Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 94


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 18:30 waktu setempat. Mereka telah tiba di pelabuhan penyeberangan menuju ke ibu kota. Cuaca hari itu sangat bersahabat. Air laut dalam keadaan tenang dan perjalanan kapal kian cepat sampai hanya ditempuh kurang dari satu jam. Dan juga ketika kapal yang mereka naiki sampai pada pelabuhan menuju ke ibu kota, tidak terjadi antrian panjang antar kapal, yang mana biasanya terjadi antrian sangat panjang pada dermaga tersebut.


Kemudian, mereka melanjutkan kembali perjalanan darat menuju ke ibu kota, yang mana jarak tempuh masih sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan jika tidak ada kemacetan. Namun, ketika mereka tengah sampai di kota yang mereka lewati sebelum sampai tepat di ibu kota, disana sehabis terjadi tabrakan beruntun, alhasil terjadilah kemacetan yang sangat parah nyaris kendaraan tidak bisa berjalan sama sekali pada jalan yang tengah mereka Lintasi tersebut.


"Aduh, kenapa ini bisa terjadi sih." Gumam Mike sembari menoleh kearah kaca jendela.


"Pa, kenapa tadi tidak melalui jalan tol saja?" Lanjut Mike terus menerus bergumam.


"Gerbang tol-nya berada didepan sana Mike," Jawab Marvin yang sebenarnya jua merasa gelisah seperti Mike.


"Oh iya juga, bagaimana kalau kita mencari jalan alternatif saja pa?"


"Jalan menuju ke ibu kota hanya jalan ini Mike, jikapun ada jalan alternatif lain, pastilah banyak lika-liku dan lebih rentan menyasar."


"Iya juga si, Mike tau tapi lihatlah pa, Alan sudah terlihat lemas sekali nih," Lanjut Mike.


"Apakah kamu baik-baik saja nak? Ya Tuhan, semoga secepatnya jalannya kembali lancar, kamu sabar sejenak ya nak," Jawab Marvin menoleh ke arah Alan.


"Saya Tidak apa-apa Ayah, kita tunggu dulu saja." jawab Alan dengan suara lirih karena ia memang menahan rasa nyeri diseluruh tubuhnya.


Mengetahui hal tersebut, Mike tidak bisa hanya tinggal diam saja, kemudian ia langsung bergegas keluar dari dalam kendaraan.


"Mau kemana kau Mike?" Tanya Marvin, namun mike sudah tidak mendengarnya karena setelah ia turun, ia langsung menutup kembali pintunya dan bergegas pergi.


***


Beberapa saat kemudian, kecelakaan yang sedang terjadi telah selesai di urus, karna sudah terdapat beberapa anggota polisi lalulintas dan beberapa anggota dinas perhubungan telah sampai di tempat kejadian perkara untuk menderek beberapa kendaraan yang hancur. Dan jua para polisi lalulintas telah mengatur kembali lalulintas yang sempat tersendat.


Alhasil, kini lalulintas kian mulai kembali normal walau kendaraan masih berjalan secara pelan (merayap) menyadari betapa ramainya disana. Sementara Mike sendiri belum kembali kedalam kendaraannya berada, kemudian setelah kendaraan mereka telah berjalan pelan, Marvin langsung menepi ke bahu jalan yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tadi untuk menunggu Mike kembali.


Marvin berulang kali menoleh kearah Alan, karena Alan terlihat sangat lemas.


Setelah beberapa menit ia menunggu, Mike telah kembali kedalam kendaraannya membawa sesuatu didalam kantong plastik yang ia bawa.


"Dari mana kau Mike?" Tanya Marvin ketika Mike baru saja masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Ini pa," jawab Mike singkat, kemudian ia langsung membantu Alan untuk duduk dengan baik. Setelah posisi Alan telah duduk dengan baik, Mike langsung membuka isi didalam kantong plastik yang ia bawa tersebut yaitu berisi beberapa roti dan beberapa tablet obat sehabis ia beli di apotik yang ada disekitar sana.


Tanpa basa-basi Mike langsung membuka roti tersebut dan kemudian ia hendak menyuapi Alan.


"Ini Makanlah, habis ini minumlah obat ini supaya rasa kaku dan nyeri di tubuh mu sedikit berkurang"


"He em" Alan mengguk dan kemudian ia memakan roti yang Mike suapkan ke mulutnya tersebut.


Sementara Marvin sendiri terdiam sembari meneteskan air mata tanpa Mike ketahui ketika ia melihat Mike sangat peduli dengan saudaranya.


'Oh Tuhan, terimakasih engkau telah mengembalikan putraku, dan untukmu Mike, maafkanlah papa mu ini nak, papa tidak pernah mengerti tentang keinginanmu. Betapa pedulinya kamu dengan saudaramu, maafkanlah papa nak,' Batin Marvin.


***


Setelah Alan selesai memakan roti tersebut, kemudian ia langsung meminum obat yang diberikan oleh Mike.


"Obat apa ini?" Tanya Alan setelah ia selesai meminumnya.


"Obat sakit jiwa hehe." Jawab Mike mencandainya sembari tersenyum ngece.


"Pantas gimana?" Jawabnya sembari tersenyum.


"Pantas saja, rasanya getir"


"Hahaha, semacam jengkol saja rasa getir, yasudah kamu kembali istirahat dulu, perjalanan kita masih cukup panjang" Pungkas Mike.


"Hmph, seperti tau saja rasanya jengkol bagaimana, kamu saja sukanya makan ayam goreng, seperti upin-ipin. Hu um, yasudah Baiklah." Jawab Alan lirih kemudian ia langsung bergeser posisi kearah jendela dan langsung memejamkan matanya.


"Eh, barusan kamu ngomong apaan?" Tanya Mike.


Namun sudah tidak dijawab lagi oleh Alan, dia sudah langsung memejamkan mata, namun ia tidak tertidur. Kemudian Mike langsung mendekat ke dia dan mengulangi lagi pertanyaannya didekat telinga Alan. Sembari sedikit meniup telinganya.


"Huuff Hey, huuuf hey Lan, barusan kamu ngomong apaan? Lan.. hey Alan.. Alan"


Kemudian Alan langsung menggeser Mike, karena ia merasa risih ketika telinganya di tiup-tiup oleh Mike.

__ADS_1


Seet!


"Awh, hey Lan.. ayo jawablah tadi kamu ngomong apaan? Apakah kamu bilang aku seperti Si dua botak?" Lanjut Mike masih saja banyak bertanya.


"Hey Mike, sudahlah. Kau bilang sendiri supaya Michealan untuk beristirahat dulu tapi malah kau pula yang mengganggunya" Sambung Marvin sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Mike yang jahil.


"Hehe"


Mike cengegesan sembari garuk-garuk kepala ketika Marvin berkata demikian. Mike menganggu Alan Karena Ia merasa sangat bahagia memiliki seorang saudara terlebih lagi saudara laki-laki, karena dari dulu Mike sangat menginginkan memiliki saudara laki-laki supaya ada yang bisa di ajak berkelahi (bercanda). Begitulah Pikir Mike.


***


Kemudian, Marvin kembali memacu kendaraannya hendak melanjutkan perjalannya yang masih cukup jauh hingga sampai pada ibu kota.


"Pa, Apakah mau bergantian menyetir? Sepertinya papa terlihat lelah." Tanya Mike dari kursi belakang.


"Tidak usah Mike, kau istirahat dulu saja, kemungkinan masih dua jam lagi kita sampai, itupun jika tidak ada kemacetan lagi di tol dalam kota nanti" Jawab Marvin.


"Hem, baiklah" Mike langsung bergeser posisi ke sebelah Alan yang mana Alan sudah tertidur Kemudian Mike hendak kembali menjahilinya dengan meniup-niup telinganya.


"Hey, Mike, sedang apa kau? Kau tau Badan dia masih sakit semua itu, jangan jahil Mike." Ucap Marvin ketika melihat tingkah Mike melalui kaca spion.


"Hehe iya pa iya hehe" Jawab Mike sembari cengegesan dan langsung bergeser ke posisinya semula.


Mengetahui hal tersebut Marvin langsung menggelengkan kepalanya.


'Hem, dasar anak satu ini. Dia yang menjadi kakaknya tetapi tingkah lakunya seperti dia yang menjadi adik.' Batin Marvin.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 22:30 waktu setempat. Mereka telah tiba di ibu kota namun mereka belum sampai pada kediamannya, karena Marvin sendiri langsung menuju kerumah sakit untuk segera membawa Alan kesana.


Setelah mereka sampai pada tempat tujuan yang sedang dituju yaitu di rumah sakit. Kemudian Marvin langsung bergegas membawa Alan. Kemudian, Ia langsung bergegas mengurus administrasi sementara Mike menuntun Alan menuju ke ruang UGD.


Setelah Alan selesai ditangani oleh sang dokter, kemudian Mike bertanya.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana dengan kondisi saudara saya?"


__ADS_2