eh tapi tunggu, siapa wanita yang kamu suka itu disini?" Mike banyak bertanya dan langsung menyimpulkan.


"Wanita apa? Kepo." Alan langsung bergegas keluar dari dalam kamar.


"Oit, hey Lan.. eet dah lagi ditanyain juga, main kabur saja. huh!" Mike mendengus ketika melihat Alan tidak menghiraukan celotehannya.


Ketika ia hendak menyusul keluar, tiba-tiba handphone dia bergetar karena masih dalam mode senyap.


Drrrrtt.. drrrrtt


Bip.


"Ya Hallo"


"Mike, loe kesini secepatnya." Suara seseorang melalui media telepon itu, dan seseorang tersebut adalah Saga.


"Halah, ada apaan bro? kayaknya Kagak bisa, gua lagi sibuk nih sekarang."


"Hanya sebentar saja. Samuel kecelakaan bro." Lanjutnya terdengar tergesa-gesa.


"Hah, yaudah oke-oke gua kesana sekarang." Mike langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


Bip.


Ia langsung bergegas hendak menjumpai kawannya yang sedang kecelakaan karena ia sendiri memanglah sangat peduli dengan semua kawan-kawannya dan Mike sangat menghargai tentang hubungan persahabatan, setelah ia sudah berada dilantai bawah, Marvin keluar jua dari dalam kamar dan sudah rapi sebagaimana mestinya.


"Mau kemana kamu Mike?"


"Pergi sebentar pa, ada urusan." Jawabnya sembari mengunyah selembar roti.


"Urusan apa kamu itu hah? Kebiasaan sekali kamu pergi keluyuran. Lihatlah, sekarang kamu Sudah ada adikmu. Bukannya habiskan waktu-waktumu untuk bersama adikmu malah masih aja mau pergi keluyuran." Marvin mengomeli Mike seraya melihat kearah Alan yang mana posisi Alan sedang berdiri didekat lemari pendingin setelah dia usai memberikan selembar kertas yang dia tulis tadi untuk Bu Tiah.


"Iya Mike tau, hanya sebentar kok pa." Jawabnya sembari melangkah hendak pergi dan ia masih sembari mengunyah roti yang belum habis ditangannya.


"Mike Tunggu. Kebiasaan sekali kamu, makan belum habis sudah berjalan. Habiskan dulu yang sedang kamu makan itu Mike, dan minumlah dulu, nanti kamu tersedak." Saran Marvin.

__ADS_1


"Emm.. ini anu pa, biar urusan Mike cepat kelar, jadi Mike bisa cepat kembali pulang, uhuk uhuk uhuk " Mike sedikit kesusahan berkata karena sembari mengunyah roti, alhasil ia benar-benar tersedak ketika sedang makan sembari berbicara.


Ia langsung melangkah kembali ke arah meja makan dan langsung minum segelas air.


"Nah kan, papa bilang juga apa. Kebiasaaan sekali kamu Mike." Marvin menggelengkan kepala. Begitu jua dengan Alan yang menyaksikannya, ia sedikit tersenyum ketika melihat tingkah Mike.


"Uhuk uhuk uhuk Hehehe," Mike cengegesan dan garuk-garuk kepala sembari masih meminum air putih tersebut seraya menoleh ke arah Alan.


"Yaudah Mike jalan dulu pa, oh iya, itu papa udah rapi begitu mau kemana?" Lanjut Mike setelah ia usai minum air.


"Ini, papa mau urus akte kelahiran dan semacamnya dan juga mau mengurus tentang pendidikan Michealan."


"Wah, beneran pa..? asik, dia satu sekolah denganku kan pa?" Mike merasa sangat gembira ketika mendengar yang Marvin ucapkan.


"Iya, biar ada yang mengawasi kelakuanmu yang sering bolos itu."


"Hilih, papa mah." Mike melirik Marvin dan melirik jua kearah Alan nampak ekspresinya malu ketika ia melihat ke arah Alan. Alan langsung sedikit tertawa ketika melihat ekspresi Mike seperti itu.


"Sue!" Bisik Mike ketika ia menoleh kearah Alan dan melihat Alan sedikit tertawa karena ia merasa Alan mengejeknya.


"Yasudah, papa juga mau langsung jalan dulu. Tapi, Oh iya, kemari kamu nak." Marvin memanggil Alan yang mana posisi Alan masih saja berdiri didekat lemari pendingin dan belum bergeser dari sana.


"Ya ayah.." dia melangkah mendekat ke Marvin.


"Apakah kondisi badan kamu sudah stabil? Dan apakah sudah bisa berjalan cukup lama kira-kira?"


"Baiklah jika memang sudah baik dan bisa, jadi begini, papa berencana siang nanti mau mengajak kalian pergi ke Mall, mumpung papa juga masih belum kembali bekerja saat ini."


"Ide bagus." Sahut Mike sembari memetik jari.


Klik.


Setelah itu la langsung beranjak pergi. Dan setelah Mike sudah pergi, Marvin hendak menyusul pergi juga.


"Papa tinggal pergi dulu sejenak ya nak." Pamit dia kepada Alan.


Alan mengangguk seraya tersenyum.


"Oh iya, jangan lupa tetap habiskan obat yang diberikan oleh dokter ya nak." Pungkas Marvin sebelum beranjak pergi.


"Baik ayah. Hati-hati dijalan."


***


Beberapa saat kemudian, ketika rumah dalam keadaan kosong, tinggal Alan dan beberapa asisten rumah tangga yang sedang sibuk dengan pekerjaaannya masing-masing. Sedangkan Bu Tiah selaku asisten rumahtangga yang terpercaya sedang pergi berbelanja kebutuhan pokok dan jua karena sesuai keinginan Alan yang hendak memasak untuk Ayah dan Mike menjadikan Bu Tiah langsung melaksanakan keinginan dari anak sang majikannya tersebut.

__ADS_1


Sembari menunggu bu Tiah pulang berbelanja, Ia berjalan pelan mengelilingi kembali rumah orang tuanya itu, hingga ia sampai kembali pada area kolam renang. Ia duduk sejenak sembari menatap ke arah air.


Semilir angin yang berhembus ringan membuat Ia terbayang kembali kala ia masih hidup didaerah perkampungan dulu, yang mana kala itu ia selalu bermain air dengan sang sahabat (Verza) dan ia selalu melaksanakan pekerjaan yang disuruh oleh orang tuanya untuk mencuci dan lain sebagainya di sungai.


Lagi-lagi Alan menghela napas dalam-dalam ketika tak sengaja ia terbayang kembali akan masa lalu yang sangat pedih itu. Karena ia sungguh ingin melipat dalam-dalam segala kenangan buruk yang terjadi didalam hidupnya dan ia ingin membuka kembali lembaran baru dengan apa yang kini ada didalam kehidupannya.


Ketika ia menoleh kearah lain, bayangan masa lalu kelam yang sedang membelenggu pikirannya saat ini, sontak menjadi terpecah ketika terlintas bayangan saat terakhir sebelum segala insiden terjadi. Yaitu terbayang kala Marvin hendak pergi ke luar negri. Alan langsung tersenyum sembari menggelengkan kepala ketika terbayang saat itu.


'Jadi, maksud ayah waktu itu menyebut nama Michealan itu adalah namaku, Ya Tuhan.. perjalanan kehidupanku dan segala takdir yang terjadi ini sungguh sangat unik.'


Alan masih saja tersenyum sendiri karena ia benar-benar tidak habis kira. Tak selang berapa lama yaitu sekitar pukul 10:00 waktu setempat, terdengar suara bel rumah berbunyi.


Ting.. tong.. ting.. tong..


Ia pun langsung beranjak untuk segera membukakan pintu rumah.


"Maaf kak, hehe ibu jadinya memencet bel rumah, anu kuncinya lupa ibu bawa dan juga gak ada mba di luar kak." Bu Tiah merasa sungkan.


"Tidak masalah," Alan tersenyum sembari hendak mengambil tentengan yang bu Tiah bawa berisi beberapa bahan masakan.


"Biar Ibu saja kak"


lagi-lagi bu Tiah merasa tidak enak dengan sikap Alan yang sangat sukarela. Karena bu Tiah bersikukuh tidak ingin dibantu oleh anak sang majikannya tersebut, Alhasil Alan hanya terbengong, karena dahulu kala dia yang selalu disuruh-suruh dalam hal semacam ini, namun kini ia merasa bagaikan pangeran yang dilayani bukanlah melayani.


Alan masih terdiam didekat pintu ketika bu Tiah telah berjalan ke arah Dapur dengan membawa tentengan belanjaannya seorang diri, Alan masih belum begitu paham akan posisi dia saat ini yang menjadi anak dari orang terpandang. Yang ia ketahui hanyalah anak dari Marvin dan saudara kembar dari Mike. Untuk hal lain tidak ia pedulikan.


"Apakah semua bahan yang saya tulis di kertas tadi ada semua bu?" Tanya Alan ketika ia sudah didapur.


"Ada semua kak."


"Baiklah, akan langsung saya mulai. Kalau ibu tidak keberatan dan tidak ada kesibukan lain, apakah bisa membantu untuk mengiris beberapa bahan masakan ini?"


"Tentu kak, tentu ibu sangat bisa." Bu Tiah justru merasa senang ketika dia diajak memasak bersama oleh anak majikan yang belum ia kenali tersebut.


***


Ketika Alan memulai aksi memasaknya, bu Tiah sangat terkagum-kagum dengan kelincahan Alan dalam memasak. Yang mana ia tetap seperti melihat Mike didalam diri Alan.


'Anak Tuan yang satu ini sebenarnya hidup dimana ya selama ini? Sungguh luar biasa cara memasaknya, bahkan saya sendiri kalah lincah. Bentuk fisiknya seperti saya sedang bersama kakak Mike, tapi jiwanya sungguh jauh berbeda.' Batin bu Tiah.


"Bu, Coba ibu cicipi dahulu rasa masakan ini bu, apakah sudah pas ataukah belum." pinta Alan sembari menyodorkan sendok ke arah bu Tiah. Namun bu Tiah masih terdiam karena bengong. Alan memanggilnya hingga tiga kali, namun masih saja tidak ada jawaban, dan pandangan mata bu Tiah nampak kosong ketika melihat ke arah Alan. Alhasil Alan sedikit menimpuk pundak bu Tiah menggunakan tangan kiri.


Plek.


"Bu.."

__ADS_1


"Ee monyet kepencet m^ncret, upss ya Tuhan ini mulut, maaf kak ada apa?" keluar Latah bu Tiah ketika dia terkejut saat Alan sedikit menimpuk pundaknya.


__ADS_2