
Sesaat setelah Ananta menyadari akan hal yang terlewat didalam benaknya khususnya tentang siapakah Alan, maka membuat Alan tersenyum lembut kepadanya.
Sementara segala bayang masa-masa dimana kejadian yang telah terlewati masih terus terngiang-ngiang didalam kepala Ananta, tak ayal membuatnya kian melotot.
"Oh Tuhan!" Serunya lagi sudah menyadari dengan sangat jelas seraya menutup mulutnya sendiri memandang Alan.
"Ka .. kamu" lirihnya.
"Ya, Ananta. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi .. itulah faktanya, yang bersamamu malam itu adalah aku, bukan kakakku, Mike." Jelas Alan.
"Oh Tuhan, lalu .. apa sebenarnya yang terjadi dengan kalian?" Tanya-nya.
"Kami .." Alan hendak menjawabnya namun terhenti kala terdengar lonceng sekolah sudah berbunyi.
Teng .. teng .. teng ..
"Baiklah, kini sudah tiba waktunya untuk kembali masuk. Tapi .. Apabila kamu tidak keberatan, dapatkah malam nanti kita berbicara?" Ucapnya serta menyebutkan nama tempat yang menjadi tujuan Alan dapat bertemu dengannya.
"Baiklah, aku akan datang kesana, nanti malam." Ananta menyetujui lantas semula mereka canggung kini tersirat senyum diantara keduanya.
"Mari, kita kembali masuk sebelum terlambat" Pungkas Alan berdiri dari tempat duduk itu nan bergegas jalan bersama-sama menuju kelas mereka.
***
Disisi Mike
Mike mengajak Jessi tadi menuju kedai yang berada di luar sekolah adalah sewaktu Alan, Ananta dan Jovan sudah melangkah jauh dari ruang perpustakaan, sehingga mereka tidak saling berjumpa.
Berawal niat hendak berdrama dengan gadis itu, namun tiada sangka Mike sangat menikmati waktu-waktu santap siang dengan gadis itu.
Dalam diam ia memperhatikan tindak tanduknya, tumbuhlah suatu rasa yang tidak bisa ia ketahui rasa apa itu. Tak ayal membuatnya diam menatapnya dengan senyum hingga makanan didepan tidak lekas ia makan.
"Hei, Lan. Hei .. Alan." Panggil Jessi kala menyadari Mike diam tak lepas memandangnya. "Sorot matamu iblis tapi senyum bibirmu sangat manis." lirih Mike tak lepas memandang bibir tipis dan munggil dari gadis didepannya itu.
"Hah? Apa yang kamu bilang barusan Lan?" Tanya Jessi membuat lamunan Mike tercabik begitu saja.
"Eh, anu .. enggak. Apa kamu suka rasa makananya? Enak kan?" Tanya Mike menjadi tidak fokus.
"Em .. Menurut kamu sendiri gimana? Lihatlah piringmu aja masih penuh, bahkan kamu belum mencicipinya, bukan?" Ucapnya manja lantas meyumpit sushi itu lekas ia suapkan ke Mike.
"Aaa .. Ayo coba buka mulutmu Lan, cepatlah .."
__ADS_1
"Emp, tapi anu .." Mike menoleh kekanan dan kekiri entah rasa malu itu tumbuh sejak kapan, tapi faktanya kini tiba-tiba ia merasa malu.
"Sudah, cepatlah buka mulutmu, Aaaaa" Antusias Jessi ingin melakukannya tak ayal membuatnya memegang rahang Mike untuk menyuapkan makanan tersebut.
Alhasil Mike menurutinya untuk membuka mulut lekas menyantap makanan itu.
"Emm .. enak, kan? Aku suapin lagi ya .." Lanjut Jessi Antusias diri sebab betapa bahagia dalam hatinya kini dapat bersama dengan pemuda yang ia sayangi semenjak dulu.
"Baiklah Kuy, masukkan lagi sini aaaaak" Mike akhirnya sekalian meledek hingga Jessi semakin tampak sangat bahagia
Usai makanan yang tersaji nyaris habis tersantap, Lantas Mike memegang tangan dia semasih dia hendak menyuapkan makanan lagi.
Seep!
"Tunggu," Ucapnya.
"Kenapa menghentikanku? Apa kamu sudah kenyang? Ayolah satu suap lagi ini." Jawab Jessi masih sangat antusias, namun Jessi terdiam kala makanan yang hendak dia suapkan ke Mike, menjadi berbalik Mike yang menyuapinya.
"Sekarang gantian, ayo buka mulutmu aaaaak" Ucap Mike tak Ayal membuat Jessi menerima itu dengan sangat senang. Dia tidak pernah habis kira bahwa Alan yang dia kenal sangat dingin namun saat dekat seperti ini terasa sangat hangat.
Ketika suapan terkhir yang Mike berikan, dia bertingkah usil yakni menggoyangkan sumpit ke kanan dan kekiri didekat bibir Jessi.
"Ich, Nakal!" Seru Jessi berekspresi kesal, namun sejatinya ia sangatlah bahagia, andai waktu dapat berhenti, maka Jessi sangat menginginkan itu didetik ini.
Sementara kala Mike sudah kembali dalam kesadaran bahwa saat ini ia sedang berdrama, maka ia kembali lagi kedalam pertanyaan-pertanyaan yang dia belum mengerti semua tentang si Jessi ini.
Akhirnya, setelah ia memberikan suapan terakhir makanan tersebut, lantas disusulnya dengan percakapan secara langsung.
"Sejak kapan kamu pindah ke sekolah ini? Dan apa penyebabnya kamu pindah?"
"Em .. Aku .. aku .." Jessi semula berekspresi ceria kini meredup seketika.
"Jawab saja apa adanya, karena aku paling tidak suka dengan kebohongan." Lanjut Mike tampak tegas. Tak Ayal membuat Jessi ketakutan, yakni takut bila Mike yang ia kira Alan kembali tidak meliriknya.
"Aku .. aku .." Jessi masih sangat ragu hendak menjawab tertambah lonceng sekolah sudah berbunyi.
Teng .. teng .. teng ..
"Haiyaaa .. keburu bunyi dah tuh lonceng. Em .. baiklah, aku ingin mendengarnya dengan jelas nanti. Oh iya .. apa kamu sudah paham nama dan tempat di ibu kota ini?" Tanya Mike.
Sontak ekspresi Jessi yang tadi sempat meredup, kini kembali merekah dalam keceriaan.
__ADS_1
"Apa .. Kamu mau mengajak aku bertemu malam ini Lan?" Tanya-nya.
Mike mengangguk. "Iya."
"Hu um, aku sudah lumayan paham si, gimana bila kita berbicara di salahsatu tempat yang aku ketahui saja?" Lanjut Jessi sembari menyebutkan nama tempat yang menjadi tujuannya.
"Boleh saja. Baiklah, nanti malam kita berjumpa disana. Lebih baik sekarang kita kembali masuk kedalam kelas. Mari .." Pungkas Mike lantas bergegas kembali kedalam sekolah.
***
Ketika Mike melangkah hendak masuk kedalam ruang kelas, Kebetulan bersamaan dengan Alan, tetapi Ananta yang semula berjalan dengan Alan kini sudah lebih dulu masuk kedalam kelas.
Sementara posisi Alan saat ini berdiri menyandar pada dinding dekat pintu masuk, seraya menoleh kesana dan kemari.
"Menanti siapa kamu Lan?" Tanya Mike menghampiri dari samping kiri Alan.
Alan menolehnya. "Ah, enggak."
"Sedang Menanti kehadiran kakakmu ini kah?" Ledek sang kakak.
"Cih, kepede'an." Jawabnya. Lantas tiba-tiba Jovan merangkul dari sisi kanan.
Plek!
"Hai, Pastinya dia sedang menungguku, bro" Celetuknya seraya mengangkat kedua alis.
"Cih, macam sanak lawang, kurang kerjaan menunggu batang." Jawab Alan melirik keduanya serta melepaskan tangan Jovan lantas bergegas masuk.
"Adik Sue! Kakaknya di sebut orang gila pula, kamvret!" Umpat Mike. Lantas Jovan terkekeh.
"Hahaha, kasian amat loe jadi kakak. Perasaan kalah mulu sama adik loe, bro. Wuahaha"
"Diem lu akh kamperet!" Umpat Mike lagi seraya bergegas menyusul masuk, lantas berkumpul sejenak di salahsatu meja rombongannya semasih guru belum hadir.
Sementara Alan sudah duduk dengan rapi di tempat duduknya, sesekali menoleh ke bangku Ananta, bila Ananta menyadari lekas ia menolehnya, alhasil mereka saling senyum tersimpuh malu.
Kemudian Alan menoleh sejenak ke meja paling belakang yakni Jovan, tampak Jovan diam sembari senyum-senyum nan berkali-kali mengusap bibirnya sendiri dengan tangan. (Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya)
Lantas membuat Alan tersenyum sekalipun ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya ikut tersenyum. Namun, kepastian senyum saat ia melihat Jovan adalah karena teringat sahabat masa kecilnya (Verza).
Next
__ADS_1